Cerpen Persahabatan

Cerpen Persahabatan – Berikut ini kami bermaksud membagikan beberapa cerpen tentang persahabatan yang menarik. Persahabatan dalam kehidupan memang penuh arti dan makna, sehingga tema ini sangat cocok dibawa sebagai tema pembuatan cerita pendek.

Cerpen Persahabatan ini diambil dan dipilih secara langsung dari berbagai sumber pustaka online cerita pendek karangan pembaca. Selain itu, cerpen persahabatan ini bisa menjadi bahan pembelajaran dan referensi untuk kamu yang sedang mencari hiburan dan mengisi waktu dalam masa senggang berselancar di dunia maya.

Kumpulan Cerpen Persahabatan

Nah, jangan berlama-lama langsung saja disimak kumpulan cerpen persahabatan sejati berikut ini. Semoga membaca cerita pendek tentang persahabatan ini bisa mengisi waktu baca anda.

Cerpen Persahabatan – Sahabat Kecilku

“Ini, buat kamu”, seraya menjulurkan bunga edelweis.
“Ini kan…”, belum sempat ku menyelesaikan kata kataku, tiba tiba dia memotong ucapanku.
“Iya, dulu kan kamu pernah minta ini kalau aku sudah pulang dari luar negeri” , jelasnya.

Ternyata dia sama sekali tidak lupa, meskipun sudah 4 tahun tidak pernah saling menghubungi. Bunga yang melambangkan keabadian ini, memang sudah sejak lama aku menginginkannya. Tak ada yang berubah. Meskipun sudah 4 tahun aku tak melihatnya. Garis wajahnya, rambutnya yang ikal, alisnya yang hitam tebal, bola matanya yang bulat coklat, msh sama seperti dulu. Sudah sejak kecil aku mengenalnya. Dia tetangga baruku sewaktu aku kecil.
“Nama kamu siapa?”
“Aku Ines, kamu?”
“Aku Tio”
“Kamu pindah darimna?”
“Dari luar kota, karena Papa ku lagi ada urusan bisnis di sini, jadi kami terpaksa pindah ke sini”
“Hmm. Aku senang punya teman baru. Semoga kita bisa berteman baik ya”
“Iya, aku juga”

Sejak saat itu aku menjadi akrab dengannya. Main bersama, jalan jalan bersama keluarganya dan keluargaku. Dan kami pun berjanji untuk tetap bersahabat baik hingga besar nanti. Ketika suatu hari ia mengajakku ke taman dekat rumah, sepertinya ada hal penting yang ingin ia bicarakan.
“Minggu depan aku akan pindah”
“Pindah kemana? Kenapa mendadak?”
“Ke luar negeri. Sebenarnya aku ingin memberitahumu sejak awal, tapi aku takut kamu sedih lalu menjauh dariku”
Sebenarnya aku juga sudah tahu kalau dia ingin pindah ke luar negeri. Mamah yang memberitahuku. Ku kira itu hanya
omongan saja, tapi ternyata…
“Kamu mau minta hadiah apa dariku?”
“Apa aja?”
“Iya. Apa yang kamu mau, aku akan kasih”
“Kamu tahu kan, kalau dari dulu aku sangat menginginkan bunga itu?”
“Edelweis? Hanya itu saja?”
“Iya, hanya itu saja”
“Baiklah”

Tiba tiba ia menyadarkan lamunanku. Membuat pandanganku membaur. Ia mulai mengungkapkan sesuatu.
“Maaf…”, kata katanya terputus.
“Aku tak bisa lama lama tinggal d sini”, sambungnya.
“Kenapa?” tanyaku penasaran.
“Maaf, aku baru bisa memberitahumu sekarang. Karena aku akan balik lagi ke luar negeri. Bulan depan aku akan menikah”
Glek. Menikah?

Tiba tiba pandanganku menjadi buram. Bayangan wajahnya perlahan menghilang di telan bayangan.
“Ines… Ayo bangun! Sudah jam setengah 9. Nanti kamu telat kuliahnya!”
“Yaahhh, Mamah… Lagi nanggung juga mimpinya”
Ternyata hanya mimpi. Aku menghembuskan nafas lega.


Cerpen Persahabatan – Siput dan Wijen

Pagi yang cerah, seorang gadis yang bernama Putri membuka jendela kamarnya dan membiarkan sinar matahari untuk masuk ke dalam kamarnya. “Hoamm, sejuk sekali udara pagi ini” ucap Putri sambil menghirup udara. “Ting ting” handphone Putri berbunyi tanda pesan singkat masuk. Seketika Putri langsung mengambil handphonenya dan membuka pesan singkat tersebut, ternyata itu dari Wijay teman Putri. “Pagi” begitu pesannya. “Pagi juga” Putri membalas. “Put, hari ini bisa tidak kita bertemu?” tanya Wijay pada Putri. “Emangnya mau ngapain?” balas Putri penasaran. “Sudah, nanti datang saja jam 10, aku tunggu di lapangan ya” balas Wijay kembali. “Baiklah” balas Putri.

Putri pun langsung mempersiapkan diri untuk datang menemui Wijay di lapangan. Ia segera mandi, dan setelah itu berdandan. Ketika Putri akan memakai baju, ia bingung ingin mengenakan baju yang mana. Dipilihnya baju berwarna ungu dengan motif bunga-bunga, celana putih, serta jilbab yang berwarna ungu. Setelah ia puas dengan apa yang ia kenakan, ia pun segera turun ke bawah untuk menemui Ayah dan Bundanya di meja makan. “Pagi Yah, pagi Bun” sapa Putri di meja makan pada Ayah dan Bundanya. “Pagi Putri” balas mereka hampir bersamaan. “Ayah, pagi ini Putri mau ke lapangan” ucap Putri. “Loh, mau ngapain?” tanya Ayah penasaran. “Itu, Wijay mau ketemu di lapangan jam 10 nanti” jawab Putri polos. “Oh begitu, ya sudah. Tapi maaf ya Put, Ayah nggak bisa nganter” ucap Ayahnya. “Iya Ayah, tidak apa-apa” balas Putri. Setelah itu Putri menghabiskan makanannya dan meminum segelas susunya sampai habis.

Setelah semuanya selesai, Putri langsung berpamitan kepada Ayah dan Bundanya. “Ayah Bunda, Putri berangkat dulu” ucap Putri berpamitan. “Iya Put, hati-hati ya” balas Bundanya. Setelah itu Putri mengayuh sepedanya dan menuju ke lapangan. Setelah menempuh waktu kurang lebih 10 menit, Putri akhirnya sampai di lapangan, dicarinya Wijay kesana kemari. Dan sampai akhirnya… “Putri!!!” seru seorang anak memanggil Putri. Seketika Putri pun menoleh ke sumber suara. “Hai! Wijay” ucap Putri tiba-tiba. “Hai” balas Wijay. “Mau ngapain sih kesini? Mau mentraktir aku?” ucap Putri dengan rasa percaya diri yang sangat tinggi. “Yee, traktir terus sih pikirannya” sungut Wijay sedikit kesal. “Iya iya, emang mau ngapain Kak Wijay yang paling WOW” ucap Putri dengan nada tak ikhlas. “Hmm, gini loh Put, kamu inget gak ini hari apa?” tanya Wijay pada Putri. “Ya inget lah, ini kan Hari Selasa” jawab Putri dengan mudahnya.

“Kok hari selasa sih? bukan itu maksudku” ucap Wijay sambil berharap. “Emm, emang hari ini hari apa sih?” tanya Putri dengan kepolosannya. “Yah Putri lupa, hari ini kan hari ulang tahunku” ucap Wijay dengan nada sedih. “Oh ya? Maaf aku lupa” balas Putri dengan nada menyesal. “Tak apa, ini ada birthday card buat kamu” ucap Wijay sambil memberikan kartu undangan tersebut. “Wah wah, ada pesta nih keliatannya” ledek Putri. “Hehe.. Iya nih, mumpung ada rezeki” balas Wijay. “Iya Alhamdulillah” jawab Putri turut senang. “Datang ya Put” pinta Wijay. “Insyaallah” ucap Putri tersenyum. “Lahh, pokoknya harus dateng!!” Wijay memaksa. “Loh? siapa tahu nanti aku sampai rumah udah gak ada, makanya aku bilang Insyaallah” jawab Putri bijak. “Kok gitu ngomongnya? serem banget” ucap Wijay keheranan. “Hmm, sudahlah lupakan saja” balas Putri tersenyum.

Setelah selesai bertemu, Putri pun berpamitan kepada Wijay untuk segera pulang ke rumah. “Aku pulang dulu ya Jay” ujar Putri. “Baiklah” jawab Wijay sedikit lesu. “Bye bye.. sampai bertemu di pesta ya” ucap Putri sambil mengedipkan sebelah matanya. “Oke oke” balas Wijay sambil mengedipkan sebelah matanya pula.

Setelah sampai di rumah, Putri langsung membuka kartu undangan tersebut. “Emm, jam 4 sore toh pestanya” ucap Putri sambil mengangguk-anggukan kepala tanda mengerti. “Loh? Berarti aku harus membeli hadiah untuk Wijay? Tapi apa ya?” ucap Putri lirih. Tiba-tiba Bunda Putri datang menghampirinya. “Ada apa Put?” tanya Bunda pada Putri. “Ini Bunda, tadi ternyata Wijay ketemu sama Putri, cuma mau ngasih kartu undangan ini” jelas Putri pada Bunda. “Terus?” jawab Bunda tak mengerti. “Yah Bunda, Putri kan mesti beli hadiah buat Wijay?” ucap Putri. “Oh begitu, ya sudah, belikan Wijay barang kesukaannya” Bunda memberi saran. “Emm? Jam tangan!” celetuk Putri. “Jam tangan? Itu barang kesukaannya Wijay?” tanya Bunda.

“Iya Bunda, Wijay paling suka sama jam tangan” seru Putri. “Ya sudah, nanti Bunda antar ke toko jam tangan ya?” ucap Bunda. “Nanti? Sekarang lah Bunda, undangannya kan jam 4?” ucap Putri mendesak Bundanya. “Hmm ya udah deh, Bunda ganti baju dulu ya” ucap Bunda menuruti permintaannya. “Oke Bunda, jangan terlalu lama yaa” kata Putri. Bundanya tak berkata apapun hanya membalas dengan sebuah senyuman.

Putri meununggu sudah lebih dari 5 menit. “Bunda lama amat sih ganti bajunya” batin Putri berkata. Tak lama dari itu, Bunda Putri keluar dari kamarnya. “Maaf ya, kalau lama” ucap Bunda. “Ya tidak apa-apa” jawab Putri cuek. Selanjutnya Putri langsung menuju depan rumah, dan Bunda Putri mengunci pintu rumah. Setelah semua itu selesai, Bunda dan Putri pun berangkat ke toko jam tangan. Putri segera berlari ke dalam toko jam tersebut, dan langsung melihat-lihat jam tangan yang dipajang. Seketika langkah Putri berhenti di depan jam tangan yang berwarna hitam.

