Cerpen Perjuangan

Cerpen Perjuangan – Di postingan kali ini kami membagikan berbagai cerpen perjuangan dalam kehidupan yang diambil dan dipikih secara langsung dari berbagai sumber pustaka online cerita pendek kiriman pembaca.

Cerpen perjuangan berbagai tema kehidupan ini bisa menjadi sumber bacaan singkat menarik. Selain itu, cerpen perjuangan ini bisa menjadi bahan pembelajaran dan referensi untuk kamu yang sedang mencari hiburan dan mengisi waktu dalam masa senggang.

Kumpulan Cerpen Perjuangan Pilihan

Ok, langsung saja silahkan disimak kumpulan cerpen perjuangan berikut ini. Semoga cerita pendek yang diberikan cukup menarik.

Cerpen Perjuangan – Text Me Please

Pernahkah kalian para kaum hawa, mengagumi seorang pria yang kalian idolakan? Memang, itu hal yang sangat wajar sekali, tapi tidak bagiku. Aku harus berjuang mati-matian dahulu untuk mendapatkannya, bahkan.. sangat kecil kemungkinan untuk bisa.

“Ocha! Aku sudah dapat informasi tentang si..” kata Cindy, yang tiba-tiba terpotong.
“Sssssst! Jangan keras-keras Cin!” kataku.
Aku dan Cindy memang sahabat dekat. Cindy, adalah sahabat yang selalu membantuku dalam susah maupun duka.
“Iya iya. Dia ulang tahunnya tanggal 12 September, Cha.” kata Cindy sambil membisikiku.
“Jeongmal? (Kata “sungguh” dalam bahasa korea) Ulang tahunnya sama kayak aku, Cin!” jawabku girang.
“Ciye-ciye.. jangan-jangan jodoh!” kata Cindy terkekeh.

Namanya Alvaro. Dia, kakak kelasku di kelas 12. Dia memang sangat keren! Tak sedikit adik kelas yang selalu bertingkah heboh kepadanya. Mungkin, hanya aku satu-satunya perempuan yang tidak bersikap seperti itu. Aku pemalu, lugu, mudah canggung. Mana mungkin Kak Varo bisa mengetahui perasaan gadis pemalu sepertiku? Aku hanya bisa mencari banyak informasi tentangnya, bersama Cindy. Aku ingin sekali sms-an dengan Kakak itu dan menanyakan keadaannya tiap hari. Oh iya, aku nggak pernah lupa menempelkan sebuah lollipop setiap Hari Sabtu di loker barangnya. Tak lupa kutuliska inisial “O” di lollipopnya. Aku senang sekali, Kak Varo selalu memakannya, tidak pernah tidak.

Kini, aku sedang berada dalam masa pencarian nomor hape Kak Varo. Haha, tapi aku selalu gagal. Kakak kelas sekelasnya tak pernah memberitahuku, saat aku bertanya. Huh! Pelit sekali, masa’ nomor Kak Varo di simpen sendiri? Aku pun mencari di situs sekolah, tapi hasilnya nihil.
“Sudahlah, Cha! Jangan terlalu sedih, aku pasti bantu kamu kok cari nomor sekolah, tentang data Kak Varo, tapi tak ketemu. Kak Varo! ;)” kata Cindy menghiburku.
“Thanks, Cin!” kataku sambil memeluknya. “Tapi, kenapa aku berharap setinggi itu? Kak Varo aja nggak kenal aku, Cin :'(” lanjutku.
“Tenang, aja!Habis gini pasti kenal!” kata Cindy.

Aku terus berusaha mencari nomor hape Kak Varo, dan akhirnya.. aku berhasil! Aku menemukan nomor Kak Varo di data kelas. Yay! Tapi.. percuma saja. Aku malu dan tak berani untuk sms Kak Varo. Dadaku terasa sesak karena perasaanku ini, yang selalu kupendam sejak kelas 10.

Suatu hari, Cindy menelponku. “Cha! Katanya, Kak Varo mau les di tempat les kamu!” katanya.
“Iya? Aduh, gimana ini Cin?” tanyaku panik, seneng banget sih aslinya, hehe.
“Aduh gimananya, Cha? Kamu kan seharusnya seneng!” kata Cindy.
“Ah.. gimana, ya? Pokoknya gitu deh. Makasih ya, Cin! I Love You..” kataku sambil menutup telpon dan segera mengambil hape di kasur.

‘Halo, Kak, Aku Ocha, Kelas 11-A. Gimana kabar Kakak?’ SMS itu berhasil terkirim, tapi entah kenapa tak ada jawaban dari Kak Varo.
Esoknya, akupun berangkat les. Ternyata, Kak Varo memang benar les di tempatku! Tapi, Kak Varo terlihat acuh dan sama sekali tak memandangku. Aku, jadi sedih dan kehilangan semangat untuk les. Sepulang dari les, aku segera menelpon Cindy dan curhat kepadanya.
“Cin.. Aku nyerah.” kataku sedih.
“Loh, nyerah kenapa, Cha?” kata Cindy bingung.
“Kak Varo.. Aku udah nggak kuat lagi, Cin. Bahkan, dia sama sekali tak menoleh kepadaku tadi.” kataku.
“Jangan putus asa gitu, dong Cha! Kamu udah 2 tahun suka sama Kak Varo, jadinya kayak gini?” kata Cindy.
Aku hanya bisa terdiam, dan tersenyum kembali.
“Oke.. Cin! Aku nggak bakal putus asa lagi! Promise you.. ^^” kataku sambil menutup telponnya.

Esoknya di sekolah, suasana kelas pun gaduh. “Ada apa sih?” kataku heran.
“Kak Varo udah punya pacar ternyata.” jawab Mia, temanku.
“Apa?” kataku. Dadaku sesak, mataku panas, nafasku seakan akan berhenti seketika saat mendengar perkataannya.
Tanpa sadar, akupun mulai menangis untuk sejenak. Cindy pun menghampiriku, dan memelukku.
Waktupun berjalan terus hingga senja datang. Akhir-akhir ini, aku tidak memperdulikan telpon dari Cindy, ataupun yang lain. Tiba-tiba, ponselku kembali berdering untuk ke sekian kalinya.
“Cindy Memanggil..” Aku masih merasa stress karena hal kemarin. Aku tidak mengangkat telpon dari Cindy hingga 5 kali.
“Cha! Jangan hiraukan Mia. Aku tau, Kak Varo hanya menyukaimu, nggak ada yang lain.” kata Cindy.
“Apa?” tanyaku sedih.
“Kak Varo, sering sekali menanyakan tentangmu kepadaku sejak kemarin. Aku yakin, itu pasti karena perasaannya sama kamu, Cha! Aku ingin bilang ke kamu, tapi kamu nggak pernah ngangkat telponku.” kata Cindy.
“Nggak mungkin. SMS ku saja nggak pernah dibalas.” kataku.
“Kak Varo masih nggak berani balas, Cha. Dia malu, dan merasa bersalah sama kamu.” kata Cindy.

Akupun segera mengirim sms ke Kak Varo. “Apa benar, Kakak sudah punya pacar?”
1 SMS dari Kak Varo pun masuk. “Belum, aku hanya ingin jadian dengan adik kelas yang selalu menempelkan lollipop di lokerku. Aku sangat mencintainya.”
Aku gembira sekali! Sejak malam itu, aku dan Kak Varo berpacaran. Kami selalu merayakan ulang tahun kami dengan penuh cinta. Life Happily Ever After!

SELESAI


Cerpen Perjuangan – Kesedihanku

Sampai saat ini, yang menurutku telah 21 hari aku berada di sini, seingatku tak ada seorang pun dari keluargaku yang datang menjenguk. Suamiku, anak-anakku, ayah, ibu, mertuaku, semuanya. Tak ada satu pun yang menjengukku. Semuanya seakan alpa tentang keadaanku di sini, di suatu tempat yang dikelilingi jeruji besi ini.

Jujur, aku masih tak habis pikir mengapa wanita lemah sepertiku berada di sini. Yang kuingat, aku memecahkan akuarium besar milik majikanku yang kemudian membuatnya murka, dan aku pun langsung dipecatnya begitu saja. Tak hanya sampai di situ, esoknya saat aku tengah bergumul bersama anak-anakku, bercanda ria bersama, aparat keamanan meringkusku dengan paksa dan menuduhku dengan hal yang bukan-bukan. Pencuri, ya aku dituduh mencuri perhiasan milik mantan majikanku sendiri. Aku coba menjelaskan semuanya, bahwa ini fitnah, ini tuduhan yang salah. Tapi siapa yang akan mendengarkanku?

Dan karena itulah, 21 hari terakhir kulewati dengan terpaksa di tempat yang begitu pengap ini. Ya, semoga saja aku tak salah menghitung hari-hariku, sebab aku hanya bisa menandai pergantian hari lewat ventilasi kecil yang juga terpagari oleh besi tanpa sedikit pun tahu sekarang hari apa, tanggal berapa, dan sebagainya. Yang kuingat, sebelum aku meringkus tak berdaya di sini, ulang tahun ke-15 Alfi, anak sulungku tinggal beberapa hari lagi. Dan aku, sebagai seorang ibu yang senantiasa menyayanginya, dengan ini, telah memberikan kado yang buruk baginya, bahkan mungkin terlalu buruk untuk ia terima.

Padahal di tahun-tahun sebelumnya, aku tak pernah luput memberikan hadiah kecil-kecilan buat Alfi, juga buat Alfin, si pangeran sulungku di setiap kali ulang tahun mereka berdua tiba. Kadang mukenah, jlbab untuk Alfi, serta peci hitam dan baju koko untuk Alfin yang kubeli di toko obralan 2 kilometer dari rumah majikanku. Tapi kini, apa yang aku berikan untuk mereka? Ah, aku tak tahu harus berucap apa.

Dan hari ini, saat cahaya mentari baru saja menembus celah-celah ventilasi, saat pagi masih terasa gigil sekali, aku mendapati sepucuk surat kecil tergeletak di pojok kanan kamar baruku yang di kelilingi jeruji besi ini.
Aku mengambilnya, perlahan membukanya, dan kemudian membacanya dengan seksama,
Ibu, ini aku Alfi, anak Ibu. Semoga di sana ibu tetap baik-baik saja dan tak kekurangan satu apa pun.
Saat ini aku tengah sakit, Bu. Tapi bukan hanya ragaku yang sakit, jiwa dan perasaanku juga tengah terluka. Dalam sekali. Dan kuharap Ibu tidak akan shok dengan ceritaku ini.

Masih dapat dengan jelas kuingat malam itu, sehabis menunaikan shalat isya’ berjama’ah, seperti biasa aku dan Bapak menghibur Alfin yang masih terus saja menanyakan keberadaan Ibu. Kami terus bercanda tawa bersama di gubuk kecil kita yang begitu sederhana. Saat itu, Alfin benar-benar terhibur dan bisa sejenak melupakan keceriaan saat bersama Ibu. Tapi aku, yang sudah cukup mengerti semua ini, semua canda tawa itu terasa ganjil dan selalu saja terasa tak sempurna. Bukan karena apa-apa, Ibu. Tak lain karena tak ada Ibu di sini yang biasa mendampingi kami bercanda tawa bersama. Dan jujur, aku begitu rindu panggilan lelucon Ibu kepadaku yang dulu membuatku sedikit cemberut mendengarkan kalimat itu, “si gigi kelinci”. Kini aku begitu rindu kalimat itu, Bu. Sangat-sangat rindu. Terutama saat Ibu mengucapkannya sambil mencubit hidungku yang kata Ibu tak mancung-mancung juga. Aku rindu semua itu, Ibu. Sungguh begitu rindu.

