Puisi Alam

Puisi Alam – Alam selalu memiliki pesona yang begitu indah. Sangat elok dipandang mata dan bisa membuat banyak orang berdecak kagum. Apalagi bagi seorang penyair yang lihai merangkai kata, keindahan alam ini bisa menjadi sumber inspirasi untuk menghasilkan sebuah karya. Kekagumannya akan menciptakan puisi alam yang begitu indah. Tak hanya keindahannya saja yang bisa menjadi inspirasi menulis puisi, melainkan juga keresahan ketika manusia justru menjadi penyebab kerusakan alam.

Apa Itu Alam?

Alam merupakan keseluruhan fenomena yang terjadi di muka bumi beserta seluruh kehidupan yang menyertainya, seperti tanaman dan hewan. Dari pengertian tersebut, tercermin bahwa tidak ada campur tangan aktivitas manusia di dalamnya. Selain itu, dapat juga dimaknai bahwa alam terdiri atas materi hidup dan tak hidup yang secara alami ada di permukaan bumi.

Tuhan telah menciptakan hamparan alam yang indah dan menyimpan banyak manfaat bagi kehidupan di muka bumi. Oleh sebab itu, sebaiknya manusia memahami hal ini dan selanjutnya bersikap bijak dalam mengelola alam. Jangan sampai kebutuhan yang tak terkendali justru mengakibatkan kerusakan pada alam.

Banyak manusia yang kagum dengan indahnya alam, bahkan beberapa menjadikannya sebuah karya, misalnya saja penulis dan pelukis. Pelukis dengan keahlian yang dimilikinya dapat menirukan bentuk asli dari alam yang ia pandang, bahkan pada beberapa pelukis ulung, alam itu tampak seperti jepretan kamera.

Berbeda dengan penulis, yang menuangkan kekagumannya pada barisan kata yang kaya akan makna. Kekagumannya pada alam yang dipandangnya, menjadikannya membuat puisi alam. Karya ini juga dapat menjadi semangat untuk terus melestarikan lingkungan, supaya alam yang indah tetap dapat dipandang, dirasakan, dan dinikmati oleh siapapun.

Tentang Puisi Alam

Puisi alam adalah jenis puisi sebagai ungkapan kekaguman dan mengagungkan keindahan alam yang ada, yang terasa begitu nyaman dan menyejukkan. Terdapat beragam puisi bertema alam, bisa berupa lautan, pegunungan, fajar, senja, pedesaan, dan lain-lain. Seorang penulis puisi biasanya memberikan ungkapan rasa bahagia tentang menyatunya alam dengan kehidupan.

Beberapa penyair juga menjadikan puisi alam sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada Sang Pencipta. Mereka sangat kagum dengan eloknya ciptaan-Nya yang dapat membius siapapun yang memandangnya.

Selain itu, puisi alam juga dapat menjadi dorongan agar manusia menjaga, merawat, dan melestarikan alam dengan baik. Karena alam tercipta untuk manusia, sehingga sudah sepantasnya bagi manusia itu untuk merawatnya. Seiring berjalannya waktu, alam pasti akan mengalami perubahan, baik karena kejadian alam ataupun aktivitas manusia. Maka, manusia harus turut serta agar alam tetap dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

Kumpulan Puisi Alam

Beberapa contoh puisi alam berikut ini mencerminkan tentang pesona alam yang begitu indah. Tentunya sebuah puisi diciptakan bukan tanpa manfaat. Adanya puisi yang menggambarkan keindahan alam tersebut, harapannya dapat menumbuhkan rasa ingin melindungi agar alam senantiasa indah dan terjaga. Tidak rusak karena tangan ceroboh manusia, kemudian menyebabkan alam yang indah akan sirna. SIlahkan disimak.

Puisi Alam – Dari Bentangan Langit

Puisi Alam - Dari Bentangan Langit
unsplash.com

Dari bentangan langit nan semu
Ia, kemarau itu, menghampirimu
Tumbuh perlahan, berhembus amat panjang

Menyapu lautan, mengekal tanah berbongkahan menyapu hutan!
Mengekal tanah berbongkahan!
Menghampirimu, ia, kemarau itu
Dari Tuhan, yang selalu terdiam

Dari tangan-Nya
Dari tangan yang dingin dan tak menyapa
Yang senyap,yang tak menoleh barang sekejap

***

Puisi Alam – Sabda Bumi

Belum nampak mendung merenung bumi
Seberkas haru larut terbalut kalut dan takut
Terpaku ratap menatap jiwa yang penuh rindu
Hangatkan dahaga raga yang kini sendu merayu