Putri segera memanggil Bundanya “Bundaaa” ucap Putri setengah berteriak. “Ada apa?” balas Bunda sambil menghampiri Putri. “Mau itu” ucap Putri kembali sambil menunjuk jam tangan tersebut. “Yang itu?” tanya Bunda. “Iya” jawab Putri singkat. “Baiklah” ucap Bunda menuruti. “Mas mas, saya ambil yang ini ya?” ucap Bunda Putri kepada petugas toko. “Baik Bu” balas petugas toko dengan ramah. Setelah Bunda Putri membayar di kasir, mereka pun pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah, Putri segera membungkus jam tangan tersebut dengan kertas kado kesukaannya. Perlahan tapi pasti! Putri membungkus dengan sepenuh hati, karena hadiah itu untuk sahabat kesayangannya. Seselesainya Putri membungkus kado, Putri langsung mempersiapkan diri untuk pergi ke pesta ulang tahun Wijay. Lagi lagi, Putri kalah dalam hal berpakaian. Putri bingung harus mengenakan pakaian yang mana. “Bundaa!” teriaknya kencang. “Ada apa Put?” ujar Bunda sambil melangkah mendekati Putri. “Bundaa, Putri tak mengerti harus memakai baju yang mana?” keluh Putri.

“Gunakan saja yang menurutmu layak untuk dipakai” ucap Bunda tersenyum. Putri pun tak mengeluarkan sepatah kata pun. Putri terus mengukir apa maksud Bundanya tadi. “Mungkin memang aku harus mengenakan apa yang selayaknya aku kenakan” batinnya tersenyum. Lalu Putri mengambil baju yang berwarna Putih, celana jeans hitam, dan yang terakhir kerudung hitam. Tanpa berpikir panjang, Putri langsung mandi dan mengenakan pakaian yang telah dipilihnya tadi. Setelah dirinya siap, Putri pun langsung berangkat ke rumah Wijay.

Ternyata telah banyak orang yang sudah datang. “Putriii!” panggil seseorang. Putri pun langsung mencari siapa yang memanggilnya tadi. Ternyata ia adalah teman sekelasnya, Nikmah. “Ehh kamu Kem?” ucap Putri. “Ahh Nikem terus? Jelek tau!” sungut Nikmah kesal. “Iya iya deh, ada apa?” tanya Putri. “Tidak, cuma mau nanya kamu kasih hadiah apa ke Wijay?” ujar Nikmah. “Emm? Adadeh kepo banget sih” ledek Putri. “Yeee.. nimbang nanya doang, pelit amat sih!” celetuk Nikmah. “Privasi dong” ucap Putri di telinga Nikmah dan pergi meninggalkannya.

Putri mencari Wijay kesana kemari, namun tak ada hasil. Lelah pun menghampiri Putri, akhirnya Putri pun memutuskan untuk duduk di bawah pohon mangga. “Nih minumnya” seseorang menyodorkan minuman tepat di depan muka Putri. Serentak Putri kaget, ternyata itu adalah Wijay. “Huuu Wijay ngagetin aja!” gerutu Putri. “Iya maaf maaf” ucapnya meminta maaf.. “Iya deh gak apa-apa” ucapnya. “Oiya! Nih kadonya” celetuk Putri. “Wahh.. Terimaksih sahabatku” ucapnya sambil tersenyum manis. “Oke deh sama-sama. Wle” balas Putri sambil menulurkan lidahnya. “Jelek” celetuk Wijay. “Oh gitu, ya sudah aku pulang!” ucap Putri dengan nada ngambek. “Jangan-jangan dong, aku kan cuma bercanda” jelas Wijay. Putri tak membalas perkataannya lagi, ia hanya diam, diam dan diam.

  Cerpen Perjuangan

Saatnya acara tiup lilin. Wijay sudah bersiap di depan kue ulang tahunnya. Semua teman-temannya serempak menyanyikan lagu ulang tahun untuk Wijay. Setelah tiup lilin, kini saatnya first cake. Ya! Wijay memberikan first cake itu untuk bundanya tercinta. Tak lupa Wijay ucapkan terimakasih atas kehadiran teman-teman di acara pesta ulang tahunnya tersebut.

Sebelum acaranya selesai, Wijay memberi pengumuman lewat pengeras suara. “Teman-teman, ini hari ulang tahunku yang sangat amat spesial. Karena di acara ulang tahunku sekarang ini, sahabat kesayanganku hadir disini” ucap Wijay. Wijay tak meneruskan ucapannya tadi, ia diam mematung. Tapi tiba-tiba… “Putrii!” celetuknya dengan sangat keras. “Hah?” ucap Putri tercengang. Semua mata langsung tertuju pada Putri yang berdiri di samping Nikmah. “Sini Put, maju ke depan” ucap Bunda Wijay. “Apaan sih Jen? Kok aku?” ucap Putri tak mengerti. “Kok Jen? Apalagi itu?” Wijay berbalik tanya. “Jen.. Wijen. Hahaha” ucap Putri tertawa geli.

“Huhh dasar Siput. Wle” ucap Wijay sambil menjulurkan lidahnya. “Loh? Kok Siput?” ucapnya penasaran. “Yoi, Siputri. Hahaha” ucapnya tertawa pula. “Ah sudahlah” ucap Putri lemas. “Haha, mulai sekarang aku panggil kamu Siput” ucap Wijay. “Okee, aku juga panggil kamu Wijen!” balasnya tak mau kalah juga. “Baik, Siput dan Wijen” ucap Wijay. “Hahahaha, itu konyol!” ujar Putri tertawa. “Yang penting happy” balas Wijay. Teman-teman Wijay dan Putri pun ikut tertawa geli juga mendengar Wijen mengatakan hal itu.


Cerpen Persahabatan – You’ll Never Know

Matahari mulai memunculkan sinarnya di ufuk timur bumi, tanda hari kini sudah pagi. Ayam-ayam berkokok serentak membangunkan orang orang yang masih terlelap dalam tidur mereka. Carla terbangun dari tidur nyeyaknya dan segera beranjak menuju kamar mandi untuk segera bersiap-siap menuju sekolahnya
“Carla cepatlah, kita bisa terlambat” teriak Mafalda sahabat sekaligus teman sekamar di tempat kost yang di sewa nya
“sebentar” Carla berteriak balik dan segera keluar dari kamarnya sebelum Mafalda meninggalkannya

Mereka berjalan beiringan menuju sekolah yang sama, namun mereka tidak berada dalam kelas yang sama. Carla berada di kelas Bahasa sedangkan Mafalda berada di kelas Ipa. Hari itu mereka tepat waktu atau lebih tepatnya tepat ketika bel berbunyi mereka sampai di depan pintu gerbang sekolah. Mafalda segera berlari menuju kelas nya begitupun dengan Carla
“syukurlah aku tidak terlambat lagi” gumam Carla saat memasuki kelasnya

Carla berjalan menuju tempat duduknya yang berada di sebelah Olivia, dan berada persis di depan bangku Joshua, teman sekelasnya yang selalu membuat lelucon konyol dan juga biang keributan di dalam kelas. Dan Carla juga sering menjadi penyebab salah satu keributan itu bersama dengan Joshua
“Carla” Joshua memanggilnya saat pelajaran baru saja dimulai
“aku bawa kartu poker. Ayo kita main” ajaknya dengan tersenyum lebar
“jangan! Ini sedang jam pelajaran, mainlah nanti” cegah Olivia
“Ayo!” seru Carla bersemangat sementara Olivia dan Jason teman sebangku Joshua hanya menghela nafas pasrah oleh tingkah laku kedua teman mereka itu

Joshua dan Carla sibuk dengan dunia mereka sendiri sementara guru mereka sedang menjelaskan pelajaran di depan. Tanpa mereka sadari guru itu mengetahui bahwa Carla dan Joshua tidak memperhatikan pelajarannya tanpa memberi peringatan dia pun langsung mendatangi tempat duduk mereka berdua
“apa yang kalian lakukan?!” bentaknya
Carla dan Joshua yang kaget langsung memasukkan kartu mereka ke dalam saku seragam masing-masing
“tidak apa-apa, pak” ucap mereka bebarengan

“Carla sejak kapan papan tulis menghadap ke belakang?! Hadap ke depan!” serunya dan Carla langsung membalikkan tubuhnya
“kembali perhatikan pelajaran!” seru guru itu sebelum kembali melanjutkan pelajarannya
Sementara disisi lain Carla dan Joshua justru menertawakan entah hal apa yang menurut mereka lucu. Walaupun hanya terkikik pelan namun keadaan kelas yang sepi membuah mereka sangat mudah tertangkap
“Carla, Joshua. Keluar dari kelas saya sekarang!!” guru itu berteriak, yang membuat Carla dan juga Joshua terdiam seketika

Setelah mencoba meminta maaf namun tidak ada gunanya, akhirnya Carla dan Joshua pun keluar dari kelas dan duduk di taman yang berada di depan kelas mereka. Mereka saling bercakap-cakap dan seperti biasa membicarakan lelucon lelucon konyol dan akan tertawa bersama-sama atau lebih tepatnya Carla yang akan tertawa hingga memegangi perutnya

Tepat saat mereka masih duduk di taman, Mafalda lewat di koidor kelas mereka dan melihat Carla berada di luar kelas
“Carla” Mafalda melambaikan tangannya pada Carla yang masih sibuk tertawa “kenapa kau tidak berada di kelas?” tanyanya
Carla pun menghentikan tawanya dengan susah payah dan berjalan menuju Mafalda “aku mendapat hukuman bersama dengan Joshua” jawab Carla

“yah, jangan sering bermain di kelas! Dasar kau. Ya sudah aku kembali ke kelas dulu” ucap Mafalda sebelum kembali ke kelasnya
“siapa tadi?” tanya Joshua saat Carla kembali menghampirinya
“Mafalda, temanku” jawab Carla
“hey, boleh aku minta nomer ponselnya?” pinta Joshua
“minta saja sendiri” ucap Carla sambil menjulurkan lidahnya

Tanpa di duga Joshua langsung berdiri dari duduknya dan berlari menghampiri Mafalda yang belum sempat masuk ke dalam kelas. Tentu Mafalda langsung memberikan nomer ponselnya karena dia tau bahwa Joshua adalah teman dari sahabatnya sendiri

Beberapa minggu berlalu setelah Joshua meminta nomor ponsel Mafalda dan akhir-akhir ini dia juga sering menanyakan hal-hal yang bersangkutan dengan Mafalda pada Carla. Carla yang tidak tau apa maksud Joshua sebernarnya pun memberitahukan apa yang dia tau tentang Mafalda. Warna kesukaan barang barang kesukaannya dan lainnya