Kami terus bercanda tawa bersama hingga akhirnya gigil malam membuat kami terlelap. Aku masih begitu ingat kata-kata Bapak sesaat sebelum aku terlelap bersama kantukku,
“Fi, kamu yang sabar ya, Nak. Besok kita jenguk Ibu di penjara. Tapi jangan bilang-bilang Alfin. Bapak gak mau adekmu itu mengerti semua ini.” Bapak membelai rambutku seperti waktu kecil dulu. Dan tiba-tiba aku kembali teringat dirimu, Bu. Teringat belaian lembutmu waktu aku kecil dulu. Aku rindu semua itu.

Sebelum terlelap, aku memandangi foto Ibu lekat-lekat dan kemudian memeluknya erat.
Aku begitu nyenyak merangkai mimpiku malam itu, di tambah lagi dengan gigil hujan yang tak kunjung reda, membuat tidurku semakin lelap saja. Jujur, malam itu aku memimpikanmu, Bu. Benar-benar memimpikan Ibu kembali bercanda tawa ria di antara kami, sebelum akhirnya ada sesuatu yang membuatku terperanjat dari tidurku. Aku merasa getaran, Ibu. Awalnya, aku menyangka hal itu hanya perasaanku saja. Namun lama kelamaan getaran itu semakin keras dan terus saja menjadi. Saat itu aku mendengar suara Alfin dari kamar sebelah yang berteriak memanggil Ibu, juga suara bapak yang bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Waktu itu, aku juga mendengar suara aneh dari tebing tanah curam di belakang gubuk kecil kita. Aku merinding. Aku khawatir. Sesegera mungkin aku membuka pintu kamar. Kulihat bapak mengahampiri Alfin, hendak menggendongnya. Bapak menoleh padaku lantas berkata, “Alfi, cepat keluar rumah!” bersamaan dengan suara Bapak, aku mendengar suara aneh yang seakan menimpa gubuk kita. Kraaaak. Dan semuanya pun perlahan runtuh.

Aku berlari keluar rumah sebelum akhirnya ada sesuatu yang menimpa kepalaku. Aku tersungkur. Kurasakan pening yang sangat. Kuraba kepalaku, berdarah. Aku coba berdiri kembali, namun genteng rumah kita yang jatuh satu per satu bercampur lumpur menimpaku, membuatku tersungkur kembali. Aku sakit, tubuhku remuk. Aku merangkak dengan sisa tenagaku. Lamat-lamat kulihat Bapak juga tertimpa kayu atap rumah. Alfin terlempar, lepas dari gendongan Bapak. Bapak tak sadarkan diri.

Aku terus merangkak dengan sisa-sisa tenagaku, mencoba menghampiri Alfin. Sementara itu, lumpur-lumpur semakin buas saja meruntuhkan segalanya. Kayu-kayu atap rumah perlahan jatuh satu persatu menimpaku. Aku tak bisa bergerak. Aku berteriak pada Alfin agar cepat keluar rumah, tapi dia tetap saja menangis dengan terus menerus memanggil nama Ibu.

  Cerpen Sedih

Aku terus saja berteriak, menyuruh Alfin keluar rumah segera, sebelum akhirnya lumpur-lumpur itu membenam kami semua. Aku meronta. Aku menerjang sekuat tenaga. Menerjang dan terus menerjang untuk mencari sedikit udara untuk bernafas di antara lumpur yang menguburku hidup-hidup. Aku terus meronta dan aku berhasil. Aku mengambil nafas panjang-panjang. Kurasakan lumpur telah memasuki tenggorokanku, hidung, telinga, semuanya. Aku kibas-kibaskan kepalaku, terasa pening sekali. Perlahan aku mencoba untuk membuka mata meski teramat perih. Lamat-lamat kulihat dua tangan menjulur ke atas dan masih bergerak. Tangan itu begitu mungil. Tangan Alfin. Aku kembali meronta, Ibu. Kembali menerjang, berusaha menghampirinya yang kira-kira lima meter dariku. Namun lumpur-lumpur yang membelotku membuatku tak berdaya. Aku menangis. Aku berteriak dan terus menerjang tanpa daya. Hingga akhirnya kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri, dua tangan itu semakin lemah, lunglai, dan akhirnya tak bergerak lagi. Aku menangis, Bu. Aku berteriak sekuat teraga. Aku kemudian tak sadarkan diri karena kusaksikan semua itu dengan mata kepalaku sendiri.

Kukira aku telah mati, Bu. Saat kubuka mata, semuanya putih. Aku menyangka telah berada di dunia lain yang tak kukenal. Namun setelah kubuka mata lebar-lebar dan kuedarkan pandangan, orang-orang itu menghampiriku dengan wajah iba. Pak Amir bersama istrinya yang baik hati, Bu Tuti, Mbak Ida, dan banyak dari tetangga-tetangga kita. Saat itu aku baru sadar, aku belum mati. Aku di rumah sakit. Saat kutanya perihal bapak dan Alfin, mereka semua berkasak-kusuk sebentar, lalu menyuruhku untuk bersabar.

Aku selalu bertanya-tanya sendiri di hatiku sebelum akhirnya Bu Tuti memberiku sebuah jawaban. Dia mengelus-ngelus kepalaku sambil berucap,
“Kamu yang sabar, Nak. Alfin dan Bapakmu telah tiada…”
Aku masih begitu hafal kata-kata itu hingga kini. Kata-kata yang membuatku terkesiap dan menangis, menyesali semua apa yang terjadi. Bukan hanya itu yang membuatku terluka. Di saat Bu Tuti mengelus-elus kepalaku, aku teringat satu hal, saat Bapak juga mengelus-elus kepalaku sebelum aku terlelap di malam itu. Rencana akan menjenguk Ibu tanpa diketahui Alfin. Itulah yang semakin membuatku terpukul hingga kini.

Dan kini, kutullis surat ini untuk Ibu. Aku harap, Ibu tidak akan shok mendengar semua kisahku ini. Bu, saat ini aku ingin menjadi seperti anak kecil lagi. Aku rindu belaian lembut Ibu yang mengelus pelan kepalaku. Aku meindukanmu, Bu. Sangat-sangat rindu.
Salam rindu dari anakmu yang tinggal seorang diri ini,

Alfi.

Ada yang sakit di dadaku. Perih sekali. Semakin perih. Dan aku tak kuat lagi menahan sakit ini. Semuanya seakan berputar di sekelilingku. Aku tersungkur, namun dada ini masih saja sakit, semakin perih. Semuanya semakin cepat saja berputar. Semuanya seakan buram, terus memburam. Dan akhinya, gelap.


Cerpen Perjuangan – Hari Kartini

Pagi ini wanita tua itu kembali menarik gerobak sampah. Jalannya agak terpincang-pincang, entah karena kakinya sakit atau karena keberatan menarik gerobaknya. Sandal jepit yang mengalasi kakinya, seperti baju kaos dan roknya yang lusuh, sudah tak jelas warna aslinya. Entah karena terlalu lama usianya, atau karena terlalu banyak debu yang bersarang di sana. Karena mungkin berat, jalannya juga cuma nggremet seperti truk gandeng mercy yang kepalanya nonong itu. Pengendara di belakangnya memperlambat laju motornya, memberi kesempatan kendaraan dari lawan arah. Beberapa orang yang memburu waktu, mengantar istrinya berkebaya lengkap hendak upacara di kantor wali kota, mungkin berguman: bikin macet saja!

Karena bertepatan dengan hari peringatan tentang hakekat wanita Indonesia, tadi malam Si Tini, cucunya, iseng-iseng bertanya kepada perempuan itu.

“Tanggal 21 April itu hari apa mbah?”

“Ya, hari Minggu!” jawab Mak Inah dangkal, tanpa mengena pada esensi pertanyaan cucunya. Tini pun tak melanjutkan pertanyaannya. Ia tahu benar, tak ada jawaban yang lebih benar dari pada jawaban neneknya.

Ya, ia benar. Memang tanggal 21 April tahun ini jatuh padahari Minggu. Ia tidak salah sebab ia tidak lagi ingat akan pelajaran sejarah di sekolah dulu. Atau, ia memang tidak mengenal apa itu Hari Kartini, karena ia mungkin saja tidak pernah sekolah. Yang ia ingat hanyalah tugasnya setiap hari, menarik gerobak sampah. Dari unjung jalan, berhenti di depan setiap rumah, mengangkat tong sampah dari ban bekas lalu memuntahkan sampah bau itu ke perut gerobaknya. Begitulah seterusnya, sampai di akhir jalan itu.

Mak Inah, memang pernah mendengar ketika cucunya menghafal pelajaran sejarah. Si Tini, cucunya itu, mempunyai kebiasaan menghafal sambil membaca keras-keras kalimat yang dihafalnya. Supaya tidak mudah terlupa. Oleh karena itu, masih belum tegerus dari ingatannya ketika si Tini membaca keras-keras: Buku karangan R.A. Kartini adalah Habis Gelap Terbitlah Terang.

Tentu saja Mak Inah tak pernah tahu persis apa maskudnya, selain sekadar meraba-raba artinya. Menerjemahkan ala orang bodoh dan miskin. Adakah itu artinya, sehabis malam membungkus bumi lantas terbentanglah siang di hamparannya? Kalau itu artinya, bukankah itu hanyalah sebuah kebenaran umum yang cukup diterima saja? Kehendak Tuhan yang diawali ketika Ia menciptakan dunia dan mungkin akan diakhiri saat Ia mengirimkan kiamat?

Menurut Mak Inah, pendapat pribadinya, gelap diartikannya sebagai nasib rakyat kecil yang hidupnya tak seterang orang kaya. Lalu, terang dimaknainya sebagai rasa bahagia karena kemiskinan itu justru membuatnya tenang. Samar-samar pernah terlihat di televisi orang kaya seusianya yang bajunya bertuliskan ‘TAHANAN KPK’. Baginya kemiskinannya tidak pernah membuatnya menjadi pesakitan seperti orang kaya yang di TV itu. Bisa saja orang miskin hidupnya terang, dan bisa saja yang kaya hidupnya gelap.

Meski berat, gerobak Mak Inah sampai juga ke TPA. Tempat Pembuangan Akhir, pembuangan sampah. Pengalamannya selama ini yang lebih dari lima belas tahun menjadikannya hafal betul bahwa sampah pun mempunyai kasta. Kasta brahmana dan kasta sudra, kasta kaya dan kasta melarat.
Sampah dari rumah tingkat yang di bagian sampingnya ada kandang mercy, pajero, alphard atau setidanya, kijang dan macan hitma, biasanya berupa kotak-kotak bungkus pizza atau dunkin donat. Roti yang bentuknya budar seperti roda berselaput gula. Entah bagaimana rasanya ia tak pernah tahu. Lidahnya tak pernah bercerita tentang itu. Gambar-gambar itu saja yang bercerita kepadanya. Sedang sampah dari rumah-rumah kecil, biasanya hanya berupa sisa batang kangkung atau kulit terong yang dibungkus tas kresek.