Bulan tak ingin membawa tertawa manja
Kala waktu enggan berkawan dengan hari
Kala bintang sembunyi sunyi sendiri
Terhapus awan gelap melahap habis langit

Bulan memudar cantik menarik pada jiwa
Hitam memang menang menyerang terang
Tapi mekar fajar mentari akan menari
Bersama untaian senandung puisi alam pagi

***

Puisi Alam – Senja yang Elok

Keemasan cahaya di cakrawala
Di ufuk barat kala hari mulai senja
Terbelalak mata kala memandangnya
Eloknya dari Sang Maha Pencipta

Mentari bergegas untuk tenggelam
Menjemput mesra ketenangan malam
Meneguk cahaya dalam-dalam
Menyempurnakan keindahan malam

Lembayung elok nampak kekuningan
Gradasi warna bagai sebuah lukisan
Di sudut langit yang tipis berawan
Ornamen termegah sepanjang zaman

***

Puisi Alam – Semoga Abadi

Kicau burung yang kudengar kini
Semoga masih ada seratus tahun lagi
Rindang hutan yang kulihat di sana
Semoga tetap terjaga lima puluh tahun lagi

Damai laut dan segenap makhluknya
Semoga tak kalah dari sampah plastik tiga puluh tahun lagi
Hangat sawah yang menghidupi manusia
Semoga belum musnah sepuluh tahun lagi

Kelestarian alam ini, semoga abadi

***

Puisi Alam – Pemandangan Senjakala

Senja yang basah meredakan hutan yang terbakar.
Kelelawar-kelelawar raksasa datang dari langit kelabu tua.
Bau mesiu di udara. Bau mayat. Bau kotoran kuda.

Sekelompok anjing liar
memakan beratus ribu tubuh manusia
yang mati dan yang setengah mati.
Dan di antara kayu-kayu hutan yang hangus
genangan darah menjadi satu danau.
Luas dan tenang. Agak jingga merahnya.
Dua puluh malaikat turun dari surga
menyucikan yang sedang sekarat
tapi di bumi mereka disergap kelelawar-kelelawar raksasa
yang lalu memperkosa mereka.

Angin yang sejuk bertiup sepoi-sepoi basa
menggerakkan rambut mayat-mayat
membuat lingkaran-lingkaran di permukaan danau darah
dan menggairahkan syahwat para malaikat dan kelelawar.
Ya, saudara-saudaraku,
aku tahu inilah pemandangan yang memuaskan hatimu
kerna begitu asyik kau telah menciptakannya.

***

Puisi Alam – Inilah Desaku

Beradu pada kisah perkotaan
Nuansa biru menjadi dominasi penduduk yang damai
Hijaunya pepohonan mengalirkan rasa sejuk di setiap tetes keringat yang mengucur deras
Inilah aku…
Sebuah tempat kecil yang dihuni oleh sebagian kaum bawah

Namun, aku tak menangis
Bahwa aku mampu membawa mereka pada alamku
Alam desa yang hadir untuk perdamaian
Desa yang memberikan kekuatan pada bumi pertiwi
Airku selalu terasa segar
Tak ada polusi, tak ada pencemaran, dan tak ada keramaian pemberontakan

Inilah aku…
Desa yang penuh kedamaian
Desa yang memiliki topik kerinduan
Desa yang memiliki segala hal dari arti yang dalam tentang alam yang terasa damai.

**

Puisi Alam – Tentang Rasa dan Frasa Alamku

Puisi Alam - Tentang Rasa dan Frasa Alamku
idntimes.com

Dari sudut perkotaan yang hingar bingar
Menurunkan radar pada puncak se antero jagat
Tragis! Sorakku berdengung
Menuai hasil buruk setelah dijajah oleh penguasa tak bertuan

Menangis!
Alam mulai menangis
Menyadari bumi yang semakin goyang
Namun, laut menjawabnya
Melalui ombak yang kian menari

Indah jika ku gabungkan bersama lembayung senja
Tropisnya Negeri, meminang aksa untuk berkunjung
Detakmu kini. Membuatku semakin yakin
Akan hal alam yang menyeka ku untuk bersujud.
Terima kasih Alam
Terima kasih Bumi
Engkau menjadi penguat dari kekuatan rasa, cinta manusia pada setitik kisah dari manisnya lautan hijau

***

Puisi Alam – Aku Dan Bangau

Oleh: Yanuari
Air danau nan tenang
Nyaris beku oleh dinginnya musim
Kala bangau menari diatasnya
Menari bagi sang kekasihnya

Aku berdiri di tepi danau itu
Menikmati indahnya salju yang turun
Lalu aku berteduh di sebuah paviliun
Duduk dan minum teh yang hangat

