Cerpen Remaja

Cerpen Remaja – Karya sastra yang cukup digemari saat ini adalah cerpen. Cerpen merupakan sebuah cerita pendek yang disusun dalam beberapa paragrap yang panjangnya antara 1000 – 10.000 kata saja.

Perbedaan mendasar cerita fiksi cerpen dengan dengan novel adalah masalah narasi yang disajikan pada cerpen hanya satu saja dan sederhana. Selain itu penokohan pada cerpen juga lebih sederhana dan kurang mendetail dibandingkan novel.

Kumpulan Cerpen Remaja Pendek Terbaik

Berikut ini adalah beberapa cerpen remaja dengan berbagai tema seperti kehidupan cinta persahabatan dan pendidikan. Cerpen ini bisa menjadi bacaan singkat menarik atau bisa juga sebagai bahan referensi pelajaran untuk membuat cerpen sendiri. Silahkan disimak!

Cerpen Remaja – Masih Amatir

Siang itu aku berjalan dengan santai menuju ruang guru untuk melaksanakan tugas yang telah diamanahkan kepadaku, tak terbebani sama sekali aku ini namun mata-mata yang curiga dan sok tau itu menilai dengan salah, saya memang agak terkesan loyo, lemah, dan putus asa namun itu hanyalah penampilan yang dilihat secara langsung tanpa adanya perhatian yang lebih khusus.

Sesuai dengan kebiasaan sehari-harinya akupun melaksanakan kegiatan yang aku asumsikan sebagai kegiatan selain belajar yang bermanfaat di institusi ini, yah membaca mungkin bagi sebagian orang membaca itu sama saja denagan belajar namun itu sangatlah berbeda. Ketika kita belajar yang kita pelajari hanyalah mengenai masalah yang telah dicantumkan di kurikulum guru tidaklah boleh melewati batasan yang telah ditetapkan itu. Di kalangan guru aku memang tidak populer dan tidak ramah namun dengan pengurus perpustakaan merekalah yang melempar senyum dan kuberi balasan.

Seperti biasanya saya mencari buku yang sedang ingin saya baca atau melihat apa asa yang menarik atau tidak. Buku yang kucari tak kunjung menampakkan dirinya dan pada akhirnya ku temukan buku terebut namun sayangnya sedang dibaca. Ke menatap wanita tersebut dan mungkin karena tak merasa enak dia melihatku dan berkata “ada apa melihat saya dengan begitu?”. “oh tidak, saya hanya melihat buku itu” jawabku. “oh yang ini, buku ini cukup bagus” tanggapnya.

Setelah itu kami mengulas buku tersebut, aku memang sudah membaca namun belum selesai. Bel istirahat berakhir pun menyapa telinga kami yang mengingatkan pertemuan ini berakhir.

Setelah sampai di rumah aku pun mulai berpikir dan selalu mebayangkan wanita tersebut yang namanya adalah Yani. Besoknya di sekolah aku tak pernah melihat wanita ini lagi. Tak lama kemudian ketika di rumah hal yang tak terduga terjadi nada pesan handphoneku pun berbunyi dan ternyata itu adalah dia, aku pun mulai berkomunikasi dengan baik dengannya awalanya kamu hanya membahas topik yang umum hingga kemudian kami membahasa masalah pribadi dan tak terduga aku pun mulai memiliki perasaan kepadanya.

Dunia memang bekerja dengan caranya yang benar-benar rahasia, terkadang kita tak menyadari apa yang telah dia perbuat kepada umat manusia dan apa yang umat manusia lakukan kepadanya. Hari berlalu, minggu berlalu, dan hampir sebulan sudah aku berkomunikasi dengannya dan jiwaku seakan hanya ingin diberikan makan oleh suaranya.

Malam itu aku pun memutuskan untuk menyatakan perasaan ku yang sebenarnya memang ini masih jarang ku lakukan dan mungkin itu pula alasannya aku gagal dia hanya mengatakan agar tetap berusaha siapa tau saja perasaannya muncul. Ketika sedang membahas suatu pembahasan dia tiba-tiba membahas orang lain yang merupakan teman dekatnya yang bernama Rani dan dia mengatakan perasaan sebenarnya mengenai temannya itu. “sebenarnya Rani itu munafik dia merebut gebetan temannya meski tau temannya sangat menyukai si Rudi, aku sih mau aja ngasih tau si Rudi gimana sih si Rani itu tapi biarin aja deh nanti kebaikan akan muncul” itulah yang dia sampaikan kepadaku, Rudi merupakan siswa lain yang keren, kaya, dan baik. Akupun meladeni dengan membahas temannya tersebut, sebenarnya bukan membahas namun menceritakan aib si Rani.

Bulan berikutnya aku pun mulai berpikir bahwa Yani ini tidaklah pantas untukku dan tidak ada wanita yang pantas untukku dan aku pun memutusakan untuk jaga jarak dan mulai melupakannya.

Pemikiranku bukannya tidak beralasan namun terkadang ketika berbincang dengannya dia masih merasa aku ini orang asing dan sedikit menutup masalah pribadinya dariku dan hanya membahas masalah sosial dan pelajaran di sekolah.

Hampir dua minggu aku tak memberikan untaian sapa yang hangat dan perasaanku seakan membunuhku karena aku menjauhinya dengan alasannya yang merupakan asumsi pribadiku sendiri saja. Pekan Olahraga dan Seni di sekolahku dimulai, ketika itu aku mendukung teman sekolahku yang sedang tanding futsal dan Yani dan temannya Rika duduk di sisi lapangan yang satunya dengan bercanda gurau.

Sesekali aku menatapnya dan ketika aku menatapnya dia juga menatapku. Sesampainya di rumah pesan singkat mampir di telpon genggamku dan kucoba mengecek dan ternyata itu adalah Yani. Hubungan kami pun kembali seperti dulu dan malah agak semakin dekat, aku juga menyempatkan waktu untuk menonton pementasan dramanya, rencananya aku ingin mengantarnya pulang namun dia menghilang.

Aku pun menuju rumah dan menelponnya, aku pun bertanya dimana dia dan sama siapa pulang dan mengatakan dia sudah pulang dengan temannya, ketika aku mengatakan “tadi rencananya aku mau nganterin kamu pulang tapi kamu menghilang” dia tidak memberikan respon apapun dan disinilah mulai dugaanku yang sebenarnya bermulai namun masih ku kesampingkan karena cinta itu memang telah membutakan manusia yang satu ini.

Dulunya aku dan dia hanya sekedar berkirim pesan singkat dan terjadi peningkatan intensitas komunikasi di antara kami, kau sudah telpon-menelpon dan hubungan kami telah seperti pacaran karena hampir seharian kami telpon menelpon.