Anehnya, Mak Inah tak pernah mengiri. Apalagi sampai bertanya-tanya kepada Tuhan mengapa ada orang kaya dan orang miskin. Ia tak pernah protes ketika ia bingung hari ini mau makan apa, sementara makluk-makluk itu kebingungan mau makan di mana. Baginya, sampah-sampah karton dan kardus itu kadang bisa menghapus kebingunagan itu, manakala ia sudah membawanya ke Haji Sakri, pengepul barang loak itu dan menukarnya dengan sejumlah uang.

Mak Inah, menambatkan gerobaknya di samping rumah sangat sederhana yang di sewa dari Pak RT. Becak yang warnanya sudah seperti batik karena terlalu sering di cat ulang itu sudah ada di halaman, di bawah pohon. Pertanda Mat Pithi, suaminya, yang semalaman mencoba mengais dinginnya malam untuk uang dua puluh ribuan sudah pulang. Begitulah, Mat Phiti lebih sering pulang pagi. Bila malam, ia melingkarkan tubuhnya di jok becaknya dan membalut dengan sarung di dekat perempatan lampu merah. Itu setelah lelah dan rasa kantuk mengalahkannya.

“Mak, sebaiknya hari ini Emak gak usah memulung,” kata Mat Pithi menyambut istrinya.

“Memangnya kenapa pak?”

“Ya, sekali-kali istirahatlah. Sehari dalam seminggu. Seperti para pegawai itu.”

“Mereka kan gak kerja sebulan juga di bayar. Kalau kita, gak kerja sehari berarti gak makan.”

Mat Phiti hanya manggut-manggut sambil menghabiskan sarapan paginya. Nasi dan sambal ikan asin. Benar juga, pikirnya.

“Kalau begitu, Emak pergi ke balai kota saja. Pasti di sana banyak totak bekas kue dan botol atau gelas akua.”

“Loh, di sana ada apa, pak?”

“Ada upacara.”

“Upacara apa?”

“Mana aku tahu toh mak, wong tukang becak kok ditanya soal upacara segala!”

“Ya sudah, aku kesana.”

Masih tetap mengenakan pakaian kerja seperti saat ia menarik gerobak sampahnya, Mak Inah menuju ke balai kota. Meski masih tetap berurusan dengan sampah, kali ini Mak Inah tidak menarik gerobak. Karung pastik besar yang dibawanya. Nangkring di punggungnya.

Di halaman balai kota, upacara itu dilakukan. Ibu-ibu, pegawai kantor walikota itu, memakai kebaya lengkap, pakaian tradisional adat Jawa. Juga istri wali kotanya. Pak walikota pun memakai beskap, jarik dan blankon. Lalu, dinyanyikan lagu ‘Ibu Kita Kartini”. Mak Inah, tiba-iba ingat tadi malam ketika si Tini menyanyikan lagu itu. Sebelum ia menanyainya tentang tanggal 21 April itu. Pertanyaan yang aneh!

Upacara telah selesaii. Pesta di kantor wali kota pun usai. Mobil-mobil kembali mengangkut para istri itu kembali ke rumahnya. Tidak seperti hari-hari biasanya, hari ini bapak-bapak itu seakan bersimpuh di kaki wanita. Dan, wanita seperti menjadi ratu sehari. Ibu-ibu itu sejak subuh telah pergi ke salon kecantikan. Hari ini ibu-ibu itu harus nampak cantik. Harus nampak bak seorang ratu. Konon, untuk ke salon itu mereka harus bayar mahal. Sama jumlahnya dengan gaji yang ia terima untuk tiga bulan. Gaji sebagai pengangkut sampah itu.

Tiba-tiba, Mak Inah ingat tentang Hari Kartini seperti yang dinyanyikan Tini tadi malam. Ya, hari ini 21 April adalah Hari Kartini. Lalu, ia tersenyum. Tanpa disadarinya, bibirnya bersiul: “Ibu kita Kartini, putri sejati…” Mengingat dan mengucap sepotong-sepotong lagu pendek itu. Sambil terus memunguti kotak kue, gelas dan botol plastik.

Ia akan terus berjuang seperti Kartini!


Cerpen Perjuangan – Obat Alami Layila

Di pinggir jalan, seorang anak yang kira-kira berusia 12 tahun duduk sambil berjualan obat-obatan alami. Namanya Layila. Barang dagangannya masih lengkap, belum ada yang terjual. Daun sirih, lidah buaya, dan barang-barang lainnya yang ia jual belum ada yang dibeli satupun. Setiap ada orang yang lewat, ia sudah berusaha menawarkan dagangannya, tapi pasti tidak ada yang mau. Bahkan ada yang pura-pura tidak melihatnya. Karena adzan maghrib sudah berkumandang, Layila pun langsung membereskan obat-obatan yang ia jual dan membawanya pulang.
“Bagaimana jualannya hari ini?” Tanya Ummi.
“Sama kayak kemarin, Mi.” jawab Layila sedih. Ummi menghela napas.
“Besok, kan, hari Minggu. Kamu nggak sekolah, kan? Besok kamu jualanya dari pagi saja, ya. Siapa tahu kalau pagi-pagi banyak yang mau beli,” kata Ummi. Layila mengangguk, lalu segera menuju kamarnya.
Walaupun sangat lelah sehabis pulang sekolah, Layila tidak akan menolak perintah Ummi. Apapun yang Ummi suruh, mau mudah atau sulit, pasti ia lakukan. Seperti menjual obat-obatan alami sepulang sekolah.

Esok paginya, tidak seperti Minggu pagi biasanya, Layila bangun pukul 04.00. padahal kalau hari Minggu, Layila bangun pukul 05.30. Pukul 06.00 pagi, Layila pergi berjualan ke tempat biasa. Udara pagi yang segar menemani Layila saat berjualan. Ia sangat berharap hari ini dagangannya akan laku. Ia berdoa pada Allah, “Ya Allah, mudahkanlah aku dalam berjualan. Buatlah hari ini lebih baik daripada kemarin. Aaaamiin..”.

Siang. Sore. Belum juga ada yang mau membeli obat-obatan jualannya. Akhirnya saat maghrib, Layila memutuskan untuk pulang, tanpa uang sedikitpun. Baru saja ia mau mengemasi barang jualannya, tiba-tiba seorang bapak-bapak berlari kearahnya.
“Kamu penjual obat alami, kan?” tanyanya. Layila mengangguk.
“Punya obat sakit perut, tidak?” tanyanya lagi. “Ada jahe,” jawab Layila sambil mengeluarkan sebuah kantong yang isinya 7 kotak jahe.
“Saya beli semuanya, ya!” kata bapak itu. Ia segera mengambil 7 kotak jahe tersebut dan mengeluarkan uang senilai Rp. 1.500.000.
“Wah, Pak, Ini harganya Cuma Rp.19.000, kok. Lagi pula saya tidak punya kembaliannya, Pak..” kata Layila.
“Ambil saja kembaliannya. Terima kasih ya, dik…” kata bapak itu.
“TERIMA KASIH BANYAK, YA PAAAK!” kata Layila bahagia. Saking bahagianya, ia pun menangis.
“Ummi… tadi ada bapak yang beli daganganku, yang harganya Cuma Rp.19.000, dia bayar segini, Ummi!” kata Layila sambil memberikan segepok uang kepada Ummi.
“Alhamdulillah… terima kasih, ya Allah…” kata Ummi.

  Cerpen Perpisahan

THE END.


Cerpen Perjuangan – Kedamaian Dunia

Selama ini, Aku tak mempercayai adanya keajaiban. Walaupun Aku sering melihat dan mendengar banyak fakta tentang keajaiban. Tapi Aku tak pernah percaya akan itu. Sampai akhirnya, ada hal yang membuatku sangat percaya akan adanya keajaiban.

“Dhira! Kamu harus teruskan perjuangan Ayah… hanya kamu yang diwarisi aliran darah itu! Kamu harus selamatkan Dunia kita!” ungkap Ayah. Saat itu, Dunia yang selama ini kutempati sudah sangat hancur. Tidak banyak yang dapat merubah keadaan ini. Entah sejak kapan Dunia kami dipenuhi dengan monster-monster menjijikkan dalam bentuk naga raksasa. Mereka memperbudak seluruh manusia yang ada di Dunia ini. Sudah banyak nyawa yang hilang di Dunia ini. Dan konon, yang bisa memusnahkan monster naga itu hanyalah Pedang Api.
“Tapi, Yah… kenapa Aku? Aku seorang perempuan dan Aku tak yakin dapat melakukannya!” tolakku.
“Sayang… hanya kamu yang bisa. Apa kamu tidak melihat banyak yang sudah kehilangan nyawa? Bahkan, Anak kecil yang tak bersalah pun ikut menjadi korban. Sekali lagi, Ayah mohon… hari ini adalah hari terakhir kita untuk selamatkan Dunia!” ujar Ayah lagi.
Hatiku mulai luluh dengan perkataan Ayah. Sebenarnya, Aku sangat tak tega melihat banyak pertumpahan darah. Terlebih ketika Ibu dan saudara laki-lakiku terbunuh oleh naga-naga yang buruk itu.

Perlahan, air mataku menetes membasahi pipiku. Aku membulatkan tekad hatiku untuk menyelamatkan Dunia, memusnahkan naga-naga yang buruk rupa dan menjijikkan itu, monster yang telah mengurangi kelengkapanku.
“Baik, Ayah. Aku berjanji, akan menyelamatkan Dunia ini!” tekadku. Aku melihat Ayah senyuman di wajahnya, Aku membalas senyum itu dengan sangat manis dan tulus.

Saat itu pula, Aku dan Ayahku beranjak menuju sebuah tempat yang tak pernah dimasuki siapa pun. Di sana, terlihat sebuah pedang yang memancarkan api panas yang membara. Semua orang tak dapat mengambil pedang itu, karena diselimuti api abadi yang tak pernah padam. Tanganku mengambil pedang itu, tak kurasakan panas sedikit pun walaupun api abadi itu terus memancar, menyemburkan rasa panas yang perih.
Sekali lagi, Ayah tersenyum dan menatapku. Percaya, itulah yang ku dapat dari tatapan Ayah. Kaki kecilku kukuatkan untuk melangkah, tanganku kueratkan memegang pedang itu, hatiku kutekadkan untuk menyelamatkan Dunia. Satu yang akan kuhadapi, yaitu menghadapi ratusan naga buruk yang telah merusak Dunia.
“Dhira… jika kamu ingin semua ini cepat berakhir, kamu harus membunuh sang raja naga! Dialah sumber dari semua naga itu!” ingat Ayah.
“Baik Ayah, Aku akan berusaha!” ujarku. Semangatku semakin berkobar. Pedang yang selama ini ada ditanganku terus memancarkan sinar merah dari apinya.
Aku terus berlari, meninggalkan Ayah. Mencari sang raja naga dan akan membunuhnya.