Sampai pada suatu hari, Carla tidak tau kenapa Joshua tiba-tiba menghindarinya. Dia bahkan tidak berbicara sama sekali pada Carla bahkan saat Carla mencoba bertanya padanya. Dia akan memutar tempat duduknya ke arah lain saat Carla mencoba menanyakan sesuatu padanya atau mengajaknya berbicara
“apa yang sebenarnya terjadi padamu, huh?” tanya Olivia pada akhirnya yang mengetahui perubahan sikap Joshua yang sangat drastis
“frustasi mungkin” canda Carla

Dan Joshua sama sekali tidak menjawab pertanyaan mereka
“sudahlah biarkan saja. Dia akan segera baikan” ucap Jason

Dan beberapa hari setelah itu Carla baru mengetahui bahwa Joshua telah menyatakan perasaannya pada Mafalda, temannya sendiri. Tidak bisa di pungkiri bahwa Carla merasa sedih karena sejujurnya dia menyimpan perasaan pada Joshua sejak lama. Dan dia baru menyadari mengapa Joshua selalu menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan Mafalda. Apakah mungkin itu juga yang membuat nya menghindari Carla selama ini?
“wah, jadi kau menerimanya. Selamat!” ucap Carla sambil tertawa riang di depan Mafalda saat sahabatnya itu memberitahunya bahwa dia telah resmi berpacaran dengan Joshua

“aku kira dia menyukaimu” ucap Mafalda yang membuat Carla terdiam sejenak
“tentu saja tidak. Kami hanya teman biasa” ucapnya
“aku tau. Terima kasih” gumam Mafalda dan memeluk erat sahabat terbaiknya itu

Carla berangkat ke sekolah seperti biasa walaupun Mafalda sudah berangkat lebih dulu karena dia terlambat bangun pagi tadi. Sampai di kelas di menemukan Joshua yang sudah kembali berubah seperti dulu, Joshua yang periang dan selalu menceritakan lelucon lelucon konyolnya

“jadi kau menghindariku beberapa hari ini karena kau sudah berpacaran dengan Mafalda?” tanya Carla saat mereka sudah kembali menjadi biang keributan di kelas
“ha? Eum- aku hanya. Yah hm” jawab Joshua bingung atas pertanyaan Carla
“hahaha oh ya, selamat ya!” ucap Carla yang melihat kebingungan di wajah Joshua
“terima kasih” ucapnya

‘you’ll never know what i feel’ batin Carla sedih dalam hatinya


Cerpen Persahabatan – Sahabat Itu Ga Ada Putusnya

Aku masih menatapnya tidak percaya saat ia mengatakan dengan jelas, di depan wajahku, dia memutuskan tali persahabatan yang telah terjalin sejak lima tahun yang lalu. Aku menggeleng-geleng, menatapnya nanar. Persahabatan yang telah susah payah dibangun dengan rasa sabar, hancur untuk alasan yang tidak kuketahui? Hoh, memalukan. Apa persahabatan ini serapuh itu?

“Kamu kenapa? Aneh. Jangan bercanda di saat-saat seperti ini, deh. Kenapa kamu tiba-tiba datang kesini, sambil berteriak kencang seolah-olah aku ini orang tuli, ‘persahabatan kita putus!’ apa itu cara yang baik untuk mengerjaiku?!” suaraku meninggi. Biar ini hanya bercanda, ini sungguh menyebalkan. Otakku masih berputar-putar, masih mencari-cari alasan ia mengatakan hal itu. Sudah jelas, ia tak mungkin mengatakannya untuk bercanda. Ia pasti punya alasan mengapa ia mengutarakan hal itu di depan wajahku tanpa memikirkan apa yang sedang dikatakannya.

“Aku kecewa sama kamu. Kecewa!” teriaknya. Kata-kata itu cukup mampu menusuk jantungku.

Kami berargumen sangat lama, dengan cukup alot, hingga akhirnya aku kesal dan pergi. Ngapain masih disitu, memperjuangkan persahabatan yang memang sudah jatuh ke jurang? Aku juga masih punya harga diri untuk mengusiknya lagi. Biar saja dia bersama dengan teman-teman barunya, kita lihat saja siapa yang terbaik!

Sebentar lagi, ketika mereka sudah tidak membutuhkan kamu lagi, kamu pasti kembali padaku! Kamu pasti malu!

Dia mengatakan, aku telah merebut orang yang disukainya. Pasti anak-anak penyebar gosip itu lagi. Kenapa sih mulut mereka itu tidak bisa direm? Seharusnya mulut-mulut mereka itu ikut dioperasi agar tidak bisa lagi menyebarkan hal yang nggak jelas kebenarannya. Huh.

Esoknya, aku berangkat sekolah dengan wajah sedikit menyeramkan. Semalam aku tidak tidur, hanya tertawa dendam dan kesal-kesal sendiri. Aku rasa aku sudah gila. Pada saat acara sarapan pagi. Aku memelototi seluruh anggota keluargaku yang ada di meja makan. Ayah, ibu, kakak. Mereka semua telah dapat mataku yang mematikan ini. Mereka salah tingkah. Kakakku mengejekku lagi, ‘dasar perempuan mengerikan!’ sahutnya dari kejauhan.

“Kalau kau bicara lagi, besok kepalamu akan tergantung di depan sekolah,” ancamku sambil tersenyum licik. “Khu, Khu, khu…”

Di sekolah, aku langsung menuju kelasku, dan menduduki bangkuku tanpa menoleh sedikitpun ke arah belakang. Aku membiarkan bangku di sebelahku kosong. Daripada tasku harus tertindih, lebih baik ia mendapatkan kursi kosong itu sebagai tempat yang layak. Aku menggambar-gambar anime dan berusaha tidak menoleh.
Salah satu dari mereka, mulai menunjukkan kekesalannya padaku. Karen menggebrak mejaku dengan kerasnya. Aku sama sekali tidak terkejut ataupun kesal karena dibandingkan ini, penganiayaan kakakku di rumah jauh lebih kejam, hehe.

“Sudah ditinggal sahabat begitu masih sombong. Pura-pura kuat. Memangnya kamu tidak punya rasa malu sampai-sampai mendekati cowok orang?!” bentaknya khas. Aku berdiri. Semua kata-kata yang akan kukeluarkan adalah kata-kata yang sudah kurancang selama semalaman penuh.

“Hei, berisik. Seharusnya aku yang tanya pada kalian, apa kalian tidak malu menyebarkan berita bohong seperti itu dan menghancurkan persahabatan orang?!” bentakku. “Kalau nggak tahu apa-apa, lebih baik diam dan jaga mulut lentur kalian itu. Dan, jangan campuri urusan orang. Apa kalian senang jika melihat orang menderita, hah?!”

“Tch…” Karen menggerakkan tangannya, ia mungkin ingin menamparku.
“Tampar saja kalau berani. Setelah kamu menamparku, tulang punggungmu akan kupatahkan dan kau akan kugantung di depan ruang kepala sekolah. Mau?”
Akhirnya dia menarik tangannya kembali, lalu duduk di bangkunya sambil mengumpat padaku.

“Sebenarnya kenapa sih kamu?” Aku masih tidak mengerti. “Tiba-tiba percaya dengan pembicaraan mereka, padahal kita sama-sama tahu kalau sifat mereka seperti itu!”
“Aku nggak bisa percaya sama kamu lagi,” Isaknya. “Kamu jahat. Kamu ‘kan tahu aku suka sama Zumi. Kenapa kamu malah deket-deket dia?”

“Yumi, aku nggak bermaksud deket-deket, tapi memang ada pekerjaan yang harus kita selesaikan, itu alasannya…”

“Aku nggak percaya…” Dia tambah terisak. “Risa jahat!”

Dia lalu berlari tanpa mendengarku. Aduh, gimana nih? Mungkin lebih baik aku bicara pada Zumi agar semua masalah selesai. Tapi, buat apa aku ngomong sama dia? Alasan apa yang harus aku bicarakan, ‘jelaskan kalau kita bukan apa-apa.’ Lalu dia akan bertanya, ‘memangnya kenapa?’ lalu aku jawab, ‘Yumi marah sama aku karena dia mengira kita pacaran.’ Lalu, berarti perasaan Yumi pada Zumi akan terbongkar. Sama saja menyiram bensin di atas api. Oh, oh, itu pikirkan nanti saja. Yang penting, Zumi harus kupaksa untuk bicara semuanya. Yeay!

  Cerpen Perpisahan

“Zumi, teman-teman mengira kita sedang dalam hubungan yang lebih dari teman, mereka salah paham, jadi mereka bermasalah denganku. Bisa bantu aku menjelaskannya?” akhirnya aku menemukan alasan yang tepat.

“Biar kutebak. Anak-anak bermulut setan itu?” ujarnya emosi. “Baik. Biar aku jelaskan pada mereka. Mereka memang tidak bisa berhenti beraksi.”

Zumi bersedia membantuku. Esoknya, aku menyeret paksa Zumi ke hadapan anak-anak itu. Beberapa ada yang mencibir, mengejek, menghina, dan ucapan-ucapan menyakitkan semacamnya. Aku tidak begitu menghiraukan. Nggak ada gunanya juga.

“Jadi begini,” Zumi menjelaskannya dnegan gugup. “Kami ini sama sekali tidak ada apa-apa. Ingat festival pekan seni budaya yang akan diadakan minggu depan? Kami berdua diperintahkan oleh kepala sekolah untuk membuat event-event di dalamnya menjadi lebih hidup, dan mengatur jalannya festival. Kami juga bertanggung jawab atas dekorasi, tiket dan letak-letak stand. Jadi sejauh ini, kami hanya partner sementara yang disewa oleh sekolah untuk kelangsungan pekan seni budaya. Mengerti?”
“Jadi, kalian sebenarnya tidak ada apa-apa?” Yumi membuka mulutnya.

“Tidak,” Zumi menjawab. “Semua ini adalah tugas dari sekolah. Ingin lebih akurat? Mau kupanggil kepala sekolah untuk menjelaskannya sekarang?”
“Eh, tidak perlu repot-repot,” Karen mengelak. “Kami percaya kok.”

Lalu gerombolan sial itu pergi ke luar, atau lebih tepatnya kabur. Aku dan Yumi sama-sama tersenyum, lalu kami berpelukan. Ia meminta maaf karena sempat tak percaya padaku. Tentu, aku memaafkannya. Persahabatan kami terjalin kembali. Lalu, kami berdua menatap ke arah Zumi, yang keheranan dengan sikap kami berdua.

“Sebenarnya ini ada apa sih? Kok jadi drama gini?” tanyanya bingung.

Aku tersenyum. Biar saja waktu mengungkap rahasia ini pada saatnya…


Cerpen Persahabatan – Sahabat Jadi Cinta

Nama gue Liliana Septi Anugrah pratama. Gue biasa dipanggil Lili. Gue memang bukan cewek yang sempurna. Inget, di dunia ini nggak ada manusia yang sempurna. Kesempurnaan hanya milik Allah. Gua terkenal sebagai cewek tomboy yang maniak basket. And you know? Bagi gue basket is my soulmate. Ada saat suka maupun duka.

