Cerpen Perpisahan

Cerpen Perpisahan – Berikut ini ada beberapa cerpen perpisahan pilihan yang disadur dari berbagai sumber pustaka. Cerpen perpisahan ini bisa menjadi bacaan singkat menarik dan referensi untuk kamu yang sedang mencari hiburan dalam masa senggang. Silahkan disimak!

Kumpulan Cerpen Perpisahan Terbaik

Cerpen Perpisahan – Senyummu Tangisku

Aku tak ingin dirinya pergi, aku tak ingin melepas cinta yang telah tercipta.. namun begitu banyak masalah harus merelakan semuanya. Aku termenung di bawah rindang taman kota, semilir angin berhembus melambaikan rambutku.

“hey alifah sudah lama kamu di sini?” seorang pria datang dengan bunga dan beberapa makanan kecil di tangannnya.
“aku baru datang juga kok”
ia tak akan pernah tahu sudah berpa lama aku menunggu.” batinku sedikit

Ia menyerahkan bunga dan kami terdiam. “gimana fred, apa kita masih bisa tetap bersama selamanya?, sedangkan orang tuamu menolak dan mengusirku. tanpa alasan” aku berkata memulai pembicaraan.

Alfred duduk disampingku dan termenung beberapa saat. “maafkan aku alifah, aku takut untuk mengatakan ini, tapi kamu tahu kan, orang tua ku tak mengizinkan hubungan kita.” alfred berkata sambil menahan senyum palsunya.

“Sudahlah fred, aku kan sudah bilang, ini bukan jalan terbaik untuk kita, kamu pergi saja dan jangan hiraukan aku.” aku berkata menatap matanya.
Sepi sekali disini, kami termenung seakan tak saling mengenal setelah sekian lamanya kami menjalin hubungan terlarang ini.

Tiba-tiba sebuah kendaraan berhenti dan seorang turun menghampiri kami, ternyata mereka adalah orang tua alfred. Kami berdiri saling berpandangan, dan alfred berjalan lunglai menghadap orang tuanya.

Mamanya alfred membisikan sesuatu ke kuping alfred, dan ia berlari ke depanku menatap dan hening beberapa saat.

“maafkan alifah, kamu membuatku tak fokus pada sekolah dan nilaiku berantakan, selamat tinggal. jagan hubungi aku lagi” alfred berkata dan melepaskan tangannya dan berlalu dengan perlu.

Beberapa bulan kemudian

aku termenung di kamar. beberpa kali mamaku mengajakku makan, namun aku tak bernafsu. Hp di samping tempat tidurku berdering “halo, ini aku alfred!” Sebuah suara di seberang sana.

“ia kenpa fred” aku berkata singkat memendam semua perasaan dan rindu yang bergejolak.

Alfred bicara panjang lebar dan aku hanya berkata “ya atau tidak?” aku hanya tak ingin mengulang rasa yang telah mati.

Aku hanya katakan padanya aku mencintainya sepenuh hatiku. Dan sebagainya.

Aku tak ingin alfred tahu kalau sekarang aku telah pindah ke jakarta meneruskan kuliah serta mencoba melupakan semua tentang masa lalu dengannya.. masa di mana aku merasa sangat berarti, dan semua terasa indah.


Cerpen Perpisahan – Apa Kabar

Pagi yang indah, ku sambut dengan penuh semangat. Seperti biasa aku di antar Bapak ke sekolah dengan becak bersama Rara. Aku tak tahu sejak kapan aku mengenalnya, mulai akrab denganya, dan selalu bermain dengannya. Orang tua Rara seorang yang sibuk, aku tak tahu apa pekerjaannya karena aku masih anak kecil yang belum mengerti sejauh itu. Jadi, Rara selalu bersama dengan keluargaku. Aku sudah menganggap Rara seperti kakakku.

Sesampainya di sekolah aku dapati teman-temanku semua duduk bersandar di teras kelas. Saat itupun aku baru menyadari bahwa hari ini penerimaan rapor. “Kring…” bel berdering dan dari arah ruang guru Bu Nani membawa segepok rapor. Aku segera masuk kelas dan dag dig dug serr, aku raba dadaku, jantungku berdegub kencang. Tanpa basa-basi Bu Nani meminta nama-nama yang beliau sebutkan untuk maju ke depan kelas.

“Febi [Febipun maju]. Ayo tepuk tangan. Febi meraih peraih peringkat 10,” kata Bu Nanik.

Wah… wah… hebat. Raut wajahnya berbinar, dia bahagia sekali. Tak terasa sudah ada 9 orang yang di panggil. Aku berharap satu orang terakhir itu adalah diriku.
“Dan yang terakhir, yang meraih peringkat satu adalah…. adalah Ifa,” kata Bu Nanik.

Hore… Aku langsung meloncat kegirangan. Teman-teman tepuk tangan dan menyalamiku. Duh, bahagianya. Alhamdulillah Ya Allah. Aku ingin segera pulang memberi tahu Bapak, Ibu, dan Rara. Sesegera mungkin aku menghampiri Rara di kelasnya tapi sayang dia sudah pulang di jemput ayahnya, tumben.

Sesampainya di rumah aku lihat di rumah Rara ramai sekali. Ayah dan Bunda Rara tumben jam segini sudah pulang. Buat apa juga kasur-kasur dan lemari-lemari ada di luar. Hari ini Rara aneh.

“Ifa, dapat peringkat berapa, sayang?” tanya Om Rama ayah Rara.
“Pasti satu lagi,” celetuk Rara.

Aku hanya tersenyum. Tiba-tiba Rara memelukku erat. Entah kenapa aku seolah larut dalam kesedihan. Rara bilang dia harus pindah ke Serang. Sungguh, tak pernah tertepis di benakku bahwa kita akan berpisah dalam waktu yang tak dapat di pastikan.

Akhirnya Rarapun pergi tapi dia janji bahwa dia pasti akan ke Pamekasan lagi.
Awalnya aku pikir hari ini adalah hari bahagiaku tapi kepergian Rara menyakitkanku. Aku kira aku bisa berbagi bahagia dengannya hari ini. Aku tak tahu apa yang dapat aku katakan pada hari ini. Bahagia? Sedih? Rasa di hatiku hambar, mati rasa.

Jalani hari-hari tanpa Rara kurang menyenangkan. Tiap hari aku pandangi rumah Rara mungkin dia sudah kembali tapi nihil. Setelah penantian 3 bulanku akhirnya hatiku bahagia. Ada mobil berhenti di depan rumah Rara. Aku kira Rara ternyata bukan. Mereka orang yang membeli rumah Rara.

Satu tahunpun berlalu aku masih menunggu kedatangan Rara. Tapi Rara tak kunjung datang. Sesekali aku kecewa padanya, dia bohong. Tapi aku selalu menguatkan diriku bahwa Rara pasti datang walaupun kadang aku tak mampu. Dia tak mungkin membohongiku. Aku harus sabar.

Saat aku lulus SD dan menjadi siswa SMPpun dia belum datang juga. Artinya, sudah 4 tahun dia pergi. Mungkinkah dia sudah melupakanku begitupun dengan janjinya padaku? Sampai akhirnya akupun lulus SMP, 7 tahun sudah, Ra.

Sejak duduk di bangku SMA aku berusaha untuk melupakan Rara. Begitu pula dengan janjinya. Karena penantianku hanya berujung dengan kekeceawaan dan air mata. Cukup sudah hidup dalam bayang-bayang Rara. Aku berharap semoga Allah selalu menjaga sahabat kecilku itu, Rara.

Di hari sabtu saat aku kelas XI SMA. Hari itu mentari semangat sekali, hari benar-benar panas. Dengan mengerutkan kening aku pulang sekolah. Semua badanku terasa gosong, benar-benar panas hari itu. Sesampainya di rumah aku merebahkan diri di lantai dan terasa lebih baik.

“Assalamu’alaikum..” ucap seseorang di balik pintu.

“Wa’alaikumsalam..” jawabku menuju pintu.

Ya Allah, saat aku buka pintu orang di balik pintu itu tersenyum. Gadis cantik dan berjilbab.

“Ini Ifa, bukan? Aku Rara,” kata orang itu.

Mendengar pernyataannya aku langsung memeluknya erat-erat bersama linangan air mata bahagia. Tak banyak yang dapat aku katakan karena dia harus segera berangkat ke Pare untuk melanjutkan studinya. Tapi syukurlah untuk bertukar nomor hp Allah masih menyempatkan. Walaupun berat aku lambaikan tangan ini, setidaknya rinduku ini sudah terobati.

Minggu pertama kita masih sering smsan sekedar tanya kabar dan kegiatan masing-masing. Tapi akhirnya, kian hari kian jarang smsan. Aku sibuk, dia sibuk.
Hingga akhirnya aku akan lulus SMA. Kita sudah benar-benar tak punya kabar masing-masing. Nomor handphonenya sudah tak bisa dihubungi lagi. “Apa kabar?” kalimat sms ku tiap sms dia. Sekarang tak ada lagi yang menjawab pesan itu.


Cerpen Perpisahan – Kegagalan

Perlahan ku buka sampul binder dari dalam tumpukan baju dalam lemari ku. Di lembar pertama terlihat jelas tulisan lamaku, sebuah kisah luka dengan gambar “Teddy Bear” di pojok kanan atasnya. Tanggal ini dua tahun lalu, tertulis jelas di atas kiri kertas di halaman pertama itu.

Sekilas teringat kenangan saat tanggal dalam tulisan binder itu terjadi. Malam itu turun hujan. Seolah Allah memang telah merencanakan kegagalan urutan jadwal yang telah aku susun sehari sebelumnya. Padahal di siang hari sang sumber panas bumi bersinar sangat terik, menandakan tak akan turun hujan hari itu hingga malam. Kini aku sadar, Allah memang sudah mengatur semuanya agar rencana ku batal semua.

Aku ingat betul janji Verli yang akan mengajak ku menemui ibunya dihari itu. Sedikit heran memang dengan sikapnya seminggu terakhir sebelum peristiwa itu terjadi. Ia lebih perhatian dari biasanya. Sikapnya manis.

“Nanti aku SMS kamu ya yanq, kalo aku sudah siap mau jemput kamu” Smsnya hadir mengisi layar handphone ku.

“ok. Jam berapa kira-kira kamu jemput aku?”

“ya nanti aku kasih kabar dech”

“kamu lagi apa sich yanq?”

“aku lagi tiduran.”