Sudah hampir 5 hari Aku berlari, tak ada lelah yang kurasa. Mungkin itu suatu keajaiban. Saat itu, keajaiban suadh tak dapat kuragukan lagi. Sampai akhirnya, ku lihat Dunia bagai neraka. Raja naga terlihat jelas di depan mataku. Selain naga buruk itu yang ku lihat, banyak sekali manusia yang menderita akibat naga buruk itu. Semua manusia di sana diperbudak olehnya, banyak yang di siksa olehnya. Mataku sudah tak tahan lagi melihat semua penderitaan itu, rasanya api di hatiku sudah mulai terbakar. Sudah tak ada lagi rasa takut di hati ini, keajaiban itu, telah menambah kekuatan pada hatiku.

Pedang Api ini, terlihat mulai memancarkan banyak api ke arah raja naga buruk itu. Namun, yang ku lihat hanya senyum licik dari mulut lebar naga yang sangat kubenci.
“Ha… ha… ha… apa yang kamu lakukan anak kecil?!” naga itu membuka mulutnya yang lebar, matanya terlihat begitu menyeramkan, namun tak dapat membuatku takut.
“Apa? Apa yang kulakukan? Lihat saja nanti! Akan kumusnahkan kau naga buruk rupa!” seruku. Cahaya mataku seakan memancarkan kobaran api semangat yang terus menguatkanku.

Aku memejamkan mataku, yakin akan ada keajaiban yang datang. Kuarahkan pedangku ke arah naga buruk rupa itu, kukuatkan hatiku dan terdengarlah suara ledakan yang sangat dahsyat. Sesaat setelah ledakan itu, Aku masih belum membuka mataku. Terasa badanku merasakan panas api yang sangat perih. Namun itu hanya sesaat, api itu tiba-tiba padam dan berubah menjadi angin sejuk yang damai.

Perlahan ku buka kelopak mataku, ku lihat Dunia telah kembali kini. Angin sejuk itu telah mengembalikan ketenangan di Dunia. Walaupun nyawa yang hilang itu tak dapat kembali, tapi ku lihat banyak senyum dan pelukan yang ada di depan mataku. Semua menjadi damai. Setelah cukup lama Aku menyaksikan kembalinya kedamaian dunia ini, Aku teringat Ayah. Aku berlari sekuat tenaga, untuk menghampiri Ayah yang telah menguatkan tekadku.
“Ayah!!!” teriakku keras ketika melihat tubuh Ayahku terbaring lemah tak bernyawa.
“Ayah… bangun Yah! Aku sudah berhasil Yah! Naga-naga itu telah musnah sekarang! Ayah, bangun!!!” teriakku keras. Aku tak dapat menahan air mataku. Air mata itu terus mengalir, membasahi pipiku. Cukup, Aku kehilangan orang yang kucintai. Tapi tolong, jangan ambil kedamaian dunia ini lagi! Aku membatin. Perlahan, Aku menghapus air mataku. Aku sadar, tak ada yang abadi di Dunia ini. Aku pun mengikhlaskan Ayah, keluarga dan sahabatku yang telah pergi. Sekarang, Aku berjanji, akan terus menjaga kedamaian dunia ini.


Cerpen Perjuangan – Demi Ibu

Hari libur yang cerah ini kuhabiskan untuk membantu Ibu di Restoran miliknya, Seasons Food. Restoran ini di beri nama seperti itu, karena di sini selalu mempunyai tema musim, seperti musim semi dan gugur. Tahun ini, Seasons Food bertema musim dingin, menu yang paling diutamakan adalah makanan dan minuman yang hangat. Restoran ini adalah peninggalan Almarhum Kakekku, beliau mewariskan Restoran ini kepada Ibu karena hanya Ibu adalah satu-satu anaknya yang pandai memasak. Seasons Food sudah berdiri hampir 15 tahun, namun, kualitasnya sangat terjamin dan tidak pernah berubah.
“Bu, ini pesanan meja nomor dua belas…” ujarku kepada Ibu yang sedang mengatur para karyawannya.
“Eh… iya Ibu lupa, terima kasih ya! Oh ya, kamu tidak lelah? kalau sudah lelah istirahat saja dulu, ya!” jawab Ibu yang segera mengalihkan pandangannya kepadaku.
“Tidak, Bu… Aku belum lelah. Aku kerja lagi ya! Pelanggannya sudah banyak yang datang…” seruku.
“Ya sudah kalau itu maumu,” jawab Ibu seraya tersenyum tipis dan segera melanjutkan pekerjaannya.
Aku segera menghampiri pelanggan yang baru masuk ke dalam Restoran, mereka adalah 4 orang remaja yang seumuran denganku.
“Selamat siang, ingin pesan apa?” sapaku.
“Hmmm… boleh kami lihat daftar menunya?” tanya salah seorang dari mereka.
“Tentu, silahkan…” jawabku yang segera memberikan dua buah buku menu.
Setelah mereka memesan makanan dan minuman yang mereka inginkan, salah sorang dari mereka bertanya kepadaku.
“Kamu… Gina, bukan?” tanya seseorang yang berambut panjang lurus, Aku memperhatikan wajahnya sejenak, kurasa Aku pernah bertemu dengannya.
“Hmmm… ya, Kamu…” ucapanku terhenti olehnya.
“Rena! Temanmu saat perlombaan memasak! Hebat ya kamu sudah bisa bekerja di restoran terkenal ini, kalau ada lowongan, mungkin Aku bisa masuk!” gumam Rena yang ternyata adalah temanku saat perlombaan memasak tahun lalu.
“Oh ya, Rena! Aku hampir saja lupa! Hmmm… mungkin, lebih enaknya kita bicara nanti ya, Aku ingin melanjutkan pekerjaanku dulu,” ujarku yang mulai ingat dengan Rena.
“Ya, tentu… silahkan,” jawab Rena. Aku tersenyum simpul ke arahnya dan langsung menuju dapur restoran. Sesampainya di sana, seperti biasa, Aku memberikan kertas yang berisi pesanan pelanggan kepada Ibu.

Setelah kurang lebih 30 menit Aku bekerja, Aku memutuskan untuk beristirahat sejenak di meja pelanggan yang kosong, berada di paling ujung restoran.
“Hai! Boleh kita lanjutkan perbincangan kita?” tanya seseorang dari belakangku. Aku menoleh, kulihat sosok Rena berdiri tegap di sana, Aku segera berdiri dan mempersilahkannya duduk.
“Kamu tidak bersama teman-temanmu?” tanyaku.
“Tidak… Aku ingin berbicara dulu denganmu,” jawab Rena mulai serius.
“Ingin bicara apa?” tanyaku. Rena pun segera menceritakan suatu hal yang ingin ia bicarakan denganku. Setelah Rena selesai berbicara, Aku baru tahu keinginannya, melamar kerja di sini.
“Jadi… kamu ingin bekerja di sini?” tanyaku mengulang pertanyaan Rena.
“Ya… jika sekarang belum ada lowongan, mungkin Aku bisa bekerja nanti,” jawab Rena seraya tersenyum.
“Hmmm… kalau begitu, tunggu sebentar di sini ya!” ujarku yang segera menuju dapur restoran.

Sesampainya di dapur, Aku segera menghampiri Ibu yang sedang menganggur.
“Bu, ada hal penting yang ingin Aku bicarakan,” ujaarku pada Ibu. Ibu pun mulai serius denganku, Aku segera menceritakan beberapa hal, mulai dari siapa Rena dan keinginannya bekerja di sini.
“Bagaimana, Bu? Apa dia boleh bekerja di sini? Setahuku, pengalamannya memasak cukup banyak…” tanyaku.
“Kalau Ibu… mengizinkannya untuk bekerja di sini, tetapi… dia harus terbiasa dengan pekerjaan di sini. Sangat melelahkan,” jawab Ibu. Aku berpikir sejenak, yang Aku tahu, Rena bukan orang yang pemalas dan giat bekerja, Aku pun mengangguk tanda setuju dengan ucapan Ibu. Setelah Aku mendapat izin dari Ibu, Aku segera kembali ke tempat Rena berada.
“Rena… kamu, boleh bekerja di sini, tetapi…” Aku menjelaskan satu per satu syarat agar Rena dapat bekerja di Seasons Food.
“Baiklah… Aku sanggup dengan semua syarat itu, jadi, mulai kapan Aku dapat bekerja di sini?” ujar Rena tak sabar.
“Lusa, kamu boleh bekerja di sini. Oh ya, kalau boleh tahu… apa alasan kamu sangat ingin bekerja di sini?” jawabku.
“Hmmm… Aku bekerja di sini karena ingin membantu Ibu berobat, ia sudah dua tahun mempunyai penyakit ginjal. Tadinya… Ibu ingin di operasi, namun biaya Aku tidak mempunyai uang untuk biaya operasi, Ayahku meninggal seminggu sebelum rencana Ibu di operasi…” jelas Rena. Aku cukup iba dengannya, namun, Aku berusaha untuk menenangkannya. Sejak saat itulah, Aku mulai lebih dekat lagi dengan Rena.

Sekarang adalah saat di mana Rena bekerja di Seasons Food. Ia memulai hari pertamanya dengan gerakannya yang gesit dan lincah, tidak terlihat letih sama sekali di wajahnya saat ia bekerja, senyuman manis selalu terlihat menghiasi wajahnya.

Sudah hampir satu bulan penuh Rena bekerja di Seasons Food, pekerjaannya sangat memuaskan. Hari ini, adalah hari di mana para pekerja menerima gaji mereka. Seluruh karyawan telah berbaris rapi untuk mendapat gaji yang selama ini mereka harapkan. Satu per satu karyawan telah mengambil jatah gaji mereka, sekarang adalah giliran Rena.
“Rena… ini gaji yang berhak kamu dapatkan, selama ini pekerjaanmu selalu memuaskan dan tidak mengecewakan. Oh ya, dan ini uang tambahan untukmu…” ujar Ibu.
“Uang tambahan? Oh… tidak usah Bu, saya kan sama seperti yang lainnya… sudah Bu tidak usah ya, Saya pamit pulang ya, Bu” jawab Rena yang segera menolak tawaran Ibu. Ibu hanya bisa tersenyum melihat Rena, begitu pula denganku.

Keesokkan harinya, Rena tidak masuk. Tidak biasanya ia bolos tanpa surat, dan… selama ini juga ia tidak pernah bolos. Aku yang sedikit cemas dengan ketidak hadiran Rena berusaha untuk tenang dan menunggu hari esok. Namun, besok dan dua minggu kemudian Rena tak kunjung hadir. Aku dan Ibu mulai khawatir dengannya, kami berdua pun memutuskan untuk pergi ke rumahnya sekarang. Sesaat sebelum kami pergi, datang sesosok wanita muda yang cantik, dia terlihat pucat, namun lincah.
“Selamat siang, betul anda Ibu Ira?” tanya orang itu.
“Ya benar, saya Ira… anda siapa ya?” jawab Ibu kembali bertanya.
“Hmmm… saya… saya… Hanna, Ibu dari Rena.” ujar orang itu, ternyata ia adalah Ibunya Rena. Karena merasa beliau adalah orang yang penting, Ibu segera mempersilahkannya untuk duduk, ia terlihat ingin membicarakan sesuatu.
“Bu… saya ingin menceritakan sesuatu tentang anak saya…” Ibu Rena menceritakan secara detail apa yang sebenarnya terjadi. Air mata mengalir di pipinya yang halus, Ibu juga merasa iba melihatnya.

