Cerpen Pendidikan

Cerpen Pendidikan – Berikut ini akan dibagikan beberapa cerpen pendidikan sebagai bacaan ringan bertema pendidikan dan sekolah yang penuh pesan moral dan sebagai sumber referensi untuk mempelajari struktur cerpen untuk membuatnya sendiri. Silahkan Disimak!

Kumpulan cerpen pendidikan

Cerpen Pendidikan – Mengukir Pelangi Di Negeri Rangsang

Suasana pagi nan indah, semilir angin yang berhembus dari arah laut, menyeberangi bebatuan pantai yang berbaris dengan rapi di mulut pantai. Tak tertinggal, burung-burung berterbangan di sekitaran semenanjung pantai sembari bersiul mesra menyambut indahnya pagi. Dan dari ufuk timur, surya kembali terbit, dengan senyumannya yang sumbringah dan memberikan semangat baru kepada anak-anak di Pulau Rangsang dan juga masyarakat yang ada di Pulau tersebut.

Sementara itu, ada sebuah Sekolah Menengah Pertama yang berdiri dengan bangunannya yang sederhana di sekitaran rumah penduduk. Walau tampak sederhana, dan sangat tidak layak pakai, namun hal ini tidak pernah mengurungkan niat para anak-anak di Pulau Rangsang untuk dapat bersekolah. Mereka tetap semangat, untuk mencapai masa depan. Hal ini dikarenakan, adanya Ibu Aisyah, yang mana merupakan guru mereka satu-satunya di Sekolah ini.

“Assalamualaikum Anak-anak,” dengan wajahnya yang ramah, Ibu Aisyah menyapa mereka dengan ramah dan santun.
“Waalaikumsalam Bu,” jawab mereka semua dengan lantang dan semangatnya.

“Alhamdulillah, kita bisa bertemu lagi seperti biasanya pada pagi hari ini, bagaimana, apakah kalian semua telah paham dengan pelajaran matematika yang Ibu berikan semalam?” ibu Aisyah mencoba bertanya.

Tampak semuanya diam tanpa kata. Ibu Aisyah mengerti, keterbatasan teknologi, dan ilmu pengetahuanlah yang terkadang membuat anak-anak di Pulau Rangsang ketertinggalan dengan kemajuan zaman yang telah mengarah ke arah modern seperti sekarang ini. Namun apa daya, bagaimanapun juga, tugasnya sebagai seorang guru, haruslah berupaya untuk menjadikan anak didiknya bisa mendapatkan pendidikan yang layak, dan pada intinya, suatu hari nanti, dapat bersaing dengan anak-anak yang berada di Kota.

“Hem, baiklah Ibu tahu, mungkin Ibu akan mengajarkan kalian sekali lagi, agar tetap paham,”
“Bu?” tiba-tiba saja, salah satu seorang muridnya berdiri dan menghampiri Ibu Aisyah.
“Iya, Harri, ada apa?” Ibu Aisyah mencoba menghampirinya.
“Apakah benar, jika Ibu akan meninggalkan kami? dan kembali ke kota?”

Sungguh tidak pernah dibayangkan, Harri salah satu muridnya yang juga merupakan murid terpintar di kelas, telah mengetahui surat edaran dari Dinas Pendidikan yang telah menyuruhnya untuk meninggalkan Pulau Rangsang, dan berpindah ke Kota. “Ah, tidak Harri. Bagaimanapun, Ibu akan berusaha, agar kalian semua menjadi pintar.

Ibu telah berniat, Ibu akan tetap di sini, sampai kalian sukses semua. Ibu percaya, kalian semua bisa bersaing dengan anak-anak yang di kota. Apalagi, bapak Kepala Desa, sudah meyakinkan kepada Ibu, untuk mendidik kalian di sini,” Ibu Aisyah mencoba meyakinkan murid-muridnya.

“Ibu Aisyah, jujur, kami semua sangat senang sekali, ketika kami tahu, Ibu mau mengajar dan memberikan ilmu bagi kami anak-anak Pulau Rangsang. Karena, Ibu kan tahu, jika kami ingin melanjutkan ke SMP, kami harus menyeberang dulu ke Pulau Merbau, dan itu sangatlah jauh, orangtua kami tidak akan pernah mengizinkan, dikarenakan biayanya yang cukup mahal. Tapi, semenjak ada Ibu di sini, kami jadi bisa merasakan melanjutkan sekolah kembali, ya walaupun di dalam ruang kelas yang sederhana ini, kami sudah senang kok,” Kemudian, Ibu Aisyah tersenyum kepada Harri, dan juga kepada murid-muridnya, “Anak-anak, Ibu janji, Ibu akan mencoba menghubungi teman-teman Ibu yang berada di kota, insya Allah mereka pasti akan mau membantu kita untuk merenovasi sekolah kita, dan kita harus buktikan, jika sekolah kita juga bisa bersaing dengan Sekolah Menengah Pertama lainnya yang ada di kota, kalian mengerti?” kata Ibu Aisyah sembari memberikan semangat kepada murid-muridnya.

Di siang harinya, tepatnya jam 13.00 WIB, Berjalanlah ibu Aisyah, menyusuri jalanan setapak yang tersusun dari tumpukan-tumpukan papan kecil untuk menuju ke rumahnya. “Memang, sungguh miris keadaan Pulau ini. Pulau yang indah, namun tidak semuanya mengetahuinya. Pulau yang sangat jauh dari keramaian dan hiruk-pikuk kota. Andaikan semua orang tahu, jika masyarakat dan anak-anak yang berada di Pulau Rangsang ini, juga memiliki kemampuan yang sama dengan anak-anak yang ada di kota. Anak-anak Pulau Rangsang juga pintar, aku yakin, suatu hari, Pulau Rangsang dan anak-anak yang ada di sini, pasti akan berubah menjadi lebih maju,” kata Ibu Aisyah di dalam hatinya. Sesampai di rumah, tiba-tiba saja handphone-nya berdering, dan ternyata setelah dilihat, adalah telepon dari sahabatnya Jaka.

“Hai, Jaka, Assalamualaikum?” Ibu Aisyah mencoba menyapanya dengan ramah.
“Waalaikumsalam, Syah, kamu di mana? aku di Pulau Rangsang sekarang, aku sudah berada di depan SMP tempat kamu mengajar,”
“Kamu serius? baiklah, aku akan menemui kamu sekarang,”
Setibanya di depan SMP Rangsang, “Jaka, kamu apa kabar?”
“Aku baik Syah. Syah, kamu serius ngajar di tempat ini? Syah, kamu kan tahu, semua orang juga tahu, kamu itu lulusan terbaik ketika kuliah, kenapa sih kamu mau mengajar di tempat seperti ini? kenapa kamu tidak mengajar di kota saja denganku?”

“Jaka, bagiku, di manapun aku mengajar, itu adalah yang terbaik bagiku. Aku sudah nyaman di sini. Masyarakatnya yang sangat ramah dan terbuka menerimaku. Belum lagi, semangat belajar anak-anak di Pulau Rangsang ini sangat kuat Jak, kemudian juga aku sudah berjanji pada diriku, aku tidak akan pergi dari Pulau ini, sampai pada saatnya, anak-anak di Pulau Rangsang ini bisa sukses mengejar cita-cita mereka,”
“Aku bangga mempunyai sahabat seperti kamu Syah. Aku tahu, cita-cita kamu sangatlah mulia, kamu memang guru yang sejati. Oh, ya jika kamu memperbolehkan, aku punya jalan untuk mempermudah cita-cita kamu,”
“Oh ya? apakah itu Jak?”

Kemudian, Jaka memberikan sebuah undangan berupa Olimpiade Sains yang akan digelar di Kabupaten Meranti, tapatnya berada di Ibu Kota Selat Panjang, “Jak, makasih ya, kamu sudah mau jauh-jauh datang ke mari hanya untuk memberikan undangan Olimpiade ini, semoga aja, kami dapat memenangkannya, dan kemudian murid–muridku dapat lebih mengenal dunia luar dan tidak ketertinggalan lagi seperti sekarang ini,” tampak ibu Aisyah sangat senang dan lebih bersemangat. “Assalamualaikum Ibu Aisyah,” terlihat keempat sekawan yang juga merupakan murid kebanggaan ibu Aisyah di sekolah menghampiri ibu Aisyah dan Jaka. Mereka adalah Latif, Harri, Sofwan, dan Nur.

“Waalaikum salam. Kebetulan kalian semua di sini, ke mari Nak, ini ada undangan Olimpiade Sains buat kita, kalian mau membacanya?” kemudian ibu Aisyah memberikan undangan tersebut kepada keempat muridnya.
“Kalian semua sepertinya tampak pintar, saya harap kalian ikut ya di Olimpiade Sains ini?” Jaka menyapa mereka dengan ramah pula.
“Terima kasih ya Pak, untuk undangannya buat kami. Semoga, kami menang di dalam Olimpiade Sains ini, dengan begitu, kami bisa membanggakan untuk Ibu Aisyah, dan nantinya, semua orang bisa tahu keberadaan sekolah kami ini, khususnya keberadaan Pulau Rangsang,” jawab Nur dengan semangat pula.

Satu minggu kemudian, tepatnya hari Selasa, 13 Maret 2016,
“Bu Aisyah, gak menyangka ya, besok adalah keberangkatan kami untuk mengikuti Olimpiade Sains di Kabupaten,” kata Sofwan sembari tersenyum lebar.
“Iya. Dengan demikian, hari ini, kita harus tingkatkan pengetahuan kalian berempat ya, agar kalian nantinya bisa lanjut ke Olimpiade Sains tingkat Provinsi, hingga sampai Mancanegara, kalian mau kan?”

“Wah, Bu Aisyah, jangankan sampai mancanegara, kami di sini bisa pergi ke kota saja, sudah kebanggaan luar biasa untuk kami Bu,” kata Nur dengan senyumnya yang manis.
“Dan, insya Allah impian kalian akan terwujud, percayalah,” ibu Aisyah kembali memberi semangat.
“Tapi Bu, bagaimana dengan biaya kami untuk pergi ke kota? dan pasti anak-anak yang di kota lebih pintar daripada kami,”

Ibu Aisyah begitu terkejut, ketika mendengar pernyataan yang begitu menyayat hatinya, ya, mengenai biaya untuk pergi ke kota. Sungguh pernyataan Harri, begitu membingungkan untuknya, “Kalian tenang saja, yang terpenting tugas kalian saat ini adalah belajar dan kembali belajar untuk lomba Olimpiade Sains besok pagi. Kalian pasti bisa. Urusan biaya, biar itu adalah tugas Ibu sebagai guru kalian, mengerti?” kemudian ibu Aisyah memeluk keempat muridnya.

Di bawah pohon rindang, Harri, Sofwan, Nur dan Latif mencoba berdiskusi mengenai keberangkatan mereka besok pagi.
“Kita tidak boleh diam saja, kita harus membantu Ibu Aisyah mencari biaya untuk kita pergi besok ke kota?” Latif memulai pembicaraan. “Iya kamu benar, bagaimana, jika kita sekarang pergi ke pantai untuk menjaring ikan, kemudian kita jual ke pengepul ikan?” Nur memberikan usul.
“Kami akan membantu kalian,” tiba-tiba saja tampak terlihat teman-teman mereka yang juga merupakan murid dari ibu Aisyah ikut serta membantu mereka berempat mengumpulkan uang.

“Kami ingin, keempat teman kami, pergi dan meraih juara di Kota. Dengan begitu, suatu hari Pulau Rangsang, akan mencapai kemajuan dan banyak dikenal oleh orang-orang yang berada di luar sana. Pokoknya kita harus buktikan jika kita ini mampu, maka dari itu, kami ingin membantu kalian,”
“Terima kasih semuanya, pokoknya kami janji, aku, Nur, Latif, dan Sofwan akan berjuang memenangkan lomba Olimpiade ini,” Harri begitu menyambut dengan gembira bantuan dari temannya Haikal. Kemudian beramai-ramailah mereka semua menuju ke pantai untuk mencari ikan dan menjualnya ke pengepul.

Sementara di Kantor Kepala Desa, tampak ibu Aisyah mencoba berdiskusi kepada Pak Yunus, untuk membicarakan biaya transportasi ke Kota. “Maaf Bu Aisyah, untuk sekarang ini, khas Desa Rangsang, sangatlah defisit, jadi tidak bisa diberikan untuk keberangkatan mereka berempat ke Kota,” Ibu Asiyah kembali membujuk.
“Tapi Pak, saya janji, mereka berempat pasti akan mendapatkan juara dan akan membanggakan Desa Rangsang tentunya, percayalah Pak, anak-anak di Pulau Rangsang inilah, yang suatu hari akan memajukan Pulau Rangsang ke arah yang lebih maju,”

“Maaf Bu, tetap saja tidak bisa. Dan, saya mohon janganlah membawa anak-anak di Pulau Rangsang terlalu berangan-angan tinggi. Sungguh mustahil, jika mereka dapat bersaing dengan anak-anak yang di Kota,” Entah mengapa, pernyataan dari Pak Yunus, sangat begitu menyayat hati Bu Aisyah, tanpa berpikir panjang, ibu Aisyah pamit dan pergi dari Kantor Kepala Desa.

Keesokan paginya, menjelang keberangkatan ke Kota, “Bu, Aisyah, Ibu tidak usah khawatir mengenai pembiayaan ke kota, kami berempat telah berhasil mengumpulkan uang dari hasil kerja keras kami kemarin Bu, Ibu senang kan?” Nur mencoba memberikan penjelasan kepada ibu Aisyah.

“Ibu bangga dengan kalian semua. Semoga saja, dari kota nanti kita membawa kemenangan ya. Dan Ibu minta maaf, karena Ibu tidak mempunyai biaya untuk keberangkatan kalian ke kota, ditambah lagi, sudah 5 bulan ini, Ibu belum menerima gaji dari dinas pendidikan. Kalian tahu kan, Ibu hanya seorang guru honorer, selain berperan sebagai guru, Ibu juga sekaligus Kepala Sekolahnya, jadi Ibu minta maaf dengan kalian semua,” kata ibu Aisyah.
“Ibu, justru kami yang sangat berterima kasih dengan Ibu, Ibu sudah mengizinkan kami bersekolah di sini dengan gratis, Ibu juga telah membimbing kami hingga kami menjadi pintar, dan pastinya, kami jadi semakin tahu dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin meluas,”

Kemudian, Sofwan, Harri, Latif, dan Nur pun memeluk ibu Aisyah. Dan sampailah mereka di kota, dengan semangat, mereka berempat dengan giatnya mengerjakan soal-soal Olimpiade Sains. Hingga, dengan berjalannya waktu, akhirnya mereka berempat, dengan bimbingan ibu Aisyah berhasil memenangkan Olimpiade Sains tingkat Kabupaten, dan sampailah pula tingkat Provinsi Riau, dan kemudian, salah satu di antara mereka berempat, yaitu Nur, berhasil mengukir prestasi Olimpiade Sains hingga ke tingkat Internasional, dan berhasil mendapatkan medali perak ke Indonesia, khususnya ke Pulau Rangsang, Kabupaten Meranti, Riau.

3 Tahun kemudian. Sungguh, prestasi yang didapatkan oleh Nur, Latif, Harri, dan Sofwan, lambat laun, dapat membawa suatu perubahan yang besar bagi perkembangan Pulau Rangsang, hingga berubah menjadi sebuah Desa yang maju, dan banyak dikenal oleh para wisatawan lokal maupun mancanegara. Selain itu, saat ini, berkat prestasi mereka pula, Pulau Rangsang telah berubah menjadi suatu tempat destinasi wisata dan budaya melayu. Dan yang paling utama adalah, SMP Rangsang, telah mengalami perkembangan dan perubahan ke arah yang lebih baik lagi.

Banyak, para orangtua, yang menyekolahkan anak-anaknya untuk bersekolah di SMP Rangsang, ditambah lagi, banyaknya para donatur yang memberikan sumbangan untuk kemajuan pembangungan SMP Rangsang. “Saya sendiri, begitu bangga menjadi anak Pulau Rangsang. Terima kasih kepada Ibu Aisyah yang telah memberikan motivasi terbaik untuk saya, dan juga teman-teman semua, sehingga dapat meraih kesuksesan seperti sekarang ini, dan dapat memajukan Pulau Rangsang yang kami cintai. Ibu Aisyah, sungguh, Ibu adalah pahlawan terbaik bagi kami selamanya,” kata Nur, di saat memberikan sambutan dalam acara peresmian gedung SMP Rangsang, yang sekarang berubah menjadi SMP Terpadu Rangsang.