Bangau-bagau itu menari terus
Tak jarang bangau itu terbang dan mendarat lagi
Sebagian lagi terlihat cemas dan khawatir
Seperti ada sesuatu akan terjadi

Aku berpikir sejenak sambil memandang mereka
Apakah mereka bangau yang kebal udara dingin
Rasanya aku ingin berbagi tehku pada mereka
Tapi mereka hanya terus menari

***

Puisi Alam – Tanah Airku

Duduk terdiam menatap Negeri yang kaya akan makna
Warna coklat dan hijau, memiliki arti kekuatan tersendiri
Seluruh elemen pendukung menghadirkan rasa Tanah air yang semakin kuat

Indonesiaku…
Menjadi topik kebanggaan Negeri
Menjadi salah satu tokoh dalam kekokohan Negara
Menjadi Bapak akan hal keanekaragaman Budaya
Menjadi contoh Negeri yang damai dan sejahtera
Berprinsip membangun Negeri

Banggakah?
Banggakah engkau berdiri di tanah air ini ?
Banggakah engkau mencium aroma frasa pada detak jantung negeri ?

Tuturku berkata “Bangga”.
Negeriku tentang alamku.
Yang menyadarkanku akan hal indahnya alam dari sang maha agung
Cintaku pada alam semakin lekat adanya aroma khas penyejuk kalbu.

***

Puisi Alam – Alam yang Damai

Bersiul menyerupai burung yang terbang bebas
Menikmati rona cerah pada nabastala
Raja Bumi mulai menampakkan cahaya indah
Menyinari bumi kala siang menerpa

Sendiri ku menatap indahnya dunia
Bersama ilalang yang siap membelai hari-hari ku
Kicauannya terdengar sangat tajam
Berbaris panah, bersama kawanan para mega berwarna putih

Jaga dia, sahutku perlahan
Melihat keindahan Bumi yang nampak megah
Kesegaran alam yang masih murni
Berlapis sayang tentang alam

***

Puisi Alam – Mari Merenung Dan Mengerti

Pengarang: Syaeful Amran

Wahai pemimpinku
Apakah yang tinggi itu masih gunung
Sedangkan yang tinggi sekarang
Adalah keserakahan

Wahai pemimpinku
Apakah yang luas itu masih langit
Sedangkan yang luas sekarang
Adalah kemiskinan

Wahai pemimpinku
Apakah warna itu masih pelangi
Sedangkan warna sekarang
Adalah kekacauwan

Wahai peminmpinku

Jika kau ingin tahlukan langit
Jadikanlah dirimu bumi
Jika kau ingin tahlukan lautan
Jadikanlah dirimu daratan

Wahai pemimpinku
Mari merenung dan mengerti
Sejenak harapan kami
Jadikanlah jiwmu pahlawan sejati.

***

Puisi Alam – Lautan yang Indah Dan Tenang

Angin pantai terseka oleh gerimis
Menegaskan rasa pada hentakan kisah Alam
Lereng bertangga, membawa nada lukisan penuh makna
Warna hijau, menghasilkan ladang yang siap panen

Manusia yang melihatku pasti terpesona
Dengan keindahan yang siap menyemai kalbu
Serentak aksa mulai terhipnotis
Kesejukan air mulai membawa menuju arah kebahagiaan masa kecil

Keindahan Dunia
Aku siap mempertaruhkan nyawa demi kebahagiaanmu
Bertahan diri seperti gunung
Demi melihat ciptaan Tuhan yang sungguh megah

***

Puisi Alam – Namaku Hijau

Puisi Alam - Namaku Hijau
tribunnews.com

Hai namaku Hijau
Seseorang selalu memanggilku Hijau
Sebab, aku selalu memberikan oksigen di pagi hari
Untuk kesegaran oksigen manusia

Bahkan manusia pun selalu melindungiku
Memberi makan, untuk asupan kehidupanku
Memberi pertolongan ketika aku membutuhkannya

Maka, aku pun harus berkawan dengan manusia
Memberikan energi, kekuatan untuk mereka gunakan
Sebab mereka telah melindungiku hingga aku menjadi sumber kehidupan mereka

***

Puisi Alam – Kupu Kupu Itu

Pengarang: Ananda Tri Oktavilia

Seandainya kau tetap berwujud ulat…
Tak seorang pun bersedia mendekat…
Apalagi untuk memegang untuk bercengkerama…
Tentu takut akan rambutmu yang bikin gatal…

Tapi kini perjuangan mu menemukan perubahan…
Tubuh yang jelek dan rambut yang gatal…
Kini berubah dengan keindahan…
Sayap dan tubuh bewarna berkilau…

Kemana kau terbang selalu menarik pandang…
Hingga di puncak puncak bunga menambah pesona…
Banyak orang yang ingin bercengkerama…
Aku ingin bisa seperti mu…
Melakukan perubahan untuk kemajuan…

***

Puisi Alam – Mengisi Damai Negeri

Indonesia ku…
Damai lantunan nada terdengar
Ragam budaya
Ragam bahasa
Ragam musik dan tari
Indonesia nan elok memikat kalbu sang maha kuasa

Hijaunya padang rumput
Birunya lautan
Menakdirkan kisah tanpa batas
Ragam budaya..
Menampilkan keanekaragaman suku yang ada
Ragam musik..
Memberikan ciri khas pada setiap daerah

Indonesia ku….