  Cerpen Pendidikan

Ternyata, Rena meninggal karena mendonorkan ginjalnya untuk Ibunya. Gaji pertama yang ia dapatkan, langsung ia gunakan untuk biaya operasi Ibunya. Awalnya, dokter melarang Rena mendonorkan ginjalnya kepada Ibunya karena ia masih terlalu muda. Namun, ia terus memaksa, sampai akhirnya, ia mendonorkan ginjalnya untuk Ibunya dan ia meninggal akibat kehabisan darah. Sang Ibu banyak bercerita tentang Rena yang ternyata tidak hanya bekerja di Seasons Food, ia juga bekerja sebagai kasir di salah satu super market.

Akhirnya, hari itu adalah hari di mana kenangan pengorbanan seorang Rena demi Ibunya berakhir. Kenangan itu kini hanya bisa di ingat dan dikenang, semua itu adalah kenangannya demi Ibunya.


Cerpen Perjuangan – Putri Bulan dan Dewa Laut

Dahulu terdapat sebuah kerajaan bulan dan kerajaan laut yang terjadi kisah cinta antara Putri bulan yang sangat cantik dan Dewa Laut yang sangat tampan yang mendapat pertentangan dari Orangtua Putri Bulan terhadap hubungan mereka.

Putri bulan sangat suka bermain ke laut di bumi, setiap hari putri bulan selalu menyisakan waktunya untuk mengunjungi bumi dan laut tempat kesukaannya, tapi suatu hari karena keasikan bermain di laut putri bulan kehujanan dan tidak bisa kembali ke bulan. Putri bulan sangat ketakutan di laut karena hari semakin gelap, putri bulan berjalan kesana kemari meminta tolong tetapi tidak ada yang mendengar. Putri bulan menabrak satu pohon dan itu membuatnya jatuh pingsan dan tergeletak di atas rumput di hutan dekat laut. Besoknya ketika terbangun Putri Bulan sangat kaget karena dia berada dalam sebuah kerajaan yang besar dan masyur, saat itu berdiri dua dayang-dayang kerajaan yang membawakan makanan untuk Putri Bulan.

Lalu Dewa Laut datang menghampiri Putri Bulan, dan Putri Bulan bertanya “Saya ada dimana dan kamu siapa?”, Dewa Laut berkata “Kamu berada di Kerajaan Laut dan saya Dewa Laut yang menemukan kamu di hutan”. Putri Bulan berkata “Saya harus kembali ke Bulan, saya takut ayah dan bunda saya khawatir mencari saya” lalu Dewa Laut berkata “mari saya antar ke laut”, mereka pun menuju laut dengan menunggangi kuda kerajaan. Sesampainya di laut Putri Bulan berkata “Terima kasih Dewa Laut sudah menolong saya” lalu Putri Bulan pun terbang ke Bulan.

Sesampainya di Bulan ternyata benar kerajaan heboh karena Putri Bulan tidak terlihat, ketika melihat Putri Bulan tiba Permaisuri kerajaan langsung memeluk Putri Bulan dan berkata “Kamu dari mana Putri?”. Putri Bulan berkata “maaf bunda sebenarnya selama ini Putri sering berkunjung ke Bumi dan bermain di laut” kata Putri Bulan dengan wajah polos, Baginda Raja pun berkata “ayah dan bunda tidak melarangmu mengunjungi bumi hanya saja jangan sampai kamu jatuh cinta pada seseorang di bumi dan tidak kembali ke khayangan seperti ini” lalu Putri bulan menjawab “Putri hanya bermain di laut ayah dan Putri janji tidak akan lagi kelamaan bermain di laut”.

Lalu mereka pun makan di ruang makan kerajaan dengan penuh canda dan tawa, keesokan harinya Putri Bulan kembali mengunjungi Bumi dan bermain di laut saat itu Dewa laut sedang mengelilingi laut dan melihat Putri Bulan lalu menghampiri Putri Bulan dan berkata “Putri tidak takut tidak bisa pulang lagi” putri Bulan pun kaget mendengar suara itu dan menoleh ke belakang dan ternyata itu pria tampan yang menolongnya kemaren. Putri bulan berdiri dan berkata “saya tidak akan bermain sampai sore lagi dan saya mengucapkan terima kasih atas pertolongan dewa laut kemaren” dewa laut menatap putri bulan dengan penuh senyuman dan berkata “untung saja waktu itu ayah dan bunda menyuruh saya berburu di hutan dan saya melihat Putri tergeletak di hutan lalu membawa Putri ke Kerajaan laut”.

Mulai timbul perasaan antara Putri Bulan dan Dewa Laut, hari berikutnya Putri Bulan dan Dewa laut sering bertemu di laut dan Dewa Laut menemani Putri Bulan bermain di laut sampai Putri Bulan pulang. Baginda Raja dan Permaisuri Kerajaan Bulan mulai curiga dengan Putrinya yang sekarang sangat senang mengunjungi Bumi. Pagi itu Putri Bulan pergi mengunjungi bumi dan tanpa disadarinya Baginda Raja menyuruh seorang Pengawal untuk mengintai perbuatan Putri Bulan di Bumi dan pengawal melihat Putri Bulan dengan seorang lelaki tampan dan melaporkan ke Baginda dan Permaisuri kerajaan Bulan. “ampun Baginda, saya melihat Putri Bulan dengan seorang lelaki tampan di Bumi” kata pengawal melaporkan, lalau titah Baginda “baiklah, cari tau siapa lelaki itu” lalu pengawal kembali ke Bumi dan mengintai lelaki itu dan dia pun akhirnya mengetahui bahwa pria itu adalah Dewa Laut lalu pengawal pun kembali ke khayangan dan menghadap baginda raja “ampun baginda, dia adalah Dewa Laut” Baginda raja pun marah, “lancang, Putri Bulan telah melanggar janjinya, pengawal jemput Putri ke Bumi dan bawa ke khayangan” titah Baginda Raja.

Beberapa pengawal turun ke Bumi menemui Putri Bulan saat melihat Pengawal kerajaan Putri Bulan sangat terkejut, dia berkata “apa yang hendak kalian perbuat ke Bumi?” salah seorang pengawal menjawab “maaf Putri, Baginda Raja ingin Putri segera pulang ke khayangan” mendengar perkataan pengawal, Putri Bulan telah mengetahui bahwa ayahnya telah mengetahui perbuatannya di Bumi dan melanggar janjinya. Putri Bulan dan pengawal segera terbang ke khayangan dan tinggallah Dewa Laut, sesampainya di khayangan Putri Bulan menghadap Baginda raja dan Permaisuri dan menangis, baginda raja berkata “apa kamu perbuat tidaklah mencerminkan seorang Putri, kamu telah melanggar janjimu Putri” sambil menangis Putri Bulan berkata “maafkan saya ayah, saya tidak bermaksud melanggar janji itu” titah Baginda “pengawal bawa putri ke kamarnya dan kurung dia” pengawal membawa Putri ke kamarnya sedangkan Permaisuri hanya bisa terdiam dan menangis.

Dua hari sudah Putri bulan di kurung dan tidak mengunjungi Bumi, putri Bulan sangat merindukan Dewa Laut begitu juga dengan Dewa Laut, Dewa laut setiap hari datang ke tempat Putri Bulan selalu bermain dan mendapati tidak ada siapapun, saat itu Putri Bulan sangat nekat kabur dari khayangan dan turun ke Bumi, di Bumi Putri Bulan sangat senang bertemu Dewa Laut dan berkata kepada Dewa Laut “Jika Dewa mencintai Putri, Dewa harus siap melakukan apapun untuk Putri” Dewa Laut pun memeluk Putri Bulan dan berkata “apapun yang akan terjadi saya akan tetap memperjuangkan Putri” setelah mengetahui Putri Bulan kabur Baginda Raja pun menjadi sangat marah.

Baginda Raja dan Permaisuri terpaksa turun ke Bumi dan mendapati putrinya bersama Dewa Laut, ketika melihat ayah dan bundanya Putri Bulan memeluk Dewa Laut sangat erat karena tidak ingin di bawa pulang ke khayangan, Baginda Raja berkata “lancang kamu mencuri putri kami” putri bulan berkata “maafkan hamba ayah, putri ingin disini bersama dewa laut, putrid mencintai dewa laut” ditambahi oleh dewa laut “maafkan hamba baginda raja, hamba mencintai putri bulan dan ingin meminangnya” mendengar hal itu baginda raja berpikir bagaimana cara agar mereka tidak dapat bersatu lalu baginda berkata “jika kamu ingin meminang putri saya, kamu harus bisa merubah daerah itu menjadi sebuah laut yang luas dalam 3 hari” sambil menunjuk sebuah daerah yang sangat tandus dan dipenuhi bebatuan, dengan terpaksa Dewa laut menyetujui persyaratan dari Baginda raja “baiklah baginda, hamba akan mengubahnya menjadi laut” kata Dewa Laut. “pengawal bawa Putri Bulan kembali ke khayangan” titah baginda raja, mereka pun kembali ke khayangan dan tinggallah Dewa Laut di Bumi maka Dewa laut mulai mengerjakan membuat sebuah laut.

Dewa Laut bekerja tiada henti tidak mengenal pagi, siang dan malam terus bekerja. Putri Bulan pun selalu berdoa agar Dewa Laut tepat pada waktunya menepati hari perjanjiannya. Begitu juga dengan Baginda raja dan Permaisuri merak terus mengintai pekerjaan Dewa Laut di Bumi. Tiba hari ketiga laut pun hampir jadi lalu turunlah seluruh penghuni kerajaan Bulan menuju bumi termasuk Baginda Raja, Permaisuri dan Putri Bulan. Dewa Laut pun berkata “hamba telah berhasil membuat sebuah laut untuk memenuhi persyaratan untuk meminang Putri Bulan” tapi Baginda Raja berkata “Laut ini belum selesai, air belum sepenuhnya memenuhi laut ini jadi kamu tidak berhak meminang Putri saya” mendengar perkataan ayahnya, Putri Bulan lalu bersujud di kaki ayahnya dan berkata “Dewa laut telah berusaha keras membuat laut ini ayah, izinkan kami hidup bersama ayah”, “Kita kembali ke khayangan, pengawal bawa Putri Bulan kembali ke khayangan”. Dan tinggallah Dewa Laut dengan kekecewaan.

Saat hendak terbang bersama pengawal ke khayangan Putri bulan melarikan diri menuju Dewa Laut dan memeluk Dewa Laut dengan erat. Melihat hal itu Baginda Raja dan semuanya kembali turun, lalu Putri Bulan berkata “jika ayah tidak mengizinkan saya tinggal bersama Dewa Laut maka kami akan melompat ke Laut ini” Permaisuri sangat takut mendengar itu dan berkata kepada Baginda raja “Kakanda, jangan sampai Putri melakukan itu” tapi Baginda Raja bertitah “pengawal bawa Putri kembali” mendengar titah ayahnya Putri Bulan berkata “maafkan Putri” lalu Putri Bulan dan Dewa Laut benar-benar melompat ke laut itu.