Hari itu merupakan dua hari terakhir tahun 2012 dan aku terus menghubunginya namun telponnya tidak diangkat dan pesanku tidak dibalas padahal besoknnya merupakan hari ulang tahunnya. Akupun takut terus menelponnya karena nanti menganggunya.

Pamanku dan sepupuku pun menawari tahun baru di rumah pamanku dan aku pun setuju untuk ikut, meski bergitu aku masih terus menghubunginya karena perasaanku yang sedang tidak enak dan penasaran dengan keadaanya dan plus hari tersebut merupakan hari ulang tahunnya.

Aku pun mengikuti firasatku yang mengatakan dia sudah tidak ingin dekat denganku pun ingin kubuktikan dengan mengirim pesan kepadanya dengan menggunakan nomor telpon sepupuku, meski hanya pesan yang sangat singkat dan tidak berguna dan dari orang yang tidak dikenal ternyata dia balas, perasaanku pun hancur ketika itu juga, namun aku menyembunyikan ekspresiku karena nanti akan berakibat buruk di depan pamanku dan keluarganya serta sepupuku.

Sesampainya dirumah pamanku setelah merayakan tahun baru diluar aku mencoba menghubunginya dengan nomor telponku sendiri dan ketika dia mengangkatnya aku pun hanya mengatakan “kamu tadi lagi bikin apa? Kok gak ada info?”. “Maaf aku lagi sibuk sekarang baru available” balasnya. “oh kalau gitu udah dulu” aku menjawab dengan nada rendah. Aku menjelaskan yang telah aku lakukan, dan selidiki dengan pesan kepadanya dan dia pun ternyata membalas dengan mengatakan selama ini aku sudah berusaha dan ternyata perasaanku tetap sama.

“Muke gile, dia kira gue goblok apa? Gua ini introvert gue ngerti lagi yang loe maksud, gue gak naif meski gak berpengalaman di urusan percintaan, mana mungkin loe ngasih jawaban seperti itu secepat itu, pasti ada yang udah terjadi” itulah yang kukatkan dalam hatiku.

Seminggu liburanku terasa sakit luar biasa yang diakibatkan cinta ternyata hal seperti itu juga melandaku setelah aku memutuskan melupakan dia pernah menjejakkan kakinya di hatiku, alasan utamanya mengatakan hal tersebut ketika tahun baru pun baru kuketahui sebulan kemudian ketika aku menstalk twitternya, dia mengatakan dan meretweet dengan tegas twit yang terbaca “Kalo gebetan sudah sebulan gak jadi pacaran berarti Cuma dijadikan pelarian” meski sakit namun terasa segar karena telah jelas aku ini telah menjadi korban apa. Beberapa minggu kemudian dia telah terdengar dan terlihat telah berpacaran dengan Rudi.

Betapa luar biasanya kisah ini, aku dijadikan pelarian dari seorang wanita yang sedang menunggu pria yang disukainya yang sedang pacaran dengan temannya, dan tahun baruku juga ikut hancur. Masih ada satu hal yang membuatku penasaran yakni mengapa aku yang dia pilih menjadi korbannya?

Dan itupun terjawab beberapa hari kemudian, aku mengingat ketika dia mengingatkanku dengan temannya yang aku permainkan ketika masih SMP karena dia juga merupakan siswa yang dari SMP yang sama denganku, mungkin itu pertanda niatnya yang sebenarnya namun waktu SMP aku masih sangat bodoh jadi tak dapat mengerti perasaan orang lain. Aku pun merasa ini sudah adil dan ini adalah hukuman namun hukumannya benar-benar parah.

  Cerpen Perpisahan

Skenario yang luar biasa Yani dan aktingmu luar biasa..

***

Cerpen Remaja – Fans Cinta

Hari pertama aku masuk sekolah SMA aku bertemu dengan kakak OSIS yang menurutku sangat keren. Waktu itu adalah hari senin dan sedang diadakan upacara pembukaan bagi peserta didik baru di SMA itu, aku melihat dia menggunakan almamater OSIS dan baris di sebelah kiri lapangan. Aku sangat berharap kalau nanti dia yang akan menjadi koordinator kelasku. Akhirnya doa ku pun terkabul, yang menjadi koordinator kelasku adalah kak raka yang keren itu dan kak tuning.

MOS hari pertama kelasku sangat sepi, mungkin karena belum pada kenal dengan teman-teman satu kelasnya. Hari itu juga aku disuruh perkenalkan diriku di depan kelas. aku sangat grogi di depan kelas, karena aku tidak terbiasa berdiri di depan kelas apa lagi di sampingku ada kak raka, makin bertambah saja groginya.

Perkenalan selesai, waktu istirahat kupergunakan untuk menyelidiki tentang kak raka. Aku mengikuti kak raka sampai depan kelasnya. Ternyata dia anak XI.IA.2, betapa kerennya dia, sudah ganteng ditambah pintar. Saat itu aku jadi semangat belajar untuk mendapatkan kelas IPA.

Hari kedua MOS diakan tes penjurusan, aku datang pagi-pagi sekali ke sekolah untuk meneruskan belajarku yang semalem, jam 7.30 tes dimulai, aku berusaha konsentrasi mengerjakan soal tes satu persatu, setelah dua jam kemudian tes pun selesai, waktunya istirahat. Waktu istirahat aku bertemu dengan kak raka di kantin sekolah, aku menyapanya “hai kak” sambil tersenyum, dan dia pun membalas sapaan ku “hai juga dek” dengan senyumnya yang sangat manis.

Hari ketiga MOS sekolahku mengadakan seni gembira, kelas yang tampil diacak dan kelasku mendapat giliran pertama. Betapa tegangnya aku berdiri di atas panggung dengan teman-teman ku dan di saksikan kakak kelas dari kelas 11 sampai kelas 12. Kelas ku bernyanyi dengan iringan gitar yang dimainkan oleh kak raka. Penampilan hari itu selesai, dilanjutkan dengan kegiatan di dalam kelas. Kami duduk lesehan di lanta sambil bernyanyi bersama kak raka dan kak tuning sampai jam pelajaran selesai.

Hari keempat waktunya demo ekskul. Aku memperhatikan satu-persatu ekskul yang tampil, tapi aku tidak melihat kak raka ada di dalam ekskul tersebut sampai ekskul yang terakhir tampil adalah ekskul karate. Ternyata kak raka ikut ekskul karate. Saat dia ditunjuk oleh pelatihnya untuk memecahkan besi dia maju ke depan tepat di depan besi yang akan dia patahkan. Teman-temannya berteriak “kakak follback, kakak follback” yang tujuannya meledek kak raka. Tapi kak raka tidak marah malah tersenyum.