“haaah? Emang kamu mau jemput aku jam berapa sich? Ini hampir jam satu” aku mulai naik darah. Mau jam berapa lagi dia menjemputku, kalo jam satu siang saja dia masih berbaring santai di ranjang empuknya itu. Sedangkan aku dari tadi mondar-mandir merapikan baju dan make up q.

“Sayanq… Please. Sabar yaa, nanti aq kasi kabar. OK?”

aku benar-benar kesal. Segera ku stater scoopy ku.

“Uukh,.. tau gak sich? Verli tu bener-bener ngeselin…!” oceh ku ketika Mini membukakan pintunya setelah mendengar ucapan salam ku yg berulang-ulang.

“Please deh non, jangan marah-marah di sini ya. Aku bukan tempat pelampiasan tau?” Balas Mini dengan nada malas.

Aq langsung nyelonong kedalam kamarnya, dengan meraih bantal guling bergambar Hello Kity, q hempaskan tubuhku di atas spring bad Mini.

“Yaa ella… kamu tuh udah cantik, koq malah tiduran? Mau kemana si non?”

“Verli tuh ngeselin banget. Dia janji mau ngenalin aku ke nyokapnya. Tapi di ulur-ulur mulu’. Biasanya dia udah nongol dari jam 11 siang. Ini udah hampir jam 2 dia masih belum nongol. Dari tadi bilangnya mau ngabarin kalo dia udah siap jemput aku. Tapi mana…?”

“Mungkin masih ada yang harus disiapin sama nyokapnya. Secara mau ketemu calon mantua. Hihihi”

“Aku mau numpang mimpi disini”

“OK. Ayooo mama temeni bobok” ucap Mini menggoda ku.

Tut…Tut…Tut…

Segera ku raih hp ku yang sedari tadi ku selipkan di bawah bantal.

Sayang, Ntar malam aja ya aku jemput kamu. Mama baru pulang tuh

Diterima :

16:12:27

Hari ini

Dari

Chayanq q

Astaga, sudah jam empat lewat. Tapi dia malah membatalkan janji. Darah ku seakan-akan sudah berada di atas kepala. Air mata hampir tumpah karena menahan emosi.

“Mini sayang, aku pulang ya” kugoyang-goyangkan badan Mini berharap ia segera bangun untuk mendengar tangisanku

“eemmm.. Iya.. ati-ati yaa. aku ngantuk banget. See You sayang”

Ukh… Tega kamu Min. Aku lagi galau tau’? bangun dong… Pinta ku dalam hati

Dengan berat hati ku tinggalkan ruang 3X4 berwarna pink ini. Malas rasanya pulang kerumah. Mood ku bakal bertambah buruk. Apa lagi dengan ditemani foto-foto Verli.

Entah apa rencana Tuhan hari ini. baru saja aku melangkahkan kaki didalam istana ku, turun rintik hujan di iringi angin yang menusuk hingga kedalam tulang. Ini pertanda buruk fikirku. Semoga hanya fikirku. Semoga.

  Cerpen Pendidikan

Benar saja. Hujan bertambah semakin deras. Fikiran dan perasaan ku semakin gak karuan. Verli masih tetap tak memberi kabar, padahal timer di layar hp ku sudah menunjukkan angka 19:19. Pasti hujan yang akan menjadi alasan utama saat ia menghubungi ku nanti.

tut…tut…tut… segera ku sambar hp ku setelah nada SMS berdering.

“Yanq, Hujan :(”

Apa kataku. HUJAN. Yaa Hujan, aku tau koq, gerutuku dalam hati. Aku terdiam sesaat memikirkan kata-kata yang akan ku ketik untuk balasan SMS menyebalkan itu. Terlalu banyak rasanya emosi yang akan aku sampaikan lewat layar mungil itu. hingga akhirnya kuputuskan untuk menelponnya saja.

“Hallo” Suara lembut penuh ketenangan khas Verli terdengar.

“Kamu tuh ya… jangan mainin perasaan aku donk!”

“Yanq, hujan. Kamu gak mungkin mau hujan-hujanan kan saat ketemu sama mama? Lagian aku takut kamu jadi sakit”

“Iya aku tau koq kalau sekarang hujan. Tapi itu kan salah kamu. Aku udah nungguin kamu dari tadi siang. Tapi kamu nunda-nunda mulu’. Kayaknya kamu emang sengaja dech…!”

“Yanq… tolong dong ngertiin aku. dikit aja”

“harus sampe kapan sih aku ngertiin kamu…? kamu tuh yang gak pernah bisa ngertiin aku..! Kamu emang gak niat kan mau ngenalin aku sama mama kamu?!”

“OK. OK. Aku yang salah, aku minta maaf”

“Bosen tau dengerin ucapan maaf dari mulut kamu. Selalu cuma itu yang kamu lakuin…!”

“Jadi aku harus gimana?”

“Terserah kamu dech maunya gimana. Aku ngikutin aja apa maunya kamu. Aku tau koq, mama kamu pasti gak setuju sama aku. makanya kamu nunda-nunda mulu dari tadi.”

“Yanq bukannya gi…”

“Kenapa gak bilang dari dulu aja kalo kenyataannya emank gitu. Pasti aku gak akan berharap banyak dari kamu dan mungkin sekarang aku udah ngelupain kamu.”

“Yanq, dengerin dulu. Aku bener-bener minta maaf. Aku gak tau kalo kenyataannya harus kayak gini. Kamu bener, mama aku gak bisa terima kamu. Tapi aku sayang kamu Ve…”

Padahal aku hanya asal berucap, tapi nyatanya itu benar. Air mataku sudah tak mampu ku bendung. Untuk meluapkan emosi dalam bentuk cacian pun aku sudah tak sanggup. Kata-kata itu hampir keluar tapi tertahan di kerongkongan ku.

“Ve… Pliss jangan nangis. Aku juga berat mau jalanin semua ini. Jujur, aku sayang banget sama kamu Ve…”

Aku tak menjawab apa-apa. Aku hanya mencoba menangkan hati ku.

“Ve… Veli… kita jalani hubungan ini sembunyi-sembunyi aja ya. Ve… Pliss jawab aku. Yanq…”

Ucapan lembut Verli malah membuat aku semakin sakit. Air mata yang hampir tertahan pun malah semakin leluasa mengalir.

“Ki… Ta.. Pu..Tuss.. I…ngat… Ver, Hu..kummm… Kar…ma pas…ti …ber…laku. En…tah… p…da a..na…kmu ke…lak a…ta…u pa…da a…dik..mu… Ba…la…sa…n pass..sti a…ka..n le..bih me…nya…kitkann” susah mati aku mencoba bersuara

“Yanq… Jangan putusin aku”

“Gak…!”

Tut…Tut…Tut…

Sambungan telphone langsung ku matikan. Kutumpahkan semua luka dalam sapu tangan biru hadiah ulang tahun pemberian Verli. Menggunakannya justru malah semakin membuat kenangan manis hari kemarin terukir jelas dalam bayangan mataku. Kini sapu tangan itu kulipat rapi di bagian dalam cover Binder ini.

Beruntung setelah kepergiannya, Allah mempertemukan aku dengan Dino. Lelaki sempurna yang akan menjadi ayah dari janin yang sedang ku jaga dalam rahimku. Kukira aku akan mati, depresi atau bahkan gila setelah berpisah dari Verli. Sekali lagi aku benar-beanar bersyukur. Mungkin jika kami masih menjalin hubungan, aku tak akan pernah menemukan imam terbaik seperti Dino.

Belakangan ku dengar adik perempuan Verli satu-satunya telah hamil tanpa tahu siapa ayah dari janin itu. Aku sempat menyesal pernah mengucap sumpah seperti itu. Mungkin ini bukti Tuhan, hukum karma pasti berlaku.


Cerpen Perpisahan – Kaulah Segalanya Di Hidupku

Perlahan aku berjalan menaiki jalan setapak menuju sebuah danau, bau tanah dari rintik hujan menemaniku menjelajahi petualangan tersebut.. Aku tersenyum melihat sesosok pria telah menungguku. Aku mempercepat langkahku, mencoba menghadapi lebih cepat, tak peduli hujan yang semakin deras, dan beceknya tanah khas pedesaan mengotori rok panjang putihku..

“Dor~!! Hayo?, ngelamunin aku ya?” ujarku berniat mengagetkannya. “Kamu kok telat banget sih? Tuhkan udah tambah gelap. Lilinnya udah mati semua… terkena air hujan tuh!” jawabnya sambil menatap terus kearah lilin-lilin kecil yang telah padam terkena air hujan. “Lilin berwarna merah, warna kesukaanku”, kataku sambil terus memandangi kearah lilin-lilin kecil yang beberapa telah ditatanya sedemikian rupa membentuk hati, “ya memang lilin-lilin itu sangat indah”.

Aku melihatnya sekilas sebelum mati satu persatu. Namun, menurutku, lebih indah melihat senyumannya daripada lilin yang telah padam tersebut. Jauh lebih nyata dan indah.. “Aneh ya? tadi tuh di sekolah panas banget! Sekarang disini hujan..” ujarku memperbaiki suasana.. “Haha, matahari sama hujan kan kuatan matahari..” jawabnya tersenyum, “Kamu lama ya nunggunya? Aku minta maaf banget!” Kataku memohon, “Nggak kok.. baru aja.. aku cuma bercanda tadi” katanya sambil terus tersenyum..

“Maaf ya kemarin aku gak bisa temani kamu check up ke dokter, aku ada pelajaran tambahan, gimana kata dokter?” tanyaku dengan lembut namun dengan nada khawatir. “Nggak apa-apa kok.. Aku baik-baik saja, aku akan selalu baik-baik saja kalau bertemu sama kamu” ujarnya sekali lagi dengan senyuman jahil khasnya.. “Ya maunya”.. yah aku tau keadaannya.. Dia kuat di luar namun rapuh di dalam.. Entah apa yang membuatnya selalu tegar menghadapi cobaan tersebut. Seolah kehabisan kata-kata kita hanya terdiam.