Dah deh kenalannya. Sekarang ngomongin cinta (ceile… cinta). Jangan salah loh cewek tomboy juga punya cinta.

Ya, dialah Andika Widi Gusmawan, biasa di panggil Widi. Cowok pendiem, ganteng, manis and super duper keren. Dialah cowok yang bener-bener bisa buat gue jatuh cinta. Walaupun dia bukan yang pertama tapi I hope dia yang terakhir. Amin.

Gue kenal Widi dari awal gue masuk SMA. Kita sekolah di tempat yang sama bahkan di kelas yang sama. Awalnya kita nggak pernah saling nyapa. Bahkan, di hari pertama kita masuk kelas, kita berebutan bangku. Haduh, kesan pertama kok gini amat sih.

Hingga akhirnya gue sebagai cewek tomboy yang punya jiwa friendly ngeberaniin diri buat ngobrol dan minta nomor hapenya. Trereng, Waca. Nomor hape dia sudah ada di tangan. Cowok mana sih yang berani nggak ngasih nomor hape sama cewek manis and imut seantero bumi dan mars. (Hahaha, lebay, narsis, GR and kePDan jadi satu)

Awalnya kikuk sih, paling-paling sms cuman nanya lagi apa, dah makan belum dan beribu kalimat-kalimat nggak jelas yang sudah pasti ketahuan cuman basa-basi doank. Hehehe.

Ya, hubungan kita flat dan monotone. Ya iyalah secara gue saat itu belum punya perasaan sama dia. Belum fallin love gitu. Saat itu gue juga punya cowok sebenarnya tapi gue jarang sms an atau pun telepon. Cowok gue ini tipe cowok yang basi abis. Susah diajak bercanda tapi bukan kutu buku atau bintang kelas gitu. Pokoknya basi deh.

Suatu hari, gue sms Widi dan yang bales ceweknya. Waduh, gawat ini ntar difikir gue cewek perusak rumah tangga orang. Eits salah, maksud gue perusak hubungan orang lain. Gue jadi males deh sms dia.

Hari-hari gue terasa garing tanpa sms dari dia. Setelah hampir seminggu kita nggak sms an tiba-tiba dia sms.

“Hay Friend.”, tertera kalimat itu di layar hapeku.
“Waduh, tumben nih anak sms.”, batin gue.
“Hay juga. Tumben sms nggak takut dimarahin mbak pacar nih. Hahaha.”, balasku.
“Nggak boleh iya sms? Dah the end.”, jawabnya.
“Boleh. Hapeku terbuka untuk siapa aja yang lagi buang gratisan. Dah berapa episode kok dah the end sih? Haha”
“Hahaha, males pacaran sama anak kecil dikit-dikit ngambek. Mending ngejomblo. BEBAS gitu.”

Beberapa hari kemudian gue denger dia deket sama kakak kelas gue. Waduh playboy juga nih anak. Tapi dia malah makin sering sms gue setelah punya pacar baru. Ya sharing-sharing gitu lah. Makin ke sininya kita jadi akrab banget.

Kita di kelas sudah kaya tikus dan kucing. Kocak and gokil abis. Tiap hari berantem dan tau nggak kata temen gue dimana ada gue di situ ada Widi. Emang iya? Nggak juga kali.

Pokoknya kelas gue nggak pernah sepi dari kegokilan kita. Saking akrabnya gue jadi ngrasa nyaman dan mulai fallin love sama dia.
Tapi gue sadar dia cuman nganggap gue sebagai sahabat, nggak lebih. Dia pun masih punya cewek dan ceweknya itu kakak kelas gue dan sahabat gue juga.

Pagi ini dia cerita dia putus sama kakak kelas gue. Dalam hati sebenarya gue seneng banget. Hari ini dia datang ke sekolah dengan muka kusut. Kaya benang aja kusut. Tapi saat jam pelajaran gue nggak lihat dia ada di kelas. Dia bolos. Hellow, masih jaman iya galau karena putus cinta.

Beberapa hari kemudian gue denger dia deket sama temen seangkatan gue tapi beda kelas, Puspa. Hati gue rasanya remuk kaya dilindas truk kontainer full fill. Gue berusaha nutupin perasaan hati ini. Gua dukung dia sama Puspa.

“Hay Sob. Denger-denger Lu deket ma Puspa. Tembak aja Bro, keburu disamber orang loh.”, tantangku.
“Nggaklah Li, Gue cuman temenan sama dia. Gue masih sayang sam mantan gue.”, jawabnya lemah.
“Siapa Sob? Yani kakak kelas kita itu?”

“Bukanlah, Tiara. Lu belum kenal dia kok. Udahlah gue pusing, nggak usah bahas-bahas cewek lagi deh. Capek gue.”
“Oke.”, jawabku singkat seraya ninggalin dia pergi.

Di luar kelas gue melamun. Rasanya hati ini hancur banget denger pernyataan Widi tadi. Tapi gue bertekad buat nutupin rapat-rapat perasaan ini padanya.

Pepatah serapat-rapatnya kamu menyimpan bangkai pasti akhirnya akan kecium juga baunya, mungkin benar. Sepandai-pandainya gue nutupin perasaan hati ini akhirnya Widi pasti tau.

“Sorry Sob, kita sahabatan aja ya. Gue lagi banyak masalah and lagi pengen sendiri.”, katanya padaku.

Sebenarnya saat itu ingin rasanya air mataku mengalir tapi ku tahan. Aku tak ingin terlihat lemah di hadapannya. Hati ini hancur berkeping-keping. Memang tak ada yang berubah pada diri kita, kita tetap bersahabat tapi rasa ingin memilikinya seakan membuat diri ini ingin menangis saat di dekatnya. Rasa sayang sebagai seorang sahabat kini telah berubah. Aku sangat mengharapkannya, biarlah semua kan indah pada waktunya.


Cerpen Persahabatan – Pesawat Kertas

“Plukk!” pesawat kertas itu jatuh tepat di depannya. “Mana pesawatnya?” ucap Putri. “Emm mana yaa?” jawab Yono. “Siniin dong, plisss!” pinta Putri. “Ya udah deh, nih” ucap Yono sambil memberikan pesawat kertas itu kepada Putri. “Nah gitu dong” ucap Putri manis. Putri pun memainkan pesawat kertasnya kembali.

Putri memang sangat suka dengan pesawat kertas. Entah, menurutnya pesawat kertas adalah hal yang paling menginspirasi dirinya. “Put, kenapa sih main pesawat terus?” tanya Via teman Putri. “Memangnya kenapa?” balas Putri sinis. “Ya gak apa-apa, kamu itu aneh!” ujar Via. Putri segera berhenti memainkan pesawat kertasnya itu. “Aneh kenapa?” ucap Putri tak mengerti. “Liat dong, semua anak main bareng! Tapi kamu? Asik sama dunia pesawatmu sendiri!” gerutu Via kesal. “Tapi? Ini memang aku! Maaf aku gak mau debat sama kamu! Aku lagi puasa” balas Putri sabar. Via hanya diam membatu setelah mendengar ucapan itu dari Putri, dan ia langsung meninggalkan Putri begitu saja.

Putri merenungi apa yang Via katakan. “Ya Allah, apa benar aku ini salah?” batinnya menangis. “Apa aku sibuk dengan duniaku sendiri? Tapi, ini bukan duniaku! Ini hanyalah cita-citaku saja” perlahan ia mulai meneteskan air mata.

Keesokan harinya, saat istirahat pertama Putri masih diam di tempat duduknya. “Put, kamu kenapa?” tanya Nita, teman Putri. “Ehh, gak gak papa kok” ucap Putri gugup. “Kamu dari tadi melamun? Biasanya kamu main pesawat kertas?” tanya Nita penasaran. “Iya, gak papa” ucap Putri tersenyum tipis. Putri menaruh kepalanya di atas meja. “Kamu sakit Put?” tanya Nita khawatir. “Tidak” balas Putri pendek. “Ya sudah kalau begitu, aku keluar ya?” ucap Nita. “Iya” jawab Putri.

Putri masih memikirkan kejadian yang kemarin, saat dirinya ditegur oleh Via. “Put, aku minta maaf” ucap seseorang menepuk pundak Putri. Serentak Putri menoleh ke arahnya. “Eh Via, Iya gak papa” ucap Putri seraya mengelap air matanya. “Putri kok nangis?” ucap Via penuh rasa bersalah. “Enggak gak papa” ucap Putri menenangkan diri. Tanpa berkata lain, Via langsung memeluk erat Putri. “Maaf yaa, kemarin aku ngomong gitu, karena aku ngerasa kamu gak mau deket sama kita” ucap Via berusaha menjelaskan. “Iya, tapi bukan itu maksudku” Putri berusaha menjawab. “Iya, ya sudahlah tidak usah dibahas kembali” ucap Via menyelesaikan.

Dari kejadian itu, Putri membuang jauh-jauh tentang keinginannya untuk menjadi seorang Insinyur Pesawat. Putri tak ingin ada temannya yang merasa ia jauhi karena hanya sebuah pesawat kertas! “Mungkin mereka benar, aku hanya sibuk dengan dunia khayalku” ucap batinnya. Putri segera membuang semua pesawat kertasnya ke dalam tong sampah. “Loh Put kenapa dibuang?” tanya Gigih tak mengerti. “Emm, tak apa” balas Putri ringan. “Kamu itu aneh! Kemarin kamu buat pesawat kertas sampai buku kamu tipis? Sekarang malah dibuang? Mubadzir Put!” ujar Gigih menasehati. Putri diam dan tak tahu harus mengatakan apa. Akhirnya Putri langsung berlari meninggalkan Gigih. Hati Putri sangat kacau saat itu, air matanya terus membasahi pipinya. Putri tak habis pikir, semua yang ia lakukan selalu saja salah.

Putri segera mengambil buku diary yang ada di dalam tasnya. “Dear diary, Putri nggak paham sama semua ini. Hati Putri rapuh! Semua yang Putri lakukan selalu saja salah, Putri bingung Putri harus bagaimana?” tulis Putri pada diary tersebut. Setelah selesai menulis diary, Putri segera menaruhnya kembali ke dalam tas.

Detik berganti detik, menit berganti menit, jam berganti jam, dan hari berganti hari. Saatnya Putri kembali untuk masuk sekolah. Hari ini hari bagi Putri melaksanakan tugas piket. “Put, ini diisi dulu absensi kelasnya” ujar Aan. “Iya, taruh saja dulu di mejaku” balas Putri yang sedang menyapu lantai kelas. “Oke” ucap Aan sambil meletakkan absensi di meja Putri. Setelah lantai kelas terlihat bersih, Putri segera mengembalikan sapu di pojok kelas, dan segera kembali ke mejanya untuk mengisi absensi kelas.