Terima kasih, kami ucapkan pada bumi pertiwi
Yang telah mengisi penuh indahnya Nusantara

***

Puisi Alam – Kaulah Senjaku

Tersisip warna pada nabastala
Sepasang aksa tertuju pada titik itu
Aku ! Aku yang hanya penikmat senjamu
Apa daya ku yang selalu iri akan kecantikan disaat
bidikanmu terlihat indah

Senja..
Jika kau hanya muncul beberapa saat saja
Meski kau juga selalu mendapat cacian
Tapi kau, tak pernah merasa sedih untuk selalu hadir
Warnamu memang menjadi incaran
Elokmu juga menjadi kegembiraan
Tenangmu menjadikan kalbuku semakin damai

Senja..
Tetaplah menjadi keindahan yang tiada pudar
Menarilah, bersama burung-burung yang datang
Hiasi langin seantero jagat raya.

***

Puisi Alam – Lautan Bumi Pertiwi

Terbentang luas alam Negeriku
Puisi ini.. ku berikan cinta untukmu
Semilir angin dipesisir laut
Menyadarkan arti sebuah keanekaragaman
Rimpuh.. kisahmu kini
Nestapa yang kian membuncah
Sadar bahwa usiamu kini sudah menua
Tapi hasrat.. kau selalu di genggam
Pohon, danau, laut mulai mengobarkan industri alam yang baru
Mengisi cinta pada perolehan yang kelak tidak menjadi kekal
Nabastala berkata.
Bahwa bumi ini akan menjadi bumi yang kekal dan abadi
Dengan pancaran indah pesona sang Ilahi

***

Puisi Alam – Hanya Khayalan Semata

Pengarang: Desty Setyaa

Bisikan gelap kehidupan
Menyelimuti hatiku
Saat ku tahu,
Hidup ini amatlah kejam

Serentak mimpi membangunkanku
Dari terpejamnya mata
Membayangkan indahnya masa depan
Dalam lamunan

Tapi,
Seolah menelan Buah Simalakama
Tubuhku lemas, lumpuh
Ketika ku tersadar dari lamunan yang indah

Khayalan yang dulu menyemangatiku
Kini telah lenyap disapu Angin Kemarau
Keceriaan yang dulu menghiasi anganku
Kini menjadi kering diterpa kemarau panjang

Dulu, ku biarkan musim semi berlalu tanpa ku sesali
Tapi kini, hanya sesal yang menyesak dalam dada

Tersadar kini..
Musim Semi tak akan ada lagi
Hanya angin kemarau yang akan menghiasi kering nya Hati.

***

Puisi Alam – Pantai

Puisi Alam Pantai
detik.com

Ombak menari dalam luasnya samudra
Menepis rindu pada bumi pertiwi
Pohon menari bersama angin yang tertiup
Belungsang alam kian terdengar buas

Kubiarkan ombak mengusap
Kaki-kakiku tersapu lembut bersama pasir putih
Kerian itu mulai menusuk kalbu ku
Jauh diufuk kebiruan hamparan laut dan langit
Yang kini menjadi daya favorit tiada kira

***

Puisi Alam – Melodi Senja

Menampakkan diri bukanlah hal yang sulit
Senja, tidak akan lupa dimana ia harus terlihat indah
Jingga yang terlukis, terpatri dalam jiwa cintanya
Sedetik, dua detik dia akan dibenci

Namun, kebenciannya selalu dirindukan
Penikmat senja selalu menanti kehadirannya
Nuansanya mendominasi Nabastala seantero jagat raya

***

Puisi Alam – Pesona Alam Hijau

Terperosok pada hamparan hijau
Menggantung pada nuansa manja ilalang

Tunggu! Akan ku hirup perlahan aroma rumput ini
Sebab, ku tau inilah ciptaan Tuhan yang harus kita nikmati
Jauh di ufuk kehijauan
Dengan dasar coklat yang menyatu pada komponen penting
Berbasis kesuburan, yang terikat pada keindahan tanaman liar
Sebut saja Bunga.
Bunga menjadikan sepasang aksa siap meraih