Sore itu, aku dan kekasihku Justin, mengunjungi danau favorit kami.. tempat dimana kami pertama bertemu, berkenalan, bahkan mengerjakan segala hal bersama-sama. Danau Abadi. Ya begitulah Justin menamakan Danau itu. Memang terdengar aneh, berapa kali aku menanyakan mengapa dia menamakan seperti itu, dan Justin menjawab “Agar nanti saat aku tak ada lagi kamu tetap ada mengenangku di masa-masa dimana awal kita bertemu, sampai saat ini”

Sekali lagi dia menjawabnya dengar senyuman jahil khasnya, “Kamu pernah nyadar gak ada sesuatu di danau ini?” tanyanya kepadaku, “Nyadar apaan? perasaan selama 4 tahun kita pacaran keadaan danau ini baik-baik aja deh..” kataku, “Dasar gak peka! Itu lho.. berang-berangnya!.. Aneh aja, masa musim panas gini main di danau..” jelasnya, “Apanya yang aneh? perasaan dari dulu deh kayak gitu..” ujarku nggak ngerti.. “Bukan itu maksudku.. mereka itukan sepasang dari dulu.. aku perhatiin mereka itu saling setia rasanya.. mereka gak pernah ganti pasangan.. Kamu mau nggak, kalau aku udah nggak ada nanti, kamu mau kan cari orang lain buat jagain kamu? yang lebih sehat dan gak sakit-sakitan?: pertanyaannya membuat ku tereguh..

“Aku gak pernah berfikiran hal itu..” batinmu.. “Dulu, Justin itu optimis, tegar, kemana Justin yang dulu?” tanyaku kepada Justin, “Sebentar aku belum selesai.. aku hanya berjaga-jaga.. Nanti kalau aku sudah tidak ada, supaya kamu tak ragu untuk mencari penggantiku..” Jelasnya dengan nada lirih.. “Justin.. kamu harus optimis. Coba lihat matahari itu, Dia memang selalu terbit dan terbenam tiap hari.. Ibaratkan matahari itu kamu, itu tandanya kalau ada terang kan setelah gelap! Pasti ada harapan buat kamu, sekecil apa pun itu!” Ujarku, “Aku gak akan baik-baik saja.. tetapi aku akan selalu berusaha baik untukmu..” ujarnya kepadaku, akupun meneteskan beberapa butir air mata yang tak kuat ku tampung lagi, segera ku hapus sebelum dia melihatnya.. “Aku akan selalu menyanyangimu..” kataku yang segera memeluknya, “Danau ini abadi, berang-berang ini abadi, begitu juga cinta aku ke padamu akan selalu abadi.. Carilah seseorang yang lebih baik dariku suatu saat nanti..” katanya seraya menghapus air mata dari pelupuk mataku.. Air bening yang keluar dari pelupuk mataku sudah tak kuat ku bendung..

“Hey! Sedang apa?” Kata Danny, menepuk bahuku, “Hah? Tidak.. Aku hanya sedang ingin mengingat kenangan ini.. dari diaryku..”, “Itu lagi? Kisah cintamu.. kekasihmu yang sudah meninggalkanmu.. dan segala-galanya dalam hidupmu.. akan abadi seperti danau ini.. tegarlah.. sudah 2 tahun kau seperti ini.. bangkit dan semangat!” kata Danny, sahabat terbaikku.. “Ya.. aku dan segala-galanya dalam hidupku akan abadi seperti danau ini..”


Cerpen Perpisahan – Air Mata Terakhir

Sudah setahun berjalan aku terbaring tak berdaya di tempat ini, tepatnya di ruang perawatan sebuah rumah sakit.
Aku bahkan tak tau lagi kapan air mata ku yang pertama mulai mengalir membahasi pipi ini, mata yang tadinya hanya berlinangan air mata saja kini telah lama melebam bengkak.
Semenjak penyakit mulai menggerogiti tubuhku kaki ku mulai lumpuh tak dapat berjalan, setiap hari hanya larut dalam malam-malam kesedihan.
Seakan masih hangat dalam ingatan ku kejadian yang membuka lembar derita ku. berawal di sebuah persimpangan jalan, ku lihat sosok yang tidak asing bagi ku senyumannya selalu membekas dalam hati ku.
Di setiap waktu tak pernah ku tinggalkan dirinya sendiri karena itulah janji ku padanya yaitu kan selalu di sisinya, menjaganya tiap waktunya.

Orang itu adalah lina adik ku seorang yang sangat kusayangi meskipun ia harus selalu ku bimbing dan ku jaga itu adalah hal yang sewajarnya, kebutaan yang di alaminya sejak lahirlah yang membuat lina tak boleh lepas dari pengawasan ku.
Aku selalu mengajak lina jalan setiap sore, di saat itu ia selalu meminta ku tuk berdiri bersanya di sebuah persimpangan jalan untuk sekedar menunggu hal yang selalu rutin kami lakukan.
“Tit tut tit tut!” rina langsung melompat gembira ketika suara yang tak asing lagi di telinganya.
“kakak ayo buruan es tangkainya udah datang tu”
“Ia lin, sabar masnya masih layanin orang tu”
“kak ros ngak asik ah!”
“Iya de kaka beliin es tangkainya lina tapi lina tunggu disini ya!”
“iya kak buruan, nanti keburu habis lagi”
“hihihi..! Beres lin”

Seharusnya tak ku tinggalkan lina sendiri, saat kedua es yang telah ku genggam kini hanya tergeletak di pinggir jalan.
Saat itu orang mulai berkumpul ramai, tinggallah aku menangisi sosok yang ku sayangi itu tapi sudah terlambat, lina berjalan sendiri tanpa sadar di tengah jalan suara kelakson mobil sedan putihlah suara terakhir yang ia dengar saat itu, meskipun ambulance datang lebih cepat tapi ternyata sang malaikat mautlah yang telah sampai pertama tuk menjeputnya.

Penyesalanpun tinggal penyesalan, aku terus menuduh diri ku sendiri mulai saat itu, air mata pun menjadi jata ku di malam hari kesedihan menjadi sahabat setia ku di pagi sampai menutup hari.

Meski papa mama telah mengiklaskan kepergian lina, tapi tdk denganku.
Perlahan kesedihan ini mulai tak ada akhirnya sehingga untuk makanpun jarang, penyakit-penyakit mulai berdatangan memelukku dalam kesedihan ini, sengsara ku bertambah berat badanku menurun drastis, hingga sering sakit-sakitan.
Papa mama kini bertambah sedih karna harus menerima keadaan ku.
Mereka terus menasehati ku agar berhenti bersedih, sahabat-sahabatk terdekatku kian bergilir menguatkanku, tapi seakan mata ku tak bisa mengenali mereka lagi hanya bayangan tak jelas yang ku lihat.
Dokter mengfonis aku kena kangker mata, dan harus secepatnya di oprasi atau nyawa ku tak bisa di tolong.
Sebenarnya sudah lama sekali aku ingin keluar dari penderitaan ini, hanya mimpi-mimpi indah bersama lina yang terus menghantui setiap malam, namun di saat terbangun aku mulai menitikan air mata tapi rasanya seperti ingin mengeluarkan batu saja.
Hingga tiba di suatu malam mata ini sudah tak sanggup menahan sakit.
Mama yang berada di samping ku panik lalu dokter segera datang, dokter bilang mata kananku sudah harus di oprasi karna mulai menjalar ke otak, mama hanya bisa mengangguk saja, sedangkan papa bingung.

  Cerpen Cinta

Aku di larikan secepatnya melewati para pasien lain, kemudian hanya sebuah ruangan yang begitu terang di susul semarak suara cemas, mungkin itu suara dari para dokter yang ada.
“Dok, kita harus segera membiusnya”
“Aku mengerti ambilkan suntikkannya”

terasa sesaat ada sesuatu yang terasa agak sakit di lengan, tapi perlahan aku mulai merasa melayang, rasa sakit di mata perlahan memudar, seiring detakkan alat yang terus berbunyi mengikuti jantung kemudian menghilang.

“Kak! Kakak ros mengapa terus bersedih?”
terdengar suara halus di telinga, saat mata ku buka.
“Oh lina! Benarkah itu kamu? Akhirnya kakak bisa bertemu lina”
“kak jangan cemas kak aku seneng kok di sini, kakak juga harus lekas sembuh, supaya lina nggak sedih lagi”
“sembuh? Apa maksud lina”
Lina hanya tersenyum manis pada ku lalu berkata, “kakak harus kembali, papa mama udah nunggu. lina pamit dulu ya kak, lina udah di jemput tu sama Tuhan”
“apa lina, apa yang kamu bicarakan”
dalam sekejap semua menjadi gelap terdengar hanya suara tangisan sedih di telinga”
Aku masih tak tau apa yang terjadi pada ku mungkin aku sudah mati, apakah ini rasanya telah tiada.

Setahun berlalu, hanya tertera sebuah nama di sebuah batu nisan. Terlihat 3 orang dengan seikat bunga di tangan salah seorang gadis untuk segera di taruh di samping batu nisan itu.

“Lin, kak ros membawa seikat bunga untuk mu, dan tahu ngak? Kak ros sekarang sudah sembuh sepenuhnya, karna kak ros tau kamu sudah bahagia di sana jadi tak ada alasan untuk terus menangis, dan air mata kak ros sudah menjadi air mata terahir”


Cerpen Perpisahan – Pergi dan Tak Kembali

Shiba menyandarkan tubuhnya di bangku panjang di sebuah taman. Ia memandang amplop berwarna putih berisi kertas hasil pemeriksaannya di rumah sakit barusan. Perlahan ia merobek-robek amplop itu tanpa membukanya.
“Hidupku tak lebih hancur dari benda yang kurobek-robek ini.” Ia berdiri lalu menginjak-nginjaknya. Sekejap sobekan amplop itu telah berbaur dengan tanah becek di taman itu.
“Setidaknya dengan begini aku tak membebani siapa pun.”
“Aku harus melanjutkan hidupku seolah-olah tak ada hal buruk menimpaku!”
Shiba beranjak meninggalkan taman tempat bermainnya semasa kecil. Roda waktu serasa melaju sangat kencang, setidaknya setelah mengetahui hasil check-up itu.