Waktu pun berputar dengan sangat cepat, tak terasa sudah saatnya pulang. Putri segera meraih tasnya dan segera meninggalkan tempat duduknya. Ketika Putri sedang berjalan keluar kelas tiba-tiba hujan lebat pun turun. “Yahh? Kok hujan?” ucap Putri dengan nada kecewa. Putri pun memutuskan untuk menunggu hujan itu sampai reda. Setelah menunggu beberapa menit, hujan itu belum juga reda. “Pulangnya bagaimana ini?” hati Putri bertanya. Putri kebingungan karena hujan semakin deras. Seketika Putri memandang langit, Putri segera mengeluarkan buku diarynya. “Dear diary, Langit kenapa kamu nangis? Jangan menangis sekarang, cukup aku saja yang merasakan perih ini. Hentikan sekarang juga tangisanmu, aku sedih jika kau sedih. Kumohonn” tulis Putri pada diary tersebut. Ajaibb! Seketika langit langsung memunculkan senyumannya melalui cahaya matahari. Tanpa berpikir panjang, Putri langsung bergegas untuk kembali ke rumah.

  Cerpen Remaja

Pagi pun telah datang kembali. Saatnya berangkat sekolah. Pagi ini Putri kelihatan sangat lesu. “Kenapa? Sakit?” tanya Nikmah. “Tidak” singkatnya. “Tapi wajahmu pucat pasi” tanyanya kembali. “Sudah biasa” balas Putri renyah. “Biasa bagaimana?” ucapnya penasaran. “Sudahlah lupakan saja” ujar Putri. “Hari ini kamu sangat aneh” ucap Nikmah. “Sudah cukup! jangan bilang aku aneh lagi!” gerutu Putri. “Tapi hari ini? Kau tak seriang yang kemarin” ujar Nikmah. “Ya! Karena aku baru saja kehilangan cita-citaku” ucapnya meneteskan air mata. “Cita-citamu? Apa?” tanya Nikmah penasaran. “Insinyur pesawat” celetuk Putri sambil mengelap air matanya. “Kenapa” tanyanya belum mengerti. “Aku bingung, kau tahu kan? Aku sangat suka dengan pesawat? Tapi banyak orang yang merasa, kalau aku menjauhi mereka hanya karena sebuah pesawat kertas? Hanya karena aku sibuk dengan duniaku?” ucapnya dengan air mata yang mengalir.

“Siapa yang merasa? Aku tidak? Aku mendukungmu” ucapnya menenangkan. “Ya! Memang dia bukan kamu” ucap Putri menegaskan. “Lalu siapa?” tanyanya penasaran. “Sudahlah lupakan saja” ucap Putri membuang muka. “Put, percayalah! Jika Insinyur Pesawat adalah hidupmu, pasti kau bisa mencapainya” ucap Nikmah memotivasi. “Iya, tapi aku bingung” ucap Putri dengan hati tak karuan. Nikmah langsung menyobek kertas bukunya. “Nih, tulis saja apa yang kamu rasakan sekarang” perintahnya. “Untuk apa?” tanya Putri tak mengerti. “Sudahlah lakukan saja” perintahnya kembali. “Baiklah” ucap Putri menyerah.

Putri segera menuliskan perasaannya sekarang di kertas yang diberikan oleh Nikmah. “Sudah. Lalu mau kau apakan?” ucap Putri bingung. Tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun, Nikmah langsung melipat kertas itu menjadi sebuah pesawat. “Apa maksudnya? Aku tak mengerti” ucap Putri. “Sudah, ayo ikut aku” balas Nikmah sambil menarik tangan Putri. “Heyy! Mau kemana?” bentak Putri. Nikmah tak menghiraukan suara Putri yang terus berteriak. Dan tiba-tiba Nikmah menghentikan langkahnya di depan Laboratorium Bahasa. “Mau apa sih? Malah kesini?” ucap Putri penuh bertanya. “Kamu itu dari tadi cerewet banget sih?” gerutu Nikmah kesal. “Iya iya deh” ucap Putri mengalah. “Sudah terbangkan pesawatmu disini” ucapnya memerintah kembali.

“Baiklah” ujar Putri. Putri segera menerbangkan pesawat kertasnya itu, dan anehnya pesawat itu langsung menghilang, entah kemana. “Loh? Pesawatnya kemana?” ucap Putri keheranan. “Sudahlah, mungkin sudah sampai ke Allah” ujar Nikmah menghibur. “Okee, mungkin saja” ucap Putri penuh dengan senyum. “Ya sudah, kamu kembali ke kelas dulu saja, aku masih ada urusan sebentar” ucap Nikmah. “Ya sudah, aku kembali” ujarnya sambil berlari kecil. Setelah Putri kembali ke kelas, Nikmah segera mencari pesawat milik Putri tadi. “Ini dia!” ucap Nikmah lirih. Setelah itu Nikmah langsung menyimpan pesawat milik Putri tadi di sakunya.

*Teeet* bel pulang sekolah berbunyi nyaring. Semua murid-murid berhamburan keluar kelas. Tapi beda halnya dengan Nikmah. Ketika bel pulang sekolah berbunyi, ia malah pergi ke perpustakaan. “Hey! Mau kemana kamu?” ujar Putri setengah berteriak. “Emm? Perpustakaan” jawab Nikmah kebingungan. “Ini kan sudah bel pulang? Perpustakaan pastinya sudah tutup” ucap Putri berpendapat. “Biarlah!” celetuk Nikmah. “Ya sudah kalau begitu! Aku pulang!” balas Putri kesal. Putri pun langsung membuang mukanya dan segera pergi meninggalkan Nikmah.

Pagi pun telah datang kembali. Hari ini tepat umurnya bertambah menjadi 13 tahun. “Selamat Ulang Tahun Putri” ucap Ibu sambil membawa kue tart. “Wahh, terimakasih Bu” balas Putri sambil mencium ibunya. “Iya sama-sama Put. Ya sudah, pergi mandi dulu sana” ucap Ibunya lembut. “Baik Bu” balasnya menurut.

Setelah selesai, Putri segera bersiap-siap dan segera menuju ke sekolah. Putri berjalan dengan cepat untuk menuju ke kelasnya. “Kok pintunya ditutup? Ini kan masih setengah tujuh?” batinnya bergumam. Putri pun makin mempercepat langkahnya. Ia takut, jika pagi ini ada pelajaran jam nol. Ketika Putri membuka pintu kelasnya, Putri tersentak kaget! Karena teman-teman kelasnya membuat kejutan yang sangat spesial. Putri tercengang, memandangi setiap sudut kelasnya. “Pesawat kertas?” ucap Putri agak keras. “Maaf ya Put, sebenarnya kemarin aku membaca isi pesawat kertas yang kau terbangkan di depan Laboratorium Bahasa” jelasnya meminta maaf. “Kau membacanya?” tanya Putri. “Maaf Put” ucap Nikmah kembali.

“Tak apa. terimakasih atas semua ini. Aku suka” balas Putri penuh senyuman. “Iya Put sama-sama. Happy birthday sahabatku” ucap Nikmah seraya memeluk Putri. “Terimakasih” balas Putri sambil memeluk Nikmah juga. “Putriii..” panggil seseorang. “Via?” ucap Putri sambil menoleh ke arahnya. “Happy birthday yaa” ujarnya sambil menepuk pundak Putri. “Iya, terimakasih” balas Putri. “Maaf ya Put, kemarin aku melarangmu untuk..”. “Sudahlah tak apa” ucap Putri memotong perkataan Via. “Baiklah” ujar Via. “Put.. ini semua sebenarnya ide Via” ucap Yono tiba-tiba. “Oya?” celetuk Putri. “Iyaa Put” timpal Nikmah. “Terimakasih Via. Ini sangat amazing!” ujar Putri sambil memeluk Via. “Iya Put sama-sama” balas Via tersenyum manis.

Akhirnya, Putri dan teman kelasnya pun bergembira bersama dan bersenang-senang dengan semua pesawat kertas!!


Cerpen Persahabatan – Shuuko

Perkenalkan nama ku Kyurie, aku bersekolah di SMPN 1 MARTAPURA. Dan sekarang aku sudah duduk di kelas VIII A. Aku mempunyai banyak teman di sekolah ku itu, aku juga mempunyai sebuah Fans Club yang bernama “Anime Loverz”. Tempat dimana orang-orang yang menyukai Animasi Jepang. Fans Club ini juga di muat di situs pertemanan facebook. Fans Club ini mempunyai banyak anggota tentunya di kelas VIII A, karena di kelas inilah terdapat semua anggota Anime Loverz itu sendiri.

Akan ku perkenalkan satu-persatu anggota AnLove (singkatan dari Anime Loverz), Ryu, Kyurie/aku, Kyura, Roruto, Akira, Senju, Karuhi, dan Kazuma. Sebenarnya masih banyak anggota AnLove di kelas lain tapi mungkin hanya mereka saja yang dapat ku sebutkan.

Kami semua begitu akrab hampir tidak ada perselisihan di antara kami, misalkan ada perselisihan pun kami tuntaskan pada hari itu juga. Biar pun kami sebuah Fans Club, tapi kami tetap berteman dengan teman-teman di sekolah itu. Walapun kami sebuah Fans Club bukan berarti kami melanggar aturan sekolah yang telah ditetapkan oleh Bapak Kepala Sekolah. Fans Club kami ini mengajak semua orang ke arah yang positif, bukan ke arah yang negatif.
Walaupun kami ini adalah sebuah Fans Club, kami tidak seperti Fans Club lain, yang pada jam istirahat mereka ngumpul-ngumpul sambil merokok atau melakukan sesuatu hal yang dilarang oleh sekolah, memang kami ngumpul-ngumpul tapi ngumpul-ngumpul sambil makan dan cerita-cerita.

Dari hari ke hari, pertemanan kami berubah menjadi sebuah persahabatan yang membantu satu sama lain, melengkapi kekurangan di diri seorang sahabat. Hari demi hari serasa sangat bahagia karena aku sebelumnya tidak pernah merasakan persahabatan seperti ini. Pada suatu saat seorang anggota AnLove yang bernama Kazuma, tidak dapat berhadir ke sekolah karena dia diberitakan sakit Liver. Kami sempat menjenguknya di rumah sakit Ratu Zalekha, sampai berangsur-angsur keadaannya membaik, dan dia pun dapat kembali bersekolah, selang beberapa hari dia masuk rumah sakit lagi dan kami di beritahu bahwa Kazuma di rawat di Rumah Sakit Ulin, Banjarmasin. Kami sempat menyusun rencana dengan ibu wali kelas kami untuk menjenguk Kazuma di RS Ulin. Tapi karena tidak ada waktu yang tepat rencana itu sempat tertunda. Tapi tidak berapa lama Kazuma dapat bersekolah lagi. Alhamdulillah akhirnya Kazuma sembuh. Selang beberapa hari, Kazuma kembali masuk RS Ulin, kali ini Kazuma cukup lama di rawat di RS itu.