Sentuhan halus jemari mungil
Siap mengabadikan momen kemekarannya
Bidikan-bidikan kecil siap menjadikan momen indah untuk dikenang
Sebagai hal ciptaan Tuhan yang terindah

***

Puisi Alam – Alam Desaku

Kulihat sawah membentang
warna hijau bagai permata alam
kucoba telusuri jalan
akankah tetap begitu

Kuingin tetap begini
terlihat apa adanya
kuingin tetap begitu
terlihat kenyataanya

Mentari mulai tenggelam
dan..akupun teteap disini
menikmati alam yang ada
anugerah dari yang kuasa

Oh..alam desaku
…aman dan damai
Oh…. alam desaku
….lestarikanlah

***

Puisi Alam – Alamku Menjadi Gersang

Dulu aku dilahirkan di alam yang permai
Serta dibuai dengan lindungan alamnya yang indah
Yang selalu mengingatkanku pada buaiannya ibu pertiwi
Dengan senandung rindu dalam dekapan alam

Namun semua, kini hanya pandangan
Entah pergi ke mana serta menjadi apa sekarang

Ia hanya menjadi kenangan silamku
Kini ia bagai ditelan oleh rakusnya manusia
Yang jauh dari rasa belas kasihan di dalam hidupnya

Kemana aka ku cari lagi?
keindahan alam yang telah melahirkan dan membesarkanku
Kemana lagi aku harus mengadukan semua ini?

Agar bisa kembali ke alam permaiku
Semuanya telah gersang dan tak tau lagi kapan menjadi indah seperti sedia kala

***

Tangan Yang Tak Bertanggung Jawab

Segalanya hancur luluh lantah

Perbuatan sederhana memang
Namun akibatnya sangat fatal, sangat besar
Kelihatannya sangat biasa namun sangat menghancurkan

Udara yang dulu segar, kini menjadi penat
Burung yang dulu berkicau sekarang tak terdengar lagi kicaunya
Api yang terus membara dari waktu ke waktu
Seperti rayap pemusnah

Membuat ribuan orang menanggung kesedihan yang teramat dalam
Tangis-tangis yang menyahat hati tanpa henti
Kesengsaraan yang semakin bertubi-tubi
Bagaikan beban yang berada di atas gunung-gunung menimbun padat
Bagaikan hamparan padang rumput yang subur dan hijau

Sekarang telah berubah menjadi hitam dan tak terlihat
Jernihnya air pun sudah tak terlihat
Berbagai habitat telah pergi mencari perlindungan ke sana ke mari

Jangan pernah salahkan mereka
Jika mereka mengancam warga dan memangsa hewan-hewan ternaknya

Berbuat kerusakan dimana-mana untuk sekedar mencari tempat, mencari makan
Karena kehidupannya telah direnggut oleh tangan-tangan yang tak bertanggung jawab

***

Lautan Yang Indah Dan Tenang

Puisi Alam lautan tenang

Lautan yang sangat indah dan begitu tenang
Memperlihatkan ikan yang sedang bergurau satu sama lain

Dibalik kokohnya batu karang
Ditemani dengan tanaman laut yang bergerak ke kiri dan kanan sangat indah

Pemandangan itu, membuat terpesona bagi mereka yang melihatnya

Ikan-ikan pun semakin berenang dengan ceria
Air laut pun sangat tenang serta tidak bergelombang

Suasana lautannya pun sangat nyaman dan tenang
Oh lautanku yang sangat tenang dan begitu indah

***

Alam Negeri Begitu Indah

Terdengar sangat merdu kicauan burung di pagi hari
Menandakan hari baru telah berganti

Indahnya alam yang ku lihat ini membuat terpaku
Bagaikan dunia yang ku miliki seorang diri
Aku pun memejamkan mata sejenak
Lalu ku rentangkan tanganku sejenak

Sejuk, tenang, serta rasa senang yang ku rasakan
Membuatku seakan-akan terbang kegirangan
Duhai yang membuat alam
Aku sulit memendam kekagumanku
Dari mulai siang sampai malam
Pesona yang kau buat tak pernah padam

Desiran angin yang berirama dari pegunungan
Serta tumbuhan-tumbuhannya yang menari-nari
Sangat indah ku lihat
Indahnya bagaikan taman-taman di surga
Keindahan alam pun semakin sempurna dibuatnya

Membuat siapa saja yang melihatnya akan terpesona dan terkesima

***

Kemana Perginya Alam Lestari

Dulu sering ku lihat hamparan hijau sawah beratapkan langit biruk
iri kanan sawah, tengahnya sungai
Di antara gunung matahari terbit malu-malu