Ia mengetuk sebuah pintu rumah bercat coklat tua. 1, 2, 3 kali, keluarlah tuan rumahnya.
“Aku kira kau takkan datang, Kak Shi..” katanya. Lalu ia menarik tangan Shiba masuk ke dalam rumah yang telah dipenuhi para undangan.
“Kemarin bibi bilang kakak sedikit deman, jadi tadi aku tak menghubungi kakak tadi, aku tak mau menganggu istirahat kakak.” Kata gadis itu. Namanya Cilla, berselisih 3 tahun dengan Shiba.
“Oh, ya..” Shiba memakaikan sebuah mahkota yang dibuatnya dari akar-akar pohon dan dihiasi bunga melati di kepala Cilla. Shiba membuatnya jauh-jauh hari sebelum ulang tahun ke-17 gadis itu.
“Bagaimana, kau suka tuan putri?”
Kedua pipi Cilla seketika memerah. Kedua bibirnya seolah ingin melontarkan banyak hal, namun tertahan. Ia memalingkan muka dari Shiba yang masih bertahan dengan senyum di hadapannya.
“Cilla.. Happy Sweet Seventeen Birthday!!” kata Shiba seraya memeluk gadis itu.
“Bisakah kau hidup selamanya dihatiku? Jika suatu saat aku meninggalkanmu?”
“Maksud kakak?”
“Cilla tau, kan? Di dunia ini tak ada yang abadi. Semua pasti kembali kepada Sang Pencipta..” perkataan Shiba seolah menghentikan detak jantung gadis yang sedang berada di pelukannya itu.
“Engg..gg.. sudah lupakan saja ucapanku tadi. Harusnya kita bersenang-senang dengan mereka, bukan?” Shiba menunjuk undangan yang tengah mengerumuni sebuah meja dengan kue tart berhias 17 lilin di atasnya. Meski masih tak menangkap maksud perkataan Shiba sebelumnya, Cilla mengikuti gerak langkah Shiba menghampiri teman-temannya di sana. Lanjutkanlah seolah tak ada hal buruk yang sedang menimpa, bukankah sebaiknya begitu?

Cilla berada tepat di depan 17 cahaya lilin dengan Shiba di sampingnya.
“Don’t forget to make a best wish, Princess..” bisik Shiba pada gadis bak seorang putri di sampingnya itu. Cilla menghela nafas, memejamkan matanya..
Untuk yang terjadi sedetik yang lalu, sedetik dikemudian waktu, aku harap, Tuhan memberkati kami kekuatan tanpa batas untuk melanjutkan sebentang kehidupan yang terhampar di hadapan kami, seolah tak ada satu hal buruk pun yang menimpa. Batin Cilla mengucapkan. Lalu satu per satu cahaya ke 17 lilin itu padam ditiupnya. Semua undangan kemudian menyanyikan lagu potong kue untuknya. Tak terasa sepotong demi sepotong kue telah dibagikan untuk para undangan.
Laju roda waktu untuk melewati senyuman dan mendatangkan air mata memang secepat kilat. Setidaknya untuk mereka yang sedang tertimpa hal buruk, Shiba. Pusing, pening itu kini tengah melayang-layang di ubun-ubunnya. Memaksanya meninggalkan alam kebahagiaan sejenak lebih awal. Shiba mendekati Cilla yang tengah asyik bercanda tawa dengan teman-teman sekolahnya.
“Bolehkah aku bersama Tuan Putri untuk sekejap?” katanya di hadapan teman-teman Cilla yang rata-rata adalah perempuan. Mereka senyum-senyum dan mengangguk-angguk, lalu salah seorang teman Cilla meletakkan tangan Cilla di atas tangan Shiba.
“Nikmatilah waktu kalian, sobat!!” katanya. Shiba membawa Cilla menuju taman belakang yang berhubungan langsung dengan sebuah danau. Mereka duduk di atas perahu yang terikat di pohon di pinggir danau.
“Masih tak menangkap maksud perkataanku beberapa waktu yang lalu?” tanya Shiba pada Cilla yang baru saja menyandarkan kepalanya di bahu Shiba.
“Ini sebuah teka-teki untukku, Kak. Bisakah kakak tak berlama-lama membuat hatiku bertanya-tanya?” kata Cilla sambil merapikan rambut ikal coklatnya yang ditiup angin.
Shiba memberikan selembar kertas yang terlipat kepada Cilla. Gadis itu menerimanya tanpa bertanya lalu membukanya tanpa ragu. Ia baca satu persatu kalimat yang tercantum di kertas itu.
“Apakah ini hadiah ulang tahun untukku, Kak?” tanya Cilla lirih.

Setetes demi setetes air matanya jatuh membasahi kertas yang dipegangnya itu. Shiba menyeka air mata gadis itu dengan ibu jarinya. Cilla menahan paksa agar air itu berhenti mengalir di pipinya. Memaksa hatinya untuk menerima sebuah kenyataan pahit di hari bahagianya itu.
“Aku sengaja menyembunyikan ini dari semua orang karena aku tak mau mereka merasa terbebani, itu saja, tak lebih.” Suara Shiba tak sehalus tadi kepada Cilla. Ia mulai acuh dengan gadis itu.
“Mengapa kakak tau berusaha mengobatinya?”
“Mengobatinya? Percuma saja!! Hanya buang-buang uang, tenaga, dan waktu.”
“Kakak berubah! Bukan Kak Shi seperti yang aku kenal dulu!”
“Sudahlah.. umurku tak lama lagi. Ini adalah terakhir kalinya kita bertemu dan bersama. Apa pesan terakhirmu untukku, Cilla?”
Cilla melepas mahkota yang di kepalanya lalu meletakkanya di samping Shiba. Shiba meraihnya lalu membuangnya ke tengah danau. Cilla tak dapat menahan air matanya lagi. Ia bangun dan berlari meninggalkan Shiba sambil menangis. Shiba tetap diam, tak beranjak untuk mengejar gadis yang dicintainya itu. Ia mengambil kayuh yang tertancap di samping perahu lalu mengayuh perahu menuju rumahnya di seberang.

Sesampainya di sana, hanya lampu di gerbangnya saja yang menyala. Shiba mengetuk pintu namun ternyata pintu tak dikunci. Ia langsung masuk tanpa menyapa. Ia menaiki tangga menuju kamarnya, berjalan sedikit gontai.
“Hosh..!! hosh!! Jangan sekarang..”
“Biarkan aku berbaring dulu…”
Ia dobrak pintu kamarnya. Ia masih ingat, sebelum pergi ke rumah sakit, ia kunci pintu kamarnya, lalu ia meletakkan kunci kamarnya itu di dapur. Pintu kamar terbuka dan ia segera mendekati tempat tidurnya.
“Baiklah.. di tempat yang teramat sangat berantakan ini, kusampaikan pada malaikat yang bertugas mencabut nyawaku..” nafasnya mulai tersendat-sendat.
“Ambillah apa yang kau perlukan, lalu berilah apa yang kuinginkan..” Shiba menarik sisa nafasnya dalam-dalam..
“Sekian dan terima kasih.” Laju roda waktu seketika berhenti. Ia pergi dan tak akan kembali.

Shiba terbang menuju kumpulan awan putih di langit paling atas. Sesampainya di sana ia melihat sebuah tempat seperti sebuah desa. Ia mengintip dari celah di pintu gerbang. Bangunan di kanannya berwarna putih dan di kirinya berwarna hitam. Penghuni bangunan putih itu tampak sangat bahagia dan penghuni bangunan hitam sebaliknya. Melarat, tersiksa, sungguh mengerikan! Ketika Shiba hendak memasuki gerbang, seseorang yang menghuni sebuah bangunan kecil mirip post satpam, mengintrogasinya.
“Siapa namamu, anak muda?” tanyanya.
“Shiba, Pak.”
“Kamu meninggal karena apa?”
“Sakit, Pak.”
“Sakit apa?”
“Kanker hati, Pak.”
“Oh, ya?”
“Ya, Pak.?”
“Baiklah, silahkan masuk.” Lalu gerbang itu terbuka dengan sendirinya. Namun yang ada di hadapannya hanya hamparan bangunan hitam-hitam. Jerit, tangis terdengar sangat jelas. Hawa sejuk tiba-tiba mendadak panas menyengat. Membakar kulit Shiba.
“Aku tidak masuk surga, ya?” gumamnya.
“Tidak. Karena kau begitu menyianyiakan segala yang diberikanNya padamu semasa hidup. Kau sama sekali tak berjuang untuk mempertahankan satu hal pun. Sekarang nikmatilah tempat tinggal barumu!” sebuah suara entah darimana sumbernya menjawab segala pertanyaan hati Shiba. Dengan tertatih-tatih Shiba menapaki jalan menuju ujung Neraka.
“Lanjutkan! Seolah-olah tak ada satu hal buruk pun yang sedang menimpa.” Gumamnya dengan lirih.


Cerpen Perpisahan – Buku Helen

Hujan masih meneteskan sisa airnya. Beberapa saat yang lalu suasana gelap terselimut awan. Namun dalam hitungan menit angin menyapu langit dan mengirim sinar matahari kembali ke bumi. Jalan-jalan basah tergenang air. Sebagian aliran saluran air di sisi kiri dan kanan tumpah. Percik-percik air akibat dihantam roda kendaraan menjenuhkan air menjadi warna kehitaman.

Aku masih berdiri di halte. Berjubel diantara para pengendara yang menepikan diri menghindari basah kuyup. Selain itu, beberapa pejalan kaki yang kebetulan sedang menunggu bus, ikut menambah sesak suasana halte. Namun semua membubarkan diri. Serentak seketika selepas hujan mereda.

Akupun mundur sejenak, memberikan kesempatan mereka yang hendak keluar dari halte. Satu persatu mereka meninggalkan tempat ini. Dan tersisa hanya sekitar satu dua orang yang memang berniat naik bus untuk pulang. Jam menunjukkan pukul 2.30 siang. Selepas hujan matahari bersinar sangat terik, namun telah berkurang kadar panasnya. Sejenak tampak suasana awal sore yang cerah.

Aku terduduk di bangku halte. Menyelipkan kedua telapak tanganku dibalik saku jaket. Suasana hangat menyelimuti jalan. Namun deru mesin kendaraan menaburkan aroma sengau gas yang dibuangnya. Lelahku masih belum berkurang. Dan segera saja kusandarkan bahuku ke sisi tiang dimana aku duduk disebelahnya. Kubenahi letak kaca mataku. Kuusap dengan tisu akibat kotor terkena tetes

Kubuka tas hitamku. Kurogoh dalamnya. Kutemukan yang kucari lalu kukeluarkan. Sebuah buku berada di tangan kiriku. Kuamati dengan cermat keseluruhan bagian luarnya. Dari sampul depan, sampul belakang, serta sekilas halaman-halaman didalamnya. Tertera tanda kuning diujung kiri bawah halaman cover dalamnya. Kubaca tulisan di samping tanda tersebut.

“Kembalikan ketika kau tak mengenalnya lagi”

***

Angin semilir menembus lorong bangunan yang beruang rapi. Saling berhadapan tiga-tiga. Tetapi di bagian ujung ketiga terakhir terputus oleh bangunan keempat yang berhadapan dengan lapangan basket kecil. Tampak bangku panjang berada di sudut lapangan. Suasana sore menjemput menggantikan terik matahari.