Permaisuri kerajaan melihat putrinya melompat dan berteriak “Anakku jangan lakukan itu” tapi semua telah terjadi, Putri Bulan dan Dewa Laut tidak terlihat lagi. Maka Baginda Raja menamai Laut itu dengan nama “Laut Pude” yang artinya laut putri dewa. Setelah itu mereka semua kembali ke khayangan, sejak saat itu permaisuri selalu menangis mengingat putrinya.


Cerpen Perjuangan – Abdiku Untukmu Ibu

Aku terbangun di pagi itu dengan penuh kedamaian. Ku dengar kicau burung dan mentari menambah hangat sambutan pagi. Aku Silvia, umurku 17 tahun sekarang. Ibuku seorang single parent. Ya, ayahku sudah di panggil yang maha kuasa ketika umurku masih 4 tahun.

Segera aku bangun dan menuju ke kamar mandi, setelah itu memakai baju seragam, dan keluar dari kamarku. Aku menengok ibu yang sedang menyiapkan dagangannya.

“Nak, sarapan dulu. Tuh makanannya udah Ibu siapin di atas meja,” kata Ibu.
“Iya, makasih ya bu,” jawabku sambil tersenyum.

Seselesainya aku sarapan, ku pakai sepatuku, kemudian pamit pada ibu.

“Bu, Silvi pergi dulu ya. Assalamu’alaikum,” aku pamit pada Ibu sambil mencium tangannya.
“Wa’alaikumsalam. Hati-hati di jalan ya nak,” kata Ibu. Kalimat itu selalu Ibu ucapkan sebelum aku pergi sekolah.

Hari itu aku tidak merasakan hal yang aneh. Semua sama seperti biasanya. Namun hal yang mengejutkan terjadi ketika aku pulang sekolah. Ibuku tidak ada di rumah, tetanggaku bilang beliau di bawa ke rumah sakit. Aku tertegun menganga tidak percaya.

Beribu pertanyaan muncul di pikiranku. Tanpa berpikir panjang, aku langsung meluncur ke rumah sakit tempat Ibu dilarikan. Setelah lama menunggu hasil pemeriksaan, ternyata dokter memvonis Ibuku terkena penyakit kanker otak stadium tiga.
“Ya Allah, kenapa jadi seperti ini? Sejak kapan Ibu mengidap penyakit ini?” gumamku. Tak terasa air mata mengalir di pipi, jantungku seakan berhenti berdetak.

Mulai dari hari itu aku memutuskan untuk mandiri, menyiapkan segala sesuatu dengan tanganku sendiri. Aku juga menggantikan Ibu berjualan. Suatu hari aku menanyakan satu hal kepada Ibu.

“Bu, ada yang mau Silvi tanya nih,” kataku memulai pembicaraan.
“Mau nanya apa, nak?” kata Ibu.

“Silvi kan udah kelas tiga, sebentar lagi Silvi lulus dari SMA dan insya’Allah ngelanjutin ke perguruan tinggi. Kira-kira nanti Ibu mau Silvi ngelanjutin kemana?” tanyaku.
“Kalo bisa, nanti Ibu mau kamu lanjut ke Universitas Indonesia,” jawab Ibu.
“Ya udah, Silvi bakal usahain semaksimal mungkin untuk mengabulkan permintaan Ibu. Silvi akan usaha keras mulai dari sekarang,” ujarku dengan senyum dan nada optimis.

Mulai dari hari itu, dengan giat aku belajar dan berusaha untuk mewujudkan permintaan Ibu, serta tidak lupa aku selalu berdo’a. Di samping itu aku juga dengan sabar menggantikan Ibu berjualan setelah pulang sekolah.

  Cerpen Remaja

Waktu terus berlalu, tanpa terasa aku sudah sampai di “Penghujung Putih Abu-abu”, hari ini aku akan menerima pengumuman kelulusan. Alhamdulillah aku lulus dengan hasil yang memuaskan.

“Ibu, Silvi lulus, hasilnya juga memuaskan. Nilai Silvi yang paling besar di sekolah,” aku berteriak sambil berlari dari depan pintu.
“Alhamdulillah ya, Silvi. Ibu seneng dengernya,” Ibu merespon.
Raut kegembiraan terpancar dengan sangat jelas di wajahnya, seakan-akan beliau lupa akan penyakit yang diidapnya.

Sekarang targetku tinggal 1 lagi, masuk ke Universitas Indonesia. Semua berkas dan formulir pendaftaran ke Universitas Indonesia sudah di urus dan di kirim. Aku tinggal menunggu hasil. Aku menunggu dengan harap-harap cemas.

Akhirnya hari itu datang juga. Dari pagi aku sudah bersiap untuk melihat hasil kelulusan di universitas tersebut. Selama di perjalanan ritme detak jantungku tidak karuan, rasanya jantungku hampir lepas. Aku mendekati papan pengumuman dengan perasaan tak karuan. Ku urut jariku di daftar nama peserta yang diterima, betapa terkejutnya aku ketika melihat namaku di urutan ketiga, Silvia Pratiwi.

Tak sabar aku ingin kembali ke rumah untuk memberitahukan berita ini kepada Ibu. Aura senang dari beliau sudah bisa kubayangkan.

“Ibu, Ibu, Silvi berhasil! Silvi masuk ke Universitas yang Ibu mau, Universitas Indonesia. Silvi juga ada di urutan ketiga,” seruku dengan senyum sumringah.

“Alhamdulillah, nak. Akhirnya permintaan Ibu yang terakhir bisa kamu penuhi. Semoga kelak kamu juga bisa jadi yang terbaik disana,” ujar Ibu dengan nada pelan.
Binar di mata Ibu langsung nampak, beliau kelihatan bangga. Tetapi, entah mengapa aku merasakan sebuah getaran yang berbeda ketika ku tatap sorot matanya, dan ketika ku dengar kalimat itu. Aku hanya mengangguk dan tersenyum.

“Oh iya, Silvi pergi jualan dulu ya bu,” kataku.
“Ya sudah, hati-hati di jalan ya,” jawab Ibu. Pesan terakhir itu memang tak pernah lupa beliau sampaikan.

Dengan santainya aku berjalan mengelilingi komplek, menjajakan barang daganganku. Setelah daganganku habis, langsung saja aku pulang ke rumah. Tapi tiba-tiba aku menyaksikan pemandangan yang tidak biasa. Bagaimana tidak, saat itu rumahku ramai dan ku lihat sebuah bendera kuning dikibarkan di depan rumahku. Tanpa banyak berpikir, aku berlari ke dalam rumah.

Betapa hancur hatiku ketika melihat orang yang paling ku sayang sudah terbujur kaku. Seketika tangisku pecah saat itu juga, ku peluk dan ku cium kening Ibu untuk yang terakhir kalinya. Jujur, kesedihan yang tak terbendung melandaku saat itu. Tapi di sisi lain, aku juga merasa cukup puas, karena di detik-detik terakhirnya aku bisa membuat beliau tersenyum dan bangga akanku. Inilah bentuk abdiku untukmu, IBU.. :’)


Cerpen Perjuangan – Lentera Tak Berujung

Kenyataan mungkin terbalik dengan keinginan. Jalan kehidupan yang tak selalu indah membuat kenyataan itu jauh dari yang diinginkan. Kehidupan memang berliku-liku, kadang pasang kadang surut. Kadang menyenangkan kadang menyedihkan. Kadang bahagia kadang duka. Namun itulah kenyataan kehidupan yang akan berjalan dengan sendirinya. Tanpa tau arah, waktu dan ruang.

Dia akan berjalan sendiri sampai menemukan tempat dimana dia harus berada. Tak ada yang selalu di atas, tak ada yang selalu di bawah. Tak ada yang selalu bahagia, tak ada yang selalu menderita. Semua itu kan berakhir dengan sendirinya dan tak akan berujung oleh apapun.

Aku biasa di sapa Siska, aku tak seberuntung mereka. Kehidupan yang kuinginkan sulit untuk jadi kenyataan. Serasa kehidupan bahagia itu masih jauh di pelupuk mata. Kedua orangtuaku pergi dahulu meninggalkan aku dan Rafa adikku. Kecelakaan itu telah, merenggut nyawa kedua orangtuaku.

“Ma, Pa, kita mau kemana?”, tanyaku dingin
“cuma keluar makan aja kok sayang,”,
“Pa, awas!!!”, teriakku spontan

Seketika mobil yang kutumpangi menabrak pohon di seberang jalan, untuk menghindari truk yang tiba-tiba saja melaju cepat dari arah berlawanan. Aku langsung memeluk adikku yang tak berdaya keluar untuk menyelamatkan diri. Tanpa memikirkan kedua orangtuaku yang ada berada di depan.
“sssstttt, deeeeaaaarrrrr”

Suara itu yang tak pernah ku lupakan. Suara ledakan yang menenggelamkan kedua orang tuaku. Yang merenggut nyawa kedua orangtuaku, hingga ku menjadi seperti ini.

Memang aku dan Rafa selamat dari kecelakaan maut itu. Namun jika aku bisa memilih aku pilih mati bersama kedua orangtuaku daripada menderita dalam ketidakpastian. Aku memang masih bisa hidup layak bersama Rafa, di rumah yang kutempati dulu dengan Ayah dan Ibu. Namun gimana nanti, giamana setelah harta itu habis sedikit demi sedikit. Aku… akulah yang harus menerimanya. Aku harus menghidupi Rafa adikku. Walaupun kehidupan itu jauh dari kata layak.

Aku yang kini menempuh kuliah tulis sastra terpaksa DO untuk bisa fokus kerja menghidupi adikku, ya setidaknya uang yang kudapatkan cukup untuk biaya sekolah Rafa dan makan sehari-hari. Untuk kebutuhan lainnya aku masih menggunakan uang dari harta sepeninggalan orangtuaku, dan uang yang kusisihkan untuk persediaan nanti.

Akupun terpaksa meninggalkan kekasihku Firly, karena aku takut jikalau nanti aku tak bisa membahagiakannya dengan kehidupanku yang sekarang.
“Firly, ayo ikut aku kebelakang”, sapaku dengan menariknya
“ada apa sayang?”, tanya Firly penuh tanya

“aku ingn kita berhenti sampai disini, kau tak usah bertanya mengapa. Maafkan aku, aku tak bisa kasih alasan pasti. Tapi yang pasti semua untuk kebaikan kita. Percayalah”, seruku meyakinkannya. Meski perasan sakit, untuk saat ini dibenakku hanya ada Rafa yang harus ku jaga sebagai teman hidupku yang memotivasiku untuk selalu berusaha.

Pekerjaan yang kujalani kini cukup memuaskan. Dengan dukungan adikku dan Firly yang selalu ada membantuku, aku masih bisa bertahan dan terus melanjutkan hidup ini. Meski Firly bukanlah kekasihku lagi, tapi aku cukup nyaman dengannya dengan status friend. Aku menjadi penulis di tabloid, dengan modal kuliahku tulis sastra yang juga memudahkan pekerjaanku saat ini, Sehingga bayangan ketidakpastian itu sedikit menghilang dari fikiranku.