Saat demo ekskul selesai aku mendapat edaran kertas untuk memilih ekskul yang diinginkan. Tanpa berfikir lagi aku langsung memilih ekskul karate. Tanpa aku sadar aku berteriak “kak raka keren!!!” dia melihat ku dan berkata “terima kasih dek”. Aku langsung malu dan pergi ke kelas dan tidak keluar lagi.

****

Cerpen Remaja – Cinta Yang Selalu Terjaga

“BRAAK!!!”
Shinee mendongak.
“sorry, aku sengaja ha.. Ha.. Ha..” cessa berlalu pergi sambil tertawa puas.
Shinee menggerutu sebal sambil menyimpuni bekas-berkasnya yang berhamburan setelah ditabrak cessa.
“butuh pertolongan” tawar Mcqueen sambil mengulurkan tangan kannannya. Shinee berdiri setelah selesai menyimpuni berkasnya lalu bergegas pergi menuju kelas tanpa menghiraukan Mcqueen yang tangan kanannya masih terulur. Mcqueen memasukan tangan nya ke saku celananya dan pergi menutupi rasa malunya.
“ya.. Sudah kalau nggak mau di bantu..” gumam Mcqueen dalam hati.

“makanya kalau naksir jangan sama cewek cac*d kayak gitu masih banyak yang sempurna” tiba-tiba Cessa mencelos panjang lebar dan nyaring sehingga di dengar yang lain membuat Mcqueen lebih cepat melangkahkan kaki. Tak berapa lama terdengar suara tertawaan anak-anak juga tatapan sinis yang dialamatkan ke Mcqueen.
“Oscar..!” Oscar menoleh. Melihat sahabatnya yang berwajah pucat. “kamu kenapa? Kayak habis ketabrak aja..”
“lebih parah dari itu sob, gue di ketawain sama anak-anak. Parah!!! Image gue bisa turun.”
“santai aja kali jangan dipikirin kan lo masih banyak yang naksir santai aja bro.”
“santai! Gak bisa”
“terus mau di apain lagi..”

“lo gak ngerti masalah gue, maksud gue..” tiba-tiba Cessa masuk ke percakapan. Lalu terjadilah percakapan yang membuat bosan Mcqueen, Mcqueen hanya diam mencoba berdoa kepada Tuhan YME agar percakapan itu diselesaikan lebih cepat. Shinee lewat sambil membawa beberapa berkas yang terlihat berat.
“mau gue bantu” tawar Mcqueen. Shinee menggeleng.
“lo kalau mau ambil hatinya shine, liatin gue.” bisik Oscar.
“Shy awas ada batu di depan lo” shinee menghindar dari batu dan mengangguk. Tanda terimakasih.

“gitu caranya..”
“eh.. Gitu, gue kira gimana..”
“asal lo tau ya Shinee itu mau nggangguk kalau..” Cessa sadar kalau kedua cowok favorit di sekolah ini yang berbicara di depannya mencuekinnya. Sekarang tatapan sebal mereka dapatkan.
“oh ya Cess kita tadi mau ngomong apa..” ucap Oscar sok manis.
“nggak, nggak jadi ” Cessa berlalu pergi.
“tuh cewek lo..”
“enak aja gue nggak suka sama dia ya…”
“yakin”
“ya..”
“kalau Shinee”
“hmmm.. Gue pikir-pikir dulu lah”
“ha..ha..ha..”
“ha..ha..ha..”

*****

Cerpen Remaja – Ketika Dia Menghampiriku

Kala itu aku sedang duduk santai di bangku taman kampus, sambil membaca buku kuperhatikan satu-persatu halaman demi halaman yang kuharapkan bisa menembah wawasanku. tak lama kemudian ku mendengar suara langkah kaki yang hendak menghampiriku.
“Hai sedang apa?”. Suara laki-laki itu yang kurasa sudah berada dekat dengan posisi duduk ku.
“Sedang membaca buku saja,”. Jawabku agak malas.

“Tiba-tiba sekali kau melakukan ini”. Dirinya bertanya lagi padaku.
“Kurasa saat ini aku tak tahu mau melakukan apa, jadi apa salahnya aku membaca buku. Mengisi waktu luang”. Timpalku sambil menjelaskan.
“Kau mau ini?”. Sambil menyodorkan segelas jus minuman dingin kepadaku.
“Ambillah aku membelikan ini untukmu”.
“Untukku?, tak biasanya kau seperti ini kepadaku, Han”
“Memangnya tidak boleh aku membelikan ini untukmu, ya sudah aku ambil lagi saja minumanku kalau kau tidak menginginkannya”. Nada bicara yang membuatku terasa lucu jika didengar.

“Iya iya, aku ambil pemberiaanmu, terima kasih ya. Han”
“Oke sama-sama, diminum dong. Ra”

Akhirnya keduanya meminum minuman yang dibawa lelaki itu, dengan nikmatnya mereka meneguk perlahan airnya. Tampak pandangan yang tak sewajarna sebagai seorang sahabat dekat, entah apa yang mereka rasakan saat itu. Mereka seperti anak remaja yang dilanda rasa dilema yang mendalam. Apakah mereka merasakan yang namanya cinta?. Jika salah satu dari mereka tidak bisa berjalan bersama, seperti ada yang kurang dirasakan oleh rekan-rekan satu kampusnya. Pandangan mereka saling bertemu, binaran cahaya di mata mereka menceritakan sesuatu yang sulit untuk dijelaskan bagaimana rasanya. Mungkin mereka hanya bisa bertatap seperti itu, setelah selama 6 tahun menjalin persahabatan yang begitu dekat seperti sepasang kekasih yang begitu serasi. Namun, sepertinya mereka menyembunyikan perasaan yang mereka rasakan. Karena mereka lebih mencoba diam untuk masalah ini. Hingga pandangan mereka pun terlepas ketika mendengar seseorang memanggil.
“Farhan?” Suara yang tidak asing menurut mereka untuk didengar.

“Eh, kamu San, ada apa?” Ya Santi yang menghampiri mereka saat ini, wanita yang sangat menyukai Farhan. Namun sampai saat ini Farhan belum bisa membalas perasaannya karena ada wanita lain yang mengisi hatinya terlebih dahulu, itulah Rasti sahabatnya sendiri.

“Kamu mau membantuku menyelesaikan tugas biologi ini tidak?, aku kesulitan nih, terlalu rumit bagiku untuk menyelesaikannya. Mungkin dengan bantuan mu aku bisa memperbaiki nilaiku yang akhir-akhir ini turun”. Ucapnya dengan agak sedih.