  Cerpen Perjuangan

“Jadi yang tadi bisa dikerjakan sendiri tanpa bantuanku”, aku bertanya sambil tetap membaca kertas ditanganku.
“Kalau cuma matriks sederhana aku bisa, tapi kalau yang udah diatas 3×3 masih kesulitan”, jawabnya.
“Yang pentingkan tahu konsepnya, aku aja awalnya gak bisa ngerjain”, timpalku.
“Bohong, masa kamu bisa ngomong kaya gitu, gak mungkin siswa terpintar disekolah gak bisa ngerjain”, kembali ia menimpaliku. Kali ini terdengar sindiran dari mulutnya.
“Masih ada yang ditanyain gak, kalo gak ganti yang lain”, jawabku acuh. Kukembalikan kertas ditanganku padanya. Ia tersenyum. Napasku seperti terhenti ketika bertatapan dengan dirinya. Senyumnya selalu membuatku menghilang dari muka bumi. Namun aku segera sadar, secepat aku memulihkan diri.

Ia merogoh tasnya, dan mengambil beberapa lembar kertas. “Sebenarnya masih ada”, katanya.
“Kalau ini gimana ngerjainnya?”, ia menyodorkan kertas yang berisi soal-soal.
“Yang mana”, aku mendekat dan melihat soal yang ia tunjukkan.
“Yang ini, tentang persamaan lingkaran”, ia menandai soal tersebut. Kuambil kertas di tangannya.

Aku perhatikan sejenak soal tersebut. Mataku menatap tajam seraya otakku berpikir cara penyelesaiannya. Aku mengambil kertas kosong dan mulai menuliskan ringkasan soal tersebut seperti apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan. Kulihat ini membutuhkan perhitungan panjang. Kubuat sketsanya agar ia mengerti garis besar soal tersebut. Selesai menulis kuberikan padanya. Lalu kujelaskan secara mendetail apa sebenarnya yang ditanyakan soal itu. Ia mengangguk dan sesekali bertanya jika ada hal yang tak mengerti.

“Len, istirahat sebentar bisa kan”, aku beranjak berdiri dan bergerak kecil untuk meregangkan otot yang kaku.
“Oke Ar”, ia masih menulis dan menyelesaikan apa yang tadi kuperintahkan.

Mataku menatap lapangan basket didepanku. Lalu menyapu sekitar termasuk deretan ruang kelas di sisinya. Kulihat beberapa orang ada didalam salah satu kelas. “Mungkin mereka juga belajar”, pikirku.

Kulihat sesorang keluar. Ia membuang sesuatu di tempat sampah depan kelas. Ia lalu menoleh ke aku dan Helen. “Woi asik banget berduaan”, ia berteriak. “Gak adil Kau Ar, giliran Helen kau terima ajakan belajarnya, tapi kalau kita-kita yang ngajak gak mau”, kembali ia berteriak kali ini semakin keras.

“Huh, ganggu orang aja, berduaan apanya, jelas-jelas lagi belajar”, pikirku tapi bener juga. Aku sengaja menerima ajakan Helen kali ini. Dan ini saatnya tepat. “Tenang aja, besok aku janji belajar bareng, besok kan minggu. Aku temenin seharian juga gak ada masalah”, jawabku sedikit berteriak.

Ia menyeringai dan seorang lain dari dalam kelas memanggil dirinya. Ia lalu masuk kelas. Perhatianku kembali ke Helen. “Pindah tempat Len, jangan disini, gak enak”, kataku padanya. Ia sepertinya mengerti. Aku dan dia beranjak dari kursi dan memilih taman depan sekolah. Disana lebih rindang.

“Boleh aku tanya”, kataku memulai pembicaraan. Sontak ia menengok kearahku. “Ya, tanya apa?”, ia seperti keheranan dengan roman mukaku. Kubetulkan letak kacamataku. “Dah berapa lama kita seperti ini, maksudku hubungan antara aku dan kamu”, aku mulai pembicaraan. Terdengar serius di telingaku. Tapi inilah yang sering aku tanyakan kepadanya setiap saat.

Senyumnya mengembang. Tangan kanannya merapikan rambut depannya. Ia menatapku dengan santai tapi sorot matanya tersirat keseriusan. Ia menarik napas dan perlahan membuka mulutnya. Perlahan suara lembut keluar dari bibirnya.

“Ar, aku sebenarnya gak bisa bohong sama kamu”, katanya terhenti. Jeda lima lima detik serasa satu jam bagiku. “Aku yakin kamu tahu apa jawabanku, setiap kamu tanya soal ini, itulah yang akan aku jawab. Aku hanya butuh waktu. Dan kamu butuh penegasan. Aku sudah bahagia saat ini bersamamu. Namun dirimu sendirilah yang membuat keadaan semakin rumit. Saat ini aku bertanya balik. Apa yang kamu harapkan dari hubungan kita?”, serangan kata-katanya membuatku mematung.

Apa yang harus kujelaskan padanya. Ia sudah tahu seperti apa aku saat ini. Justru aku yang berhutang padanya. Tega menyeretnya dalam badai perselisihanku. Sejujurnya aku tak mengerti mana yang akan aku berikan. Ia sangat baik dan senyumnya seperti tali terakhir yang menjadi genggaman tanganku.

Perlahan sinar mataku layu tak kuasa menahan haru. Entah perasaan bersalah, sedih, kecewa, bimbang, atau apapun itu membuatku tak berani memandangnya langsung. Suara angin terdengar olehku. Keheningan panjang yang menyakitkan menenggelamkan rasa tinggiku. Aku yang dipandang oleh mereka sempurna. Namun berhati dua didalamnya. Aku tidak bisa menutupinya lagi. Semakin kututupi, semakin jelas terkuak.

“Arya, ngapain kamu!!!”, suara teriakan mengagetkan kami. Sontak pandangan terjurus ke arah datangnya suara. Rona mukaku berubah semakin layu. Helen melihatnya. Dan dia disana yang berteriak, melihatku bersamanya. Kukepalkan tanganku lemah. Bahuku terasa hilang. Samar-samar ia mendekati kami. Semakin dekat dan kami pun terpaku tak bergerak. Tatapan jauhnya menusukku tapi tidak untuk Helen. Dan ia sekarang berdiri diantara kami.

***

Udara pagi menyambutku keluar dari kereta. Perjalanan panjang yang kutempuh semalaman telah tiba di tempat tujuan. Kuhindari tukang ojek yang berebut menawarkan jasanya. Aku keluar stasiun. Kususuri jalanan yang mulai ramai. Aku berjalan diemperan baris pertokoan yang memanjang. Tampak toko-toko belum buka dan beberapa penjual makanan menjajakan makanannya. Jalan ini berujung di sebuah pasar.

Kukenali kembali kota ini. Kota yang memberiku banyak kenangan. Kuhabiskan sebagian masa sekolahku disini. Tiap saat kuamati dengan seksama toko-toko yang kulewati. Kulihat sekelompok ibu-ibu membawa dagangan di boncengan sepeda. Sebagian sepeda itu dikayuh, namun ada yang hanya dituntun. Kuteruskan menyusuri hingga bertemu perempatan. Aku menyebrang jalan dan mengambil arah ke kanan. Aku tahu kemana tujuanku. Namun aku tidak tahu apa yang akan terjadi atau siapa yang kutemui nanti.

Kulirik jam tanganku. Pagi pukul 5.30. sisa dinginnya malam masih terasa. Namun matahari mulai bergeliat di timur. Kubetulkan resleting jaketku. Kurekatkan lebih kuat dan ketat. Udara dingin menerpaku karena angin pagi mulai membawa gelap kesarangnya. Sebuah lapangan yang sangat luas tampak dari jauh

Itu adalah sebuah alun-alun, lapangan yang luas biasa dalam penyebutan masyarakat jawa. Alun-alun merupakan pusat kota dan dikelilingi oleh beberapa bangunan penting. Biasanya terdapat masjid dan kantor pemerintahan disampingnya. Kali ini aku menuju bangunan bergaya jawa terbuka di sisi utara alun-alun tersebut. Masyarakat biasa menyebutnya pendopo. Bangunan ini biasa sebagai tempat pertemuan atau acara-acara pemerintahan. Dibagian luar sering dipakai masyarakat untuk sekedar duduk-duduk atau bersantai ria melihat aktifitas yang terjadi di alun-alun, karena posisinya berhadapan langsung.

Aku duduk disana dan kulihat jam. Aku menunggu seseorang. Tak lama orang tersebut datang. Ia berjalan perlahan. Lama aku tak melihatnya. Sekilas tak ada yang berubah darinya. Sekarang kami saling berhadapan.

“Kamu kemana aja selama ini?”, tanyanya. Aku tersenyum. Ia pasti tidak tahu kalau aku jauh-jauh datang untuk menemuinya. Ia tak tahu dimana aku sekarang tinggal. Perpisahan menghentikanku menghubunginya. Namun lama tak menjalin kabar. Kuketahui dirinya masih ada rasa denganku.

“Aku dari jakarta, dan baru tiba pagi ini”, jawabku. Ia terperajat. “Apa, kamu tega tak memberi kabar kepadaku, kamu menghilang begitu aja setelah meninggalkanku, kamu tak tahu kalau aku berusaha menghubungi selama ini, bahkan hingga kamu tiba-tiba membangunkanku tengah malam tadi?”, dengan terisak ia memeluk tubuhku. Pelukannya menyadarkanku bahwa dialah selama ini yang selalu membuatku tersenyum.

Kulepas pelukannya, dan kuambil sesuatu dari dalam tasku. “Kuberikan ini, karena aku tidak bisa menyimpannya lagi”, kataku sambil menyodorkan sebuah buku padanya. Ia mengambilnya dan memandangku. Tetes air matanya membahasi pipinya yang lembut.
“Maafkan aku, kali ini aku sadar kalau kamu adalah yang terbaik. Aku tak bisa melupakanmu. Aku bisa menghapusmu tapi serpihan itu tak kan hilang. Aku ingin kamu melupakanku. Biarkan aku berjalan sendiri. Len, kaulah matahari itu. Biar kupandang dirimu dari tempat gelapku berada. Biar kuterima hangatmu tanpa memberi luka di senyummu”.

***

“Sekarang hentikan semua omong kosongmu, aku sudah muak”, sergahnya. Ia membungkam mulutku seketika. Secara langsung aku sadar kalau aku telah bersalah padanya. “Len, dengarkan aku dulu. Kamu tahu kalau dia bukan siapa-siapa lagi”. Ia meneruskan rasa kecewanya.