Waktu berlalu kami pun mendekati ulangan kenaikan kelas. Tapi Kazuma belum juga sembuh dan Ibu Wali Kelas kami mengusulkan kepada Bapak Kepala Sekolah agar nantinya Kazuma bisa menyusul ulangan kenaikan kelas, walaupun mungkin soalnya akan di antar ke RS Ulin. Mendengar berita itu kami pun sedikit lega karena Kazuma masih bisa ikut ulangan kenaikan kelas. Dan akhirnya kami pun menjalani ulangan kenaikan kelas tanpa Kazuma. Kurang lebih satu minggu lamanya ulangan kenaikan kelas pun sudah berakhir. Sampai pada suatu hari kami (Semua anggota AnLove) diberitahu oleh Ibu Wali Kelas kami, bahwa Kazuma sekarang di rawat di sebuah Rumah Sakit yang ada di Jakarta. Mendengar berita itu kami pun sontak kaget. Dan kami bertanya-tanya mengapa Kazuma harus di rawat di RS yang ada Di Jakarta? apa rumah sakit di Banjarmasin sudah tidak kuat lagi? semua anggota AnLove pun bersedih. Bagaimana kami bisa menjenguk Kazuma yang ada di RS Jakarta? sedangkan kami tidak mempunyai biaya yang cukup untuk pergi ke sana.

Detik demi detik, hari demi hari. Sampai lah kami pada sebuah berita yang sangat menyesakkan hati dan jiwa, Innalillahi wa innailaihi roji’un… Kazuma teman terbaik kami, sahabat yang kami banggakan, telah berpulang ke Rahmatullah dengan meninggalkan semua kenangan yang telah dia taburkan saat bersama kami. Kazuma sosok seorang yang religius, pintar, cantik, baik, walaupun terkadang dia ngomong ceplas-ceplos, tetapi dia itu sosok yang sangat kami banggakan, kami bangga mempunyai sahabat seperti Kazuma. Jujur saat aku melihat pesan singkat dari Karuhi yang mengatakn Kazuma sudah berada di pangkuan yang Maha Kuasa, aku histeris, aku merasa hancur, aku merasa kecewa, aku merasa sedih yang amat sangat. Begitu dengan juga dengan Ryu, Karuhi, Kyura, Akira, Roruto. Mereka juga merasakan sedih yang amat sangat. Bagaimna tidak seorang teman yang sangat kami kasihi sudah tidak ada di dunia ini. Padahal baru 5 hari yang lalu aku menanyakan kabarnya lewat pesan singkat dan Kazuma menjawab “Baik”.

Begitu juga dengan Ryu, bahkan Ryu baru 3 hari yang lalu dia menanyakan bagaimana keadaannya yang tentunya juga lewat pesan singkat, dan seperti biasa jawabannya “Baik”. Kesedihan kami makin bertambah karena kami ingat bahwa Senju sekarang sedang berada di Pulau Jawa. Dan dia belum tahu berita duka ini. Sampai pada akhirnya kami memutuskan untuk memberitahu berita duka itu. Walaupun kami tidak tahu bagaimana ekspresi Senju, tapi kami yakin pasti dia sangat histeris, ketika tahu bahwa Kazuma teman terbaik kita telah berpulang ke Rahmatullah.

Dan pada keesokan harinya kami semua siswa kelas VIII A dan semua siswa yang kenal dengan Kazuma, ikut melayat ke rumah Almarhumah. Pada saat itu kami diperbolehkan melihat jasad Kazuma, dan pada saat itu anggota AnLove yang pertama melihat jasad Kazuma adalah Karuhi dan Ryu, mereka sangat sedih dan air mata mereka pun tak bisa dibendung. Begitu juga dengan ku, saat di pintu kamar dan melihat jasadnya Kazuma saja, aku sudah mengeluarkan air mata yang sangat banyak dan mana mungkin dengan air mata yang terus bercucuran itu aku dapat mencium keningnya Kazuma. Padahal dalam hati ku, aku ingin sekali mencium kening Kazuma untuk yang terakhir kalinya aku tak ingin Kazuma semakin sedih melihat tangisan ku, semua anggota AnLove dan juga teman-teman yang datang untuk melayat. Setelah itu pun aku cepat pergi dari tempat itu dan kami pun pulang ke rumah masing-masing.

Di dalam hati semua anak AnLove masih tidak percaya bahwa Kazuma teman terkasih kami telah pergi dan meninggalkan semua kenangan di kelas VIII A dan tentunya kenangan tersendiri di hati semua anak AnLove. selamat jalan Kazuma semoga kamu tenang di alam sana, dan semua amal ibadahmu diterima di sisi Allah swt. Dan juga di ampuni semua dosa-dosamu, dan engkau dimasukkan ke dalam surga. Aminn ya robbal alamiin…

  Cerpen Pendidikan

Sekarang tinggal kami yang harus meneruskan kehidupan di masa yang akan datang dan tanpa seorang sahabat terkasih kami. Kazuma, walaupun ragamu sudah tidak ada, tapi kenangan bersamamu dan juga jiwa mu akan tetap kami kenang selalu. Masa-masa bersamamu adalah kenangan yang terindah dan tak akan terlupakan sepanjang masa. Dan untuk yang terakhir kalinya, Kazuma engkau adalah sahabat yang terbaik yang pernah kami temukan.

~ SELESAI ~


Cerpen Persahabatan – Bromo Amazing

“Perkenalkan namaku Gio, aku mempunyai teman yang paling aku banggakan yang bernama Dony”

Liburan sekolah telah tiba tetapi aku dan temanku masih bingung mau liburan kemana, “libur sekolah enaknya kemana ya?” tanya aku kepada temanku. Dia menjawab “enaknya berpetualang dan mencari suasana baru”. “iya aku tau tetapi kemana?” tanyaku lagi kepadanya, kemudian dia menjawabnya: “ya misalnya ke gunung atau berpetualang ke kebun/hutan gitu”

Dengan wajah serius dan sempat termenung akhirnya aku mendapatkan ide untuk liburan ke tempat yang indah dan panorama kawah yang luar biasa. pasti pada penasaran kan aku mau kemana?

Keesokan harinya aku dan temanku yang bernama Dony itu menuju ke tempat itu, tetapi temanku itu masih belum tau tempat tujuan yang akan dituju, terpaksa aku tidak memberitahukannya terlebih dahulu. Hhmm… kalau kata orang zaman sekarang sih bilangnya “SURPRISE”, setelah mau sampai ke tempat tujuan aku memberitahukan nama tempat wisata yang aku maksud itu, dengan wajah senang dia pun bertanya sesuatu kepadaku “tempat apa ini? indah sekali pemandangannya dan udaranya sangat sejuk”. Aku dengan bangga aku menjawabnya: “inilah tempat yang aku nantikan selama ini yaitu Gunung Bromo”

Yaa “Gunung BROMO” lah yang aku maksud. Panoramanya yang indah, jalanan yang berliku-liku, serta udaranya yang sangat sejuk membuat aku memutuskan liburan ke tempat ini. Dengan menaiki sepeda motor kami pun mulai naik ke kaki gunung bromo tersebut.

Setelah 1 jam lamanya akhirnya sampai juga di puncak Bromo, kamipun langsung turun ke padang pasir yang terbentang luas di sekitar Gunung Bromo, dengan sedikit kendala yaitu ban sepeda motor yang sedikit tergelincir serta terseok-seok melewati padang pasir tersebut tetapi semangat juang dan pantang menyerah kami akhirnya kami sampai juga di tempat parkir yang letaknya tepat berada di bawah Gunung Bromo

Dengan rasa tidak sabar kami pun langsung memarkir motor kami, kemudian kami pun langsung lari ke anak tangga yang menghubungkan kaki gunung bromo dengan puncak Bromo.

Setelah sekitar kurang lebih 10 menit kami menaiki anak tangga itu akhirnya kamipun sampai di puncak Gunung Bromo, hanya beberapa kata yang terlintas di benak kami yaitu “BROMO AMAZING”

Ya kata itulah yang terlintas di benak kami sesampai di puncak Bromo tersebut, dari puncak itu kami melihat pemandangan yang indah dan alami. Serta kami pun juga bisa melihat apa yang ada di kaki Bromo dari sini contohnya seperti: orang yang menunggangi kuda/suku Tengger, kemudian kami juga melihat sepeda motor kami yang di parkir di bawah.

Dari sinilah kami mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan segala nikmat yang telah diberikan, “berkat kebesaranmu semua ini tak akan terjadi Tuhan” (dalam hatiku berkata). Kami tidak akan rela bila semua ini hilang/hancur begitu saja, kami akan menjaga titipanmu selama kami bisa.


Cerpen Persahabatan – Cinta Tak Terbalas

“Gimana, enak gak minumannya?” tanyaku pada Sheila.

“enak dong, ini kan minuman kesukaanku” jawab Sheila, sambil meminum jus dari sedotannya.

“Pulang yuk, sudah kenyang nasi goreng nih” kataku.

“ya udah deh, antarin aku pulang ya Vino!” canda Sheila. “kalau bukan aku yang antar siapa lagi?” jawabku.

Aku mengantar Sheila pulang ke rumahnya, setelah aku mentraktirnya makan malam nasi goreng. Sesampai di rumah Sheila aku menyempatkan diri untuk mampir dulu, kupikir rumahnya tidak ramai, tapi ternyata ada keponakannya.

“ciee.. mbak Sheila, cowoknya ya?” kata keponakan perempuan Sheila.

“apa sih? dia Cuma temen woy” jawab Sheila santai.

Aku dan Sheila asik bercanda, hingga kira-kira pukul delapan malam, dan aku memutuskan untuk pulang, sebelum aku pulang aku memberi dia sebuah boneka yang kubeli sebagai oleh-oleh saat aku pergi ke pulau Bangka “Sheila aku pulang ya, ini oleh-oleh dariku” kataku sambil menyerahkan boneka yang kubungkus dengan kertas kado bergambar beruang yang lucu.

“iya deh, makasih ya traktirannya” jawab Sheila dengan senyum manisnya. Lalu aku segera menyalakan mesin motorku dan segera pulang.

Sheila, dia orang yang kukenal semenjak aku masuk satu SD dan satu kelas dengannya, dia memang cewek yang baik, dan juga mempunyai wajah manis, tak jarang saat ini jika siapa saja yang bertemu dengannya akan jatuh hati, bahkan aku juga yang mengenalnya sejak umur enam tahun, tapi baru sekarang jatuh hatinya, tapi sayang dia sudah mempunyai seorang pacar, tentu aku tidak ingin disangka mau merebutnya.

Sampai di rumah, aku membuka laptop dan masuk ke akun Twitterku, sebenarnya hanya iseng, tapi aku lihat Sheila juga sedang online.
“hey tidur sana udah malem” kataku membalas mentionnya.

“lo aja yang tidur” jawabnya. Aku dan Sheila sering bercanda tak hanya di Twitter bahkan tiap kali bertemu kami selalu bercanda. Lama kelamaan, aku jatuh hati, tapi aku tahu aku tidak bisa melakukan itu, karena dia sudah punya pacar, jadi aku tetap memendam perasaanku, aku tak tahu kapan akan mengungkapkannya.
Karena sering kami saling balas mention di Twitter, ternyata itu membuat pacar Sheila mungkin terlihat cemburu, dia melarang Sheila agar tidak terlalu sering membalas mentionku itu. ”ayolah, aku tidak akan merebut Sheila, aku yakin dia jodohmu, aku hanya akan terus menjadi temannya” kataku dalam hati.