“Mungkin kau kurang belajar San, Harusnya kau mencoba dan lebih banyak membaca lagi tentang memahami pelajaran ini. Sulit memang tapi pasti bisa kok”. Rasti memberikan motivasi kepada Santi, namun dari raut muka yang ditunjukan Santi seperti raut wajah yang tidak suka Rasti berbicara seperti itu.

“Kau tak perlu menasehati ku Rasti, aku tak suka dinasehati kamu, kau kira kau sudah lebih baik?. Aku tak butuh kamu disini kalau hanya untuk menceramahi aku. Lebih baik kau pergi saja sana dengan yang lain tinggalkan aku dan Farhan saja disni. Lagi pula aku cuma butuh Farhan bukan kamu”. Santi berucap dengan sangat ketus kepada Rasti.

Tak layaknya perempuan seperti biasanya pastilah sakit hatinya apabila dikatakan hal semcam itu. Tanpa fikir panjang Rasti pun meninggalkan mereka berdua dalam keadaan terisak, menimbulkan rasa yang juga sedih dan tidak enak di hati Farhan. Ketika dirinya ingin mengejar Rasti, tangannya sudah terkunci oleh dekapan tangan Santi.

  Cerpen Sedih

“Apa yang kau lakukan kepadanya?, lihatlah dia menangis karena ucapanmu itu”. Farhan berusaha membela.
“Aku tak menginginkan dia ada disini, kau tahu aku ingin belajar dengan mu, bukan dengan dia”. Bantah Santi pada Farhan.
“Tetapi, aku tidak suka dengan caramu yang seperti tadi”. Farhan masih tidak menerima kini dia tidak bisa berbuat banyak.
“Hei, disini aku ingin kau membantuku menyelesaikan ini, sudah lah dia cuma sahabatmu saja. Kenapa kau begitu membelanya?. Lupakan dia disini ada aku yang sedang membutuhkanmu”. Santi sungguh bersikeras membujuk Farhan.

Sebenarnya Farhan ingin sekali mengejar Rasti memberikan sedikit pengertian kepadanya. Tapi rasanya tidaklah mungkin untuk saat ini sekarang ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk menemui sahabatnya dan berbicara secara perasaan dengannya.

***

Cerpen Remaja – Penyebab Galau

Ujian kemarin itu, menjadi ujian yang berarti bagiku, bagaimana tidak, aku yang tidak pernah keluar dari 3 besar kini mendapat nilai ujian Bahasa Inggris yang sangat yummy. 50 50 50 50.

Bagaimana harus aku menyembunyikannya dari sepengetahuan keluargaku? sementara isak tangis terus berderai di pipiku. Belum lagi, aku harus berjalan menyusuri puluhan rumah ketika pulang sekolah. Ya Allah… memang apa salahku ketika aku ujian kemarin? Nyontek, enggak. haduuhh… aku nggak tau harus gimana lagi.

Air mataku menetes tanpa ada bendungan, mataku semakin merah… merah… merah… isak tangis tak berhenti, sampai-sampai teman jalanku menepuk bahuku, dengan menghela napas aku menoleh kearahnya “gila juga ni anak, galau itu karena cowok, putus, atau yang lain deh, pokoknya bukan karena nilai. menurut gue sih kayak gitu, nah lu? huh… emang ya, spesies orang kayak gini udah punah, tapi kenapa gue masih nemuin?” celotehnya sambil mentertawakanku, aku hanya tersenyum. tapi air mata masih belum terhenti.

Sampai di Rumah
Kamu kenapa?” tanya kakakku dan ibuku yang sudah lama tertawa-tawa di depan TV, setelah itu, kuceritakan semuanya. Malah mereka tertawa-tawa melihatku semakin terpuruk mengingat cerita hari ini. “sudah, nggak papa… namanya juga sekolah, yang penting SUKSES” hibur ibuku “Gimana mau sukses kalo naik kelas aja enggak?” lawanku makin kecewa, lalu kutinggalkan mereka berdua ke kamar. Ketika di kamar aku merenungi sesuatu yaitu “Rasanya, baru sekarang aku nangis karena masalah selain bertengkar sama kakak atau adikku di rumah, ternyata rasanya nangis + curhat itu SENSASIONAL” …

Hari Remidi
“Fitri Melani dan Dian Wahyu Safitri, masuk” teriak Pak Saiful dari dalam ruangan memanggilku dan kawan sekelasku. “Kenapa bisa sih fit? kamu kenapa? nilai 50 itu mustahil hukumnya bagi kamu, tapi ada apa sama kamu yang sekarang?” tanya Pak Saiful panjang lebar kepadaku, aku hanya menggeleng dan air mata kembali menghapus semua bedak di pipiku “Baiklah, duduk!” perintah Pak Saiful. “Fitri, kalo kamu dapat nilai diatas 80, bapak akan belikan kamu ice cream, coklat, permen coklat, dan sekaligus keripik singkong untuk kamu siang ini di kopsis” hibur Pak Saiful guru kesayanganku. Bu Wiwik tiba-tiba muncul di jendela ruangan untuk melihat keadaan siswa didiknya bertarung menghadapi masa-masa remidi pertama. Dian, dia hanya terus berdo’a karena selama ini dia tidak pernah menyukai bahasa inggris.
“Rasanya, aku ngerjain ujian ini juga sama aja kayak yang kemaren, cuma, lebih sepenuh hati aja” pikirku dalam hati.

Kukumpulkan lembar jawabanku di atas meja pak saiful dan kutambahi dengan senyum kecut ala ABG Galau dari lubuk otakku. Fiiuuhh… kuhela nafasku lalu duduk di bangku asalku, kulanjutkan dzikirku sejak pagi tadi. Kulihat Pak Saiful dengan teliti menelaah hasil ujianku, tidak lama kemudian Dian temanku mengikuti langkahku untuk mengumpulkan hasil kerjanya selama 30 menit ini.

“Lama sekali Pak Saiful ini, mana lembar kerja Dian diteliti duluan. rasanya mau protes aja” pikirku dalam hati. baru saja ingin kutinggal tiduran Pak Saiful yang matanya tidak berpaling dari lembar kerjaku. Lalu tiba-tiba Pak Saiful berteriak “sembilan puluh empat… sembilan puluh empat… sembilan puluh empat… selamat” ucap Pak Saiful sambil menepuk-nepuk bahuku. Aku menangis senang sekarang, rasanya ingin cepat pulang dan pamer-pamer di depan kakakku. Tapi kulihat Dian lebih terpuruk dariku kemarin, dia melihat lembarannya yang penuh dengan coretan merah “Gimana Yan?” tanyaku lembut Dian mengangguk-angguk lalu berkata “64” lalu dia pergi meninggalkanku begitu saja…

Sesuai janji, pak Saiful mengajakku ke kantin untuk mentraktirku. “Wuuhhhuuuwww…” ucapku dalam hati senang.