Namun sekarang kemana?
Lapisan tanah becek berwarna coklat setiap habis hujan
Kini tanahku berwarna abu
Lama kucari tanah becekku

Tapi kenapa sekarang tak nampak?
Cemara kehidupan tinggi menjulang
Menjadi rumah bagi banyak hewan buatan Tuhan
Sekarang cemaranya tidak berwarna hijau dan teduh
Tetap tinggi tapi banyak jendela, banyak lampu

Mengapa bisa begitu?
Sering banjir, sering longsor
Di barat ada asap bikin marah tetangga

Padahal dahulu tidak begitu
Ibu pertiwi cuma tersedu tapi tidak malu
Sayang sekali ibu pertiwi kini tidak hanya sedih
Menanggung pilu sambil tertatih
Anak-anaknya nakal semua
Biar dimarahi tapi tak pernah jera

***

Puisi Alam – Bencana Melandaku

Lewat suara gemuruh di iringi debu bangunan yang runtuh
Tempatku nan asli terlindas habis
Rumah dan harta benda serta nyawa manusia lenyap
Kau lalap habis aku kehilangan segalanya

Mata dunia terpengarah menatap heran
Memang kejadian begitu dahsyat
Bantuan dan pertolongan mengalir
Hati manusia punya nurani

Tuhan… Mengapa semua ini terjadi?
Mungkin kami telah banyak mengingkarimu
Mungkin kami terlalu bangga dengan salah dan dosa-dosa
Ya Tuhan, ampunilah kami dalam segala dosa

***

Puisi Alam – Derai Cemara Udang

Angin pantai disela gerimis mendera pelan
Sejenak berteduh di bawah pohon-pohon cemara udang
Kemudian lenyap ke arah gubuk-gubuk bambu yang reot
Tanpa atap di tepian jalanan pantai

Senja ini, tiada yang romantis atau membiuskan angan ke dalam khayal yang beku
Dan ratusan hari terkubur diam

Pantai ini telah sepi
Hanya derai cemara udang
Hanya rintik gerimis yang tidak kunjung reda
Tidak juga menjadi hujan deras

Ada yang berubah!
Pantai ini merubah dirinya menjadi teduh, hijau dan di beberapa sudut tumbuh padang rumput
Ada cemara udang, perahu nelayan yang sepuluh tahun yang lalu belum kulihat
Ini adalah pantai kenangan

***

Indonesiaku Kapan Kau Kembali Menghijau

Aku senantiasa menanti secercah harapan
Melihat Indonesiaku tumbuh hijau
Meski ia semakin tua

Oh Indonesiaku
Aku melihatmu semakin memutih
Yang tergerai dengan dentuman-dentuman inndustri
Engkau pun terlihat semakin meredup

Oh Indonesiaku
Kapankah kau akan kembali menghijau
Dengan anginnya yang sepoi-sepoi
Aku ingin menghabiskan sisa-sisa umurku
Tuk melihat kau tersenyum kembali

***

Puisi Alam – Indonesiaku, Tanah Airku

puisi alam indonesia tanah airku
tribunnews.com

Pesonanya nan indah, itulah Indonesiaku
Membuat dunia terpesona akan kehindahannya

Budayanya yang beragam
Musiknya yang beragam

Tarian serta bahasanya pun beragam
Itulah tanah airku

Hutannya yang tumbuh asri
Gunung-gunung yang menjulang hijau

Lautannya yang biru terhampar
Serta semua kekayaan alamnya mengisi indahnya nusantara

Tetaplah engkau terjaga serta lestari
Negeri yang terkenal dengan sejuta simponi
Sangat indah negeriku ini

Oh Indonesia
Kau lah negara yang sangat indah, tanah airku

***

Puisi Alam – Alam itulah namaku

Aku adalah tempat hidup bagi binatang dan tanaman
Bagi para binatang, aku merupakan rumah dan habitat mereka tumbuh hingga besar,
beranak pinak, serta lahan buat mencari makan
Bukan hanya binatang belaka, tanaman pun merasakan hal yang serupa
Bagi diriku sendiri, tanaman seperti perhiasan
dan hewan menjadi peliharaan

Kesegaran selalu kuberi terhadap mereka serta untuk penduduk bumi yang lain
Aku juga memberikan oksigen pada seluruh manusia
Tidak lupa kuberikan pula sumber daya alam melimpah buat mereka
memberi energi, kekuatan, perhiasan, serta hal lain yang dibutuhkan merupakan tugasku

Tetapi ini cerita dulu, waktu di mana bumi masih stabil kondisinya
ketika bumi belum dijejali oleh orang-orang yang rakus terhadap sesuatu
dan saat pemanfaatan sumber daya yang kusimpan dipakai sesuai dengan kebutuhan saja