SELESAI


Cerpen Pendidikan – Kartini Masa Kini

Pramugari. Pekerjaanku? Hah, sayangnya bukan. Itu hanyalah cita-citaku sedari kecil yang tentu saja tak kesampaian. Kau tahu karena apa? Karena tinggi badanku -uh sampai sekarang aku benci bila harus mengingat hal itu- karena tinggi badanku yang tak sampai 160 cm itulah yang membuatku ditolak secara terang-terangan ketika aku mendaftar untuk menjadi pramugari. Dan lagi, kedua orangtuaku juga tak setuju bila aku menjadi pramugari. Menurut mereka menjadi pramugari itu gajinya kecil. Ah, yang benar saja? Mereka hanya tak sudi membiarkan anaknya melakukan pekerjaan yang berbahaya. Dan namaku? Um, aku benci mengatakan ini, tapi… baiklah, namaku Kartini. Kau percaya itu?

“Kartini Aprilia, benar?” tanya seorang wanita paruh baya mencoba meyakinkan dirinya sekali lagi bahwa namaku memang Kartini sambil menatapku ragu-ragu. Walau malu, akhirnya aku mengangguk juga. “Kau lulusan sebuah universitas ternama tapi kau malah melamar kerja di sini? Apa kau yakin?”
Lagi-lagi dengan malu aku mengangguk. “Ya, menurutku ini adalah sebuah pekerjaan mulia.”

Wanita itu tersenyum lebar, memamerkan deretan giginya yang sebagian sudah rapuh termakan usia. “Oh, itu manis sekali,” ucapnya sungguh-sungguh, “nah, baiklah, kau diterima, mulai besok kau boleh bekerja di sini.” Ia menyerahkan kembali berkas-berkasku dengan wajah ceria dan mulai menarikku menuju pintu. Aku dengan gugup berusaha mengikuti langkah-langkah lebarnya dan tetap menampilkan ekspresi ceria padanya.

“Kembalilah besok, gadis manis,” itu adalah ucapannya ketika kami berdua sudah mencapai pintu. Yeah, cara mengusir yang lembut -tapi tak apa-apa, lagi pula aku juga tak ingin berlama-lama di ruangan pengap ini. Wanita itu kembali tersenyum padaku, dan aku membalas senyumannya, entah sudah berapa kali kami saling melengkungkan bibir untuk hari ini, dan hal itu membuatku lelah. Akhirnya aku melangkahkan kaki ke depan dan sesudahnya ia langsung menutup pintu dengan keras. Aku mendesah lega. Ia begitu menakutkan.

Aku melirik kalendar yang berada di kamarku, hari ini tepat 15 hari sebelum hari ulang tahunku yang ke-24. Aku tersenyum, membayangkan kejutan apa yang akan diberikan keluargaku nanti. Tapi bayangan itu tiba-tiba hilang mengingat sekarang aku sudah mempunyai pekerjaan. Mereka akan berpikir bahwa aku sudah benar-benar dewasa dan tak membutuhkan kejutan di hari ulang tahun lagi. Ahh, padahal aku sangat menginginkannya. Aku kembali melirik kalendarku, sekarang tanggal 6 April 2049, itu artinya aku akan mulai bekerja pada tanggal 7 April. Sepertinya aku harus terus mengingat tanggal 7 April ini.

Oh, ya, aku pasti lupa memberitahumu tentang pekerjaanku. Pekerjaanku adalah menjadi guru di Sekolah Dasar yang sangat terpencil. Aku tahu bahwa pekerjaan ini bisa dibilang bukan pekerjaan mapan dan bergaji besar. Tetapi daripada terus-menerus disindir dengan kata-kata manis bernada sinis oleh kedua orangtuaku, lebih baik aku mengambil resiko untuk pekerjaan ini. Lagi pula walaupun aku tak bisa menjadi guru yang baik, setidaknya aku mempunyai pengalaman baru, bukan?

“Kartini sayang, buka pintunya!”
Aku mendesah, “Oh ayolah Bu, kau tak perlu terus memanggilku dengan nama itu, aku benci mendengarnya.”
“Baiklah. Mm-hm,” ibu berdehem pelan, “April, makan malammu sudah siap!”

Sialan, itu sih sama saja, umpatku kesal. Aku mengerang pelan sebelum membuka pintu kamarku. “Bu, jangan juga panggil aku dengan nama April,” aku memutar bola mataku, “dan lagi, aku tidak akan lupa tentang makan malam sekalipun ibu tidak mengingatkanku.” Dengan langkah menghentak-hentak aku pun meninggalkan ibu yang sedang termangu di depan pintu kamarku. Ketika aku sedang menyendok nasi, barulah ibu datang. Selanjutnya kami makan dalam diam.

Aku terus-menerus menarik rokku yang agak sempit. Sebenarnya hal itu ku lakukan bukan untuk membenarkannya, tetapi lebih karena aku merasa gugup. Wanita paruh baya yang ku temui kemarin sudah tersenyum di depan pintu kelas 6, aku pun mengangguk dan segera menghampirinya. Setelah tepat berada di depannya, ia memberikanku beberapa tumpukan buku yang sangat tebal dan tampak membosakan. “Selamat bekerja, gadis manis.” Lalu ia meninggalkanku. Dan sekarang tinggal aku sendiri di tengah-tengah tatapan murid-murid yang penasaran. Itu tentu bukan hal yang bagus, tapi… akhirnya aku berjalan menuju meja guru, meletakkan tasku sebelum aku maju ke tengah-tengah dan tersenyum pada mereka. Tak satu pun dari mereka yang membalas senyumku. Sebagian besar murid itu melongo penasaran, sisanya sedang tertidur, tak menanggapi kehadiranku sama sekali.

“Selamat pagi, anak-anak…” aku mengambil jeda sebentar untuk memberikan waktu pada mereka agar membalas salamku, tapi hasilnya nihil, mereka tetap duduk dalam diam seolah tak mendengarkanku. Pada akhirnya aku pun tetap hanya bisa tersenyum, anak zaman sekarang, batinku dalam hati. “Perkenalkan, saya guru baru kalian, nama saya…” aku mendesah pelan, bahkan sebenarnya aku tak perlu melakukan hal ini karena mereka pasti sudah tahu namaku -dan tampaknya mereka tak akan menanggapiku. Tapi entahlah, aku merasa diwajibkan untuk memperkenalkan diri secara langsung, dan.. ini dia, pengalaman paling memalukan dalam hidupku akan segera dimulai.

“Nama saya.. Kartini, Kartini Aprilia,” mereka melongo, “kalian bisa memanggil–”
“HAHAHA, Kartini? Yang benar saja? Di tahun 2049? Hahaha..”

Bagus. Bahkan sebelum aku menyelesaikan perkataanku saja mereka sudah tergelak. Bagus, bagus, dan terakhir, sial. Mereka sama sekali tak diajarkan kesopanan di sini. Tapi tak apa, aku yang akan mengajarkannya pada mereka nanti. “Yah.. terkadang saya juga selalu merutuki nama itu. Tapi.. saya percaya orangtua saya punya tujuan yang bagus saat mereka memberi saya nama.” Aku menutup mataku dan menarik napas dalam-dalam, semoga saja mereka mau diam, doaku dalam hati. Tapi kau tahu apa yang ku dapat? Tawa, suara tawa yang bertambah keras. Oh ya Tuhan, apakah aku harus terus menerima cemoohan ini? Aku berusaha keras menahan amarahku dengan menggigit bibir bawahku. Tapi itu percuma saja, itu hanya akan melukai diriku sendiri. Jadi mungkin lebih baik aku menegur mereka saja daripada membuat bibirku berdarah. “Saya minta kalian semua diam, saya mohon.” Mereka tetap saja tertawa. Aku benar-benar pusing dibuatnya.

  Cerpen Perjuangan

Ini sudah 13 hari sejak aku menjadi guru, tetapi rasanya sudah bertahun-tahun. Demi Tuhan, mereka susah sekali untuk diatur. Padahal mereka sudah kelas 6, yang berarti tak lama lagi mereka akan meninggalkan sekolah. Itulah sebabnya aku selalu memarahi mereka, aku sungguh tak tahan melihat mereka berbuat seenaknya pada orang yang lebih tua. “Kartini! Ini sudah jam berapa? Cepat pergi bekerja!” Oh, itu? Itu suara ibuku. Setiap pagi beliau selalu begitu. “Ya Bu!” Aku pun segera mengambil beberapa tumpuk buku yang sebenarnya tak diperlukan karena kami belajar memakai komputer. Tapi sayangnya komputer di sekolah tempatku mengajar benar-benar tak berfungsi. Sungguh, sekolah macam apa itu?

“Jadi, EYD itu adalah–”
Tok, tok, tok, “Permisi…”

Aku menoleh ke arah pintu. Lagi-lagi si wanita paruh baya. Tapi kali ini ia tak tersenyum padaku, melainkan menatap tajam ke arahku dan membuat dahiku berkerut, heran. Aku pun menatap wajah murid-muridku yang terlihat sedang kegirangan. Kembali aku menatap wajah wanita paruh baya, dan kembali juga aku menatap muridku sebelum si Kepala Sekolah alias wanita paruh baya itu menyuruhku pergi ke ruangannya.

“Maaf, Bu, tapi ada apa ya?” tanyaku di sela-sela langkah lebar kami. Dan bukannya menjawab, si Kepala Sekolah itu malah terus menatap ke depan sampai akhirnya kami tiba di depan ruangannya.
“Masuk.”

Oh, itu bukan jawaban yang ku inginkan. Tapi dengan terpaksa aku menurutinya dan langsung duduk di kursi yang disodorkan oleh si Kepala Sekolah. “Kemarin ada murid yang melapor padaku bahwa kau selalu memarahi mereka. Benarkah itu, gadis manis?” si Kepala Sekolah itu terus saja melemparkan tatapan padaku yang seolah ia ingin menelanku bulat-bulat. Aku menelan ludahku, suaranya terdengar jelas di telingaku. “Itu…itu, mereka susah sekali di atur. Jadi sa–”

“Kau seharusnya mengajari mereka dengan sabar, bukan dengan emosi!” serunya tertahan dan membuatku semakin gentar. “Kau lihat? Bukannya menurut, tapi mereka malah semakin nakal, kan? Ya kan? Itulah hasilnya bila kau terus memarahi mereka!”
“Ma-maaf, tapi…” aku melirik ke bawah. Sejenak sepatuku terasa menarik sehingga aku ingin terus memandangnya. Tetapi tiba-tiba handphone yang sedang ku genggam berdering. Di situ nampak nama ibuku. Aku tersenyum pada si Kepala Sekolah sebelum aku mengangkatnya.

“Halo, Bu? Ada apa?”
“Nak? Apa kau benar anak dari Ibu Anggun?” tanya suara di seberang sana dengan panik.
“Ya. Tetapi anda siapa ya?”
“Itu tak penting, sekarang segeralah kau bergegas menuju rumah sakit Paru Firdaus. Kedua orangtuamu kecelakaan tadi pagi.”

Mulutku menganga, tiba-tiba kepalaku serasa hendak pecah, “A-apa? Apa Anda tidak sedang ber–”
Tut…tut…tut, sambungan terputus. Dari seberang sana yang memutuskannya.
“Apa? Kau mau ke mana? Kita belum selesai!” hardik si Kepala Sekolah dengan marah. Dengan singkat aku segera menjelaskan perihal kecelakaan orangtuaku. Akhirnya ia mengizinkanku pergi, tetapi sebelumnya ia berkata, “Tapi, awas saja, jika sekali lagi aku menerima laporan ini, kau akan ku pecat!”
Oh, yang benar saja?

Kedua orangtuaku meninggal, dan sekarang aku hidup sebatang kara. Ditambah lagi aku hampir dipecat dari pekerjaanku. Ah, mengenaskan sekali hidupku ini. Murid-muridku tak satu pun yang mau berubah, malahan mereka bertambah nakal. Tapi baiklah, mungkin ini hanya cobaan dalam hidupku. Aku harus terus bersabar, seperti kata-kata ibuku sebelum meninggal, “Nak, bersabarlah dan jadilah Kartini yang baik, sesuai dengan namamu…” Ok, mulai sekarang aku akan bersabar.

Aku segera melangkahkan kakiku menuju kelas tempatku mengajar. Tetapi entah mengapa yang ku dapati hanyalah kegelapan. Murid-muridku tak ada di kelas. Dengan susah payah aku mencari saklar untuk menghidupkan lampu. Tetapi baru saja aku mau melangkah, lampu sudah dinyalakan entah oleh siapa. Barulah terlihat olehku segerombolan murid-muridku sedang menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Beberapa di antara mereka sedang memegang kue ulang tahun yang terdapat lilin angka 24 dan beberapa lagi memegang kado. Sambil tetap bernyanyi, mereka mendekatiku perlahan-lahan. Hal itu membuatku terharu. Oh ya Tuhan, mana mungkin aku bisa lupa hari ulang tahunku sendiri sedangkan mereka mengingatnya? Ah, aku sungguh terharu. Setelah mereka makin dekat, mereka pun segera menyanyikan lagu ‘Tiup lilin’ dan itu membuatku tertawa. Oh, ayolah, aku serasa diperlakukan seperti anak kecil saja.

“Buatlah permohonan, Bu Guru!” seru salah seorang murid yang sudah ku tandai sebagai anak ternakal di kelasnya. Tapi sekarang bukannya memarahinya karena ribut, aku malah menuruti perkataannya.
“Ibu harap kalian semua lulus dengan nilai yang memuaskan.” Aku tersenyum pada mereka.
Mereka segera bersorak girang, salah satu di antara mereka menyerukan kalimat ‘selamat hari kartini’. Aku kembali tertawa.

Ah, hal apa pun bisa terjadi dalam 15 hari, ya?


Cerpen Pendidikan – Menjemput Toga

Perempuan berhijab itu namanya Bela. Gadis pendek namun supel, dia mempunyai banyak teman di sekolahannya. Bela lulusan SMA tahun ini. Usianya kini sudah menginjak 19 tahun dan sudah waktunya dia untuk melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi. Dengan senang hati Bela melepas baju putih abu-abunya dan sudah tidak sabar lagi memakai seragam semaunya.

Sambil memandangi kayu-kayu yang berbaris di langit-langit kamarnya, Bela berfikir keras tentang kampus mana yang dimaksud ibunya selama ini. Sejak Bela masih duduk di kelas 2 SMA, ibu Bela selalu mengatakan bahwa Bela akan disekolahkan di kampus yang menurut ibunya baik untuk anak semata wayangnya. Pastinya bukan kampus di dekat rumah seperti yang Bela inginkan. Akan tetapi, yang dimaksud ibunya yaitu kampus yang terletak di pulau pendidikan. Pulau Jawalah yang dimaksud ibunya. Sampai saat ini Bela belum tau pasti, kampus di Jawa yang mana yang selalu dibanggakan sama ibunya. Bela bingung harus mengikuti kemauan ibunya atau kemauannya sendiri. Bela ingin sekali kuliah sambil membantu ibunya di rumah. Karena ibunya bekerja sendirian setelah ayahnya meninggal 7 tahun silam terkena penyakit kanker otak. Di sisi lain, Bela juga tidak mau mengecewakan ibunya hanya karena tidak mau mengikuti kemauannya. Semakin hari detak jantung Bela semakin cepat, karena hari keberangkatan Bela ke Jawa semakin dekat pula.

Mobil berwarna hitam dan terlihat beberapa penumpang di dalamnya sudah parkir di depan rumah Bela dan siap untuk mengantarkan dia dan ibunya ke bandara. Dalam perjalanan menuju bandara, Bela tak banyak berbicara. Dia hanya berdoa semoga dia bisa membahagiakan orangtua satu-satunya yang telah bersusah payah membiayai dia sekolah selama bertahun-tahun. Bela yakin bahwa orangtua pasti memberikan yang terbaik untuk anaknya.

Tiga jam telah berlalu. Kini Bela sudah sampai di tempat yang tidak pernah sama sekali Bela kunjungi. Puluhan bahkan ratusan manusia disana sedang mengangkut barang-barang mereka. Terlihat lelaki tampan berseragam rapi dan berbadan tegap. Terdengar juga suara merdu perempuan yang memenuhi tiap sudut-sudut ruangan. Terlihat beberapa perempuan tinggi langsing dan bersolek melintas di depan mata Bela. Bela terus mengikuti ke mana arah Ibunya berjalan sambil melihat suasana di sekitar. Setelah terlihat jelas pesawat berbaris rapi di lapangan yang sangat luas, hati Bela mulai berdegup kencang. Rasanya belum siap untuk melanjutkan sekolahnya di pulau jawa. Tanpa mengeluarkan sepatah kata, Ibu Bela menggandeng tangan anaknya dan menariknya menuju pesawat. Bela berusaha untuk bersikap tenang meskipun sebenarnya ingin sekali menghentikan langkahnya dan kembali ke rumah. Bela berjalan terus melewati baris demi baris kursi yang ada di dalam pesawat. Bela terlihat seperti anak kecil yang baru berumur 5 tahunan yang selalu digandeng ibunya kemana-mana.