Rasanya ini hikmah dari semua sikapku yang selalu terlalu menyepelekan bahasa inggris ketika ujian. Dan sekarang aku sadar Tertawa dan menangis itu sepasang. Kemarin aku pulang dengan derai air mata, sekarang aku pulang dengan gigi yang hampir kering karena kubuka terus mulutku ini untuk tersenyum-senyum sepanjang jalan.

***

Cerpen Remaja – Cinta Tak Terbalas

“Gimana, enak gak minumannya?” tanyaku pada Sheila.
“enak dong, ini kan minuman kesukaanku” jawab Sheila, sambil meminum jus dari sedotannya.
“Pulang yuk, sudah kenyang nasi goreng nih” kataku.

“ya udah deh, antarin aku pulang ya Vino!” canda Sheila. “kalau bukan aku yang antar siapa lagi?” jawabku.
Aku mengantar Sheila pulang ke rumahnya, setelah aku mentraktirnya makan malam nasi goreng. Sesampai di rumah Sheila aku menyempatkan diri untuk mampir dulu, kupikir rumahnya tidak ramai, tapi ternyata ada keponakannya.
“ciee.. mbak Sheila, cowoknya ya?” kata keponakan perempuan Sheila.
“apa sih? dia Cuma temen woy” jawab Sheila santai.

Aku dan Sheila asik bercanda, hingga kira-kira pukul delapan malam, dan aku memutuskan untuk pulang, sebelum aku pulang aku memberi dia sebuah boneka yang kubeli sebagai oleh-oleh saat aku pergi ke pulau Bangka “Sheila aku pulang ya, ini oleh-oleh dariku” kataku sambil menyerahkan boneka yang kubungkus dengan kertas kado bergambar beruang yang lucu.

“iya deh, makasih ya traktirannya” jawab Sheila dengan senyum manisnya. Lalu aku segera menyalakan mesin motorku dan segera pulang.

Sheila, dia orang yang kukenal semenjak aku masuk satu SD dan satu kelas dengannya, dia memang cewek yang baik, dan juga mempunyai wajah manis, tak jarang saat ini jika siapa saja yang bertemu dengannya akan jatuh hati, bahkan aku juga yang mengenalnya sejak umur enam tahun, tapi baru sekarang jatuh hatinya, tapi sayang dia sudah mempunyai seorang pacar, tentu aku tidak ingin disangka mau merebutnya.

Sampai di rumah, aku membuka laptop dan masuk ke akun Twitterku, sebenarnya hanya iseng, tapi aku lihat Sheila juga sedang online.

“hey tidur sana udah malem” kataku membalas mentionnya.

“lo aja yang tidur” jawabnya. Aku dan Sheila sering bercanda tak hanya di Twitter bahkan tiap kali bertemu kami selalu bercanda. Lama kelamaan, aku jatuh hati, tapi aku tahu aku tidak bisa melakukan itu, karena dia sudah punya pacar, jadi aku tetap memendam perasaanku, aku tak tahu kapan akan mengungkapkannya.

Karena sering kami saling balas mention di Twitter, ternyata itu membuat pacar Sheila mungkin terlihat cemburu, dia melarang Sheila agar tidak terlalu sering membalas mentionku itu. ”ayolah, aku tidak akan merebut Sheila, aku yakin dia jodohmu, aku hanya akan terus menjadi temannya” kataku dalam hati.

Sejak itu aku jarang berkomunikasi dengan Sheila, dan aku tak mau memulai, mungkin dia akan mengira aku pengacau. “kapan aku bisa jadi pacar Sheila ya, apa aku hanya akan terus menjadi temannya, bahkan sampai aku mati” kataku dalam hati. Hingga saat ini aku tetap hanya memendam perasaan, sampai saat aku hendak pergi ke Bangka, dimana aku akan melanjutkan pendidikanku sebagai mahasiswa. Satu malam sebelum aku pergi, aku memutuskan bertemu Sheila di taman dan ada sesuatu yang akan aku bicarakan.

Saat sampai di taman, aku menemui Sheila yang sudah menunggu dia terlihat begitu manis malam ini. “sudah lama ya?” kataku
“ya gitu deh” candanya. “Sheila besok aku sudah pergi, sebelum aku pergi aku mau ngomong sama kamu”.
“ngomong aja susah amat” candanya lagi.

“heemm.. aku sudah lama mengenalmu, dan sudah mengetahui sifatmu, dan juga kebiasaanmu, tapi aku baru tahu bahwa aku suka sama kamu” kataku spontan.
“Vino apaan sih, kamu tau kan aku sudah punya cowok, ngapain mau nembak aku, ya pasti aku tolak lah” jawabnya.
“aku tahu, aku bukan mau nembak kamu, aku hanya menyatakan perasaanku, karena aku juga tahu kamu akan menolakku” jawabku.
“jadi buat apa kamu ngomong ini?” tanya Sheila.

“Sejak kita satu kelas di SMA, aku tahu kamu orangnya berbeda, aku tidak tahu tapi setiap kali kita bercanda, aku lebih merasa nyaman, sekalipun kamu tidak, aku hanya ingin kau tahu saja kalau aku suka kamu” aku menjelaskan.

“maaf Vino tapi aku..” belum selesai Sheila berbicara, aku langsung memotongnya.
“Aku mungkin tidak sempurna dari pacarmu, bahkan tidak ada yang bisa kulakukan untukmu, mungkin aku hanya akan terus menjadi teman dari masa lalumu, dan kau tidak butuh aku, karena suda ada pacarmu. Meski aku akan terus jadi masa lalumu tapi aku akan terus hidup di masa depanmu”
“Vino, aku sudah tahu kamu suka aku, dari semua caramu terhadapku saat ini, tapi aku memang sudah dapat yang menurutku sempurna, dan saat ini mungkin aku belum butuh bantuanmu” kata Sheila.

  Cerpen Cinta

“ya, bahkan yang kamu anggap sempurna sebenarnya juga tidak sempurna, tidak apa aku bisa menerima, aku hanya akan terus jadi temanmu, bahkan mungkin ketika aku sudah tiada, kau baru sadar bahwa aku berarti untukmu, maaf ya oh iya, kalau kamu merasa kangen sama aku, anggap saja boneka yang aku kasih sebagai penggantiku” kataku.