Tiga tahun sudah kepergian orangtuaku. Tak terasa hidupku kini semakin hari semakin membaik. Akupun kembali lagi berhubungan dengan Firky. Sebab masih banyak cinta yang kusimpan untuknya. Dan Rafa adikku tak perlu lagi ikut memikirkan beban yang pernah kurasakan dulu.

“Sis”, panggil Firly menyambangiku
“ia, apa?”,
“hari ini kan kamu nggak kerja, gimana kalau kamu dan Rafa ku ajak main keluar?”
“emmmmbbbb, boleh. Lagian semenjak kejadian itu, aku dan Rafa tak pernah lagi mau jalan-jalan keluar”

Siang itu aku pergi bersama Firly dan Rafa, untuk sedikit merefreskan fikiran. Namun aku tak tau, bahwa hari ini adalah hari dimana maut akan merenggutku. Waktu itu aku yang duduk sendiri di bangku taman akan menghampiri Firly dan Rafa yang sedang asyik bermain di seberang jalan.
“Siska, ayo kesini!”, seru Firly memanggil
Aku pun berlari dengan cepatnya tanpa kusadari di ujung jalan terdapat truk yang akan menghempaskan tubuhku. Mendekat dan tubuhku tergeletak di jalan.
“Siska!”, Firly menjerit memanggilku
Berlari menyambangiku, Firly langsung mengangkat tubuhku dan membawaku ke rumah sakit. Dengan tak henti-hentinya Firly memanggil-manggil namaku untuk terus bertahan.

Tepat di pintu masuk ruang ICU. Diletakkannya tubuhku di atas ranjang dorong. Dan dilarangnya Firly untuk mengikutiku masuk keruang ICU. Detik, menit, jam telah berlalu. Penantian Firly belum juga terjawab. Bagaimana keadaannya? Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia menjerit kesakitan? Aku yang seharusnya di dalam sana bukan dia!, hati Firly merintih bersalah. Beberapa saat kemudian dokter keluar dari ruang ICU dengan berkata “kami telah melakukan yang terbaik, maaf nyawanya tidak tertolong lagi”. Firly hanya bisa diam, terkapar lemas diambang pintu. Hati bagai tak terasa, kesakitan yang terlampaui besar karena rasa bersalah.

Maafkan aku Siska, maaf, andai aku tak menyuruhmu tadi, andai ku tak memanggilmu tadi pasti semua ini tak kan pernah terjadi. Omong kosong yang hanya terlontar dari mulut Firly dihadapan Siska yang terbaring dengan wajah pucat tanpa gairah. Lalu dipeluknya, Firly hanya bisa menangis dan berharap dia kan kembali.

Sore itu pula jasad Siska disemayamkan. Air mata berderai tak terbendung lagi oleh Firly. Rafa yang melihatnyapun tak kuasa menahan tangis. Bertahun-tahun Rafa menjalani hidup hanya dengan kakaknya Siska, kini hari-harinya kan kelam oleh kenanagan atas kehadirannya.

Siska semoga kau tenang di alam sana. Aku berharap kau selalu tersenyum. Yakinlah ku kan selalu merindukanmu. Rafa akan ku jaga, dia akan tinggal bersamaku dan aku kan menyayanginya seperti kau menyayanginya. Seru Firly diiringi isak tangis dihadapan nisan persemayaman Siska.


Cerpen Perjuangan – Semut yang Pindah Rumah

“Maju.. maju..
dia mendekat, cepatlah..
kita harus selamat sampai di sana..”
Begitulah suara riuh-riuh kecil yang kudengar sejak dari tadi aku bangun tidur. Meraka keluar dari kediaman pertama mereka, berbaris entah itu menuju kemana. Perjalanan mereka yang begitu panjang, membuat mereka takut akan terjadi sesuatu.

Aku yang langsung kaget melihat mereka, dapatkah engkau bayangkan ketika bangun tidur mereka berbaris di dinding, sedangkan wajahku mengahadap kesana. Sontak aku langsung kaget, saat itu juga rasa ngantukku hilang, padahal awalnya aku malas sekali untuk bangun. Rasa takut meghampiriku. Tapi, lama-lama rasa itu mulai hilang, aku mulai memperhatikan mereka dengan seksama, apa yang mereka fikirkan? Mengapa mereka tampak terlalu tergesa-gesa berjalan?
mungkin mereka mengira bahwa aku adalah raksasa jahat yang akan mengganggu mereka.. hmm.. mereka terlalu berprasangka buruk terhadapku, tapi lama-kelaman pasukan mereka bertambah sampai- sampai ratu mereka juga keluar. Aku yang tadinya niat tidak akan mengganggu mereka mulai merubah fikiran, kaya’nya mereka yang akan menakut-takutiku.

Aku beraksi, aku ambil minyak angin aku semburkan pada mereka, sontak mereka berkeliaran tak tau arah lagi. Aku mulai prihatin, banyak di antara mereka keluar dari jalur yang ada, kehilangan arah kerena semburan tadi. Hidup mereka memang sulit. Ada saja yang mengganggu mereka di tengah perjalanan. Tidak lama kemudian mereka malui terarah lagi, telah berbaris dan jalan ke tempat tujuan awal mereka, mereka mencari jalan baru yang tidak terkontaminasi dengan minyak angin tadi.

Aku menyerah untuk memganggu mereka. Aku biarkan mereka menuju tempat yang lebih nyaman, perlahan aku tau ternyata mereka berjalan menuju rumah baru yang lebih aman dari rumah sebelumnya. Ratu mereka memerintahkan untuk pindah karena tempat yang lama di rasa sudah tidak memberikan perlindungan bagi meraka lagi. Perjalanan mereka yang jauh akhirnya bermuara pada tempat yang lebih baik dari sebelumnya, disana mereka kembali menata kehidupan mereka.

Cerpen Semut Yang Pindah Rumah

Dari kisah semut tadi aku belajar perjalannan hidup yang mahal harganya. Dimana saat kita telah mengusahakan sesuatu katakanlah itu impian kita, maka jika di tengah perjalanan dalam menggapai impian itu kita jatuh. Langsung bangkit, temukan jalan lain yang lebih baik untuk menggapainya. Karena jika kita tetap diam, kita akan ketinggalan yang impian itu semakin jauh dari kita, kehidupan akan terus berlanjut meskipun tanpa kita.


Cerpen Perjuangan – Si Gadis Kecil

Puluhan burung-burung kecil terbang di bawah langit biru yang indah dengan kicauan merdu mereka. Seorang gadis kecil seperti malaikat tesenyum dengan pakaian putih yang amat kusam, rambut panjang yang lurus dan kulit yang berwarna kuning langsat. Ia telah diabaikan kedua orang tuanya satu tahun yang lalu ketika ia masih berumur sembilan tahun. Gadis itu kini sendiri hanya puluhan burung yang telah menemaninya.

Di belakang gedung Taman kanak-kanak itulah gadis kecil tidur, makan dan bermain bersama burung-burung kecil. Tak mudah baginya mencari makan, ia terkadang meminta-minta dan membantu mencuci piring di pedagang-pedangang yang berada di pinggir jalan. Terkadang juga sehari ia hanya memakan satu bungkus nasi dari upah kerjanya mencuci piring. Namun, ia tetap bisa tersenyum dan bersemangat dengan hidupnya. Ia juga selalu membagi makanannya kepada burung-burung itu, tak heran kalau mereka selalu mendekati gadis kecil ini.

Terdengar bel dari Taman kanak-kanak yang menandakan waktunya pulang. Gadis itu muncul dan mengintip anak-anak yang berlari dan memeluk ibu mereka masing-masing. Burung-burung pun juga menyapa mereka dan sering sekali satu anak laki-laki memberi sekantung kecil makanan untuk puluhan burung-burung itu. gadis kecil itu tersenyum seakan ia bisa mendengar apa yang diucapkan oleh burung-burung mungil.

  Cerpen Persahabatan

Sore harinya ia duduk di gerbang Taman kanak-kanak dan melihat langit membang. Kali ini ia hanya melihat sedikit burung kecil. “mungkin mereka masih bermain di tempat lain” gumam gadis kecil itu. tak lama kemudian ia merasa lapar. Ketika sore hari banyak pedagang yang tutup dan melanjutkan berdagang esok hari. Gadis kecil ini berjalan sembari mencari makan. Sesekali ia mengintip tong sampah barangkali ia menemukan makanan kecil. Tidak jauh ia menelusuri jalan, satu burung kecil ia temui, burung itu berbeda dengan teman-temannya indah dan lucu dengan warna putih di bulu sekitar kepalanya. Burung kecil itu membawa sebungkus roti kecil dan ringan, gadis kecil itu hanya melihatnya tak berniat untuk merebut walau kini perut kecilnya telah berteriak. Burung kecil itu berusaha membuka bungkus dari roti itu dan kemudian gadis kecil itu membantunya. Burung itu tak langsung memakannya ia membagi roti itu menjadi dua dan memberikan salah satu potongan roti kepada gadis kecil itu. puluhan burung telah berdatangan dan mengerubungi gadis kecil itu. gadis itu tersenyum kembali, membagi rotinya untuk burung-burung kecil.

Gelap pun mulai datang, dunia sunyi telah kembali dan membawa dinginnya angin malam. Tak tahu sekarang pukul berapa, gadis kecil ini bermain batu-batu kecil yang ia susun menjadi sebuah bentuk rumah yang mungil nan indah. Semakin larutnya malam membuatnya terlelap. Sebuah mimpi indah difikirannya, ia tidur dan tersenyum sesaat sembari meneteskan air mata.
Pagi yang cerah telah tiba. Gadis kecil itu terbangun oleh kicauan burung-burung itu sebagai temannya. Ia memulai hari bahagia walau pun dengan penuh usaha.
Namun, suatu hari gadis kecil itu menemukan satu burung yang mati di pinggir jalan, gadis itu menangis karena kehilangan satu temannya. Gadis ini kemudian membawa burung itu ke belakang gedung tempat ia tinggal. Gadis itu menguburnya disana. Ia mulai cemas, akhir-akhir ini jumlah puluhan burung mulai surut.

Seperti biasa saat bel pulang berbunyi. Gadis itu melihat anak laki-laki yang biasa memberi teman burungnya makan itu duduk diam dengan sebungkus makanan ditangannya. Gadis kecil itu menghampirinya.
“kakak, burungnya mati” ujar anak laki-laki itu kepada si gadis kecil.
Gadis kecil itu diam tak menjawab pertanyaan anak laki-laki itu. ia tengah menangis sembari melihat satu temanya mati lagi.
“ini temanku” jawab gadis kecil itu.
“oh iya, kalau bertemu burung kecil atau binatang yang lain, jangan sakiti mereka ya, karena mereka juga temanku, kalau kamu ingin menjadi teman mereka, sayangi juga mereka” lanjut gadis kecil menjelaskan.
“baik kak” jawab anak laki-laki itu.
Kemudian gadis kecil itu berlari dan bersembunyi di belakang gedung. Ia menangis merintih kehilangan satu temannya lagi. Ia tak tahu apa sebabnya kenapa mereka tiba-tiba mati satu persatu.

Esok harinya gadis kecil itu berjalan-jalan sembari mencari penyebab meninggalnya burung-burung kecilnya. Sampai sore hari ia mencarinya. Hingga sampai malam hari ia tidak bisa menemukannya.