Sebab di masa kini, kisahnya sudah berbeda
Para manusia cuma memikirkan kehidupan mereka sendiri
Mereka tidak pernah peduli tentang kehidupanku
Kerakusan menjadikan mereka ingin mempunyai yang lebih
Ketamakan, keserakahan, serta pemborosan para manusia yang tak bertanggung jawab
sudah menyeretku pada kerusakan

Lihat, apa yang telah mereka perbuat padaku
Sesudah apa saja yang aku berikan untuk mereka,
malah mereka membalasnya dengan menyiksaku tiada henti
Mereka membabat pepohonanku
Mereka suapkan polutan kepadaku
Memburu para binatang yang sudah kubesarkan
bahkan melubangi ozonku dengan zat kimia asing yang tidak pernah kukenal sebelumnya

Hatiku amat pedih
Benarkah hati mereka takkan pernah sadar
Apakah nurani mereka tak bisa iba
Sungguh aku merasa sangat miris dalam hidup, oh alam

***

Puisi Alam – Bulan dan Matahari

Siang, sering mengingatkan aku kepada matahari
Manakala malam, sering mengingatkan aku kepada bulan
Keduanya saling melengkapi siang dan malam

Matahari tidak pernah lelah, membiaskan cahayanya di kala siang
Manakala bulan tidak pernah lupa, menerangi malam malam ku

Percaturan alam tidak pernah silap, bulan dan matahari

***

Puisi Alam – Tanah Airku

Angin berdesir dipantai
Burung berkicau dengan merdu
Embun pagi membasahi rumput-rumput
Itulah tanah airku

Sawahnya menghijau
Gunungnya tinggi menjulang
Rakyat aman dan makmur

Indonesiaku
Tanah tumpah darahku
Jaga dan rawatlah selalu

Disanalah aku dilahirkan dan dibesarkan
Disanalah aku menutup mata
Oh, tanah airku tercinta
Indonesia Jaya

***

Puisi Alam – Keindahan Alam Indonesia

Saat aku membuka mataku
Ku tak percaya bahwa itu nyata
Aku masih berpikir bahwa aku masih bermimpi
Tetapi aku sadar bahwa keindahan itu benar-benar ada di depanku

Sungguh indah kepulauan ini
Ribuan pulau-pulau berjajar
Membentuk gugusan pulau yang indah
Gunung-gunung berbaris dari ujung barat ke ujung timur

Samudra luas membentang dengan air yang biru
Dan berisi keindahan di bawahnya
Aku bangga menjadi anak Indonesia
Aku berjanji aku akan menjagamu

***

Puisi Alam – Dari Bentangan Langit

Dari bentangan langit yang semuIa
Kemarau itu datang kepadamu
Tumbuh perlahan
Berhembus amat panjang
Menyapu lautan

Mengekal tanah berbongkahan menyapu hutan!
Mengekal tanah berbongkahan! Datang kepadamu
Ia, kemarau itu dari Tuhan, yang senantiasa diam dari tangan-Nya.
Dari tangan yang dingin dan tak menyapa yang senyap.
Yang tak menoleh barang sekejap.

***

Puisi Alam – Pantai

Saat di tepi pantai
Kucoba memejamkan mata

Melepaskan semua lelah dan beban yang kurasa
Tergeletak di hamparan luasnya pasir

Serta dihiasi dengan cangkang-cangkang kerang yang indah
Gulungan ombak yang menerjang pasir sangat elok dilihat
Nelayan yang menjala ikan, menambah indah pemandangan pantai kala itu

***

Puisi Alam – Kemana Perginya Alam Lestari

puisi alam kemana pergima alam lestari
500px.com

Dulu sering ku lihat hamparan hijau sawah beratapkan langit biru
Kiri kanan sawah, tengahnya sungai
Di antara gunung matahari terbit malu-malu

Namun sekarang kemana?
Lapisan tanah becek berwarna coklat setiap habis hujan
Kini tanahku berwarna abu
Lama kucari tanah becekku

Tapi kenapa sekarang tak nampak?
Cemara kehidupan tinggi menjulang
Menjadi rumah bagi banyak hewan buatan Tuhan

Sekarang cemaranya tidak berwarna hijau dan teduh
Tetap tinggi tapi banyak jendela, banyak lampu
Mengapa bisa begitu?