“Aku salah dan aku akan pergi darimu sekarang”. Aku berseru lemah. Berbeda dengan sebelumnya kali ini aku tak kuasa melangkahkan kaki memdekatinya. Terdapat jurang pemisah yang telah terbangun diantara aku dan ia. Semua yang kubangun telah hancur. Ia yang selalu membuatku tersenyum tak lagi memberikan hatinya padaku.

Kujejakkan kaki tanpa kusadari apa yang akan terjadi esok hari. Tanpa menoleh, kutinggalkannya sendiri. “Maafkan aku, Helen”, lirihku. Membisu aku menjauh hingga punggungku menghilang dari mukanya.

***

Aku buka lembar demi lembar buku ini. Kubaca setiap tulisan yang tertera di dalam. Sedikit gambar tampak dibeberapa halaman. Sengaja tak kubaca secara mendetail karena keterbatasan waktu. Kucermati salah satu halaman dibagian akhir. Sesuatu disana membawaku ke masa lalu. Serpihan kenangan lama terurai di mataku

Kuingat kala itu hujan turun dengan deras. Tapi kami terdiam menatap tiap detik tetes air yang turun. Ia membetulkan letak rambut depannya setiap kali angin berhembus. Kami terduduk terdiam. Melewati waktu sore ditemani sang hujan. Ah, andai aku datang lebih cepat pasti tak seperti ini jadinya, penyesalan tercetak dalam hatiku. “Maafkan aku”, kataku berseru di tengah riuh suara hujan.

“Ar, boleh aku memberikan ini padamu”, katanya sambil menjulurkan tangannya yang berisi sebuah buku. Segera kuambil dan kulihat buku apa itu. “Buat apa ini”, tanyaku keheranan. “Hari ini kau tak menangis lagi kan”, kupandangi kedua bola matanya. Aku tahu rona kemerahan di susut matanya telah menerangkan semuanya. Bodohnya aku menanyakan hal itu saat ini.

Kudekapkan tanganku padanya. Ini terakhir kali kubiarkan dia bersandar di bahuku. Entah apa yang terjadi kemarin. Pertengkaran hebat diantara kami menggariskan kalau aku dan dia berbeda. Kumasukkan buku itu ke dalam tas.

Hujan mulai reda, namun tetes air masih tampak. Ia beranjak dan kembali menatapku. “Boleh aku minta satu permintaan”, katanya. “Silahkan”, jawabku. Aku merasa memenuhinya menjadi jalan terbaik untuk memberinya kenangan indah. Simpan buku itu selama kau membenciku”. Aku tersenyum heran

Suara orang-orang berkerumun membuyarkan lamunanku. Dari kejauhan bus yang kutunggu datang. Aku bergegas memasukkan buku ini kembali ke tas. Kulihat jam tangan. “Masih sore”, pikirku, aku punya banyak waktu sebelum ke stasiun nanti malam. Dan diriku menghilang ditelan bus yang meluncur membelah jalan raya.


Cerpen Perpisahan – Bintang Bulan Agustus

“Kalau aku menghilang dari hadapanmu. Apa kamu akan sedih?” Tanyaku.
“Aku tak akan sedih.” Timpalnya dengan santai sembari tersenyum seakan menantangku.
“Kenapa?” Aku mencoba mencari tahu.
“Aku tidak percaya kalau kamu bisa pergi dari sisiku.” Ifan menyeringai dan mulai memainkan rambutku. Seperti biasa.
“Tapi jika itu benar terjadi. Kamu boleh memikirkanku. Mengingat wajahku atau mengenang masa dimana kita bisa bersama.” Mataku menerawang jauh dalam silau terang matahari.

Waktu itu aku kira perkataanya memang benar bahwa, aku tidak pernah bisa lepas dari telapak tangannya. Terus berada dibawah naungan nafasnya. Tapi pada akhirnya aku sadar, semua tidak akan pernah bisa aku lewati karena satu hal yang tidak bisa dipungkiri berkali-kali muncul didepan mataku. Memaksaku untuk keluar dari hasrat untuk bersama-sama dia.

  Cerpen Persahabatan

“Ibuku bilang. Yang membedakan manusia dengan syetan adalah hati. Hati itu rasa. Rasa itu jujur. Tidak mudah tercecer dalam sebuah perjalan hidup. Jadi menurutmu apa rasa itu bila terhenti pada…” Lidahku seakan tercekat, tidak bisa meneruskan kalimat yang belum sempat terselesaikan. Keningku mengkerut. Ku gigit bibirku sedikit. Tercermin penyesalan dalam raut wajahku yang berubah.
“Terhenti pada seseorang.. emm.. yang salah?” Ucapannya menyentakkan aku. Mana mungkin aku berkata ‘Iya’ .
“Salah?” Mataku memencar mencari jawaban.

“Hey.. Hey..” Bahunya menggoda tubuhku. Lalu aku mengambil sesuatu yang ada dalam tasku. Sebuah kado kecil. Kado yang telah lama aku ingin berikan padanya. Hanya saja aku malu. Tapi mungkin ini waktu yang tepat. Kapan lagi?
“Ini!” Aku menyodorkan kado kecil dengan malu-malu. kado berpita warna merah. Lucu sih. Lebih cocok kadonya diberikan pada perpempuan bukan lelaki tulen seperti dia.
“Untukku?” Matanya menanti jawaban. “Terimakasih.” Lanjut Ifan.
“Kado pemberian teman tidak mungkin dikembalikan saat mereka bertengkar-kan? Berbeda dengan kado pemberian dari seseorang kekasih mungkin saja untuk dikembalikan.” Kataku pasti. Ifan membuka kado tanpa ragu.
“Mengapa lukisan kacanya hanya berwarna hitam putih?” Ifan menimbang-nimbang lukisan dan bungkus kosong dengan pita merah yang terkulai.
“Karena warna-warni telah kita lewati bersama. Sekarang waktunya kamu untuk menyimpan hitam putihnya.” Jawabku dengan melambung ke angan yang terang walau sesungguhnya gelap.

Perlahan angin agustus membelai rambutku yang panjang tersusun rapih. Memberi ketenangan pada jiwa yang sebenarnya rapuh. Tapi kini aku merasa menjadi wanita yang sangat kuat. Tersenyum saat bersedih. Benarkan? Boleh aku patut berbangga?
Setahun yang lalu orangtua pergi secara bersamaan meninggalkanku. Dan sejak itu teman hidupku hanyalah Ifan di kota ini. Sudah waktunya aku kembali pada hidupku dulu. Menemani nenek seorang diri yang mungkin sedang duduk terbungkuk dikursi rapuh dimakan usia dan rayap-rayap, atau terbaring bersamaan dengan selimut lusuh yang menguning. Sebelum aku kembali pada pelukan nenek dan lepas dari pelukannya, aku meninggalkan sepuncuk surat untuk dirinya. Surat pertama yang aku tulis untuknya.

“Kenapa kamu pulang Re?” Bibir nenek bergetar diiringi suara serak yang lemah. Aku memeluknya. Rasanya hangat. Lama tidak bertemu dengan beliau semenjak Ifan menjemputku setahun lalu disini.
“Reysa mau disini aja sama nene. Rere udah kirim lamaran kerja di pabrik. Mudah-mudahan aja minggu depan udah bisa kerja disana. Rere juga ga tega tinggalin nenek sendiri. Sudah waktunya Rere mengabdi untuk nenek.” Mata beliau berkaca-kaca. Aku ini garis turunan terakhir dikeluarga ini. Jadi hanya akulah yang bisa bantu.
“Nenek perhatikan ga? Kalau bintang dibulan agustus itu selalu lebih indah dari bulan lainnya. Itu keluarga kita disaat malam. Jadi ga akan sepi lagi nek.” Aku tersenyum bahagia serasa lepas diri ini.

Ifan baru kembali dari kampusnya pukul 11.00 malam. Ketika dia membuka dan menutup kembali pintu ada sepuncuk surat yang tertempel disitu. Tanpa segan dia ambil suratnya. Berjalan menuju kamar. Dan sesampainya disana. Ia membuka surat.

Pada akhirnya aku harus menentukan hidupku sendiri, sudah terlalu lama ku gantungkan asaku bersamamu. Asa yang mungkin tidak lagi ku sebut dengan “Asa” hanya sebuah mimpi yang sejak kemarin telah aku tenggelamkan. Terimakasih untuk semua pertolonganmu. Ini dimana saat kita berjauhan. Jangan mencari atau menyusul aku. Karena kelak aku akan datang untuk menemuimu. Ingatlah pesan yang dulu pernah ku bilang, “Kamu boleh memikirkanku. Mengingat wajahku atau mengenang masa dimana kita bisa bersama.”

Resya

Kata orang bintang itu mencuri sinar dari sang bulan. Membuat dirinya tampak cantik. Membuat setiap orang yang melihat dirinya begitu terkagum. Menghiasi malam menjadi menawan. Aku ingin bisa menjadi bintang. Walau sinarannya dia dapat dari mencuri, tetap saja semua orang menyukainya. Hanya aku tak sanggup lakukan itu.

Mungkin takdirku hanya sebagai makhluk bumi tidak untuk menjadi salah satu rasi bintang. Inilah kesungguhan cintaku padamu. Membiarkan cintaku tumbuh dan berkembang tanpa perlu kamu balas, mungkin hingga saat masa aku menemukan cinta baruku.. Seperti bintang di bulan Agustus yang menawan meski angin kencang terus membuat mereka dingin. Seperti bintang di bulan Agustus yang bersinar terang meski angin membuat mereka gamang.


Cerpen Perpisahan – Musuhku Sahabatku

“Sekarang biarkan aku yang pergi” celetuk riana yang memang sudah jengkel dengan kelakuan fikri
“oke, kalau itu maumu” jawab fikri dengan nada tinggi
Suasana menjadi tegang, pertengkaran keduanya tak bisa terhindarkan, semua yang terjadi saat ini di picu dari kesalahpahaman ria yang beranggapan bahwa fikri telah menduakannya.
Fikri gusar karena di tuduh berhianat, sedang riana begitu saja percaya dengan apa yang dikatakan niken. niken ini adalah teman baik riana dan juga fikri.

Setelah pertengkaran itu kini hubungan fikri dan riana sangatlah tidak baik, mereka saling serang dan berupaya membenarkan dirinya masing-masing, tak taunya hal ini di manfaatkan betul oleh niken yang berusaha untuk mendekati fikri.