“Kamu duduk di pojok sana nak”. Perintah Ibu Bela.
Tanpa banyak tanya, Bela menuruti apa yang diperintahkan oleh Ibunya. Pesawat mulai melaju pelan-pelan dan aku pun kaget saat pesawat mulai lepas landas. Serasa terbang ke luar angkasa. Bela masih terdiam tidak berkata apapun kepada Ibunya. Dia sama sekali tidak melihat suasana di sekeliling pesawat. Pandangan Bela hanya ke depan dan sesekali memandangi wajah Ibunya yang sedang tidur. Bela hanya bisa berdoa yang tak lain dengan doa yang dia ucapkan saat di mobil berangkat menuju bandara. Tak terasa, pesawat sudah mulai landas di bandara Internasional. Tulisan besar bandar udara Soekarno Hatta melintas di mata Bela. Orang yang pertama kali melihat bandara Soekarno Hatta pasti kagum dengan luasnya, ramainya maupun kemewahannya. Tetapi bela tidak. Bela tidak merasakan semua itu. Dia sadar kalau sedang berada di bandara udara Soekarno hatta akan tetapi pikiran Bela hanya terbayang kampus pilihan Ibunya.

“Nak, ayo kita melanjutkan perjalanan menuju bandara Adi Sucipto. Sebentar lagi pesawat meninggalkan kota Jakarta. Kamu jangan melamun terus. Apa yang kamu pikirkan? Mulai berangkat dari rumah sampai saat ini kamu lebih banyak diam dan melamun terus”. Ucap Ibunya, yang telah membuyarkan lamunan Bela.
“Solo? Kampus yang selama ini Ibu maksud itu letaknya di Solo?” Sahut bela dengan kaget.
Ibu Bela hanya mengangguk sambil melirik wajah bela yang terlihat agak tidak suka dengan keputusan Ibunya. Dalam pikiran Bela, Solo adalah kota dimana orang-orang yang tinggal disana hanyalah orang yang anggun, lembut dan sangat santun. Mereka masih banyak memegang erat budaya Jawa dan terlihat agak kolot. Apakah aku bisa hidup bersama mereka? Aku serasa mimpi. Dengus Bela di dalam hati. Bela tak henti-hentinya memikirkan kehidupannya di Solo nanti. Sampai akhirnya pesawat sudah landas dan taxi berwarna kuning sudah parkir di gedung yang menjulang tinggi, bela baru sadarkan diri kalau sudah sampai di tempat tujuan yang Ibunya maksud. Dengan menggendong tas ransel besar di punggungnya, Bela mengikuti langkah Ibunya menuju ruangan yang luas tetapi terlihat sempit karena banyak buku-buku tebal yang berjejalan dan sedikit berantakan.

Bela dan Ibunya disambut manis oleh orang yang berada di ruangan tersebut. Bela tidak mendengarkan apa yang diperbincangkan oleh Ibunya dengan orang tersebut. Bela hanya menatap wajah tersebut sekali dan kemudian melihat-lihat keadaan di sekliling ruangan tersebut. Terlihat tulisan-tulisan arab yang terukir indah dan tidak bisa dibaca oleh Bela secara jelas. Hanya saja huruf alif yang tampak jelas. Selain itu juga banyak piala yang berjejer disana. Bela mulai menerka bahwa kemungkinan besar Ibunya memasukkannya ke asrama muslim yang kebanyakan orang menyebutnya pesantren. Hati bela semakin berdegup kencang. Dia tidak habis pikir apa yang akan terjadi dalam hidupnya kalau dia hidup di lingkungan pesantren yang sama sekali tidak pernah dia rasakan. Karena memang dari dulu Ibunya ingin sekali memasukkan Bela ke posentren akan tetapi bela selalu menolaknya. Dan inilah saatnya Bela mengabulkan permintaan Ibunya. Meskipun dengan berat hati untuk melanjutkan sekolah di tempat yang sama sekali bukan tujuan utama Bela. Pilihan Ibunya tepatnya.

“Nak, ini diisi dulu”. Ibu Bela menyodorkan satu lembar kertas.
Bela menggoreskan pena berwarna hitam di selembar kertas pemberian Ibunya. Bela menangis sambil mengisis formulir tersebut sebagai bukti pendaftaran. Rasanya ada sesuatu yang sangat mengganjal di hati Bela tetapi susah untuk diungkapkan.

Selesai mengisi itu, Ibu berpamitan kepadaku untuk pulang ke rumah. Yakni ke kota Padang tepatnya. Tangis Bela semakin parah saat Ibunya memebarikan nasehat banyak kepada anak semata wayangnya itu. Bela hanya bisa mengangguk-angguk sambil mengusap air matanya sesekali. Pelukan Ibu Bela semakin membuat hati Bela sakit. Akan tetapi Bela tetap bisa menahan enosinya karena dia sadar kalau ini adalah kesempatannya untuk menuruti permintaan Ibunya yang sudah berkali-kali bela tolak.

Kini, Ibu Bela sudah tidak terlihat lagi. Sudah melaju bersama taxi bewarna kuning. Sedangkan Bela dinatarkan oleh seseorang yang terlihat anggun dan lemah lembut menuju kamarnya. Kamar yang sangat berbeda dengan kamar Bela di Padang. Sekarang, dia harus menempati kamar yang begitu sempit dan dihuni beberapa orang. Lemari kecil ukuran 2×4 tanpa kaca berjajar rapi disana. Pakaian dan beberapa tas bergantung rapi memenuhi atap ruangan itu. Bela serasa tak bisa bernapas saat berada di dalam ruangan tersebut. Sampai kapan aku diruangan yang sesempit ini? Bernapas saja susah banget apa lagi belajar? Pikir Bela.

Malam pun tiba. Bela tidak bisa tidur senyenyak biasanya. Tidak seperti keempat teman kamarnya. Bela masih teringat Ibunya dan tanah kelahirannya. Dia sama sekali tidak menyangka kalau akhirnya tinggal di tempat yang sempit, dipenuhi oleh orang-orang yang sangat ramah meskipun belum mengenalnya. Di sisi lain, Bela bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk belajar bersama orang-orang yang terlihat sama sekali tidak memilki rasa dendam dengan musuhnya. Bela selalu diajak temannya untuk mengikuti kegiatan di sarama. Dengan senang hati Bela menerima ajakan teman-temannya. Hari demi hari Bela lalui dan sampai pada akhirnya Bela masuk kuliah dan ternyata teman bela di kampus rata-rata teman asramanya juga. Bela semakin akrab dengan teman-temannya karena sering bertemu. Terlintas di benaknya bahwa teman-temannya di rumah selalu menyebut Bela orang yang mudah bergaul, ramah dan baik kepada sesama. Ternyata masih banyak orang yang lebih baik darinya. Yaitu teman-temannya saat ini. Semua yang Bela rasakan di asrama, dia ceritakan kepada Ibunya setiap hari minggu. Karena Bela hanya bisa berkomunikasi dengan Ibunya hari minggu saja. Selain itu, Ibu Bela sibuk dengan pekerjaannya. Setiap mendengar cerita dari Bela, Ibu Bela selalu mengucapkan hamdalah dari seberang sana. Ibu Bela bahagia karena anak semata wayangnya akhirnya senang dengan sekolah pilihan Ibunya. Meskipun pada awalnya agak berat untuk memenuhi permintaannya.

Bulan demi bulan, tahun demi tahun Bela melalui kehidupannya di asrama. Canda tawa dengan teman barunya selalu melekat di benaknya. Dia sudah menganggap temannya sebagai keluarga sendiri. Kehidupan di asarama maupun di kampus dia jalani bersama teman-temannya. Belajar bareng, makan bareng, berbagi cerita bahkan bercanda seperti anak kecil pun Bela lakukan bersama temnnya setiap hari. Terasa berbeda sekali dengan kebiasaan Bela di rumah yang hanya sekolah, belajar dan membantu orangtuanya. Tak terasa kini Bela sudah semster akhir. Yang namanya semster akhir dia rasa enak dan nyaman. Tapi sebaliknya, ternyata program di kampus Bela ini berbeda dengan kampus lain, semua digerebek di semester akhir, tapi Bela tetap menjalaninya. Sampai pada saatnya mengajukan judul proposal penelitian yang akan diajukan untuk skripsi nanti. Tak henti-hentinya Bela mencari dan mencari judul yang pas, penolakan pun Bela rasakan tidak hanya sekali dua kali. Sedih, putus asa, itulah yang dirasakn oleh Bela. Akan tetapi, Bela teringat pada Ibunya. Dia terus berusaha untuk menjadi anak yang kuat. Kekuatan itu Bela dapat dari Ibunya yang meyakinkannya untuk terus maju. Dan alhasil semuanya terjalani judul keterima dan sekarang Bela masih menggarapnya. Semangat itu pasti, do’a itu utama dan keyakinan itu penting. Buat penjemput toga, tidak hanya uang yang bicara tapi otak. Dan semua isi hati serta isi otak dituangkan pada karya tulis yang dinamakn skripsi. Yakin atas kebesaran Allah, semua pasti akan terwujud. Ingatlah bahwa ridho Allah itu terletak pada Ridhonya orangtua.


Cerpen Pendidikan – Yakin Bisa

Hai! Namaku Shafira Maulidya, biasa di panggil Fira. Aku sekarang duduk di bangku SMA, tepatnya di kelas 9. Aku anak sulung dari dua bersaudara. Aku hidup di keluarga yang biasa-biasa saja, dan sekarang ini ekonomi keluargaku sedang terpuruk. Cita-citaku ingin menjadi seorang dokter. Tetapi mungkin cita-citaku ini tidak akan tercapai, karena ekonomi keluargaku yang tidak mendukung. Tidak hanya itu impianku yang ingin kuliah di luar negri pun pupus sudah. Aku tidak ingin menambah beban orangtuaku karena keinginanku. Man Jadda Wa Jadda, semua akan mungkin jika kita berusaha. Tapi aku tidak putus asa, aku yakin bisa.

Bel sekolah berbunyi, teeet.. teet.. semua murid berhamburan masuk dalam kelas.
“Baiklah anak-anak, ibu hanya ingin mengingatkan bahwa besok senin kalian akan menghadapi UNAS, rajinlah belajar agar nilai kalian memuaskan.” kata Bu Rahma.
“Eh, Fir belajar kelompok yuk nanti siang, mau kan?” Tanya Fia. “Ehm, mau di mana?” Tanya Fira. “Di rumahku aja, sekalian kamu ngajarin aku, kamu kan pintar”. “Iyah,” .

Siangnya
“Assalamualaikum, Fia,” kata Fira. Tiba-tiba seseeorang membukakan pintu, itu Fia. “Waalaikumus salam, ayo masuk Fir, tumben telat,” kata Fia. “Iya, tadi aku harus bantuin ibu dulu soalnya, aku lama ya?” Tanya Fira. “Enggak kok,” kata Fia. Aku dan Fia mulai belajar, kami membahas tuntas dan mengerjakan latihan UNAS, kebetulan aku dan Fia sama-sama IPA.

Kami berdua saling berbagi, terkadang Fia mengajariku bahasa Indonesia, karena aku masih kurang dalam pelajaran itu, terkadang aku mengajari Fia Fisika karena masih kurang dalam pelajaran itu, Fia berasal dari keluarga kaya, ayahnya pemilik perusahaan besar. Meskipun begitu, cita-citanya ingin menjadi psikolog. “Hmm, Fir aku mau ambil jurusan apa?” Tanya Fia sambil menulis. “Awalnya sih, kedokteran tapi aku ragu, karena biayanya mahal, kamu tahukan kondisi keluargaku seperti apa,” jawab Fira sambil membaca bukunya. “Eh, kenapa kamu nggak yakin, berusahalah, kamu kan selalu dapat nilai yang terbaik, mungkin kamu bisa kan dapat beasiswa,” kata Fia meyakinkan. “Iyah, sih tapi saingannya banyak banget,” kata Fira. “Coba dulu kali, oh ya ada Pameran Pendidikan hari minggu,” kata Fia sambil meletakkan Pensilnya. “Kita bisa pergi bareng, aku juga mau cari informasi sekolah ke luar negeri” kata Fia.
Aku sangat tertarik dengan apa yang dikatakan Fia tadi, kenapa ya aku nggak pikirin sejak awal. Aku ingin sekali mewujudkan cita-citaku ini, aku ingin memperbaiki ekonomi keluargaku.

Senin. Aku berangkat ke sekolah dengan membawa tasku. Aku sudah berusaha belajar dan berdoa, aku ingin tunjukkan aku bisa. Saat mengerjakan, aku berusaha teliti dan memahami soal yang aku anggap sulit, setelah selesai aku periksa lagi pekerjaanku. UNAS mungkin menjadi hal menakutkan bagi sebagian siswa, tapi aku tidak putus asa, aku sudah mempersiapkannya sejak awal.

Hari terakhir UNAS. Hari terakhir, aku ingin buktikan bahwa selama ini aku bersekolah tidak sia-sia. Aku kerjakan soal-soal ini dengan mudah.

Hari Minggu. Aku sedang menunggu mobil Fia, hari ini katanya dia akan menjemputku untuk menghadiri Pameran Pendidikan, sudah jam Sembilan dia belum datang juga.
Ada sebuah mobil berhenti di depan rumahku, kulihat di dalamnya ada seorang perempuan yang sedang melambaikan tangan ke arahku, itu Fia. “Fiaa!!” aku memanggilnya, aku berlari ke arah mobil itu, dia lalu membukakan pintu. “Maaf ya lama” kata Fia. “Nggak apa kok,”. Mobil kami pun melaju menuju tempat pameran. Tak lama kemudian kami sampai di tempat Pameran, ramaii sekali. Ternyata tempatnya di Hotel, Pameran pendidikan internasional. Aku dan Fia masuk dan mencari informasi tentang kuliah kami.

  Cerpen Remaja

Lama kami mencari, akhirnya Fia mendapat informasi jika ada jurusan Psikologi di Universitas Collage London, biayanya pun fantastis, sekitar tiga ratus juta, tapi tak menjadi masalah untuk Fia karena keluarganyanya yang kaya raya. Sedangkan aku, aku hanya mengikuti Fia, aku malu. Setelah itu Fia menjakku untuk mencari informasi jurusan Kedokteran, dan kami menemukan informasi jurusan kedokteran di Harvard Medical School, ketika Fia bertanya biaya kuliahnya, aku tercengang biayanya mencapai 720 juta, tetapi ada beasiswa bahkan rata-rata mahasiswanya mendapat beasiswa, aku tertarik dan akan mengikuti tes TOEFL dan IELTS sebagai syaratnya, tesnya diadakan sau minggu lagi, Pengumuman nilai UNAS ternyata besok aku berharap semoga nilaiku baik.

Keesokannya, aku mencari namaku di daftar siswa yang lulus, dari atas sampai bawah. Dan ternyata aku LULUS, nialiku pun paling tinggi sesekolah dengan nilai 58,90, aku mendapat nilai sepuluh untuk mata pelajaran Matematika, Fisika, Kimia dan Bahasa Inggris, begitupun dengan Fia, dia lulus dengan nilai bagus yaitu 55,30 dia mendapat nilai sepuluh untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia. Aku sangat senang, impianku untuk menjadi Dokter akan terwujud.

Seminggu kemudian, aku meningikuti TES, jumlah siswa yang ikut pun banyak sekali dan berbeda jurusan, karena TES ini menjadi syarat kuliah di luar negeri. Tesnya terdiri dari reading, listening, speaking dan writing. Aku optimis karena sudah lancar berbahasa inggris. Beberapa hari kemudian hasil tes diumumkan, aku senang sekali, karena nilaiku sudah memenuhi untuk kuliah di luar negeri, aku mendapat nilai untuk TES TOEFL 530 dan IELTS 7,5. Cita-citaku tercapai, aku sekarang akan kuliah di Harvard University di Fakultas Harvard Medical School, kampusku merupakan kampus kedoteran terbaik sedunia.

Empat Tahun kemudian aku lulus dengan IPK cumloade 4,00. Rata-rata mahasiswa di sini mendapat IPK 3,93, akupun memutuskan untuk menjadi Dokter di Indonesia agar tidak jauh dari keluargaku. Tidak sampai aku melamar ternyata banyak sekali tawaran untuk menjad Direntur di rumah sakit terkenal, aku mengambil tawaran di Rumah sakit yang dekat dengan rumahku. Cita-cita dan impianku sekarang terwujud berkat kerja keras dan dukungan dari sahabatku Fia, dan ini semua tidak lepas dari kehendak Allah. Aku kehilangan kontak dengan Fia, karena keluarganya pindah ke Jakarta. Aku mengotak-atik handphoneku, dan berusaha menemukan nomor Fia. Ternyata masih ada nomornya. Aku berusaha menelpon tapi nomornya mati. Aku bertanya pada salah satu tetangganya, dan kata tetangganya dia sekarang kuliah di Inggris, aku ikut senang sekali, ternyata sahabatku pun berhasil. Allah tidak akan merubah nasib hambanya jika hambanya sendiri yang akan merubahnya, ingatlah jika kamu berusaha dan yakin kamu pasti bisa, kamu akan meraih yang kamu inginkan. Kamu juga tidak putus asa dan Pantang menyerah, Yakinlah kamu bisa. Kamu akan berhasil meskipun keadaaan yang tidak mendukung. Belajarlah dari kesalahmu. Sukses tidak bisa diubah dengan harta, tetapi harta bisa di ubah dengan sukses, sukses adalah kumpulan dari kerja keras kita, If you born poor is not your mistake, but If you die poor it is your mistake. Segala sesuatu akan indah pada waktunya.