Sejak itu aku jarang berkomunikasi dengan Sheila, dan aku tak mau memulai, mungkin dia akan mengira aku pengacau. “kapan aku bisa jadi pacar Sheila ya, apa aku hanya akan terus menjadi temannya, bahkan sampai aku mati” kataku dalam hati. Hingga saat ini aku tetap hanya memendam perasaan, sampai saat aku hendak pergi ke Bangka, dimana aku akan melanjutkan pendidikanku sebagai mahasiswa. Satu malam sebelum aku pergi, aku memutuskan bertemu Sheila di taman dan ada sesuatu yang akan aku bicarakan.

Saat sampai di taman, aku menemui Sheila yang sudah menunggu dia terlihat begitu manis malam ini. “sudah lama ya?” kataku
“ya gitu deh” candanya. “Sheila besok aku sudah pergi, sebelum aku pergi aku mau ngomong sama kamu”.
“ngomong aja susah amat” candanya lagi.

“heemm.. aku sudah lama mengenalmu, dan sudah mengetahui sifatmu, dan juga kebiasaanmu, tapi aku baru tahu bahwa aku suka sama kamu” kataku spontan.
“Vino apaan sih, kamu tau kan aku sudah punya cowok, ngapain mau nembak aku, ya pasti aku tolak lah” jawabnya.
“aku tahu, aku bukan mau nembak kamu, aku hanya menyatakan perasaanku, karena aku juga tahu kamu akan menolakku” jawabku.
“jadi buat apa kamu ngomong ini?” tanya Sheila.

“Sejak kita satu kelas di SMA, aku tahu kamu orangnya berbeda, aku tidak tahu tapi setiap kali kita bercanda, aku lebih merasa nyaman, sekalipun kamu tidak, aku hanya ingin kau tahu saja kalau aku suka kamu” aku menjelaskan.

“maaf Vino tapi aku..” belum selesai Sheila berbicara, aku langsung memotongnya.
“Aku mungkin tidak sempurna dari pacarmu, bahkan tidak ada yang bisa kulakukan untukmu, mungkin aku hanya akan terus menjadi teman dari masa lalumu, dan kau tidak butuh aku, karena suda ada pacarmu. Meski aku akan terus jadi masa lalumu tapi aku akan terus hidup di masa depanmu”
“Vino, aku sudah tahu kamu suka aku, dari semua caramu terhadapku saat ini, tapi aku memang sudah dapat yang menurutku sempurna, dan saat ini mungkin aku belum butuh bantuanmu” kata Sheila.

“ya, bahkan yang kamu anggap sempurna sebenarnya juga tidak sempurna, tidak apa aku bisa menerima, aku hanya akan terus jadi temanmu, bahkan mungkin ketika aku sudah tiada, kau baru sadar bahwa aku berarti untukmu, maaf ya oh iya, kalau kamu merasa kangen sama aku, anggap saja boneka yang aku kasih sebagai penggantiku” kataku.

Sesaat kami saling terdiam, aku baru sadar inilah yang dinamakan cinta tak berbalas, aku salah menyukai dia, tapi aku tidak bisa membohongi perasaan. Malam itu, akhirnya kami lewati. Pagi hari aku siap berangkat, aku megirimkan pesan singkat sebelum aku pergi “Sheila, sampai jumpa aku senang bisa mengungkapkan perasaanku”

Sheila membalasnya” Terima kasih atas pertemanan kita, kamu yang terbaik”

Aku senang mengetahuinya, tapi tetap aku hanya temannya, meski cintaku tak berbalas, aku tau ada kalanya Sheila akan membutuhkanku. Aku mungkin hanya selalu jadi teman masa lalunya, tapi seberapa keras ia coba lupakan aku, aku akan terus hadir di masa depannya meski hanya ingatan. “Aku harap kamu bahagia dengan pacarmu, bagimu aku mungkin bukan siapa-siapa, tapi aku yakin ada hubungan khusus di antara kita yang melebihi seorang teman, sahabat, bahkan pacar sekalipun aku berharap bisa jadi pacar Sheila tapi aku tau itu tak mungkin. Sampai Jumpa Sheila.”

TAMAT


Cerpen Persahabatan – Aku Menyusulmu Sahabat

Dear my best friend, Nayla

Nay, mungkin kamu sudah melupakan aku yang sudah menjadi sahabatmu. Tapi aku tidak akan pernah melupakan kamu, sahabat. Aku tau, dengan kehadiranku disini, hanya akan membuatmu marah. Hingga suatu hari aku mendapat kabar bahwa kamu terkena penyakit kanker hati dan membutuhkan hati yang baru. Aku bersedia mendonorkan hatiku untuk kamu. Aku hanya ingin kamu bahagia. Aku teringat ketika kita bermain, saling curhat, menangis bersama di Panti Asuhan ‘Kasih sayang’, hingga pada akhirnya kamu pergi meninggalkanku. Terima kasih sahabat, kamu sudah mau hadir di hidupku walau hanya sebentar, tapi aku sangat bahagia. Sampai ketemu sahabat…

Tertanda,
Layla

Tanpa terasa air mataku meleleh ke pipi merahku, Orang yang selama ini ku hina, ku usir adalah sahabatku sendiri. Aku sombong, aku jahat, aku egois dan aku menyesal. Andai kau masih hidup, aku berjanji akan kubuat kau bahagia dan aku bakalan menolak tawaran itu. Tawaran apa?

Semua berawal ketika aku ditawarin seseorang untuk diadopsi oleh sebuah keluarga. Aku tinggal di Panti Asuhan ‘Kasih Sayang’. Sebenarnya Layla duluan yang mau diadopsi oleh keluarga itu, tetapi Layla Menolak, karena ia lebih memilih tinggal di panti asuhan bersamaku. Hingga suatu hari keluarga itu mengadopsi ku, tentu saja aku mau, karena dari dulu aku ingin mempunyai keluarga seperti mama dan papa. Tidak dengan Layla, ia menatapku seolah tatapan kecewa, ia menangis dan tidak menjumpaiku di saat aku pergi dari panti asuhan.

“Tante, bolehkah aku memanggil tante dengan mama?” Tanyaku.
“Tentu sayang… nah kita sudah sampai.” Jawab mama.
“Wahhhh, mama apakah ini rumah Nayla?”
“Iya Nayla, kamarmu berada di lantai dua, komplit dengan kamar mandi, TV, dan fasilitas lainnya.”
“Makasih ma…” Seraya memeluk mama.

Hari-hari berlalu dan kini aku sudah bersekolah di ‘Girls Modeling School’. Tanpa aku sadari, sikapku yang awalnya baik, rendah hati berubah menjadi sombong dan suka pamer. Dan aku sudah tidak ingat dengan Layla.
“Permisi nona, ada surat untuk nona.” Kata bi Sum.
“Dari siapa bi.” Kataku jutek.

  Cerpen Sedih

“Dari nona Layla.”
“Siapa itu?”
“Katanya sih, sahabat nona dulu.”
“Aku nggak punya sahabat, mana suratnya?”
“Ini nona, saya permisi dulu”

Dear sahabatku Nayla.
Sudah lama ya kita tidak berjumpa. Bagaimana kabar mu? Aku disini merindukanmu bersama anak panti lainnya. Bagaimana kalau liburan nanti kamu berkunjung ke sini? Aku menunggumu

Salam hangat,
Layla.

“Layla? Siapa sih? Fans kali ya? Bodo amat, orang miskin nggak usah dipedulikan” Sambil merobek robek kertas.

Tanpa terasa setahun sudah lewat, kini Layla memutuskan untuk pergi ke rumah Nayla. Ia berharap sahabatnya senang bertemu dengannya, tetapi itu berlaku sebaliknya. Ketika Layla sudah sampai di rumah Nayla, ia mengetuk pintu rumahnya. Dan yang membukakan pintu adalah Nayla.
“Nayla…” Teriak Layla memelukku.
“Ihhh, lepasin. Kamu tuh siapa sih? Datang datang langsung meluk gak jelas. Apa urusanmu kesini?” Bentakku.

“Nayla, kok gitu sih? Aku ini sahabatmu Layla. “Katanya kaget.
“Sahabat? Eh, dengar ya, aku tidak tau kamu, dan tidak akan pernah mau tau. Dan ingat aku bukan sahabatmu.” Sambil membanting pintu.
“Nayla, kamu sudah berubah. Tidak seperti dulu. Bahkan kamu tidak mengingatku. Hiks” Tangis Layla meninggalkan rumahku.
“Dasar gembel” Kataku.

Hari-hari berlalu, dan aku sering sekali sakit-sakitan. Mamaku membawaku ke rumah sakit terdekat. Dokter bilang aku terkena penyakit kanker hati dan harus mendapatkan donor hati. Mama dan papa tidak sanggup mendonorkan hatinya karena sudah tua. Lalu papa membuatkan iklan untuk mendapatkan donor hati dan hadiahnya 10 juta.

Setelah tiga hari berturut-turut, akhirnya ada yang mau mendonorkan hati, tetapi anehnya orang itu tidak mau diberi 10 juta. Orang itu ikhlas mendonorkan hatinya buat Nayla.

Aku pun berhasil di operasi, kini aku bisa hidup kembali dan menjalani hidupku dengan tenang.
“Mama, papa siapa sih yang mendonorkan hati buat aku?” Tanyaku.
“Nggak tau namanya sayang, karena orang itu tidak mau menyebutkan namanya”
“Oh” Jawabku singkat.

Hingga akhirnya aku mendapatkan surat dari Layla (isi suratnya ada di baris pertama di atas.)
Aku membacanya satu per satu kata dengan hati yang sedih. Ternyata Layla lah yang mendonorkan hatinya buat aku. Jadi selama ini Layla memang sahabatku. Ingin rasanya aku teriak sekeras mungkin, dan itu pun aku lakukan di kamarku. Aku menangis sejadi jadinya, aku menyesal, aku egois terhadap sahabat yang selama ini telah ku lupakan. Dia rela berkorban demi aku bahagia. Layla andai kau masih hidup, aku berjanji akan membuatmu bahagia. Aku akan menyusulmu Layla.

Aku pun telah melayang bersama Layla, aku melihat Nisan ku berjejeran denga Layla, aku juga melihat banyak orang menangis sedih, tetapi aku telah bahagia bersama Layla.


Cerpen Persahabatan – Saat Nathan Tak Ada

Namaku Melfa. Melfa Kirana. Aku punya teman bernama Nathan. Gabriel Nathaniel. Dia adalah musuhku. Dia menjadi musuhku sejak 1 SMP. Sekarang aku 2 SMA. Sangking kami sangat bermusuhan, aku punya catatan permusuhan aku sama Nathan! Begitu juga dengannya.