Selama ini niken memendam perasaanya ke fikri karena fikri adalah temannya dan juga kekasih riana.
Tanpa diketahui riana niken terus berupaya mendekati fikri, riana tak pernah sekalipun menduganya karena memang tak tampak ada yang berubah, niken tetap menjaga persahabatannya dan selalu bersikap manis pada riana.
Sampai suatu masa Niken menghasut fikri agar supaya memutuskan riana, fikri yang sudah merasa bosan dengan ulah riana yang kerap memojokkanya pun dengan mudah terhasut oleh bujukan niken.
Namun Fikri masih menunggu waktu yang tepat untuk memutuskan riana, sementara niken yang merasa sudah mendapat perhatian lebih dari fikri semakin tak ingat siapa itu dirinya, siapa itu fikri, siapa itu riana. Ia selalu mencari perhatian dari fikri, ia selalu menebar pesonanya di hadapan fikri. Seolah tak pernah sia-sia apa yang diperbuat niken mendapat respon bagus dari fikri, fikri sangat bersimpati padanya, dan begitu mudah fikri tertarik oleh pesona niken hingga fikri terlupa pada riana yang merupakan kekasih hatinya.

“kamu sungguh cantik ken” ungkap fikri memuji
“ah biasa aja fik, aku masih kalah cantik jika dibanding ria” balas niken malu-malu
“per*etan dengan ria” ujar fikri lantang
Niken terdiam, ia merasa telah berhasil dalam upayanya.” Sebentar lagi fik kamu pasti bisa kutaklukkan” gumam niken dalam hati
“tapi bagaimanapun aku gak akan bisa seperti ria” balas niken berkelekar
“kamu akan lebih baik dari ria ken” jawab fikri menyanjung
Saat ini Fikri memang sedang di mabuk asmara, ia tak lagi pedulikan keberadaan riana, ia hanya berfikir bagaimana bisa mendapatkan niken.

Riana sadar bahwa selama ini hubunganya dengan fikri sengaja di buat berantakan oleh sahabatnya yaitu niken
Namun yang tak habis dipikir oleh riana kenapa niken melakukan ini padanya.
riana belum juga menyadari bahwa tujuan niken yang utama adalah mau merebut fikri darinya.
Suatu ketika riana memergoki fikri yang saat itu sedang bercaanda mesra dengan niken, sungguh tak dapat di percaya oleh riana bahwa kekasihnya sedang ada main dengan sahabatnya. riana berupaya untuk tak mempermasalahkan hal ini, dengan ia berpura-pura tak mengerti hubungan fikri dengan niken.
Namun jauh dari apa yang diharapkan riana, fikri semakin gila dan menjadi-jadi tentu saja ini membuat riana berang atas fikri

“bajingan kamu fik” bentak riana kasar
“bajingan apa yan” sahut fikri berlagak bodoh
“aku coba untuk terus bertahan, tapi kenapa kamu tak juga berubah. kamu ada main dengan niken kan, iya kan, jawab! Ujar riana dengan terisak
Fikri mencoba membela diri ia berusaha menjelaskan semuanya, namun riana terlanjur terbakar emosinya.
Lagi–lagi pertengkaran besar antara sepasang kekasih ini tak bisa terhindarkan lagi, bahkan lebih heboh dari yang lalu.
“sekarang kamu pilih mana, antara aku atau niken” Tanya riana dengan cucuran air matanya
fikri bingung tak menjawab, ia hanya terdiam
“kalau kamu laki-laki kamu harus bisa memilih” desak riana dengan wajah yang sangat kecewa
Fikri memilih berlalu meninggalkan riana tanpa ada sepatah kata yang terucap.

Fikri datang kepada niken untuk menjelaskan permasalahannya dengan ria, namun niken pun memojokkkan posisi fikri saat itu, niken juga mau ditegaskan posisinya terhadap fikri, niken hanya mau jika fikri ingin tetap menjalin hubungan dengannya maka fikri harus memutuskan riana.
Serba salah fikri sebuah keputusan yang sungguh menyulitkan riana.
“oke ken, aku akan putusin ria” ungkap fikri bingung
“bener fik” jawab niken girang karena telah berhasil menaklukan fikri.
Nikenpun memeluk fikri karena bahagia mendengar keputusan fikri, begitu juga fikri memeluk niken seolah tak ingin kehilangan niken.

Mengetahi keputusan ini pun riana tak bisa berbuat apa-apa ia hanya berpasrah kepada sang maha kuasa, namun di dalam hatinya masih merasa pedih karena harus kehilangan fikri yang sangat dicintainya harus berpaling kepada niken sahabat yang sangat dipercayainya.

Riana memilih pergi jauh meninggalkan kehidupan fikri dan niken yang sudah sama-sama menghianatinya.
Riana pergi membawa lukanya sendiri. sebuah pelajaran berharga yang didapati riana.
Kini riana menutup hati untuk setiap laki-laki yang hendak mendekatinya,
Adapun nanti ia membuka hati untuk kaum adam mungkin saja ia akan semakin selektif dalam memilih dan menentukan pasangannya, ia tak mau ada fikri-fikri lagi yang mungkin kelak menghancurkan hatinya.


Cerpen Perpisahan – Long Distance Relationship

Hari ini telah siap diriku dengan dress batik dan pita coklat yang menghias di rambut. “Anggun” Mungkin kata itu yang tepat untukku di tanggal 25 juni ini. Pasti kalian bertanya ada apa di hari itu? mengapa aku harus terlihat “Anggun”? Ya, hari itu adalah hari di mana aku harus berpisah dengan sahabat, guru, ruang kelas, kantin, bahkan ‘My Boy Friend’ atau yang sering kita sebut ‘Pacar’. Pada waktu itu berpisah dengan pacar bukan berarti ‘Putus’ lho tapi mungkin akan menjadi sebuah ‘LDR’ you know? ‘Long Distance Relation.

Sekolah Menengah Pertama ini, menyimpan banyak kenangan untukku “Ra, gue gak akan pernah lupain koridor ini” Gumamku pada Rara, sahabat karibku di SMP. “Lho? Emang ada apa di koridor ini, Vi?” Tanya Rara heran. Beuh, gubrak deh. Kayak nya ini anak mendadak amnesia sehabis nangis-nangis. Gerutuku dalam hati. “Masa kamu gak tau sih?” Sedikit ku desak ia agar kembali mengingat. “Oh, iya kita kan sering lewat koridor ini kalau mau ke kantin, dulu di sini gue pernah numpahin jus yang gue bawa” Jawab nya polos. ‘Oh My God’. “Plis Rara, gue lagi gak mau bercanda. Gue lagi serius” Ku lihat kan muka seriusku dengan tatapan jengkel. “Haha, iya deh. Gue tau kok, Soalnya setiap berangkat sekolah elo sering bareng sama si Rendi kan?” Jawabnya. Aku hanya tersenyum malu. “Hayoo? Sambil gandengan tangan gitu ya?” Tanya nya curiga dengan tatapan tajam, setajam silet. “Eh, enggak kok!!” Jawabku malu-malu. “Ah bohong” Katanya tidak percaya. Huh dasar, Rara emang sahabatku yang selalu bikin aku ‘Geregetan jadinya geregetan’ Kaya Lagu nya serina tuh. “Bisa langgeng gak ya? Kalau gue ‘LDR’an sama si Rendi?” Tanya ku pada sahabat karib yang memiliki tinggi 162 cm di umur nya yang baru 14 tahun itu. “Kunci nya ya, saling percaya aja” Jawabnya. Siang itu menjadi percakapan terakhir kami di tanggal 25 juni. Lain hari semoga aku bisa bertemu dengannya lagi.

  Cerpen Remaja

Perpisahan ku ini tak hanya dengan sekolah menengah pertama, guru-guru dan sahabat. Tapi juga, dengan Pacar. ‘Sedih sekali rasanya jadi pengen nangis bombay, huhu’. Karena selama SMP selain orang tua, pacar juga menjadi penyemangat belajar. Tapi sekarang? Aku harus berpisah jarak dengan si do’i. Aku akan melanjutkan Sekolah di kota Semarang, sementara pacarku tetap tinggal di Bandung.

Sore ini aku ada janji dengan Rendi, pacarku. Rencananya sih, kita mau main ke taman kompleks sambil sepedaan. Jam tiga tepat aku telah siap dengan baju rapi, tapi… “Hmm, ada yang kurang deh” Aku berfikir sejenak kemudian mencium bajuku. “Oh, iya aku belum pake parfum” Segera ku ambil parfum di meja riasku. ‘Semprot sana semprot sini, Wangi kan?’. Setelah selesai memakai parfum aku bergegas keluar rumah. “Eh, neng Vivi mau kemana?” Tanya Bi inem pembantuku di rumah. “Biasa bi, mau JJS” Jawabku sambil memakai sepatu flat berwarna pink. “JJS, apaan tuh neng?” Tanya si Bi inem ke heranan. “Haduh, si Bibi Kepo deh. JJS tuh Jalan Jalan Sore, bi.” Jawabku setelah selesai memakai sepatu flat. “Oh, Jalan-jalan sore, terus kalau Kepo artinya apa ya neng?” Tanya nya lagi ‘Ebusehh, ini emak emak hobbi nya nanya mulu’ Pikirku mulai kesal, tak sempat aku menjawab pertanyaan si Bi inem, satu message dari Rendi masuk ke handphoneku, katanya di sudah menunggu di depan jalan. “Udah ah bi, aku mau pergi dulu bareng Rendi ya, Babay” Kata ku berlari ke arah pagar sambil melambaikan tangan.

Setelah membuka gerbang, Ku lihat sosok pria urakan membawa sebuah karung dan besi pengkail yang memungut botol-botol bekas. Sungguh malang, itu kah pacarku? Oh No!! Bukan!! Itu mah pemulung. Pacarku itu yang menunggangi kuda gagah, memakai baju kehormatan, membawa pedang, berwibawa dan memiliki harta yang melimpah. Nah loh? Itu mah ‘Pangeran Kerajaan’ Ya? Ahh, pikiranku kacau. Yang Aslinya, pacarku itu memakai jaket hitam, baju putih, celana jeans dan menaiki sepeda BMX. “Itu dia” Seruku dengan hati senang namun bimbang. Setelah menghampiri dia, sebuah senyuman manis semanis gula aren menyambut. “Yuk” Ajak nya untuk berboncengan di sepeda nya.