Cerpen Pendidikan – Keep Action Guys

Rasanya merinding melihat raut muka Miss Fika dengan matanya yang melotot. Terlebih lagi ketika setumpuk soal Matematika berada di tangan beliau. Ini akan menjadi hal terburuk bagi kami, seperti yang tengah kami rasakan sekarang.

Miss Fika nampaknya lelah mengajar Matematika di kelas kami, kelas 5C. Sebenarnya kami juga lelah mempelajari mata pelajaran yang satu ini. Tetapi, bukannya Miss Fika meniadakan pelajaran yang menyiksa itu, tapi malah MEMBERIKAN ULANGAN MATEMATIKA KEPADA KAMI SETIAP HARI!!! Saking pusingnya, terkadang Miss Fika memberikan ulangan kepada kami dua kali sehari. Haduh …

Setiap kami mengeluh, dengan sifatnya yang sangar itu beliau selalu mengucapkan kalimat yang sama, “Kalian itu sudah kelas lima, sebentar lagi kelas enam. Kalian harus belajar sungguh-sungguh! Kalau nilai kalian jelek, nanti saya juga yang rugi, kan?”
Kami juga tahu kalau sebentar lagi kami akan naik ke kelas enam. Dan kalau nilai kami jelek, biarlah Miss Fika sendiri yang rugi. Fine, kan?

“Andi! Tolong bagikan soal dan lembar jawab ulangan ini!”
Oh my God. Miss Fika sudah memanggil Andi, Sang Ketua Kelas. Aku menghembuskan napas, lesu dan tidak bersemangat.
“Matematika lagi. Setiap hari pasti ada pelajaran Matematika! Bukankah ada mata pelajaran lainnya?” Keluh Lina, deskmate-ku.
“Iya, ya. Mengertilah, Miss. Kita sudah muak dengan pelajaran ini!’ Sahutku.
“Aku setuju dengan pendapatmu, Nessa,” ujar Lina.
Kami terlalu asyik menggerutu hingga tak sadar bahwa kertas soal ulangan beserta lembar jawabnya sudah menunggu di meja kami.
“TIDAAAK!!!”

Aku berdiam diri di meja belajarku. Mungkin banyak yang mengira aku tengah belajar malam ini. Salah besar. Kini aku tengah chattingan dengan Lina, deskmate sekaligus soulmate-ku. Padahal, biasanya aku chattingan dengan Lina sesudah belajar, lho!
Cklek! Seseorang membuka pintu kamarku. Aku semakin tak menghiraukan kehadiran orang tersebut, saat mengetahui bahwa orang itu adalah Nayla, kakakku.
“Nessa, kamu tidak belajar?” Tanya Kak Nayla.
“Memang tidak,” ujarku. Aku tak berpaling dari handphone-ku.
“Kenapa?” Tanya Kak Nayla. Kurasa ia terlalu prihatin dengan semangat belajarku. Tapi aku memang sudah jenuh.
“Aku jenuh, Kak. Aku ingin pemandangan lain selain angka-angka dan berbagai rumusnya,” ungkapku.
“Siapa yang selalu membebani hidupmu dengan berbagai soal Matematika?” Kak Nayla nampak sangat ingin tahu.
“Miss Fika,” jawabku singkat, dan berpaling lagi ke arah handphone-ku.
“Miss Fika?” Kening Kak Nayla berkerut. “Apa aku tak salah dengar? Apa kau mengigau? Kurasa, Miss Fika adalah guru terbaik yang pernah ada seumur hidupku,” ungkapnya.
“Mungkin terbaik saat tahun ajaran Kak Nayla. Tapi, sekarang beliau beda, Kak! Kurasa beliau sangat lelah mengajar Matematika di kelasku. Aku kira, pelajaran Matematika akan segera dimusnahkan. Tapi, dugaanku meleset! Beliau justru memberikan ulangan setiap hari,” jelasku.
“Hm, menurutku, itu memang metode belajar yang kurang efektif,” gumam Kak Nayla. Dia memang sangat memperhatikan perihal belajar-mengajar. “Ah! Kakak teringat sesuatu!” Serunya tiba-tiba.
“Apa, Kak?” Tanyaku.
“Seingatku, Miss Fika akan bangga dan menghentikan kekerasan pada murid-muridnya jika beliau melihat anak didiknya berhasil, meski hanya satu anak saja,” kata Kak Nayla.
“Jadi?” Tanyaku.
“Hhh …. Bisakah kau peka sedikit?” Tanya Kak Nayla. “Cara yang paling tepat untuk mengusir kejenuhanmu dan teman-temanmu bukanlah berhenti mempelajari Matematika,”
“Apakah aku justru harus giat belajar Matematika?” Tanyaku.
“Tepat!” Pekik Kak Nayla. “Miss Fika pasti sangat bangga jika nilai Matematikamu bagus. Dan akan menjadi usaha yang lebih baik lagi apabila beliau menghentikan pemberian ulangan itu!”
“Itulah yang paling kuinginkan selama ini!” Kataku. Wajahku berangsur-angsur cerah, baru saja mendapatkan inspirasi.
“Nah. Oleh karena itu, giatlah belajar, terutama belajar Matematika. Belajar itu tidak hanya untuk Miss Fika, tapi juga untuk dirimu sendiri!” Kak Nayla menyemangatiku.
“Hm!” Aku mengangguk. Ingin aku segera belajar untuk memperbaiki nilai-nilai jelekku.
“Ingat, ini adalah misi rahasia. Kau harus menjadi pahlawan bagi teman-temanmu!” Kak Nayla mengedipkan matanya. “Baiklah, kurasa ini saatnya untuk kembali ke kamarku. Good luck!”
“Daah!” Seruku. Setelah Kak Nayla pergi, aku mengambil bukuku. Tapi, aku mengurungkan niat belajarku karena ternyata sekarang sudah jam sepuluh malam. Aku harus tidur.

Hari demi hari, aku merasa saran Kak Nayla benar-benar berguna untuk hidupku. Aku menerapkan saran Kak Nayla, dan kata-kata Kak Nayla ternyata memang benar. Miss Fika benar-benar bangga dengan nilaiku yang semakin meningkat, dan akhirnya beliau meniadakan lagi ulangan Matematika setiap hari! Yeay!! Aku dan teman-temanku benar-benar gembira.

Dan inilah masa-masa paling menegangakan: Ulangan Kenaikan Kelas.
Miss Fika tak terlihat sangar lagi, justru wajah beliau cerah berseri. Beliau membagikan soal dan lembar jawab kepadaku, sedangkan aku tidak begitu cemas lagi. Aku tak menghiraukan perasaan teman-temanku.
Aku mengerjakan soal itu dengan teliti dan jujur. Setelah itu, tak lupa kuteliti lagi jawabanku. Setelah selesai, aku mengumpulkannya.

Minggu demi minggu, hari demi hari, jam demi jam, menit demi menit, dan detik demi detik aku menunggu hasil dari usahaku dalam mengerjakan soal itu. Dan aku mendapat jawaban dari ketidaksabaranku hari ini.
“Andi 75, Lina 70, Elyza 80, Irma 65, Rayhan 60, Rayna 84, Susan 90,” Miss Fika menyebutkan nilai setiap murid. Tetapi, aku belum mendengae Miss Fika menyebutkan nama dan nilaiku.
“Nilai tertinggi lagi-lagi diraih oleh Khairunissa Alliya Nessa, dengan nilai sempurna, 100!” Pekik Miss Fika.
Baru pertama kali aku mendapat nilai sempurna dalam mata pelajaran Matematika. Aku benar-benar tersentak, hingga tubuhku beku, kaku, dan dingin.


Cerpen Pendidikan – Inikah Arti Semuanya

Aku kembali melihat album foto berdebu yang di sana terdapat foto kami. Andai semua tak terjadi begitu cepat. Pasti sekarang kita masih berkumpul bersama. Andai kau masih ada di sini sekarang. Pasti kau akan bangga melihatku. Andai Tuhan tak mengambilmu. Andai waktu dapat diputar lagi. Andai kau tak melakukan hal bodoh yang dapat mencelakakan dirimu sendiri. Tapi, ini sudah takdir. Kita tak dapat menolak kuasa Tuhan yang telah mengambilmu dari keluarga sempurna ini.

Flshback
Aku berjalan menyusuri jalan setapak yang kini telah becek karena semalam hujan lebat. Perlahan, aku mendengar sayup sayup seseorang tengah memanggilku. Ayah.
“Kak…” Panggil ayahku. Sontak aku pun segera berbalik. Segera kusalami tangan kasar itu.
“Kakak gimana tadi sekolahnya? Gak ada masalahkan?” Tanya ayah sambil berusaha mensejajari langkahnya denganku.

Aku membuang napas berat. Mengapa pertanyaan sekolah yang harus ayah lontarkan? Aku tidak mungkin mengaku kalau aku belum membayar iuran sekolah. Itu malah memperburuk keadaan. Ya. Memang aku tinggal di keluarga tak mampu. Aku mempunyai 6 orang adik yang mana 3 adikku sudah menginjak SMP. Sedangkan yang 2 masih SD. Adikku yang masih kecil belum sekolah. Ayah memang kepala keluarga di bantu denganku. Ibu telah lama meninggal sejak 2 tahun yang lalu melahirkan anaknya yang juga adikku.

“Yah… Aku boleh ikut ayah jualan gak? Aku gak usah sekolah gak apa apa… Boleh ya…”
“Gak boleh gitu nak. Pendidikan itu penting. Kamu jangan kayak ayah yang hanya tamatan SD. Kamu sekarang SMA saja ayah bangga. Kamu harus melanjutkan sekolahmu sampai sarjana. Ayah yakin kamu pasti bisa.”

Aku menimang nimang kata kata ayah. Bisa? Mustahil. Aku saja hampir dikeluarkan karena tak membayar iuran. Mana mungkin aku bisa sampai sarajana?

“Yah… Ayalah. Aku gak mau ayah sendiri terus yang kerja. Aku mau bantu ayah. Pasti ayah capek kan? Udah gak apa apa. Masalah sekolah bisa nanti. Boleh ya…” Pintaku.

Ayah tersenyum mendengar ucapanku.

Sejak aku berhenti sekolah, aku membantu ayah dengan mencari pekerjaan di toko. Alhamdulillah. Walaupun hanya menjadi tukang bersih bersih, aku sudah sangat bersyukur. Tak apa aku tak sekolah. Yang penting, aku mau adik adikku tak sepertiku. Aku mau adikku sukses.

2 tahun telah berlalu dengan sangat baik. Hari ini aku pulang dari toko tempatku bekerja ke rumah yang selama ini memberi kehangatan tersendiri untukku dan adikku.
“Assalamu’alaikum…” Ucapku sambil menenteng sepatu yang sudah tak berbentuk sepatu lagi kemudian masuk.
“Waalaikum salam…” Jawab adik adikku yang sedang belajar di ruang depan.

Kulihat kelima adikku menyalami tanganku.
“Kakak. Tadi aku di sekolah ulangan dapet seratus dong…” Ucap adik laki lakiku yang berumur 10 tahun.
“Iya? Wah pinter adik kakak…” Kataku sambil berjongkok mensejajari tinggi kami kemudian mengelus rambutnya.
“Iya dong… Kakaknya pinter adeknya juga harus pinter!” Ucap Mia yang sekarang menginjak SMP kelas 3.
“Kak. Kok bang Ardi belum dateng?” Tanya Sella adikku nomor 2 yang sekarang telah SMA.
“Iya kak. Ayah juga belum…” Ucap Vivin.
“Iya? Mungkin kak Ardi lagi tambahan pelajaran kali di kampusnya…” Kataku menenangkan.
“Kalo ayah? Harusnya sekarangkan udah pulang…” Ucap Mia.

Iya ya… Kok ayah belum pulang? Perasaan gelisah, takut, dan sedih menyelimutiku. Tiba tiba,

BRAKK!

Ardi mendobrak pintu sangat keras. Sehingga membuatku terlonjak kaget.

“Ardi! Bisa gak sih buka pintu pelanan dikit? Kalo pintunya rusak gimana? Udah tau kita orang miskin…” Ucapku yang masih setengah kaget.

Kulihat raut muka Ardi panik dan takut.
“Kak…”
“Kenapa?”
“Ayah kak…”
“Ayah kenapa kak Ardi?” Tanya Risa.
“Ayah kecelakaan…”

Mulutku terbuka lebar. Jantungku terpompa sepulih kali lebih cepat. Tentu aku sangat kaget dengan berita ini.

“Mak-maksud kamu apa?” Tanyaku tak kalah panik dengan Ardi.
“Ayah sekarang di rumah sakit Carita. Ayo kak… Kita pergi. Aku gak mau terjadi apa apa…”

Tak ada waktu lagi untuk bersiap siap. Ini masalah nyawa. Aku gak mau terjadi apa apa dengan ayah.

Ketika keluar, aku kaget dengan adanya mobil mewah berwarna merah terparkir rapi dengan seorang di dalam mobil itu.
“Ayo naik kak…” Ajak Ardi sambil membukakan pintu. Baru mau aku bertanya, Ardi sudah membuka mulutnya.
“Nanti aku jelasin.” Ucap Ardi.

Sesampainya di rumah sakit, aku segera ke UGD tempat ayah dirawat. Di depan UGD, kulihat laki laki dan wanita paruh baya sedang menangis. Mereka siapa?

“Dek, maaf. Saya Lila. Dan ini Bram suami saya. Saya mohon maaf. Ayah adek tertabrak truk ketika dia ingin menolong saya. Saya minta maaf. Saya akan menanggung semuanya.”

Ucapan Bu lila tak kujawab. Aku hanya dapat menangis meratapi nasibku ini. Mengapa ini bisa terjadi?

Seorang dokter keluar dari ruang ayah dirawat. Aku sungguh tak kuat mendengar jawaban dokter.
“Bagaimana keadaan ayah saya dok?!”
“Saya sudah berusaha sekuat tenaga. Tapi, mungkin ini sudah takdir. Ayah anda tak terselamatkan. Saya mohon maaf.”

Hatiku hancur. Tangis yang kubendung seketika pecah. Aku tak dapat menerima kenyataan ini. Mengapa ayah pergi? Sekarang, sudah tak ada lagi sosok orangtua di sampingku. Bagaimana nasibku dan nasib adikku? Bagaimana aku harus menutupi kekurangan hidup keluargaku? Aku hanya terus menangis. Mengapa Tuhan vegitu jahat mengambil ayah? Mengapa harus sekarang?

Aku berjalan menyusuri lorong kampus yang sekarang sudah menjadi sekolahku. Semua mata memandangku takjub.

Setelah kepergian ayah 6 tahun lalu, aku tinggal di keluarga bu Lilla dan pak Bram yang saat itu membantuku. Bu lila mengambilku dan semua adikku untuk diasuh sebagai anaknya.

Semua adikku telah sukses. 2 adikku yang pertama telah berkeluarga dan tinggal di luar negeri. Aku juga meneruskan pendidikanku yang dulu tertunda dan sekarang aku telah mendapat gelar S2. Aku juga mendirikan sekolah untuk anak yatim-piatu dan kurang mampu.

Inikah arti semuanya? Inikah arti rencana Tuhan kepadaku dan keluargaku? Ayah… Seandainya kau ada di sini. Pasti kau sudah bangga. Ayah… Kau sudah menjadi contoh kepadaku dan semua adikku. Ayah… Kutau kau memang tak sempurna. Tapi, kau adalah pahlawan bagiku dan keluargaku. Kau pergi karena membantu seseorang. Kau korbankan nyawamu. Aku bangga padamu ayah…


Cerpen Pendidikan – Kartu Atm

“Sekarang pakai kartu ATM kalian!”, perintah Bu Nisa, guru Agama kami.

ATM itu singkatan dari Aku Tidak Menyontek. Untuk mendapat kartu itu kita harus mematuhi sebuah peraturan, yaitu tidak menyontek. Kartu ATM dipakai saat ulangan dan saat latihan. Tapi, aku tidak mempunyai kartu ATM, karena aku orangnya tidak pintar dan malas belajar.