Sering banjir, sering longsor
Di barat ada asap bikin marah tetangga
Padahal dahulu tidak begitu
Ibu pertiwi cuma tersedu tapi tidak malu

Sayang sekali ibu pertiwi kini tidak hanya sedih
Menanggung pilu sambil tertatih
Anak-anaknya nakal semua
Biar dimarahi tapi tak pernah jera

***

Puisi Alam – Awan

Aku adalah yang selalu bertebaran di langit
Warnaku putih, abu-abu, atau kadang hitam
Monokrom yang buatku kian menawan
Wujudku yang bergelombang ibarat air di lautan
Tebal tetapi bagus sekali
Bahkan matahari kadang tak tampak
Dan keindahan pelangi kadang tak tampak sempurna
karena si selimut langit menutupinya

Tinggi di atas dunia
selimuti luasnya alam raya
berukuran baik tebal atau tipis
tersebar dan bergerak ke mana-mana
pesona kami bukan buatan saja
halus dan tampak menawan
Keindahan nan tiada terelakkan
Yaitu diriku, awan

***

Puisi Alam – Potongan Surga Nusantara

Masih dalam renungan pagi
Saat burung berkata merdu
Menyanyi kicau sendu
Tentang alam hari ini

Disana terhampar potongan surga
Terlukis dalam ranah keindahan
Langit selaksa biru nan indah
Awan berarak mengikuti sang angin

Padi menunduk dalam kebersahajaan
Terhampar diatas permadani kuning alam pesawahan
Gunung terlihat gagah menjulang penuh digdaya
Pepohonan hijau berbaris menanti sang matahari

Inilah Indonesiaku, potongan surga yang Tuhan kirimkan kepada rakyat kita
Inilah Indonesiaku, keindahan lukisan Tuhan yang tergores di kanvas negeriku
Inilah Indonesiaku, hamparan keindahan yang menghias tanah airku
Inilah Indonesiaku, tanah kebanggaan hingga maut mengakhiri perpisahan

***

Puisi Alam – Lukaku Diusap Sang Bulan

Aku melihat senyuman manis sang bulan seakan-akan menyapaku
Senyumannya terlihat sangat indah membuat hatiku serasa mekar

Aku pun terdiam
Memandang indah sang bulan yang tidak pernah jemu
Sinarnya seakan-akan mengusir gelap malam ini

Kunikmati cahayanya menghangatkan tubuh dan malamku
Serta hati ini terasa bahagia karena ia menyinari malam ini

Bulan, kenapa kau memandangku seperti itu?
Membuatku tidak mengerti dibuatnya

Bahwa setiap keindahan tidak harus senantiasa didekati
Bahwa keindahan tidak harus senantiasa dimiliki
Namun hanya sekedar untuk dipandang dan dikagumi dari kejauhan

***

Puisi Alam – Senja Yang Indah

Keemasan cahaya di cakrawala
Di ufuk barat saat hari mulai senja
Terbelalak mata saat memandangnya
Keindahan dari sang maha pencipta

Sang surya bersiap untuk tenggelam
Menjemput mesra ketenangan malam
Meneguk cahaya dalam-dalam
Menyempurnakan keindahan malam

Lembayung indah tampak kekuningan
Gradasi warna bagaikan lukisan
Di sudut langit yang tipis berawan
Hiasan terbesar sepanjang zaman

***

Puisi Alam – Keindahan Tak Terganti

Siang mulai berganti
Warna langit pun berubah menjadi jingga
Burung-burung silih berganti terbang di tengah warna jingga yang kian melebur di langit sana
Siapa saja yang melihatnya, akan takjub dibuatnya

Waktu terus berlari
Warna jingga pun terkikis secara perlahan
Gelap mulai membayangi senja

Meski begitu, keindahan senja tidak akan ada yang menggantikan
Meski gelap semakin pekat

***

Puisi Alam – Tanah Air Mata

puisi alam tanah air mata
flickr.com

tanah airmata tanah tumpah darahku
mata air airmata kami
airmata tanah air kami
di sinilah kami berdiri
menyanyikan airmata kami

di balik gembur subur tanahmu
kami simpan perih kami
di balik etalase megah gedung-gedungmu
kami coba sembunyikan derita kami
kami coba simpan nestapa
kami coba kuburkan duka lara
tapi perih tak bisa sembunyi

ia merebak ke mana-mana
bumi memang tak sebatas pandang
dan udara luas menunggu
namun kalian takkan bisa menyingkir
ke mana pun melangkah
kalian pijak airmata kami
ke mana pun terbang
kalian kan hinggap di airmata kami

ke mana pun berlayar
kalian arungi airmata kami
kalian sudah terkepung
takkan bisa mengelak
takkan bisa ke mana pergi
menyerahlah pada kedalaman airmata kami

***

Demikianlah kumpulan puisi alam terbaik yang berhasil disadur dari berbagai sumber yang bisa menjadi bacaan ringan dan menarik untuk mengapresiasi keagungan Tuhan YME lewat alam ciptaannya.