Sepanjang perjalanan, pikiranku masih di penuhi dengan pertanyaan “Apakah sanggup aku menjalani ‘Long Distance Relation’ sama Rendi?” Rendi belum tahu kalau aku akan pindah ke Semarang, dan aku bingung untuk menentukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini pada Rendi. Saking serius nya melamun, (ckck melamun aja sampe ada serius nya). “Vi udah nyampe nih..” Katanya lembut. “Oh, udah nyampe ya” Kata ku super polos. Rendi mengajakku untuk duduk di bangku taman. Aku hanya mengangguk kecil tanda setuju. Kami pun duduk, tapi raut muka ku tak seperti biasanya. Kini aura sedih dan bingung bercampur. “Kamu kenapa Vi? Kok sedih gitu? Ada masalah ya ?” Tanya nya. Aku hanya diam. “Kok diem? Cerita dong? Siapa tahu aku bisa bantu?” Kata nya lagi. Akhirnya ku buka suara perakku (Bosen emas terus). “Emm.. menurut kamu, enak gak sih kalau harus Long Distance Relation?” “Emang kenapa? Kok tanya soal itu?” “Jawab dulu” Kata ku sedikit memaksa. “Menurut aku sih enak ga enak” Katanya. “Kok plin-plan gitu sih? Kenapa?” Tanyaku lagi “Ya, kan gak enak nya ya gak bisa sering ketemu pacar..” “Nah loh? Kalau enak nya apa dong?” Tanya ku semakin bingung. “Enak nya, kalau selingkuh enggak akan ketahuan, hehe” Jawabnya cengengesan. “Ih, kamu ya!!” Kataku kesal sambil mencubit lengan Rendi. “Kenapa? Kok marah? Katanya minta jawaban?” Tanyanya sambil menatap wajahku yang memerah. “Ya jelas marah lah, kalau kita LDR berarti kamu bakalan selingkuhin aku gitu?” Keluarlah kedua tanduk di kepalaku pertanda marah besar. “Eh, enggak gitu kok beb” Kata nya yang mulai mencoba membuatku tenang. “Terus gimana hah?” Kataku membentak. “Aku tadi Cuma bercanda kok” Jawabnya. Aku hanya diam dengan kesal. “Lagian, mana mungkin kita LDR orang rumah kamu di Blok 5 aku di blok 7 coba?” Katanya yang tidak percaya.

Aku menghela nafas. Dan mulai membuka suara lagi “Rendi, kita tuh bener bakalan LDR, soal nya..” Kata ku diam sejenak. “Soal nya apa?” Tanya nya penasaran. “Soal nya aku mau pindah ke Semarang, Mama sama Papa udah rencanain itu semua dari dulu” Jawabku sambil memejamkan kedua mata. Rendi terdiam. ‘Loh? Kok si Rendi diem sih? Jangan-jangan dia pingsan lagi?’ Pikirku aneh. Tiba-tiba Rendi memegang kedua bahuku lembut “Kenapa kamu enggak bilang dari dulu?” Tanyanya. Kini aku yang terdiam. “Emang nya kamu siap, kalau harus LDR?” Tanyaku kemudian. “Why Not?” Jawab Rendi yang menatapku lekat. ‘Sok, inggris banget nih cowok, nilai di sekolah nya aja Cuma dapet angka 9 ke balik’ Pikirku. “Udah dong kamu jangan sedih” Hiburnya sambil mengusap pipiku. Lagi-lagi aku hanya menghela nafas.

Sepulang dari taman aku segera berlari ke kamar. Apakah sore ini akan menjadi sore terakhir kita? Hadeuh God I’m Confuse kataku sambil mengacak-ngacak rambut. “Heh, kamu ngapain ngacak-ngacak rambut gitu?” Tanya mama yang tiba-tiba ada di belakangku. ‘Udah kayak hantu aja ini ibu, tiba-tiba muncul’ pikirku. “Eh, mama? Iya ni aku lagi pusing ma” Kataku yang membereskan kembali rambutku, bersikap anggun di depan mama tercinta. “Kamu ada masalah sayang?” tanya mama dengan penuh perhatian. “Emm.. sebenernya ada sih ma, tapi..” aku bingung untuk mengatakannya. “Tapi apa?” Tanya mama mulai kepo. “Tapi aku malu cerita nya ma, he” Jawabku nyengir. “Pasti tentang Rendi ya?” tanya mama curiga. “Ko mama tau sih? Mama stalkerin aku ya?” Tanyaku curiga juga. “Gini-gini mama juga kan pernah muda” Jawab mama dengan ganjen nya. ‘Aihh, ternyata emak gue gahol’ Pikirku senyam senyum. “Jadi gini ma, aku tuh bingung harus kaya gimana hubungan aku sama rendi soal nya kan keluarga kita mau pindah ke semarang?” Aku mulai terbuka pada mama.

Singkat cerita, dari situ mama mulai menasehatiku dan memberi saran katanya “Walaupun jauh aku sama rendi masih bisa tukar kabar lewat telfon, message atau BBM” dan benar kata Rara sahabat karibku di SMP “Kunci nya adalah Saling Percaya”. Dan walaupun aku sama Rendi harus LDR itu tidak jadi masalah. Si mbah Gahol juga bilang kalau “Jodoh Gak akan kemana”


Cerpen Perpisahan – Yang Lalu Tetap Berlalu

Siang yang bersahabat, matahari adem ayem di cakrwala. Ku langkahkan kaki ke luar kelas. “Ana” itulan panggilanku, Lifi mendekatiku. Aku dan Lifi mampir sebentar di toko depan sekolah. Sewaktu balik tiba-tiba ada orang asing di depan sekolah, dengan seragam serba abu-abu. Oalah, kenapa harus ada dia?
“Loh, Na, itu si Gio”, kata Lifi heboh, aku mengangguk saja bermaksud membenarkan Lifi. Aku berharap dia pergi sebelum aku sampai di gerbang. Dan syukurlah, dia paham, dia langsung pergi.

Sejujurnya hatiku dag dig dug, aku kangen banget sama dia. Aku cuma bisa mengenang masa lalu kita di hati saja. Dia yang dulu tersipu malu dengan kehadiranku sekarang malah menghidariku. Aku sedih melihatnya terlebih saat aku tahu dia ke sini bukan buat aku, dia ke sini gak lain buat si Rika.
Rika sebetulnya temanku waktu di LBB dan kita sempat akrab, sayangnya statusnya kali ini membuatku selalu buang muka tiap ada dia, aku gak suka dia, kita serasa orang yang gak pernah kenal.

Rupanya aku sudah melamun terlalu lama, tenyata sudah sampai di depan kamar. Belum sempat aku rebahkan tubuhku sejenak melepas lelah dan galaunya hati. Teman-teman mengejutkanku “ada kecelakaan…!” teriak teman-teman. Mendengar ucapan itu aku bergegas keluar membiarkan tas dan kunci kamar tergeletak, entah kenapa aku langsung kepikiran Gio. Dalam hati aku berharap bukan Gio.

Aku memaksa menerobos gerombolan orang-orang melihat korban. Korban itu beneran Gio aku tak berteriak aku hanya menangis dan memanggil teman satu wismaku untuk membawa Gio ke rumah sakit. Ku rangkul Gio, aku berharap abang becak ini bersemangat mengayuh becaknya. Sesekali aku mengeluh entah kenapa aku tak mampu menatap wajah Gio yang berlumur darah, aku hanya menangis.

Sesampainya di rumah sakit Rika sudah siap dengan dokter. Rika bersama keluarga Gio menunggu di depan pintu, kecuali aku dan teman sewismaku yang bermaksud meninggalkan tempat itu. Dengan langkah berat aku menjauh dari tempat itu sembari memandang darah di telapak tanganku, sesekali aku genggam erat dan aku sentuhkan di dadaku.
“Ana, tunggu!” Rika mencegah kepergianku aku hanya menoleh. Rika menggandengku dan membawaku berlari menuju ruang rawat Gio. Aku tertegun saat aku tahu dia mengenakan baju pemberianku sekalipun baju itu sudah lusuh bekas kecelakaan tadi. Aku menghampirinya tapi dia memalingkan mukanya. Aku kecewa, dia tak menganggap kehadiranku. Tak sepatah katapun ku ucapkan, tapi saat aku berbalik badan Gio memegang tanganku, aku menghentikan langkahku. Hatiku berdebar-saat aku bersamanya dulu.

Sudah terlalu lama, akupun berbalik badan tapi dia memalingkan mukanya. Aku hanya diam, ku tanya hati mengapa dia tak mengizinkanku pergi, tapi dia tak menatapku. Tanpa aku sadari air mataku menetes jatuh di tangannya yang masih menggenggam tanganku.
Aku ingat jam tangan yang aku pakai ini adalah pemberian Gio, aku lepaskan tangan Gio di tanganku, lalu aku lepaskan jam tangan itu. Lalu aku lemparkan ke arah Gio dan berlari keluar ruangan angker itu.

Sesampainya di wisma aku kumpulkan semua barang pemberian Gio dan semua hal tentang Gio lalu aku bungkus kardus dan aku paketkan kerumah Gio.
Esoknya aku mendapatkan sebuah kado di depan kamar wisma, masih sepi karena hari baru pukul 05.30. Aku bawa kotak tersebut ke kamar dan aku buka, black forest dengan lilin menyala merangkai namaku dalam huruf arab. Tidak hanya itu, kotak yang aku paketkan ke Gio kemarin balik lagi.

Saat di skolah teman-teman masih sempat-sempatnya ngadain rapat sepulang sekolah walau berat aku mengiyakan saja. Saat rapat berlangsung tiba-tiba segerombolan orang asing membawa kue tar menuju tempatku, aku baru sadar bahwa hari ini ultahku. Tapi siapa mereka, aku tak mengenalinya kemudian seseorang mendekatiku aku selalu berangan-angan itu Gio, dan memang benar dia Gio.

Setelah serentetan peristiwa itu terjadi rasa hati ini mulai bangkit lagi untuk Gio. Sayangnya, Gio masih berhubungan dengan Rika, mereka masih pacaran. Di minggu pagi yang mendung itu dia mendatangi wismaku dan memberiku sepucuk curat lalu pergi aku buka surat itu perlahan dengan perasaan linglung
Semoga kamu jadi orang sukses berbahagialah dengan orang-orang di sekitarmu karena banyak yang menginginkanmu bahagia, akupun juga, Lupakan aku! Kembalilah kubur namaku sekalipun kamu akan selalu terkenang di hatiku sebagai seorang yang berarti untukku.

GIO

cerpen perpisahan
cerpen perpisahan | pixabay.com

Demikianlah kumpulan cerpen perpisahan pilihan terbaik yang bisa dibagikan kali ini. Semoga beberapa cerpen perpisahan ini bisa menghibur pembaca dalam mengisi waktu senggang berselancar di dunia maya.

Leave a Comment