Akhirnya, ulangan pun dimulai. Aku mengerjakan soal-soal itu. Tapi, nomor 1, 3, 4, 7 dan 9, aku kesulitan. Kulihat ke sampingku untuk bertanya. Sayangnya ia memakai kartu ATM. Kulihat ke arah lain. Mereka juga memakai kartu ATM. Bu Nisa tersenyum melihatku. Akhirnya, aku pun bertanya ke Varia dengan mengancam kalau tidak jawab, ia tidak akan boleh pulang denganku. Tapi, ia menunjukkan kartu ATMnya. Aku mulai merasa kesal. Aku pun menjawab soal itu dengan asal-asal.

Saat Pulang…
Aku langsung berlari ke mobil Ayah. Aku biarkan Varia mencariku. Biarin aja dia mencariku. Siapa suruh ia tidak memberiku jawaban. Aku pun memasuki mobil Ayah. Kak Fani, kakak perempuanku, sudah berada di dalam mobil.

“Varia mana, Len?”, tanya Ayah. “Mana aku tahu”, ucapku sambil melihat ke arah Ayah. “Kita tunggu aja, ya”, kata Ayah.

Aku benci mendengar Ayah berkata begitu. Kulihat Varia membuka pintu mobil dengan muka pucat dan penuh dengan keringat.

“Kamu kenapa tinggalin aku, Len?”, tanya Varia. “Siapa suruh tadi kamu begitu”, ucapku dengan suara sedikit kasar. “Varia, kamu pakai kartu ATM juga?”, tanya Kak Fani. “Iya, Kak”, jawab Varia. “Kakak juga ada”, kata Kak Fani sambil menunjukkan kartu ATMnya. “Kartu ATM itu apa?”, tanya Ayah.

Kak Fani dan Varia menjelaskan kartu ATM kepada Ayah. Aku hanya terduduk diam memandangi jendela. Setelah selesai menjelaskan, Ayah pun mengerti.

“Wah… Helen ada?”, tanya Ayah. “Nggak ada, Yah”, jawabku menundukkan kepalaku. “Kamu tahu, gak, Len? Kalau ikut ATM, kita akan dapat kelebihan, loh”, kata Varia sambil menyodorkan sebuah kertas. “Wah… Aku mau ikut, Var. Besok aku daftar, deh sama Pak Stanlius. Kamu temeni aku, ya, Var”, ucapku tersenyum setelah membaca kertas itu. “Ok”, kata Varia.

SELESAI


Cerpen Pendidikan – Perjuangan Seorang Gadis

Mengingatkanku pada sebuah perjuangan seorang gadis yang ingin menggapai impiannya kala itu. Tepat setahun yang lalu..
Ia baru saja lulus SMA. Seperti siswa pada umumnya, ia ingin melanjutkan pendidikannya ke bangku kuliah. Semua memberi pendapat. Keluarga, sahabat, guru hingga orang yang mungkin belum ia kenal sebelumnya.
Dalam hatinya ia berkata Apa yang harus aku lakukan? Mana yang harus aku dengar? Mana yang harus aku ikuti? Semua ini membuatku bingung dan muak

Libur panjang setelah pengumuman ujian telah tiba. Ia dinyatakan lulus. Namun kata “lulus” saat itu belum memberinya angin segar. Waktu terus bergulir hingga waktu pengumuman seleksi jalur rapor tiba. Tulisan warna merah dengan kata “maaf” yang tertera. Ya, ia gagal melalui jalur itu.
Hatinya makin bergejolak melihat teman-temannya yang sudah lolos tahap itu. Masih ada jalur ujian tertulis yang menunggunya. Ia menunggu dengan secuil harapan yang tersisa.
Sembari menunggu waktu ujian tertulis tiba. Ia mencari informasi beberapa perguruan tinggi swasta yang sudah membuka pendaftaran. Ada satu perguruan tinggi swasta yang menarik minatnya. Ia merenung dan memikirkan apa yang harus ia lakukan.
Aku bilang ke Ibu aja kali ya

“Bu, apa kuliah itu harus di negeri ya? Kalo swasta gimana?” Tanyanya kepada ibunya
“Ya gak harus, tapikan kalo negeri bisa gampang cari kerja dek”
“Ibu sama ayah pengen aku masuk jurusan apa emangnya?”
“Ibu sama ayah sih pengennya kamu di Biologi Murni atau Kedokteran Hewan dek. Biar sesuai sama jurusan kamu sekarang. Kan kamu dari IPA”
“Oh, iya buk. Biar aku pikirin dulu”
Ia kembali ke kamarnya dan merenung

  Cerpen Perpisahan

Apa? Biologi murni? Dokter hewan? Aku gak pengen itu semua. Aku merasa gagal di jurusanku sekarang, dengan hasil ujianku yang semua nilainya pas-pasan. Andai ibu bapak tau apa yang aku rasakan saat ini. Aku bingung. Aku muak menjadi boneka yang selalu diam.

Ia membuka web mengenai perguruan tinggi swasta yang menarik minatnya kemarin.
Entah apa yang membuatku tertarik denganmu, hingga aku berkali-kali membuka web ini. Seperti ada magnet yang menarikku dan aku seperti melihat jiwaku disana. Aku ingin mencoba tes masuk perguruan tinggi swasta ini.
Ia mulai mengumpulkan keberanian untuk mengatakan kepada kedua orangtuanya. Bahwa ia ingin mencoba tes masuk perguruan tinggi swasta itu.

Di ruang keluarga, ia menghampiri kedua orangtuanya..
“Bu, yah aku ingin mencoba tes masuk perguruan ini”
“Ini di Bandung kan ya? Apa gak kejauhan?” timpal ayahnya
“Iya yah, ini di Bandung. Gak papa kan? Biar aku juga belajar mandiri”
“Mau ambil jurusan apa disini?” sahut ibunya
“Aku pengen ambil jurusan yang gak ada IPAnya buk”
“Loh bearti mau ambil jurusan IPS?” kata ayahnya
“Iya yah. Aku rasa pilihanku di IPA kemarin salah, kemarin di SMA aku udah nurut ayah sama ibu buat masuk jurusan IPA. Tapi di bangku kuliah ini, aku mohon. Aku pengen milih jurusan yang benar-benar aku inginkan, bukan karena ibu, ayah atau siapapun”
“Ya sudah, ibu dan ayah setuju aja asal kamu seneng” kata ibunya
Persetujuan dari kedua orangtuanya membuat gadis itu semakin bersemangat. Setiap hari ia belajar demi tes yang akan ia hadapi. Sampai suatu hari..

“Ibu, kalo aku di Bandung bakalan di tengok gak?”
“Siapa yang mau ke Bandung? Masih ada kesempatan buat ujian tertulis. Ibu mau kamu kuliah yang deket aja”
Kata-kata itu membungkam mulutnya. Ia tertegun dan hanya diam mendengar perkataan ibunya. Semangat yang sudah dibangun seakan roboh dan hancur berantakan.
Apalagi ini? Liburan panjang atau penyiksaan panjang? Sesak rasanya. Aku kehilangan oksigen untuk bernapas walaupun di sekelilingku penuh dengan oksigen.

Di sebuah chatroom, ada seseorang yang memberinya semangat untuk menjalani tes masuk tersebut. Ya dia teman yang baru ia kenal.

“Gimana ya, aku serasa pesimis buat tes besok”
“Jangan pesimis dong, ayo semangat. Tetep dijaga ya semangatnya. sampai ketemu di Bandung..”

Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari hingga tiba waktu untuk tes masuk perguruan tinggi swasta itu.
“Ibu, ayah, aku berangkat dulu ya. Do’ain tesnya lancar”
“Iya, ibu sama ayah do’ain yang terbaik buat kamu” jawab ayahnya
“Ibu harus ikhlas ya aku kuliah di Bandung, biar nanti tesnya juga lancar kalo ibu udah ikhlas. Ini yang aku mau bu, aku harap ibu bisa ngerti”
“Ibu ikhlas, asal kamu seneng”
Setelah berpamitan dengan kedua orangtuanya. Ia bergegas berangkat untuk mengikuti tes masuk.

Tes masuk telah usai. Ia menunggu dengan cemas
‘Gimana kalo aku gak lolos? Aku udah pengen banget masuk perguruan tinggi ini. Kalau aja pengumumannya sebelum tes tertulis. Aku gak mau ikut tes tertulis lagi’.
Hatinya semakin gelisah dan rasa pesimis semakin menggerogoti semangatnya.

“Ibu, kalo seandainya aku gak lolos semua gimana ya?”
“Masa sih, putri ibu gak ada yang lolos. Pasti ada yang lolos kok”

Tes tertulis tiba, ia berangkat dengan setengah hati. Saat berpamitan dengan ibunya ia berkata
“Ibu, sejujurnya aku udah gak pengen ikut tes ini lagi. Aku berharap untuk tidak lolos seleksi ini”
Menunggu adalah sesuatu yang menyebalkan. Begitu pula yang dirasakan oleh gadis ini.
Di ambang ketidakpastian..
Ia selalu berdo’a dan memohan yang terbaik untuknya. Harapannya hanya satu. Ia ingin lolos tes masuk bukan tes tertulis. Gelisah mulai menjadi-jadi. Hari-hari yang ia lewati penuh dengan ketidakpastian. Hingga tiba pengumuman tes masuk.
Aku yakin aku lolos, pasti lolos

Tulisan berwarna hijau dengan kata “selamat” tertera di web perguruan tinggi swasta itu. Seperti bangkit kembali dan bisa bernapas dengan lega. Kabar gembira ini ia beritahukan kepada kedua orangtuanya. Kedua orangtuanya merasa senang melihat senyum di wajah putrinya. Kini ia tak menghiraukan hasil tes tertulis lagi. Lolos atau tidak, ia akan tetap memilih perguruan tinggi swasta itu.

Sudah terhitung dua semester ia menimba ilmu di perguruan tinggi swasta itu. Ia merasa menemukan jati dirinya disana. Ia juga mendapat teman-teman yang menyayanginya dan dapat mengikuti pelajaran dengan baik.

This is me..

Sejatinya kita kuliah dimana pun itu sama saja. Jangan merasa rendah apabila kuliah di swasta, begitu sebaliknya jangan merasa tinggi kuliah di negeri. Timbalah ilmu sesuai dengan keinginan dan kemampuanmu. Kuliah tak lagi sama dengan SMA, apalagi jika merantau. Terpaan angin di luar akan semakin kencang. Carilah jati dirimu disana, buat dirimu senyaman mungkin menghadapi kehidupan yang kian lama kian keras ini. Ikuti kata hatimu dan apabila rencanamu belum berjalan, yakinlah rencana-NYA sedang berjalan..

TAMAT


Cerpen Pendidikan – Akhir Hayat Sang Honorer

Suasana pagi itu tak seperti biasanya, rumah yang sepi kini mendadak menjadi ramai. Banyak mobil-mobil mewah yang hilir mudik ke sebuah rumah kecil yang terbuat dari ayaman bambu. Tak ada sedikitpun kemewahan yang terlihat dari rumah yang berdiri di ujung kampung itu.

Seorang wanita tua sedang duduk di tikar dengan deraian air mata. Sementara di sampingnya tetangga mencoba menenangkan agar Sunarti tetap tabah dan tegar. Sebentar lagi pemakaman akan segara dilaksanakan. Pemakaman jasad suami yang amat dicintainya yang telah lima puluh tahun lebih bersamanya.
Pemakaman dilakukan dengan begitu hikmat banyak dari kalangan pejabat yang datang untuk mengucapkan belasungkawa. Berbagai bunga berderet di depan rumah. Bahkan dari orang nomor satu di negeri ini juga turut mengucapakan belasungkawa meskipun hanya dengan ucapan dari bunga hias.

Sunarti tak pernah berfikir kalau sore itu adalah pembicaraan yang terakhir antara dirinya dengan suami yang amat dicintainya. Tak pernah ada tanda-tanda yang diperlihatkan oleh suaminya kalau dia akan meninggalkan dirinya lebih dulu. Walaupun beberapa hari ini suaminya sering mengeluh kalau selalu ingin tidur. Namun tak disangka kalau semua itu adalah petanda ia akan pergi. Sunarti berpikir kalau semua yang dialami suaminya lantaran umur yang sudah tua dan pekerjaan yang semakin berat.

Sudah seringkali Sunarti membujuk suaminya untuk berhenti bekerja saja. Namun semua itu tak pernah didengar oleh suaminya. Dengan dalih mengabdi kepada bangsa pak Jamal enggan mengajukan pensiun meskipun sebenarnya umurnya tak muda lagi. Tapi begitulah watak pak Jamal, jika sudah mempunyai tekad maka tak ada yang mampu menceganhnya. Bukan hanya umur yang semakin tua akan tetapi penyakit Jantung yang kian parah yang membuat Sunarti sering memarahinya.

Sore itu pak Jamal baru saja pulang dari tempat kerjanya di SD yang sudah tiga puluh tahun lebih dirintisnya. Meskipun sebagai guru senior pak Jamal sampai sekarang belum diangkat menjadi pegawai negri sipil (PNS) seperti yang diimpikan oleh istrinya. Bermodalkan keihlasan pak Jamal senantiasa memberikan segala ilmu yang dimilikinya untuk semua anak-anak di sekolahnya. Banyak anak didiknya yang kini sudah menjadi orang yang sukses menjadi pengusaha, DPR, Mentri, Dokter, dosen dan masih banyak lain itulah yang menjadi kebanggaan pak Jamal.

“Assalamualaikum” Pak jamal memasuki rumah yang hanya berukuran lima kali enam meter. Sudah hampir lima puluh tahun sudah pak Jamal menempati rumah yang teramat sederhana. Tak ada barang yang mewan di dalamnya melainkan hanya sebuah kursi yang tua yang hampir habis dimakan rayap. Di pojok kanan sebuah lemari ukir khas Jawa masih berdiri tegak. Disanalah disimpannya berbagai kenangan dan penghargaan sebagai seorang guru teladan. Berbagai penghargaan telah diterimanya mulai dari tingkat kota sampai penghargaan dari Presiden.

Penghargaan yang sangat dibanggakan adalah saat ia bisa bertemu sang Presiden dan dapat bersalaman langsung dengan presiden. Penghargaan sebagai tokoh perubahan di dunia pendidikan yang membawa namanya sepat melejit di berbagai media masa maupun media elektronik. Setiap pulang dari tempat kerjanya ia selalu mengelus-elus penghargaan itu lanyakanya anak sendiri.

“Walaikumusalam” Jawab Sunarti seorang wanita yang senantiasa menemani perjuangan pak Jamal. Sudah hampir lima puluh tahun wanita itu menemani pak Jamal dalam keseharianya. Sunarti menjadi penyemangat disaat Pak Jamal sedang sedih.

“Tumben jam segini sudah pulang pak” tambah Sunarti yang sedang asik menenun. Seperti wanita pada umumnya Sunarti setiap hari hanya menenun kain. Namun itu bukan kain miliknya, Sunarti hanya bertugas menenun ketika sudah selesai maka akan ada yang mengambil hasil tenunannya. Ya sunarti hanya memperoleh upah 50 ribu. Lumanyan untuk menambal kekurang dan sedikit menghidupi agar dapur tetap bisa berasap. Dalam satu bulan Sunarti paling hanya mampu menenun dua buah saja. Paling banyak tiga buah per bulan. Namun semenjak matanya sudah tak senormal dulu Sunarti tak selincah dulu.

“Ya bu bapak ijin pulang lebih awal badan bapak tidak enak bu, sejak semalam rasanya mau tidur terus” Jawab Pak jamal

“Bukanya ibu sudah bilang sudah bapak mengajukan pensiun saja. Bapak sudah terlalu tua dan sering sakit-sakitan, biarlah para pemuda sekarang yang meneruskan perjuangan bapak” Balas Sunarti

“Tidak bisa bu sudah menjadi kewajiban bapak untuk tetap mengabdi” Jawab Pak Jamal

“Mengabdi sih mengabdi pak tapi ingat kondisi dan umur pak” Tegas Sunarti

“Memangnya kalau umur bapak sudah tua tidak boleh mengabdi kepada bangsa bu” Jawab pak Jamal yang masih asik memegang penghargaan yang pernah diberikan oleh presiden.

“Dari dulu bapak selalu bilang seperti itu mengabdi untuk bangsa dan negara. Sekarang ibu tanya pak apa yang telah negara berikan untuk bapak. Sudah Tigapuluh tahun lebih bapak mengabdi belum juga diangkat menjadi pegawai Negeri. Padahal bapak juga yang merintis sekolah sampai menjadi sekolah yang besar seperti sekarang” Balas Sunarti

“Pengabdian tidak bisa diukur dengan menjadi seorang pegawai Negeri saja bu. Buat apa menjadi pegawai Negeri tapi bisanya Cuma korupsi waktu. Mengbadi buat bapak adalah dengan ketulusan hati. Karena hanya dengan ketulusan hati saja kita sebagai guru dapat menciptakan para generasi bangsa yang mempunyai Ahlak yang mulia.” Tegas Pak Jamal

“Mengabdi untuk bangsa sementara kita makan saja susah, coba ibu tanya sudah berapa banyak para pemimpin yang bapak ciptakan, para dokter dan para wakil rakyat, tapi apa pernah mereka datang memberikan sesuatu atau sekedar mengucapkan terimakasih. Karena tanpa seorang guru tidak akan pernah mereka bisa menjadi orang yang sukses”

“Ya apa yang bapak lakukan benar-benar tulus dan ikhlas bu. Sudah bu aku tidak mau ribut bikinkan aku kopi saja rasanya mata ini tidak mau aku buka.” Jawab pak Jamal

“Ya pak” Sunarti segera meletakan kain teununnya dan pergi menuju dapur yang tak jauh dari tempat ia menenun.