Sesaat kami saling terdiam, aku baru sadar inilah yang dinamakan cinta tak berbalas, aku salah menyukai dia, tapi aku tidak bisa membohongi perasaan. Malam itu, akhirnya kami lewati. Pagi hari aku siap berangkat, aku megirimkan pesan singkat sebelum aku pergi “Sheila, sampai jumpa aku senang bisa mengungkapkan perasaanku”

Sheila membalasnya” Terima kasih atas pertemanan kita, kamu yang terbaik”

Aku senang mengetahuinya, tapi tetap aku hanya temannya, meski cintaku tak berbalas, aku tau ada kalanya Sheila akan membutuhkanku. Aku mungkin hanya selalu jadi teman masa lalunya, tapi seberapa keras ia coba lupakan aku, aku akan terus hadir di masa depannya meski hanya ingatan.

“Aku harap kamu bahagia dengan pacarmu, bagimu aku mungkin bukan siapa-siapa, tapi aku yakin ada hubungan khusus di antara kita yang melebihi seorang teman, sahabat, bahkan pacar sekalipun aku berharap bisa jadi pacar Sheila tapi aku tau itu tak mungkin. Sampai Jumpa Sheila.”

TAMAT

***

Cerpen Remaja – Terimakasih Untuk Selama Ini

Salsa, Siska, Shena, ya mereka adalah 3 orang yang sudah sahabatan selama 3 tahun lamanya. Sudah pasti mereka semua tau dong watak masing-masing temannya. Mereka anak yang memiliki kelebihan tersendiri, ada yang pintar, kaya dan cantik. Tapi semua ga memengaruhi persahabatan mereka. Singkat cerita suatu hari dimana si Shena ingin mengajak sahabatnya pergi berliburan bersama.

“Sal, Sis kita liburan yuk… mau gak?” ajak Shena
“hah serius? Mau kemana? Mau mau..!!!” kompak Salsa dan Siska
“iya serius, hmmm.. yang enak kita liburan kemana ya? Pantai aja yuk?” saran Shena
“ayuk ayuk.. seterah lo aja deh Shen yang penting seru, udah lama juga kan kita ga liburan bareng” timpa Siska
“ohh oke deh nanti gue kabarin lagi kita mau liburan kemana!” jelas Shena

“Anak-anak karena kalian sudah melaksanakan Ujian dengan baik dan benar, maka kini Ibu akan mengumumkan siapa juara sekolah tahun ini.. Dan siswa yang mendapatkan juara sekolah dengan pencapaian nilai sebesar 9,8 ialahh… Salsa Putri Anggita, kepada Salsa dipersilahkan” ibu kepala sekolah mengumumkan juara kelas tahun ini dan ternyata Salsa lah yang menjadi juara nya
“itu beneran gue Shen, Sis? Serius? Ga mungkin” kata Salsa kepada Shena dan Siska
“iya itu lo, udah sana maju. Selamat ya lo emang temen gue yang paling pinter, kapan-kapan ajarin gue ya” kata Shena
“Selamat ya Sa, lo hebat banget.. sekali lagi selamat ya” ucap Siska
“hehe.. iya makasih ya untuk support nya selama ini, kalian temen terbaik gue” salsa terharu

Waktunya liburaaannn…
Shena sudah memutuskan untuk liburan ke pantai yaitu ke pantai Sanur Bali. Segeralah dia menghubungi teman temannya untuk datang kerumah nya besok
H-1 mereka akan berangkat berlibur

“waaahhh gilaaa jarang banget gue ketemu suasana yang kayak gini” Salsa
“iya nih bener jarang jarang kita ngeliat beginian, selama ini kan kita sibuk liburan sama buku” Siska
“gimana? Keren kan? Ini gue cari tempat yang paling paling paling dan paling keren buat temen temen gue tersayang.” Shena

Mereka bertiga akhirnya menginap di sebuah villa tidak jauh dari pantai, dan mereka mulai berencana tempat apakah yang akan mereka kunjungi besok. Persahabatan mereka ini sungguh bahagia dan sempurna, mereka dapat menerima semua kekurangan masing-masing temannya.
“besok kita belanja oleh-oleh aja gimana?” ajak Shena
“setuju setuju, sekalian beli buat kenang-kenangan juga kan, sayang banget tempat sekeren ini ga diabadikan” bijak Siska
salsa hanya mengangguk

Tak terasa besok liburan udah berakhir mereka harus kembali pulang, tapi sebelum mereka pulang masing-masing memberikan hadiah kenang-kenangan karena setelah lulus SMP ini siapa tau mereka ga ketemu lagi. Shena memberikan kalung persahabatan, Siska memberikan kotak musik yang alunan nya begitu indah, dan Salsa dia hanya bisa ngasih bingkai foto yang berisikan moment-moment selama 3 tahun mereka berteman, walaupun gak seberapa harganya tapi lihat lah dari ketulusannya. Akhirnya semua menjatuhkan air mata terharu. Mereka saling meminta maaf dan berterima kasih untuk pelajarannya selama 3 tahun ini, untuk kebersamaan nya selama ini, dan untuk ketulusan dan kasih sayang nya selama ini.

Hargailah dan sayangilah sahabatmu kapan pun dan dimana pun, karena hanya mereka lah yang bisa menerima dan membantu kekurangan kamu.

***

Cerpen Remaja – Cowok Itu Abil

Malam yang cerah dengan bintang yang bersinar terang membawa ketenangan dan keyakinan pada malam ini. Malam ini akan terasa lain dari malam biasanya, yang biasanya cuma di rumah dan dihabiskan waktu bareng keluarga. Tapi untuk kali ini malam biasa itu tidak ada lagi semua akan berubah menjadi lebih berwarna.

Dengan keyakinan dan kata-kata yang sudah aku pikirkan gak akan ada kata-kata yang salah lagi semua pasti akan lancar. Sudah dari lama aku nunggu momen ini, momen dimana penantian aku. Cowok itu namanya Abil dia cowok jawa tulen Indonesia. Sudah hampir setengah semester, aku selalu memandanginya dalam perkuliahan. Malam ini adalah waktunya malam penentuan.

Aku sering gombal ke Abil dari awal perkenalan kita mulai dari SMS, Telp dan BBm. Suatu saat aku gombal buat diajak malam mingguan, awal gak berniat ngegombal malam mingguan tapi dari awal pergombalan itu jadi kenyataan. Karena aku sudah mengerti Abil banget, saat diam menahan lapar haus juga, aja aku pun sudah tau kalau Abil cuma bawa duit yang gak banyak jadi aku cuma tertawa dengan manis dan bilang aku haus.

“ya udah yuk kita ke tempat lain buat cari minum” kata Abil dengan senyum manisnya yang makin lama semakin manis.
“sorri ya ga..” kata Abil dengan suara memelas.
“gak papa kok kalau cuman minum aja” jawab aku.
Akhirnya Abil sama aku cuma mampu ngedate di pinggiran kota di semarang dan ini satu-satunya tempat yang tepat untuk uang saku macem Abil ini 20 ribuan.