Lima hari gadis itu mencari penyebabnya, tak pernah makan dan minum ia tetap mencarinya dan melindungi burung-burung kecilnya. Sudah duabelas burung yang mati. Kini gadis kecil ini merasakan ada yang aneh pada tubuhnya. Ia sangat lelah, tubuhnya memanas. Ia terkena demam tinggi, mungkin faktor lingkungan dan tidak makan selama hari pencarian. Semakin melajunya hari semakin parahnya juga keadaan gadis kecil ini. Tak ada seorang pun yang melihat keadaannya maupun menolongnya. Ia hanya terbaring lesu di tempat gelap nan sunyi dan juga hanya burung-burung kecil yang mengelilinginya dan menjaganya.

Hingga suatu hari, tepatnya di pagi hari, gadis kecil ini tidak bisa bergerak lagi dan puluhan burung–burung kecil itu diam. Kini sunyi di belakang gedung menyelimuti.
“kalian adalah teman hidupku, terima kasih sudah menjadi temanku”
Kalimat terakhir yang gadis kecil itu ucapkan untuk teman-temannya si puluhan burung-burung kecil yang mengelilinginya. “cit cit cit” puluhan burung-burung itu menjawab dan melihat gadis kecil itu tersenyum untuk mereka di saat terakhir hidupnya. Kini gadis kecil itu menutup mata dan terlelap untuk selamanya, meninggalkan puluhan burung-burung kecil yang menyayanginya. Mungkin, ada kesedihan di hati burung-burung kecil itu.

Bel pulang berbunyi. Baru kali ini kicauan burung yang amat keras memenuhi belakang gedung hingga suara mereka pun terdengar oleh orang-orang yang berada dikawasan gedung taman kanak-kanak itu. satu burung kecil menemui anak laki-laki yang pernah berbicara dengan gadis kecil itu. ia hinggap di tangan anak itu. “cit cit cit” burung itu berusaha berbicara dengan anak itu. tak lama kemudian anak kecil itu menyadari bahwa akhir-akhir ini ia tidak melihat gadis kecil yang biasa ia panggil kakak. Kemudian anak itu berlari menuju belakang gedung dan ia menemukan gadis kecil itu terbaring pucat dengan dikelilingi oleh puluhan burung-burung mungil.
“kakak? Kakak kenapa dingin sekali? Aku ambilkan selimut ya? Aku akan panggil mama” ucapnya dan berlari menghampiri mamanya.
“mama mama, ayo ambil selimut di rumah, kasihan kakak yang ada disana kedinginan” jelas anak laki-laki itu kepada mamanya.

Sebelum mengambil selimut. Mama anak tersebut mencoba melihat gadis kecil itu dan betapa kagetnya setelah mama anak tersebut melihat gadis kecil itu.
“Raka, kakak ini sudah meninggal, ia tidak kedinginan, ia meninggal seperti burung yang raka temukan waktu itu” jelas mama Raka tersebut.
“jadi, kakak ini gak bisa bangun lagi?” tanya Raka.
“iya” jawab mama Raka dengan singkat.

Dan kemudian mama Raka menggendong gadis kecil itu dan segera melaksanakan pemakaman untuk gadis kecil ini.

Kini gadis kecil mungil ini telah tersenyum bahagia. Di belakang gedung puluhan burung-burung kecil telah terbayang senyuman si gadis kecil itu. mereka sangat menyayangi gadis kecil itu. bahkan mereka setiap hari membawa sekuntum bunga kecil yang ia letakkan di makam gadis kecil ini.


Cerpen Perjuangan – Sahabat yang Pertama

Jonathan, anak cowok baru. Tubuhnya tinggi, kulitnya putih, dan wajahnya tampan. Selain penampilannya yang keren, dia Juga berotak cerdas. Benar-benar cowok sempurna. Tak heran bila dia menjadi idola banyak teman cewek di sekolah.

Jonathan memang segalanya, tapi sayang dia cenderung pendiam. Kalau bicara hanya seperlunya saja. Ia tidak suka bergaul atau berkumpul dengan teman-teman cowok yang lainnya. Ia Juga tidak pernah mengikuti kegiatan yang diadakan di sekolah. Oleh karena itu, dia tidak mempunyai teman atau pun sahabat dekat di sekolah.

Jonathan datang ke sekolah hanya untuk belajar. Pulang sekolah dia langsung kabur entah kemana. Saat istirahat, dia hanya duduk di dalam kelas sambil membaca buku. Tidak ada istilah nongkrong di kantin sambil ngobrol dengan sesama teman. Palingan dia nongkrong di perpustakaan. Menurutku, orang yang tidak gaul seperti dia mestinya hidup di hutan saja…

Selama ini Jonathan memang selalu menjadi Juara pertama di kelas. Namun sayang, kepintarannya itu sepertinya membuat dia Jadi sombong dan suka meremehkan orang lain. Karena sikapnya itu, aku merasa tertantang untuk mengalahkannya.

Akhirnya, kesempatan itu datang ketika nilai ulangan matematikaku ternyata lebih tinggi dari Jonathan. Aku bersyukur karena Pak Abbas, guru matematika, membacakan nilai matematika di depan kelas, sehingga Jonathan mendengar bahwa nilai ulangan matematika ku lebih tinggi dari nilainya.

“Yunita sepuluh, Jonathan delapan!” ucap Pak Abbas.

Memang, itu pertama kali aku berhasil mengalahkan nilai Jonathan. Kulihat dia seperti tidak percaya kalau aku bisa mengalahkannya.

Hari itu aku benar-benar bahagia, karena bisa mengalahkan Jonathan. Aku merasa berada di atas angin.

Saat Jam istirahat, aku hendak keluar kelas, tak kusangka Jonathan menghampiriku sambil menjabat erat tangan ku.

“Selamat yaa, Mir! Ternyata otakmu boleh Juga!” katanya sambil tersenyum. Senyum manisnya memang bikin Jantungku berdebar-debar. Tapi, hatiku terlanjur panas mendengar perkataannya yang bernada meremehkan itu.

“Emang cuma kamu aja yang bisa mendapat nilai bagus!” kataku sewot.

“Hmm… aku harus terus bisa mengalahkannya,” tekadku dalam hati. Tadinya aku cuma mau membuktikan padanya kalau aku Juga bisa mendapat nilai ulangan yang tinggi. Tapi karena dia meremehkan kemampuanku, akhirnya aku Jadi merasa lebih tertantang lagi untuk terus mengalahkannya. Sejak itu, aku pun Jadi tambah giat belajar. aku tidak ingin nilai-nilai ulangan Jonathan lebih tinggi dari nilai ulanganku. Akhirnya, nilai-nilai ulangan kami Jadi saling bersaing. Kadang nilaiku lebih tinggi dari Jonathan, kadang nilai Jonathan lebih tinggi dari nilaiku. Dan sahabat-sahabatku, Martha, Hana, dan Grace ikut memberi semangat agar aku selalu bisa mengalahkan Jonathan.

“Kau harus bisa terus mengalahkan Jonathan, Yunita! Mengalahkan nilai-nilainya dan Juga mengalahkan kesombongannya!” kata Grace memberi semangat kepadaku.

“Ya, benar Grace. Jonathan memang harus tahu, kalau aku Juga bisa mengalahkannya,” kataku.

Kini, untuk menunjang nilai-nilai ku, aku ikut bimbingan belajar. Aku Juga menambah waktu belajar ku dan banyak membaca buku pengetahuan.

Setiap pagi, setelah bangun tidur, aku sempatkan diri untuk belajar sebentar. Lalu, malam hari, waktu belajar aku tambah satu Jam lagi. Aku sampai heran, aku yang tadinya sangat malas belajar, tidak pernah mempedulikan nilai-nilai ulangan yang kudapat, kini bisa berubah total. Ini semua gara-gara Jonathan, cowok bule yang sombong itu. Tapi kalau dipikir-pikir, sebenarnya aku harus berterima kasih kepada Jonathan, karena dialah yang telah membuat aku Jadi tambah giat belajar.

Saat kenaikan kelas pun tiba. Wali kelasku, Bapak Suryono, mengumumkan murid-murid yang menjadi Juara kelas.

“Anak-anak, Bapak akan mengumumkan siapa yang menjadi Juara kelas tahun ini. Kita mempunyai Juara kelas baru, yaitu… Yunita! Nilai rata-rata Yunita hanya terpaut satu angka dengan Juara kelas semester lalu, yaitu Jonathan. Jonathan Juara dua dan Renita Juara tiga. Yunita, Bapak salut padamu, nilai-nilai ulanganmu sekarang melesat sangat Jauh dibanding semester lalu. Bapak ucapkan selamat buat kalian bertiga, pertahankan prestasi kalian, ya!” pesan Pak Sur, disambut tepuk tangan meriah teman-teman sekelas.

“Hebat kau, Yun! Selamat yaa, kau bisa mengalahkan Jonathan,” ucap Grace sambil menyalamiku.

Aku pun sangat gembira dan tidak menyangka kalau akhirnya bisa mengalahkan Jonathan, si kutu buku itu.

“Selamat, Yun. aku mengakui kekalahanku. Kau memang hebat dan pantas menjadi Juara. Maafkan aku, kalau selama ini aku meremehkanmu,” kata Jonathan menyalamiku dengan tulus. Aku pun menyambut uluran tangannya dengan hangat.

“Eh… iya, Nat. Seharusnya, aku yang berterima kasih kepadamu, karena waktu itu aku merasa diremehkan, sehingga aku Jadi tertantang untuk bisa menyaingimu. Aku Jadi punya semangat belajar yang tinggi untuk membuktikan padamu kalau aku Juga mampu mendapatkan nilai-nilai sepertimu,” kataku.

“Ya, aku akui, meskipun aku punya kelebihan, tapi seharusnya aku tidak boleh sombong dan meremehkan orang lain. Ternyata benar kata orang bijak, di atas langit masih ada langit. Yunita, kau telah mengalahkan aku dan Juga mengalahkan kesombonganku,” kata Jonathan merendah sambil tersenyum manis.

“Jonathan, aku senang kamu sudah menyadari kesalahan mu. Mudah-mudahan kamu bisa mengubah sikapmu. Kamu harus bisa menjalin persahabatan dengan teman-teman yang lain, sehingga tidak terkesan sombong,” pesanku.

“Ya, kau benar. Tetapi… Yun, maukah kau yang pertama menjadi sahabatku?” tanya Jonathan sambil tersenyum dan menatap tajam wajahku.

“Hmm… eh… iya.. Nat! aku mau Jadi sahabatmu…” Jawabku agak gugup sambil membalas senyumanmu. Hatiku pun berbunga-bunga. Bayangkan, siapa sih yang tidak ingin menjadi sahabat bagi Jonathan yang tampan dan cerdas?

… TAMAT …

***********

cerpen perjuangan
cerpen perjuangan | shutterstock.com

Demikianlah kumpulan cerpen perjuangan seputar kehidupan cinta dan harapan yang bisa kami bagikan pada kesempatan kali ini. Semoga artikel ini bisa menjadi menjadi bacaan ringan bermanfaat untuk pembaca. Terima kasih!

Leave a Comment