“Ini pak kopinya” Sunarti menyodorkan secangkir kopi

“Mau sampai kapan pak, mengelus-elsu foto itu. Setiap hari selalu bapak elus-elus, apa tidak bosan. Lagipula semua yang bapak dapat itu tidaklah membuat hidup bapak menjadi lebih baik. Biarpun puluhan penghargaan bapak dapatkan, tetap saja bapak menjadi pegawai honorer dengan gaji hanya tiga ratus ribu.” Tambah Sunarti yang melihat Pak Jamal sedang asik mengelus-elus penghargaan yang ia dapatkan. Memang bukan hal baru bagi Sunarti yang melihat kelaukan suaminya. Sudah seringkali Sunarti mengingatkan suaimnya.

“Ini adalah penghargaan bapak yang paling berkesan, karena bapak bisa langsung bertemu dengan orang nomer satu dibangsa ini.” Tegas pak Jamal
“Memangnya setelah bapak bertemu dengan orang itu bapak dapat apa. Toh tetap saja bapak hanya pegawai honorer. Lagipula barang seperti itu tak laku kalau dijual” Jawab Sunarti dengan nada sedikit sinis.

“Ya terserah kamu bu, saya mau ke kamar dulu rasanya mata ini tidak bisa lagi ditahan” Sanggah pak Jamal

Tak terdengar lagi perdebatan di antara mereka. Memang akhir-akhir ini mereka sering bertengkar lantaran pak Jamal yang enggan untuk mengajukan pensiun. Padahal sakit yang dideritanya sudah semakin parah. Namun tetap saja pak Jamal tak mau mengajukan pensiun. Semua itulah yang membuat Sunarti menjadi sering marah tentunya marahnya karena sayang dengan suaminya.

Suara adzan Mahrib berkumandang namun pak Jamal tak bernajak dari tempat tidurnya. Sunarti sudah berulangkali memanggil-manggil namun tetap saja suaminya tak bergeming. Tak ada jawaban dari balik pintu itu. Karena tak ada jawaban Sunarti bergegas menju kamar tempat suaminya tertidur. Berulangkali Sunarti membangunkan suaminya namun tak mau bangun juga.
“Pak… pak bangun sudah Mahrib” pinta Sunarti
“Pak bangun…” Panggil Sunarti kembali sembari mengoyang-goyangkan tubuhnya. Tapi tetap saja suaiminya tak bergeming.
Sunarti sadar kalau suaminya ia tak akan bangun lagi. Karena tak kuat dengan kenyataan yang ada Sunarti pun tak sadarkan diri. Ketika bangun dari pingsanya rumah telah menjadi ramai oleh tetangga yang datang.

Air mata Sunarti kemabli meluncur dengan derasnya tatkala jasad suaminya dimasukan keliang lahat. “Karena hanya dengan ketulusan hati saja kita sebagai guru dapat menciptakan para generasi bangsa yang mempunyai Ahlak yang mulia” itulah kata-kata suaminya yang masih teringat dengan jelas. Semua itu bukan hanya perkataan saja karena sudah dibuktkan dengan pengabdiannya. Saat pemakaman banyak yang hadir mereka adalah mantan murid-muridnya yang telah ia bimbing.


Cerpen Pendidikan – Transportasi Plastik Bapak

Suara ayam berkokok terdengar begitu nyaring menembus lubang-lubang bilik kamarku. suara tumbukan halu yang beradu dengan lisung membangunkan aku dari lelapku yang nyenyak. Segera ku tersadar dan mengingat bahwa hari ini adalah hari senin. Aku bergegas mengambil handuk dan melesat menuju sumur yang letaknya tak jauh dari rumahku. Aku melewati ibu yang sedang sibuk menumbuk padi untuk persediaan makan tiga hari kedepan. Beberapa detik saja aku memperhatikan ibu, dan melanjutkan kembali niatku untuk mandi di sumur yang ada di belakang rumahku.

Hari ini aku bersyukur karena masih terbangun sepagi ini. Jarum Jam dari arloji tua Bapak yang tergantung di dinding bilik rumahku telah menunjukkan pukul 7:24 menit. Masih ada waktu untuk tetap pergi ke sekolah. Tapi, mengingat jarak dan perjalananku ke lokasi sekolah, membuat aku sedikit khawatir akan tertinggal pelajaran begitu jauh. Kuharap Bu guru memaklumiku lagi.

“Emak, kenapa tidak membangunkan Ncung tadi pagi?. Ncung kan hari ini sekolah”. Tanyaku pada ibu saat menyiapkan nasi remas untuk bekalku.
“Emak sudah membangunkanmu cung, tapi kamu cuma membalikan badan dari tengkurep jadi terlentang, terus tidur lagi. Ya sudah emak pikir kamu gak mau masuk sekolah.” Jawab Emak dengan nada yang sangat lembut dan menyodorkan nasi remas dengan lauk makan oseng daun singkong dan sambal cabai hijau yang dibungkus dengan daun pisang. Beberapa menit Aku terdiam, karena merasa bersalah.
“Mak, Bapak kemana? Dari Tadi Ncung tidak melihatnya.” Tanya ku kemudian.
“Bapakmu pergi ke warung-warung mencari plastik.” Jawab Emak sembari melanjutkan kesibukannya menumbuk pagi.
“Emang plastik yang biasa kemana mak?.”
“Dipake Bapakmu kemarin, untuk wadah benih pagi.”
Aku terdiam lagi. Sebenarnya perasaanku semakin gelisah, karena sudah waktunya aku berangkat ke sekolah, tapi Bapak belum juga datang. Dan tidak lama kemudian, tubuh Bapak yang kekar mulai terlihat dari kejauhan. Muncul dari sela-sela kerumunan pohon pisang yang ada di belakang rumahku. Aku bernapas lega dan menghampiri Emak untuk menyalaminya dan berpamitan.
“Mak, Ncung berangkat ya.!”
“Iya nak, belajar yang bener ya!”
“Iya Mak, Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikumsalam!” balas Emak.
Tak lama kemudian Bapak Memanggil dari luar.
“Ncuuung!! Ayoo! sudah siang.!”
“Iya Pak!” Sahutku sedikit berteriak dan bergegas meghampiri Bapak.

Aku berjalan membuntut di belakang Bapak. Menyusuri jalanan setapak yang membawaku menuju ke sebuah sungai. Seperti biasa perjalanan ku ke sekolah, selalu diiringi oleh kicauan burung yang terhinggap di pepohonan yang rindang di sebelah kiri dan kananku. Namun, Kesejukan pagi ini sedikit tidak kunikmati, karena kegelisahan menemaniku hari ini. Langkah Bapak semakin cepat, aku sampai sedikit berlari-lari mengejarnya.
“Ayo Cung, cepat! Jangan sampai kamu terlalu terlambat masuk sekolah.” Ucap Bapak dengan langkah kakinya yang semakin cepat.
“Iya Pak.!” Sahut ku.
“Tidak biasanya kamu kesiangan Cung. Kenapa?” tanya Bapak dengan suara datar.
“Emm, semalam Ncung gak bisa tidur Pak. Nyamuknya banyak banget.”
Bapak tidak berkata lagi. Aku tahu, Bapak pasti merasa bersalah. Karena sedang tidak ada uang untuk membeli obat nyamuk bakar semalam.

Akhirnya, kami tiba di sebuah sungai. Sungai terbesar di kampung kami. Untuk menyemberang, sekitar 15 meter jarak jauhnya. Tidak seperti biasa, kuperhatikan arus sungainya sedikit kencang. Kekhawatiranku memuncak dan jantungku mulai berdegup kencang. Aku rasa Bapak juga sedikit cemas meski terlihat tetap tenang memperhatikan arus air. Kualihkan pandanganku pada jembatan kayu buatan warga dulu yang telah lama ambruk karena rapuh. Sudah sekitar satu tahun jembatan satu-satunya akses kami untuk menyeberang sungai ini tidak diperbaiki, karena kekurangan dana.

“Ayo Cung. Masuk.” Seruan Bapak mengejutkanku dari lamunan. Bapak melebarkan mulut plastik bening berukuran besar, seukuran karung beras. Cukup muat untuk ukuran badanku yang kecil.
“Pak, arus sungainya kencang.” Aku tidak segera masuk ke dalam plastik karena cemas.
“Tidak Cung. Jangan Khawatir. Ini sedikit Kencang saja. Ayo, nanti ketinggalan belajarnya.” Seru Bapak dengan tetap tenang.

Aku mulai memasukan kakiku satu persatu ke dalam plastik. Sampai akhirnya seluruh tubuhku berada di dalamnya dengan posisi meringkuk. Kemudian, bapak memasukan udara, lalu mengikatnya. Ini biasa kami lakukan saat akan pergi ke sekolah yang berada jauh menyeberang sungai. Ide Bapak saat jembatan tidak bisa di gunakan lagi untuk menyeberang. Karena berfikir airnya mengalir tidak terlalu deras dan kedalaman air yang setinggi antara pinggang dan dada orang dewasa, munculah ide ini dari Bapak, agar seragam yang aku kenangan tidak terkena air, dan agar aku tetap bisa sekolah. Karena jika menggunakan rakit atau perahu, arus air akan membawanya ke hilir dan sulit di kendalikan. Dua teman dari sekampungku juga melakukan hal yang sama selama kurang lebih satu tahun ini. Dan hari ini, kedua temanku sudah berangkat ke sekolah lebih awal pastinya.

Bapak melepaskan sandal jepitnya, dan mulai memasuki arus air. Tangan Bapak memegangi plastik dengan sangar erat. Perlahan-lahan aku sedikit mengapung. Jantungku berdegup. Saranya ingin segera sampai ke tepi sungai. Dengan hati-hati sekali Bapak menyeberangi sungai ini. Langkah kakinya meraba-raba dasar sungai agar tidak menginjak batu yang licin. Langkah demi langkah kaki Bapak memunculkan harapanku untuk segera sampai dengan selamat.
sedikit lagi, Bapak akan sampai membawaku ketepi sungai. Tapi tiba-tiba saja.
Buurrrrrrrr… kaki Bapak terpeleset. Bapak berusaha menggapai-gapaikan tangan kanannya mencari sesuatu yang bisa diraih dan menahannya agar tidak terbawa arus. Jantungku hampir copot, Perasaanku kacau, rasa takutku memuncak, aku tak kuat menahan tangis. Tangan kiri Bapak semakin erat memegangi plastik tepat pada posisi ikatannya. Dan beruntunglah, Bapak berhasil menggapai akar pohon yang menjuntai ke sisi sungai, dan membawaku semakin dekat dan akhirnya sampailah kami di tepi sungai.

  Cerpen Persahabatan

Bapak membuka ikatan tali plastik dan mengeluarkanku.
“Sudah, sampai.” Ucap Bapak dengan nafas yang masih terengah-engah. Aku mengeluarkan seluruh tubuhku dari dalam plastik, dan menatap Bapak yang duduk di bawah tanah.
“Hampir saja Cung. Haha.” Ucap Bapak lagi dengan sedikit tertawa. Pada situasi yang hampir merenggut nyawa, Bapak masih sempat tertawa. Bapakku adalah orang yang sangat hebat, melebihi para pejabat di kota sana.
Bapak melihatku sedang menyeka mata yang basah karena menangis ketakutan.
“Hufh, sudah jangan cengen. Masa begitu saja nangis kamu Ncung. Laki-laki harus berani, pantang menangis, yah!” Ucap Bapak lagi dengan mengelus kepalaku dan berdiri. Aku hanya mengangguk.
“Sudah sana ke sekolah. Belajar yang bener biar bisa jadi orang hebat.” Ucap Bapak lagi dengan semangat yang selalu terpancar dalam dirinya.
“Iya Pak, Assalamu’alaikum.” Aku meraih tangan Bapak dan berpamitan.

Beberapa langkah aku mulai menjauh dari sungai. Aku membalikan badan ke arah sungai lagi, dan terdiam beberapa saat melihat Bapak yang sudah berada di tengah sungai untuk menyeberang dan kembali ke rumah.
“Pak, Ncung janji akan belajar dengan giat dan bersungguh-sungguh. Ncung tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan besar Bapak melawan arus sungai ini. Ncung akan menjadi orang hebat dan memiliki banyak uang untuk membangun desa dan jembatan di sungai ini. Agar kelak, adik-adik Ncung bisa dengan mudah dan aman menyeberangi sungai dan pergi ke sekolah. Aamiin.”

THE END


Cerpen Pendidikan – Aku Ingin Kuliah

Kita sebut saja namanya Ryan, Ryan adalah siswa Alumni MAN di daerahnya yang baru saja dinyatakan lulus, malam itu setelah pengumuman kelulusan UN pada siang hari di seluruh indonesia secara bersamaan, keesokan harinya adalah pengumuman kelulusan bagi calon mahasiswa baru yang mendaftar melalui jalur SNMPTN. Sebelum pengumuman UN ryan dan ayahnya sempat berbicara mengenai kelanjutan pendidikannya, karena faktor ekonomi yang kurang kondusif pada masa itu, setelah lama berbicara akhirnya lahir sebuah keputusan dimana ryan tidak akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi (KULIAH).

Malam itu, adalah pengumuman kelulusan calon mahasiswa baru yang mendaftar melalui jalur SNMPTN, beberapa pesan singkat sempat masuk kedalam telepon genggam milik Ryan, yang isinya “selamat ya Ryan” dan kebetulan esok adalah hari kelahiran Ryan, Ryan lantas berfikiran apa kawan-kawannya lupa dia lahir esok hari, bukan hari ini. Dengan sedikit merasa aneh dan lucu kemudian ryan membalas pesan singkat dari teman-temannya, “maaf kawan-kawan saya ultahnya besok, bukan hari ini, apa kalian sudaah lupa? hehehe” ujar Ryan, lantas salah satu dari sahabatnya kembali membalas, “eh, ini kado terindah yang tuhan berikan, kami tahu kamu ultahnya besok, tapi kami ucapkan selamat karena kamu lulus SNMPTN” pungkas temannya.

Lantas Ryan terbaring di kamar sambil menatap langit-langit kamarnya, seraya memikirkaan bagaimana caranya mengambil kesempatan ini setelah adanya keputusan sebelumnya bahwa ryan dan orangtuanya sepakat Ryan tidak melanjutkan pendidikan tahun ini. Tiba-tiba telepon genggam milik Ryan berdering, kemudian ryan melihat ke layar hp ternyata nomor baru, tanpa berlama-lama kemudian ryan mengangkat telponnya, ternyata itu panggilan masuk dari kepala sekolahnya Ryan.
“hallo… maaf ini siapa?”. Tanya Ryan
“kamu dimana? Kamu lulus SNMPTN, ini saya kepala sekolah, silahkan datang ke ruko sebentar” ujar Kepala sekolah Ryan.
“iya pak, iya, saya sudah dengar kabar juga barusan, baik pak.. saya segera kesana..” akhir Ryan

Dengan langkah tergesa-gesa Ryan mengganti pakaian dan keluar kamar, dan mengambil kunci motor yang tergantung di tengah-tengah rumah. Melihat Ryan tergesa-gesa orangtua Ryan bingung ada apa sebenarnya, begitu hendak keluar Ayah Ayan bertanya, “kamu kenapa? ada apa? ini kamu mau kemana?” dengan tergesa-gesa Ryan menjawab “saya mau jumpain kepala sekolah, katanya saya lulus untuk menjadi calon mahasiswa yah, dan saya ingin kuliah Ayah” jawab Ryan seraya menghidupkan kendaraannya dan pergi begitu saja.

Kini Ayah Ryan tidak lagi sepemahaman dengan Ryan, Ayah ryan tiba-tiba kaget karena Ryan mengingkari janjinya, dan langsung masuk ke dalam dan bercerita kepada Ibunya Ryan.