Ini awal pertama kali Abil jalan berdua denganku, deg-degan jantung ini cenat-cenut sangat, ini cenat-cenut lain ini versi Abil jadi cenat-cenut by Abil bukan lagi cenat-cenut by Smash. Tarik napas buang napas pegang dada nengok kanan-kiri.

Sekali-kali lirik Abil yang lagi memandangku, Aku memang pemalu dan gak suka dilihat terlalu lama. Semakin kencang deg-degan yang Aku rasain lidah terasa kaku gigi terasa mengeras padahal Aku inget tadi pagi Aku sikat gigi gak pake formalin, tapi gigi terasa kaku nafas pun terasa tersengat-sengat deg-degan ini sudah meruak ke seluruh tubuh ke pembuluh-pembuluh darah sampai ke pori-pori dan pipiku merah merona.

“Bil?” sapa aku sebagai awal pengungkapan perasaan ini.
“iya?” jawab Abil dengan wajah memikirkan sesuatu.
“ada yang kamu pikirkan?” kataku.
“hmm gak ada dan pulang yuk sudah malam…” kata Abil.
“oh… oke” kataku dengan nada pasrah.
Kita pun balik untuk nurutin panggilan alamnya Abil.

Setelah kejadian itu hari berikutnya Abil berniat lagi buat ngajakin jalan. Aku sudah persiapkan semuanya kali ini. Menurut fellingku Abil akan nembak di pantai saat melihat pantai itu 90% pasti diterima! karena momen saat di pantai itu paling romantis, duduk berduan, hening, dingin-dingin air atau anginnya, dan ditambah dengan suara deru ombak.

Dengan langkah yang sudah pasti, mantap, dan oke banget Abilpun datang ke rumahku. Terdengar dorongan pintu depan rumahku tandanya ada orang yang keluar dan yang keluar itu nyokapnyaku.

“sore bu” sapa Abil kepada nyokapku dengan senyum-senyum manja berharap nyokapnya suka.
“silahkan masuk” kata nyokapku.
“tante Dangers nya ada?” Tanya Abil.

“ada bentar ya tante panggil dulu” Abil jalan ke dalam rumahnya ngeliat sekeliling rumahnya merhatiin dimana Dangers berada.
“Abil?” sapaku.
“hei Ga..” sapa Abil juga canggung.
“iya byee lin dan night deh hehe”

Ini minggu buat ungkapin perasaan Abil sama aku, Aku ngga akan nyerah gitu aja tetep optimis kalau memang perasaannya sama denganku, Aku pasti bisa jadi satu sama Abil. Mental hati, mental fisik sudah Aku siapin semuanya. Abil ngajak aku kencan di pinggir pantai romantis banget kan dan biasanya fakta membuktikan kalau kencan di pinggir pantai itu pasti 100% sudah pasti sukses. Satu-satu nya jalan Aku harus nyakinin dulu dan perasaannya sama denganku.

  Cerpen Perjuangan

Di pantai kelihatan sepi banget kayanya gak ada orang, Abil berkali-kali menghla nafas untuk bilang sesuatu padaku dan juga nyakin semua yang aku pikirkan sama yang akan terjadi sebentar lagi. Mulai rasa khawatir itu muncul kenapa gak mengucapkapkan sesuatu dan bibirnya berasa bergemeteran.

Aku mutusin untuk bilang sesuatu duluan padanya. Setelah beberapa saat kemudian setelah aku mulai awal perbincangan Abil pun mengungkapkan perasaannya dengan berusaha menyakinkanku, bergemetar dan pandangan matanya penuh harapan untuk diterima dan tanpa panjang kali lebar sama dengan luas aku pun menerimanya karena perasaanku sama dengannya dan yang aku pikirkan tadi sebelum kejadian itu sama.

Abil aku sayang baget kamu, dalam bentuk apapun dengan segala macam kekurangan dan kelebihanmu aku terima apa adanya. Walaupun di mata orang lain kamu buruk menilaimu tidak aku hiraukan dan bagiku kamu sempurna untukku.

Jangan pernah ada kata untuk saling benci, atau putus dalam setiap pertengkaran kita penuh amarah melanda dalam bentuk apapun. Di setiap kesalahan yang kita buat, disitu aku berusaha memaafkan dan minta maaf karena aku menyayangimu bahkan gak da niat atau kata untuk berpisah denganmu, semuanya aku sudah persiapkan dari awal perkenalan kita dan aku buta bahkan gila akan cintamu… Love U

***

Cerpen Remaja – PHP Pertama

“Ayo put, ayo buruan ada anak baru disini!”
“Tunggu kenapa nad, anak baru doang sih bukan artis”.

Perkenalkan namaku Puri Nur Hidayah, panggil saja aku Puput. Nah, yang aku panggil nad itu si Nadia Puspita, sahabat ku dari SD.
“Ih buruan, ini cowo loh kece lagi, lu gak mau liat, ya udah kalo gitu BYE!”
“Yehh, males gue kesono rame, mending di kelas ajeh deh”.

Aku aneh dengan cewe cewe di sekolah ku kok pada tertarik ya sama dia, aku memang mempunyai sifat gak peduli dengan cowo, dan aku juga tomboy padahal nama ku cewe banget kan, aneh kan.

“Kriing.. Kriing” *Bel masuk kelas.
“Mana lagi si nad, lama amat, padahal sudah bel. Ah ya udah lah gue tinggal saja”
Setelah aku ke kelas, lalu si Nadia menyusul ku bersama anak baru itu. Ehhmm.. aku lihat-lihat sih dia memang kece badai, eh dia duduk di belakang ku. Lah kok aku jadi deg-degan gini ya, ah jangan sampai deh, bisa-bisa di PHP-in.

“Kriing.. Kriing” *Bel istirahat.
“Eh, cewe yang duduk di depan gue” waktu ingin ke luar kelas, si anak baru itu manggil kita, ya aku tenggepin.
“Siapa? Gue apa si Puput?” Jawab Nadia.
“Oh, yang samping lu itu si Puput, kalau lu siapa?”
“Gue Nadia” Jawab Nadia
“Sini lu berdua” Sahut dia. Ih, ini baru anak baru saja songong banget (Di dalam hati ku).
“Paan?” Jawab ku dengan agak kesel.
“Sini duduk deh, gue bagi nope lu berdua dong, ni disini” Perintah dia
“Buat apaan? lu naksir sama kita berdua?” Tanya aku dengan ketawa
“Hah? naksir sama lu berdua? Gak banget! Ini gue bagi nope lu buat nanyain PR, gue tau gue tu kece jangan nge-FLY deh” Jawab dia
“Ya udah sih! Ni! Ni Nad tulis. Nama lu siapa?”
“Nama gue Satrio” Saat bersalaman sama dia rasanya ada sesuatu yang aneh yang belum aku rasakan.
“Ciee..” ledek Nadia
“Ish apaan sih, yuk ke kantin” Jawab ku dengan kesal.