Suatu hari, aku berdiri di tepi kolam. Lalu tanpa kusadari ada seseorang di belakangku. Dia mendorongku, dan aku pun kecebur di kolam. Malah, aku nggak bisa berenang!

Dia meninggalkanku. Aku cuma bisa teriak teriak minta tolong. Kebetulan, ada temanku yang datang, James. James Richardo. “James?” “Melfa? Kamu tenggelam?” Katanya kaget sambil berlari menyelamatkan aku.

“Thanks James.” Kataku. “Gak apa-apa kok.” Jawabnya. Tiba tiba, Agnes Olivia alias Agnes datang. Agnes adalah pacar James. Lalu dia menghampiriku dan berkata, “Melfa? Ayo, pake baju aku aja. Kebetulan aku bawa baju ganti dua. Pake punya aku aja dulu.” Kata Agnes. “Oke, makasih.” Kataku.

Besoknya, aku memberi sebuah jebakan untuk Nathan. Tapi kutunggu-tunggu, dia belum datang juga. Sampai guru masuk kelas, dia belum datang. “Anak-anak, pulang sekolah, kita akan menjenguk Nathan. Dia sakit tifus.” Kata Bu Maria. Aku kaget. “Huh! Giliran aku punya rencana, dia malah nggak masuk. Mau gak mau, aku harus menjenguknya.” Kataku dalam hati.

Sampai kami di Rumah Sakit Siloam, tempat Nathan dirawat, kami masuk ke kamar Nathan. “Nat, nih buah untuk kamu. Dari Tante Michelle.” Kataku. “Makasih Mel. Titip salam buat Tante Michelle yah.” Jawabnya. Aku menganggukan kepala.

Besoknya, Nathan belum sembuh. Sepanjang istirahat, aku hanya melamun. “Hei! Kok melamun? Mikirin Nathan yaaa?” Tanya Kekez alias Kezia. “Enak aja! Ada-ada aja nih si Kekez!” Seruku mencibir. Memang sih, aku sedang memikirkan Nathan. Aku nggak tahu kenapa. Apa aku sedang menyukai Nathan ya? Ah, tidak usah dipikirkan lah! Aku fokus pada pendidikan saja!


Cerpen Persahabatan – Takdir membelakangi Harapan

Matahari menyinari dengan perlahan seakan-akan malu untuk muncul. Burung-burung bersiul menyambut pagi yang indah. Kini hari baru telah dimulai. Dan hari ini adalah hari senin, hari dimana waktunya sekolah telah dimulai lagi. Rena seorang siswi kelas 2 SMA sudah bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Mengantuk, malas, dan lelah. Itulah yang dia rasakan.

“RENAA, TUNGGU AKUU.” teriak seseorang yang sudah ia duga.
Shafa. Ya, namanya Shafa. Sahabat Rena sejak dari SD sekaligus teman sekelasnya, bahkan rumah mereka bersebelahan.
“untuk apa kamu berteriak sedangkan jarak kita lebih dekat dari 1 meter?” kata rena.
“mungkin saja kamu tidak dengar, hehe.” Jawab shafa sambil tertawa jahil.
“kamu kira aku tuli, dasar.” Katanya sambil tertawa pelan.

Rumah mereka tidak begitu jauh dari sekolah, makanya mereka lebih memilih untuk berjalan kaki. Apalagi pemandangan hijau dan sejuknya udara semakin membuat mereka semangat. Dan tanpa terasa mereka sudah sampai di kelasnya.

Rena dan shafa duduk di tempatnya masing-masing. Dan seperti biasa, Rena menunggu sesosok pria yang selama ini dia pendamkan rasa. Dan akhirnya seseorang yang ditunggu telah menunjukkan batang hidungnya. Ah, rasa rindunya akhirnya menghilang. Senyum yang muncul seketika saat melihat wajahnya serta jantung yang berdetak lebih kencang seakan-akan menyambut kedatangannya. Nama seseorang itu adalah Arga.

“KRIING!!” bel istirahat telah berdering.

semuanya berbondong-bondong menuju keluar kelas setelah menikmati penat di kepala saat jam pelajaran tadi. Namun Rena telah memutuskan untuk berdiam diri di kelas dan membiarkan shafa si tukang makan pergi ke kantin sendiri. Diam-diam rena memperhatikan Arga yang sedang membaca buku, ya.. Arga memang selalu sendirian ketika waktu istirahat tiba. Rasanya Rena ingin menghampiri Arga dan memulai percakapan dengannya. Tapi dia terlalu malu, mendengar suaranya saja tidak pernah. Cinta yang Rena rasakan adalah cinta bertepuk sebelah tangan. Seperti harapan yang hanya mengambang yang tak bertemu tepi untuk berlabuh, tapi Rena tak pernah lelah untuk mewujudkan harapannya. Karena arga adalah cinta pertamanya, pada pandangan pertama sejak dari awal masuk ke sekolah ini.
‘seandainya saja aku punya keberanian untuk mengakui perasaan ini ke kamu, ga.’ Kata rena berbicara di dalam hati.

Akhirnya Rena sudah sampai di rumah dari pulang sekolah. Tak terasa waktu begitu cepat. Rena langsung membentangkan tubuhnya di kasur empuk.. Namun tiba-tiba hape Rena bergetar tanda ada SMS masuk. Dan tentunya, pasti dari Shafa.
“Rena, kamu tahu tidak? Laki-laki itu mengajak aku ketemuan loh! Sore ini juga!” kata shafa.
“aduh Shafa, kenapa sih dari setahun yang lalu sampai sekarang kamu gak mau ngasih tahu aku siapa laki-laki itu? laki-laki yang pedekatenya lama banget itu?” jawab Rena.

“kan sudah aku bilang, aku bakal kasih tahu kamu sampai dia jadian sama aku. Biar kejutan gitu. Tapi dia lama banget pedekatenya, kagak nembak-nembak juga.” Jawab shafa lagi.
“yah semoga saja dia ngajak kamu ketemuan buat nembak kamu, biar aku bisa tahu siapa dia. Memangnya kamu suka sama dia?” jawab Rena.
“banget dong! Gak boleh ada yang suka sama dia selain aku! Hahaha.” Kata Shafa.
Rena tersenyum kecil melihat tingkah sahabatnya itu. Tapi satu harapannya, jangan sampai itu Arga. Jangan sampai.

Hari sudah berganti, Rena pun sudah siap pergi ke sekolah. Dia tak sabar untuk mengetahui siapa lelaki yang dimaksud shafa itu. tapi hari ini Shafa tidak berangkat sekolah bersama dengan Rena, entahlah kenapa. Dan akhirnya Rena sudah sampai ke kelasnya, dan langsung bergegas duduk di bangkunya sambil menunggu Shafa. Tapi tiba-tiba Arga masuk kelas dengan mulutnya berkomat kamit seperti sedang berbicara dengan seseorang, dan ternyata..
“S-Shafa, kamu.. dia..” kata Rena kaget.

“halo renaa, iya sekarang aku pacaran sama Arga, hehe. Kejutan!!”
Rena terkejut ketika melihat Arga masuk ke kelas dengan menggenggam tangan Shafa. Ini memang kejutan, kejutan yang sangat menghancurkan hati Rena. Mata Rena berlinang air mata. Bibirnya pucat seketika. Rasanya dia ingin terjatuh saking lemasnya.
“Rena, kamu kenapa? Rena!! Kok kamu nangis?” kata Shafa sambil langsung menggenggam Rena.
“DIAM!! Tolong diam, aku mau waktu sendiri. Jangan dekati aku.” Kata Rena sambil berlari keluar kelas dan menghempaskan genggaman shafa.

Dia berlari menuju kamar mandi dengan berpontang panting. Tubuhnya begitu lemas. Kecewa, kesal, sedih, semua kepedihan dia rasakan saat ini. Kenapa? Kenapa harus Arga? Kenapa harus sahabatnya? Kenapa.. kenapa harus cinta? Rasanya dia ingin mengulang waktu dan memilih untuk tidak mengetahui kebenaran. Karena rasanya sakit sekali. Dia betanya-tanya, cinta yang begitu besar yang dimilikinya apa hanya akan menjadi sia-sia? Apa benar harapan ini akan selalu jadi harapan?.

Bel masuk sudah berdering tapi Rena tetap memutuskan untuk tetap di kamar mandi sebentar. Sudah berkali-kali dia mengusap air matanya, namun air mata ini tetap saja belomba-lomba membasahi pipinya.
“Arga.. apa sikapku ini masih belum bisa membuktikan kepadamu kalau aku mencintaimu? Apa aku hanya bisa memandangmu dari kejauhan saja?” kata Rena berharap Arga menjawab.

“Ren.. Rena, kamu dimana?” kata shafa sambil mencari Rena.
Orang itu, orang yang sedang mencarinya itu. adalah orang yang sangat dia irikan. Dia bisa dicintai oleh seseorang yang selama ini Rena dambakan. Rena begitu cemburu dengan sahabatnya sendiri. Bukankah itu lucu?

“Rena, rupanya kamu disitu. Kamu kok pergi gitu aja sih?” kata shafa sambil langsung memeluknya.
Ketika shafa memeluk Rena, terasa ada yang basah di bahunya. Dan ternyata Shafa menangis. Dia begitu khawatir dengan Rena. Rena sadar, dia tidak berhak menyalahkan sahabatnya itu. lagipula ini salah Rena sendiri yang tidak mau mengakui perasaannya kepada Arga.

“aku gapapa, shaf. Selamat ya atas hubungan yang baru kamu jalin sama Arga. Aku turut bahagia.”
“Aku tau ada yang kamu sembunyiin, ren. Tapi apapun itu aku akan selalu bersama kamu.”
‘kamu beruntung, ga.. kamu bisa memiliki seorang malaikat yang baik hati yang sedang memelukku saat ini.’ benak rena.

Hari ini hari minggu, Rena biasanya pergi ke taman bersama Shafa. Namun hari ini dia sendirian. Hari ini cerah, namun hati Rena sedang bercuaca hujan. Hatinya masih sakit ketika waktu itu. sakit sekali.

Ketika sedang berjalan-jalan di taman, Rena melihat Shafa sedang duduk berdua di kursi taman dengan Arga. Dengan seketika air matanya terjatuh lagi untuk kesekian kalinya. Namun kali ini tangisan itu dia iringi dengan senyuman.

‘kamu itu seperti bintang, ga. Yang enggak bakal pernah teraih olehku. Namun alasan yang paling penting bagiku untuk melupakanmu adalah.. karena ada bintang dengan cahaya yang indah berkelap kelip di sampingmu. Tepat disampingmu’

***

cerpen persahabatan
cerpen persahabatan | pexels.com

Demikianlah cerpen persahabatan terbaik yang bisa dibagikan pada postingan kali ini. Semoga cerpen persahabatan ini bisa menjadi sumber bacaan singkat menarik yang akan menemani hari anda saat senggang. Sekian dan terima kasih!

Leave a Comment