Sesampai di tempat ryan langsung menyalami dan mencium tangan kepala sekolah, dan kepala sekolah tersenyum kepadanya serta berkata, “wah, selamat ya Ryan kamu lulus ni, gimana? jadi diambil kan? Ini kesempatan bagus buat kamu, karena kamu satu-satunya laki-laki yang lulus!.” dengan senyuman dan anggukan Ryan menjawab pertanyaan kepala sekolah. Dan melihat-lihat pengumuman. Kemudian Ryan bercerita kepada kepala sekolah, bagaimana keadaan sebenarnya, bahwasanya ryan tahun ini rencananya akan menganggur. Kemudian kepala sekolah memberikan soslusi agar Ryan kembali mendiskusikannya dengan ayah.
“begini saja, coba bicara baik-baik kepada Ayah kamu, dan perlihatkan kesungguhan kamu untuk kuliah”, dengan wajah yang terlihat ragu Ryan menerima solusi tersebut dan pamit pulang ke rumah.

Di perjalanan ryan hanya berpikiran bagaimana cara menceritakan hal ini kepada Ayahnya, bahwa dia benar-benar ingin kuliah dan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut, Ryan berpikiran bahwa memang betul ekonomi kami memang lagi tidak stabil, jika memang rezeki tidak dari ekonomi kami yang sekarang, mengapa Allah harus memberikan kesempatan ini? Allah tidak akan lupa dengan ekonomi kami sekarang artinya allah tahu jika memang tidak ada kemungkinan kuliah, dia tidak akan lulus, singkatnya Ryan berpikiran bahwa. “Allah menitipkan sesuatu untukku kelak setelah menyelesaikan kuliah ini, sehingga iya memberikan kesempatan ini kepadaku, dia tahu aku akan mampu menjalaninya” begitulah isi hati Ryan yang memotivasinya untuk memberanikan diri membicarakan kembali kepada ayahnya.

Sesampainya di rumah, ryan langsung menjumpai ayahnya dan berkata, “saya lulus, pokoknya saya mau kuliah” dengan sikapnya itu lantas ayahnya membesarkan suara kepadanya, “kamu ini bagaimana? Apa kamu lupa, kemarin kita baru membicarakannya, jika saya memang mampu untuk tahun ini, rizky pun ada, tanpa kamu minta saya akan kuliahkan kamu, terserah mau dimana, tapi keadaan kamu lihat sendiri, hah, kamu ini, sudah bersabarlah, tahun depan kita akan kuliahkan kamu, kali ini, kita selesaikan dulu abang kamu yang akan diwisudakan sebentar lagi, sudah besar tapi masih minta dimarahin!!” ujar Ayah Ryan dengan nada yang lantang.

Mendengar pernyataan sang Ayah, tidak ingin memperpanjang perdebatan Ryan lebih memilih masuk ke kamarnya dengan perasaan yang sangat sedih dan kecewa. Ryan pun terbaring lemas, seraya meteskan air mata dan berdo’a, “ya Allah, tunjukkanlah yang mana yang benar bagimu, walaupun aku tahu ini memang yang terbaik, tapi berikanlah cara agar hati ini bisa menerima pernyataan, dan bisa dimengerti”. Di dalam hati ryan terus berkata-kata seraya memjamkan mata, hingga akhirnya terlelap.

Seminggu sudah berlalu, namun ryan tidak banyak berbicara dengan Ayahnya, karena kejadian malam itu, namun Ryan terus berupaya bagaimana cara bisa mengambil kesempatan itu, setelah malam itu Ryan hanya bekerja di usaha milik keluarga mereka, sebagai penjual jasa mencuci mobil dan motor (doorsmir), rupiah demi rupiah dikumpulkan oleh Ryan. Di samping itu ternyata Ibu Ryan selalu mengamati gerak gerik Ryan setelah malam itu.

Sepulang Ayah Ryan dari kantornya, Ayah Ryan langsung ke meja makan. Tidak lama kemudian, melihat ayah Ryan telah menyelesaikan makan siangnya, ibu Ryan menghampiri Ayah Ryan yang baru pulang dari kantor di meja makan, “yah, Umi (panggilan untuk ibu Ryan sehari-hari) mau bicara, ini soal Ryan yang katanya ingin kuliah” kata Ibu Ryan dengan nada lembut. “iya Mi, ada apa dengan Ryan, bicara saja” jawab ayah Ryan dengan spontan. “akhir-akhir ini Umi perhatikan tingkah ryan berbeda sekali dari biasanya” sambung Ibu Ryan, “lah beda gimana mi?” dengan kagetnya.. “begini lo yah, Umi tahu apa yang Ayah pikirkan, tapi Umi juga kepiran tentang yang disampaikan Ryan, mungkin ayah lebih sering di luar, Ryan setelah kejadian itu, dia menjadi lebih giat bekerja, dan sepertinya dia mengumpulkan uangnya untuk berangkat, Umi khawatir, jika suatu saat dia pergi tiba-tiba, karena dia begitu bersikeras ingin kuliah, percuma kita terus menahannya, nanti yang ada kita menyesal yah..” akhiri ibu Ryan sambil termenung.

Melihat ibu Ryan yang begitu khawatir akhirnya sang Ayah mencoba berbicara kembali dengan Ryan, kemudian sang ayah meninggalkan ibu di meja makan dan ke luar memanggil Ryan, “Ryan, kemari sebentar, ada yang ingin ayah bicarakan dengan kamu” ucap ayah Ryan sambil melambaikan tangannya ke arah Ryan. Kemudian ryan tanpa menjawab sang ayah langsung menghampiri Ayahnya yang kembali berada di sebelah ibu Ryan, dan duduk di samping Ayahnya.

“Ryan, barusan Umi kamu bercerita kepada Ayah, Ayah mau tanya sesuatu sama kamu, apa benar kamu masih ingin mengambil jurusan kamu itu?” tanya ayah Ryan, “iya Ayah” jawab Ryan dengan singkat. Kemudian ayah Ryan berkata “Ryan, kamu tahu jurusan kamu itu, itu orang-orang yang menentang pemerintah, melakukan aksi demo, Ayah takut kamu kenapa-kenapa, kita tunggu saja saat yang tepat, itu nanti hanya jadi orang-orang pemberontak pemerintah, ayah bagian orang pemerintahan, kamu tahu Presiden? dengan intruksi “Bumi Hanguskan” semua pendemo bisa dipukuli, bahkan dimusnahkan pihak tentara, kamu tahukan kejadian 98?!” sambung ayah ryan yang berusaha menghentikan iktikad Ryan yang ingin mempertahankan kemauannya dengan nada sedikit kencang.
Lantas dengan lembut dan sedikit takut Ryan menjawab
“yah, anakmu kini diberi kesempatan untuk kuliah, walaupun kita sama-sama tahu kondisi sekarang abang bulan ini akan diwisudakan, juga butuh uang, hal yang tidak mungkin saya bisa kuliah, tapi ayah, kenapa Allah meluluskan Ryan jika Allah lebih tahu segalanya, bukankah ini memang rizky yang allah berikan?, dia tahu ada jalan, rizky dia yang atur yah, percayalah yah, dengan kesederhanaan aku bisa bertahan dan berjuang di sana.” Jawab Ryan. “Kemudian mengenai jurusan itu, aku sudah serahkan kepada Allah apa yang terjadi esok, yang Ryan pikirkan bagai mana cara memulai hari ini, dan menjawab hari esok” pungkas Ryan dengan bijak dan mata yang berkaca-kaca.
Melihat sikap Ryan dan pernyataannya, Ayah Ryan termenung, tidak tahu apa yang sedang dipikirkan. Kemudian Ayah Ryan menyambung kembali pernyataannya, “baiklah Ryan, jika keputusanmu memang benar-benar bulat, Ayah akan usahakan bagaimana supaya kau juga bisa kuliah, namun Ayah ingin memberitahu kamu satu hal, jika kamu merantau, jangan pernah dekati nark*ba, jangan berbuat yang merugikan diri kamu, apalagi orang lain, ingat visi dan misi kamu kuliah untuk apa”.
Dengan sedikit terharu Ryan mengangguk-anggukkan kepalanyanya dan berkata “iya Ayah” pada setiap ucapan Ayahnya yang menyampaikan pesan moral kepadanya.

Dan siang itu berakhir dengan percakapan yang sangat haru bagi Ryan, dengan bangganya Ryan kembali bersemangat, dan mempersiapkan bekal untuk keberangkatannya yang menjelang beberapa hari lagi.

Tiba saatnya Ryan hari ini harus berangkat ke tempat kuliahnya, dan meninggalkan rumah untuk sementara, sebelum berangkat Ryan berpamitan kepada ayah dan ibunya, saat bersalaman Ayah Ryan kemabli mengulang ucapannya, dan menasihati Ryan agar tidak lupa tujuan kelak di rantau orang. Tampak di sebelah Ayah ada Umi Ryan yang menatapi Ryan dengan linangan air mata, tetesan air mata ibu Ryan mengiringi suasana yang menjadi begitu semakin sedih, seakan-akan khawatir karena jauh darinya, Anaknya yang ke dua itu dikenalnya sedikit nakal dulunya akan berada jauh dari sisinya, dia seakan-akan sedikit resah dan gelisah dengan keberangkatan Ryan.

Kemudian ryan menghampiri Ibunya untuk pamit, “mi, Umi jangan nangis, insya Allah Ryan baik-baik saja nanti di rantau orang, Ryan hanya minta do’a restu, doakan ryan agar menjadi orang yang sukses, dan selalu dalam lindungan allah” ucap Ryan juga dengan mata yang berkaca-kaca, “nak, jika do’a yang kamu minta, dalam do’a selalu ada nama kalian Anak-Anakku, aku ini Ibu kandung kalian nak, setiap Ibu selalu mendoakan anaknya agar diberi yang terbaik, dan dilindungi Allah” sambung ibu Ryan dengan suara yang berbaur dengan tangisan.

“nak, jangan pernah tinggalkan sholatmu, selalulah berdo’a jaga diri baik-baik di rantau orang” pungkas ibu Ryan seraya memeluk ryan, mendengar ucapan ibu Ryan, ryan tak kuasa menahan air mata, akhirnya ryan meneteskan air mata, semua yang berada di dalam itu terbawa suasana yang begitu haru.

Tidak lama kemudian, angkutan umum yang akan ditumpangi Ryan akhirnya tiba di depan rumah Ryan, dan pengemudinya langsung turun dan mengambil barang-barang yang akan dibawa Ryan. Setelah semua dibawa naik ke dalam mobil, supir memberikan tanda isyarat dengan membunyikan klakson mobil, menandakan mobil akan segera berangkat. Kemudian Ryan berjalan ke arah mobil seraya menghusap airmatanya dan segera naik ke dalam mobi. Sebelum berangkat Ryan melambaikan tangan kanannya ke arah keluarganya yang berada di halaman rumah sebagai tanda perpisahan dari Ryan.

“If you just stop with what is happening in front of you today without any effort, it means that you are no better than those who never tasted failure but would prefer just stop.”


Cerpen Pendidikan – Anak Pisang

Tiada hari tanpa aroma pisang goreng di dapur emak. Itu yang Ana rasakan ketika terbangun dari tidurnya. Dan aroma teh panas menyapa pagi Ana dengan kehangatan. Ia mengunyah pisang sembari sesekali meneguk teh hangat buatan emak. Ana hanya tinggal berdua dengan ibunya yang biasa ia sebut dengan sebutan emak sebab tahun lalu ayahnya meninggal dunia karena sakit. Untuk itu Ana harus menjual pisang goreng buatan emak untuk memenuhi kebutuhan hidup dan sekolahnya.

Seperti biasa Ana harus menitipkan sebagian barang dagangannya di kantin dan sebagiannya lagi ia jual kepada teman-teman kelasnya. Ana adalah murid yang pandai di sekolah, predikat juara umum masih ada pada genggamannya. Tidak hanya prestasi akademiknya yang menonjol prestasi non akademik pun ikut muncul berdampingan mengiringi harinya. Ia sangat pandai membuat puisi dan cerpen karena itu menulis adalah hobinya sejak kecil. Tiap tahunnya ia selalu mewakili sekolah mengikuti ajang lomba cipta puisi hingga ke tingkat Nasional.

Tetapi walau begitu tidak ada yang ingin berteman dengannya. Mereka semua malu berteman dengan Ana hanya karena Ana seorang penjual pisang goreng keliling. Tiap hari cacian dan cibiran datang menghampiri tetapi semangatnya mengalahkan emosinya. Kini Ana menyadari ia sudah duduk di bangku kelas XII SMA karena itu Ana tidak terlalu memikirkan apa yang orang lain katakan tentangnya. Sikapnya memang cuek.. tetapi sebenarnya dia memiliki hati nan lembut. Ibunya selalu mengajarkan untuk bersabar dan memaafkan kesalahan orang lain.

“dasar anak tukang jual pisang!! Pergi lo.. dari kelas ini.. lo enggak pantes berada di sekolah ini. Sekolah ini hanya untuk orang-orang high class kaya kita.” Cibir tasya. Walau begitu Ana tetap tidak peduli ia tetap membaca bukunya walau ribuan mulut memcaci. “heh.. anak pisang!! Lo denger enggak sih? Enggak punya telinga?” bentak Tasya sembari melempar buku tebal ke arah muka Ana. Yap!! Hampir saja buku itu mengenai muka Ana, untung saja seorang pria bertubuh tinggi menangkap buku yang hampir mengenai muka Ana. “Apakah hanya orang-orang high class yang boleh berada di sini?” matanya menatap tajam mata Tasya dengan penuh emosi. Mulut tasya mulai bergumam sembari memainkan pulpen. “jawab!! Setidaknya dia berada di sekolah ini karena otaknya bukan uangnya.” Ujar pria jangkung dengan sinis.
Tasya hanya terdiam saat mendengar perkataan pria itu. “terimakasih” ucap Ana singkat sembari memegang buku dan meninggalkan ruang kelas. Ia berjalan menuju kantin untuk mengambil hasil penjualan pisang hari ini.
“pisangmu laku terjual dan kalau bisa besok bawa yang lebih banyak lagi Ana, ini uang penjualan pisang hari ini.” Ujar ibu kantin “terima kasih banyak, bu.” Ucap Ana.

Sepulang sekolah Ana di rumahnya sudah ada selembar surat yang menyatakan bahwa pihak penerbit tertarik dengan naskah yang ia kirim tahun lalu. Dan akan menerbitkan novel Ana berjudul “Tawa Mentari Pagi” esok lusa.

Beberapa hari setelah penerbitan bukunya ia mendapat kabar bahwa novel ciptaannya laku terjual hingga ribuan. Sore ini ia pergi ke kantor pos untuk mengambil uang hasil penjualan novelnya sebesar Rp. 35.000.000. “emak… emak.. lihat ini mak.” Teriak Ana dari ruang tamu. “iya ada apa Ana? Uang sebanyak ini milik siapa Ana?” tanya emak dengan muka terkejut. “ini hasil dari novel yang diterbitkan minggu lalu, Mak. Uangnya Ana akan gunain untuk modal dagangan emak.” Emak merasa sangat bahagia dan memeluk Ana dengan erat. Ana adalah anak semata wayang hal itu tidak membuatnya menjadi anak yang manja. Ia juga pandai memanfaatkan kesempatan luang yang ada.

Keesokan paginya di sekolah anak-anak ramai membicarakan novel terbitan terbaru. Mereka terkejut ternyata penulis novel tersebut adalah Ana. Berbeda dengan Tasya ia tetap saja berlagak sombong. “apaan sih.. baru juga jadi penulis novel. Nih ya kalian liat nanti seorang Tasya akan menjadi artis besar. Dan kalian pasti akan mohon-mohon minta foto. Kalo penulis doang sih.. ya lama-lama juga meredup.” Ujar Tasya dengan nada sinisnya. Mendengar ucapan Tasya, Ana hanya tersenyum. Rupanya buku tidak dapat terlepas dari tangannya. Bahkan ketika teman-temannya makan di kantin ia lebih memilih pergi ke perpustakaan untuk membaca buku. Bagi Ana pisang yang emak buat pagi hari itu sudah cukup mengisi perutnya yang kosong. Uang sakunya ia tabung untuk kebutuhan lainnya.

“Ana selamat ya kamu sudah berhasil menerbitkan novelmu, ibu suka sama karya satramu itu. Terus berkarya Ana, tetapi ingat lusa sudah mulai UN jadi kamu harus terus belajar.” Kata Bu Berta dengan penuh motivasi. “siap bu!!” berlari ke ruang kelas. “nih ya guys.. papah aku udah siapin guru privat terbaik di kota ini. Jadi kemungkinan juara umum UN tahun ini akan Tasya genggam.” sembari tertawa kegirangan. “wah papah kamu hebat juga ya, Sya.” Puji Lina dan teman-teman yang lainnya. “heh anak pisang!! Jangan harap predikat juara umum akan jatuh ke tangan lo. Urusin aja tuh pisang lo.. biar gak basi.” Ujar tasya, “mau lo apa sih, Sya?” ujar Raka. “udah Raka enggak ada gunanya ngeladenin orang kaya Tasya. Mending abaikan udah biasa juga kan dia ngomong gitu. Dan itu enggak berpengaruh sama sekali.” Jelas Ana

Di rumah ibunya membuka warung aneka pisang. Dan siang ini Ana menggantikan ibunya berjualan di warung karena ibunya mendadak sakit. Sesibuk apapun Ana ia masih menyempatkan diri untuk belajar sambil berjualan. Tidak ada rasa malu dalam dirinya karena ia tahu apa yang ia lakukan itu sangat bermanfaat. Malam harinya ia tetap belajar karena Ujian Nasional akan berlangsung lusa. Ia tidak ingin mendapatkan nilai merah pada mata pelajaran yang diujikan.