Besok Harinya.
Pulang sekolah, tiba-tiba si Satrio ngajak aku pulang bareng berdua naik motornya dia. “Eh Puput, pulang bareng yuk, naek motor gue” Tawar Satrio.
“Ciee, sana bareng” Ledek Nadia.
“diem gak lu nad. Emang rumah lu di mana” Tanya ku.
“Gue tetanggaan sama lu, gue kemaren liat lu habis pulang sekolah ngerti. Udah buruan naik!” Jawab Satrio.
Entah mengapa hati ku ini ingin tidak menolak tawarannya dia apakah ini namanya CINTA? Ya ALLAH.. “Ehhmmmm.. Ya udah deh”
“Ya udah, ayo naik”
“Dada Puput sayang, smoga bahagia ya.. Haha”

Hari ini adalah hari yang paling menyenangkan. Entah mengapa hari ini lebih berbeda dibanding hari yang lainnya. Apa semua ini gara-gara adanya Satrio si cowo kece ini. Entahlah yang jelas hari ini beda.

“Kiirng.. kriing” HP ku bunyi, ternyata Satrio menelfon ku, hati ini semakin deg-degan entah mengapa? “Halo, Assalmualaikum” Ku angkat telfon nya.
“Walaikum salam, aku ganggu kamu ya?”
“Ehhmmm engga, ada apaan ya?”
“Engga, lu besok sore ada acara gak?”
“Ehmm kayaknya enggak, emang nya kenapa?”
“Gue mau ngajak lu ketemuan di taman, bisa nggak lu?”
“Bisa, jam berapa?”
“Ehhmm, jam 3 aja ya”
“Okey”
“assalamualaikum”
“Wa’alaikum salam”
Ehhmmm, seneng nya besok diajak ketemuan di taman pula, ah jadi nge-FLY nih. Jangan-jangan dia nembak aku lagi, Ih..

Besok sorenya di Taman
“eh gue mau ngomong sama lu”
“Ngomong aja” Aduh makin deg-degan aja.
“Lu udah punya pacar belum?”
“Kenapa memang nya?” *Dagdidug*
“Lu mau engga pacaran sama teman gue, ganteng juga orangnya, mau gak?”
Hati ku rasanya terpotong-potong, sakiit.. mungkin aku memang terlalu nge-FLY. “Apa? lu ngomong gitu doang. Gue kira Lo.. Sakit hati gue.. Lo..”

Kamu emang bisa ngerti sama apa yang Aku rasain…. tapi apa Kamu bisa mahamin? apa Kamu bisa ngerasain sama apa yang Aku rasain? harus berapa kali airmata ini jatuh karena Kamu.

— TAMAT —

****

Cerpen Remaja – Dia Tiga Dan Terimalah

Di kelas

“yang namanya ama dipanggil bu wiwi di piket” mengikuti suara yang memanggilku menghampiri bu wiwi. Sejenak dia berbalik “ya tuhan ganteng sekali! Siapa namanya? Oh god!” bisiku dalam hati.

“ros, aku liat ada yang ganteng barusan. Kaka kelas!” tegasku pada ros yang masi polos dan belum terkontaminasi ‘gue, elo’.
“mana? Aku ga lihat am!” jawabnya
“aku lihatnya kemarin sih ros, haha” tuntasku.

Maklum, murid baru duduk bangku abu-abu! Smk loh, bukan sd. Beli baju baluuu, ga ada koperasi! Adanya bisnis centre. “itu yang aku maksud!” bisikku,
“yang mana?” jawab ros
“yang jongkok.”
“ganteng am!” ros nyengir,

“jelas! Gua kan bilang kemaren-kemaren, hadoh!” gerutuku dalam hati sambil berharap dia yang ngasihin seragam itu padaku.

“aku denger febrian namanya!” ros mulai ngajak rumpi pagi-pagi. ‘febrian’ itulah nama yang kutulis dengan seni grafiti sepanjang istirahat biar ga ada yang tau. Huaaaa

Ga lama aku tau namanya! Dan itu bukan febrian! Itu pukulan keras untukku, karena selama ini nama yang kutulis dengan penuh harap bukan namanya, oh god! Mau pingsan saja rasanya.

Aaakkk, waktu cepet banget jalannya. Dia kelas 3 yang mau ujian dan aku anak yang siap dikirim prakerin. Huaaa, gimana lihat dia lagi? Pasrah.

Sms
“am, ada seminar, dapet snack dapet transport” begitu bunyi sms dari tari
“oke gua ikut, gua ajak pasukan gua ya tar” balasku.
“ajak aja! Biar rame.” kembali sms darinya.

Bertolak seminar, lapar dan ngantuk. Hoam! Yang penting uang transportnya okey! “gua smsan sama kakak itu, sumpah cuek banget” celetuk tari “aaa gua kesel, yang naksir duluan gua kenapa lu duluan yang smsan sama dia?” gumam dalam hati.

“am, ni nomernya tiga. Aku ambil dari hpnya tari tadi” kata ros di sms
“makasi ros!” jawabku riang. Aku berfikir “apa yang akan kulakukan dengan nomer ini? Ya ampun!” teriaku dalam hati.

Mencoba beranikan diri dannn. Tiktok.. Tiktok.. Smsku dibalas! Setelah itu sms-smsku yang lain mengundang rasa penasarannya! Sampai pada akhirnya aku akui siapa diriku dan menghilang.

Dia hanya penasaran dengan nama aneh yang kusebutkan padanya, bukan benar-benar ingin mengenalku sebagai teman. Smsku yang biasa aku kirimkan padanya tidak terbalas hingga aku duduk di bangku kelas 3 smk. Dan tari terus membuatku panas karena masih smsan sama kakak kelas pujaanku.

Oh god! Sampai sekarang aku tidak berfikir untuk mengirim pesan padanya, daripada harus menerima kenyataan dia tidak membalas pesanku.

****

cerpen remaja
cerpen remaja | pixabay.com

Demikianlah kumpulan cerpen remaja terbaik yang bisa dibagikan pada postingan kali ini. Jangan lupa datang kembali ke blog ini untuk melihat berbagai update cerpen terbaik yang akan selalu dibagikan kedepannya.

Leave a Comment