Saat ujian berlangsung Ana mengerjakan semua soal dengan tenang. Yang ada di pikirannya hanya lulus dengan nilai yang memuaskan dan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan penidikannya. Ternyata mimpi tidak hanya sekedar mimpi ketika kita berusaha mendapatkan dengan diiringi do’a apapun bisa terjadi. Seperti yang terjadi pada Ana pada saat kelulusan semua terjadi lebih dari mimpinya. Ia lulus dengan nilai tertinggi dan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya di London. Semua terbukti ketika kita mampu melawan rasa gengsi dalam diri. dan logika yang berhasil mengalahkan emosi mampu membantu mewujudkan.

  Cerpen Sedih

Cerpen Pendidikan – Mimpi Kami Anak Bangsa

Berjalan menyusuri jalanan saat dimana orang lain melakukan aktivitas mereka dan juga anak seusiaku tentunya mereka bergegas ke sekolah. Tidak sepertiku hanya melihat megahnya gedung sekolah tanpa pernah merasakan nyamannya duduk di bangku sekolah menerima pelajaran untuk mengenal dunia. Atau memang sudah menjadi takdir untuk kami orang pinggiran selalu tersisih terutama anak-anak bangsa seperti kami yang tidak layak mengenyam pendidikan. Yang aku lakukan hanya mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk aku bawa pulang. Entah mengapa aku tak pernah lelah menanyakan mengapa ibu tak menyekolahkanku seperti anak-anak yang lain meski jawaban yang ibu berikan tetap saja tak pernah berubah.

“Bu, apa memang anak-anak sepertiku tidak berhak bersekolah?” Tanyaku.
“Kita itu tak butuh sekolah yang penting kamu itu bisa cari uang.” Jawab Ibu.

Aku pernah mendengar di radio “Bahwa anak-anak bangsa harus menerima pendidikan yang layak karena kelak merekalah yang membangun bangsa ini.” Tapi anak-anak seusiaku banyak yang tak menerima pendidikan yang layak bagi mereka bisa makan sehari-hari saja sudah cukup.

“Ayo ngapain ngelamun aja.” ujar temanku.
“Mau kemana?” jawabku.
“Ya mulunglah emang kalau melamun bisa dapat uang.” sahutnya.
“Iya.”

Dion adalah temanku sama sepertiku tak pernah megenal bangku sekolah di pikirannya hanya uang. Baginya tidak perlu pendidikan tinggi atau keahlian khusus untuk memulung hanya butuh karung besar untuk menampung barang-barang bekas.

“Dion apa kamu pernah berpikir kalau kita bisa bersekolah.” tanyaku
“Apa sekolah, mimpi kamu.” jawab Dion.

Walau dia berkata seperti itu sebenarnya Dion punya mimpi yang besar untuk bersekolah namun karena keadaan dia harus mengubur mimpinya. Dan dia pernah berkata kalau sekolah itu hanya untuk orang-orang kaya saja.

Jalanan begitu ramai seorang laki-laki terlihat begitu terburu-buru dengan penampilan sangat rapi dia berusaha menerobos keramaian namun tanpa sengaja dompetnya terjatuh dari saku celana, dan aku tepat berada di belakangnya tanpa pikir panjang aku langsung mengambil dompet itu dan langsung mengembalikannya.


Cerpen Pendidikan – Lembaran Putih

Siang ini saya disambut dengan hamparan debu yang menyiksa penciuman, debu-debu itu seakan membuat saya sesak dengan aroma yang khas. Iya, kini saya telah sampai di sebuah pulau terpencil. Tepatnya di selatan Indonesia, dan saya mendedikasikan diri menjadi seorang guru di tempat ini. Langkah demi langkah saya lalui dengan sambutan anak-anak yang sedang bermain dengan sehelai kain lusuh. Mereka memandang saya seakan melihat sesuatu yang belum mereka lihat, padahal saya hanya memakai pakaian biasa berselimut jaket biru kesayanganku dan sebuah ransel dan koper besar yang saya tarik.

“akhirnya kamu datang juga?” wanita paruh baya itu mengejutkanku saat saya melewati (sebuah) rumahnya. “kamu pasti Rafly?” ucapnya lagi, namun nadanya seakan mengajakku untuk berbicara lebih dalam lagi “iya, saya Rafly? apa anda Ibu Asih?” beliau hanya menjawab “iya, kemarilah kau pasti sangat lelah” akhirnya saya menaiki 5 anak tangga yang menghubungkan ke teras. Saat itu saya sangat lelah, dan saya pun beliau adalah guru di pulau ini, iya.. beliau yang memperjuangkan kemerdekaan yang sederhana disini. Hari mulai larut malam, baterai smartphone saya akan habis tapi tidak ada aliran listrik disini. Saya mengambil sebuah jeruk dan mengisi baterai smartphoneku dengan lempengan kawat yang kulilitkan disana, dan cara itu berhasil.

Pagi menjelang, kini langkahku memasuki daerah sekolah. Dan kulihat ini seperti bukan sekolah, papan tipis yang digunakan mulai rapuh, atap-atap seakan ingin memakan mangsa dan suatu saat bangunan itu akan runtuh. Saya melihat beberapa dari mereka bermain bola. Tak terasa kini saya mulai mengajar di kelas yang mirip seperti sebuah gubuk.

“selamat pagi anak-anak” ucapku seraya meletakkan beberapa berkas di meja. Saya memperkenalkan diri dan mulai mengambil buku dari loker. Namun saya melihat tulisan disana tertera di cetak pada tahun 80an-90an, artinya mereka belum menyentuh KTSP dan K13, buku itu benar-benar rusak, banyak halaman yang hilang dan robek. “kalian belajar dengan buku ini? Lalu dimana buku kurikulum 2013 nya?” ucapanku membuat suasana hening, salah satu anak laki-laki mengangkat tangan kanannya “maaf pak, kami hanya mempunyai buku itu. Kurikulum itu apa pak? Kami belum tau, dan selama kami sekolah di sini hanya ada satu guru itu pun bukunya juga memakai buku yang dipegang bapak” saya merenung, kemudian saya berdiri di tengah “kurikulum adalah suatu materi yang disusun secara apik. Dan kurikulum ini sama seperti buku lainnya hanya saja sistem yang digunakan sedikit berbeda. Maksudnya materi di dalamnya lebih mendalam” kemudian anak laki-laki itu berkata “saya mau mencoba kurikulum, kenapa kami tidak pernah menerima buku baru sementara di kota-kota besar sudah banyak yang menerima” saya merasa lemah mendengar perkataan itu, namun saya tetap menjelaskan materi kurikulum agar mereka dapat merasakan apa itu kurikulum. Hari berganti sore, kini aku telah sampai di rumah Ibu Asih dan aku membuka klinik kecil disana. Saat waktu magrib ada seorang anak kecil yang mengetuk pintu.

“anda pasti pak Rafly, guru baru dari kota itu kan?” gadis itu menunjukan sebuah tulisan di genggamannya “iya saya Rafly, dan kenapa kamu menulis di selembar kertas putih ini?” dia menatap bibirku seakan ia membacanya, kemudian anak kecil itu menulis lagi “saya Qifa, maaf pak saya tuli dan bisu.. tapi saya ingin belajar dengan anda, saya ingin menjadi dokter” belum 3 hari saya disini, tapi air mata saya sangat lancar ketika melihat hal seperti ini. “ayo masuk, saya punya sebuah pudding coklat” dia duduk di sampingku, dia ingin menggapai impiannya tapi buku pun tidak ada. Ia memulai curhatnya betapa ia ingin menjadi dokter dan sekolah. “ibu dan ayahku tidak pernah menemaniku, hanya ada nenek yang selalu di sampingku. Orangtuaku terlalu sibuk sampai mereka tidak menemaniku” ia membicarakan semua penderitaannya.

Hari berganti siang, aku menghungi temanku. Aku ingin ia mengumpulkan buku sebanyak mungkin agar aku dapat membagikannya pada anak-anak disini. Beberapa hari berganti minggu. Saat ini setiap hari sabtu sore saya berkeliling dengan membawa buku dari temanku itu dan menunggangi kuda, terkadang saya terharu melihat saat mereka membaca. 27 tahun usia saya sekarang, dan saat ini ada sebuah olimpiade internasional yang diselenggarakan di Beijing. Dan saya memutuskan untuk memilih Marcus untuk mengikuti tes di Jakarta, karena ia sangat lihai di bidang sains. Dan saya mencoba menghubungi dinas terkait agar ia yakin kepada saya kalau Marcus bisa maju ke internasional. Setiap sore ia datang ke rumah saya sedangkan Qifa membantuku untuk merawat pasien yang sedang sakit, saya sudah memberi pengarahan kepadanya bagaimana menyusun obat dan memeriksa setiap orang, Qifa benar-benar sangat cerdas dalam hal kesehatan. “Qifa” sapaku “ada apa pak Rafly? Qifa salah memberi obat?” tulisan itu terpampang jelas di depanku “kamu jaga klinik dulu, saya mau mengajar Marcus” ia hanya menganggukan kepala dan melukis senyum.

“pak, saya tidak yakin akan lolos” ucapnya (Marcus) pelan “ini kesempatan kamu, kamu buktikan kalau kamu bisa. Kita di sini bertemu dengan berbagai macam masalah” ucapku “tapi pak, saya tidak percaya diri” terangnya “kamu masih muda, kamu pandai di bidang sains. Kesempatan tidak akan datang dua kali Marcus” hanya diam, kini aku mulai menjelaskan beberapa materi untuknya. Hari itu kondisi saya sedikit memburuk “uhuk-uhuk.. uhuk” “pak Rafly kenapa? Apa anda baik-baik saja?” tanya Marcus, mungkin paru-paruku kambuh lagi -dalam hati “tidak, saya baik. Belajarnya sampai di sini dulu, besok kita sambung ya” ia menuruti saya, dan segera pulang begitupun Qifa. Saat ini saya berada di atas tempat tidur dan memikirkan sesuatu “saya harus yakin kalau Marcus bisa, tapi buku-buku ini serasa kurang”

3 bulan setelah itu, Marcus semakin pandai. Ia membuat suatu rumus baru, berbekal buku sumbangan dari teman-teman saya, Marcus sangat bersemangat untuk semua ini. Namun kondisi saya memburuk, tapi semangat saya untuk “memberi tahu” semua orang di dunia ini, kalau anak dari daerah terpencil juga sangat pandai.

Ibu Asih juga demikian, beliau membantu saya dalam banyak hal. Dan beberapa hari yang lalu, saya dan Ibu Asih membuat hidroponik sederhana di sekolah. Meski saya sakit, saya tidak akan menyerah.

Singkat cerita, saya dan Marcus di Jakarta. Saat itu, wajah saya tidak bisa lagi segar dan saya sangat lemas. Dan saya setiap hari harus merogoh kocek cukup dalam untuk menghubungi Ibu Asih, agar beliau dapat memberi kabar pada orangtua Marcus. 1 minggu berlalu, kini pengumuman tes telah di bacakan. Dan Marcus lolos dalam tes dan peraih nilai terbaik. Olimpiade mulai 2 bulan lagi, saya meninggalkan Marcus di asrama karena saya harus kembali mengajar di sekolah.

Singkat cerita, kini telah kembali mengajar di sekolah dan semua siswa menanyakan Marcus, itu membuat saya terasa termotivasi untuk memajukan anak-anak ini. Dengan kondisi saya yang sekarang, saya tetap belajar dan memberi materi, berkeliling untuk menjadi “pembawa buku”, membuka klinik, dan membuka ekstrakurikuler lingkungan hidup. Saya tidak menginginkan bayaran untuk semua ini, saya tidak ingin dipuji banyak pihak, tapi saya ingin memajukan negeri ini.

3 hari sebelum Marcus berangkat ke Beijing, saya sakit dan tidak berdaya. Qifa yang merawat saya sekarang begitu juga Ibu Asih, badan saya sangat panas bahkan untuk berdiri saya mual bahkan muntah. Namun saya tetap mengajar dengan cara mengoreksi tugas dari anak-anak, saya tidak mau karena saya sakit, mereka tidak bisa memahami materi.

“halo? Pak Rafly?” Saya mengangkat telepon dari Marcus “halo, bagaimana kabarmu? Apa kamu sudah siap?” tanyaku “saya siap, saya belajar banyak disini. Saya bertemu dengan guru-guru yang sangat baik seperti Pak Rafly? ” ujarnya dengan nada gembira “uhuk uhuk… semoga kamu sukses disana, saya dan teman-temanmu yang lain akan mendukungmu” suara saya lemas saat itu “bapak sakit?” “tidak, ingat pesan saya Marcus. Kita tidak bisa membuat gedung pencakar langit, tapi kita bisa membuat prestasi yang melebihi ketinggian gedung pencakar langit itu” saya terus asyik mengobrol dengannya. Sampai saat nya, kami melihat Marcus kembali dengan piala dan medali emas, serta senyumnya yang manis. Sekaligus melihat Qifa telah menolong sesamanya yang sedang sakit meski ia hanya membaca gerak bibir. Setiap hari saya hanya memakan 3 sendok nasi dan sebuah jeruk, serta membagikan apa yang saya punya.

Saat Marcus mulai bersekolah kembali, ia merasa sedih. Saya tidak mengajar di sekolah, karena saya telah meninggalkan mereka karena sakit. Saya menghembuskan nafas terakhir saat saya membaca sebuah ayat. Ketika saya sembahyang Tahajjud di rumah Ibu Asih. Namun, kemenangannya membuat teman-temannya tersenyum dan termotivasi. Akhirnya kini mereka adalah anak-anak yang pandai, dan mereka sering mengikuti olimpiade tingat provinsi maupun nasional. Saya berhasil membuat mereka pandai melalui Marcus dan Qifa yang pandai di bidang kesehatan.

“Kita tidak bisa membuat gedung pencakar langit, tapi kita bisa membuat prestasi yang melebihi ketinggian gedung pencakar langit itu”

Sekian & terima kasih!!


Cerpen Pendidikan – Mutiara Kehidupan

Siang yang teramat cerah membuat Rendra tak henti mengusap keringat di dahinya, ia harus berjalan puluhan kilometer untuk menempuh langkah ke sekolah SD satu-satunya yang ada di wilayah tempat tinggalnya. “Kamu ini kenapa, apa yang akan kamu kejar dari sekolah yang membutuhkan banyak biaya itu” sang ayah selama ini selalu protes terhadap keinginan Rendra untuk tetap sekolah. “Sekolah itu bisa membuat keluarga kita lebih baik, saya yakin ayah akan mengerti jika suatu saat saya tidak lagi menjadi anak tukang tarik bantalan yang miskin” meski begitu sang ayah tetap tidak suka dengan pendirian putranya. Ibunda yang lemah hanya bisa memeluk dan menguatkan, karena di dalam rumah ini ayahlah yang berperan mengatur segalanya.

Malam ini Rendra membaca buku catatannya dengan lampu yang berbahan dasar minyak tanah, karena desa terpencil itu belum terjamah kemajuan teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir. Ibunda duduk di tempat tidur reyot peninggalan kakek, “Sedang belajar apa?”, “Bahasa Inggris, Bu”, “Apa kamu tidak mau membantu bapakmu bekerja?”, “Menjadi kuli tarik bantalan, Bu?”, “Iya” Ibunda membelai halus rambut putra kesayangannya, “Rendra, kamu adalah putra satu-satunya keluarga ini yang akan meneruskan perjuangan bapakmu” sang bunda terlihat sedih, Rendra yang duduk di bangku SD kelas 5 itu memegang jemari malaikat yang begitu di cintainya, “Bu, saya tidak akan melupakan perjuangan bapak, tetapi apakah salah jika saya ingin membahagiakan ibu dan bapak dengan cara lain” sang ibu menghela nafas resah, “Tapi ibu tidak ada dana untuk meneruskan sekolah kamu”, “Pasti ada jalan, Bu” dua insan itu berpelukan dalam dekapan sunyi. Keinginan Rendra untuk meningkatkan mutu keluarganya begitu besar, putra Dondo itu ingin menjadi salah satu putra sukses di pulau Sulawesi.

Kelulusan sudah di depan mata, baru tadi pagi Rendra didaulat menjadi lulusan terbaik SD Negeri Lampasio. Tetapi kebahagiaannya harus surut ketika ia mendengar berita duka dari tetangganya, “Ada apa, Bu?” tanya Rendra polos, ia masih memegang piagam dari sekolahnya yang membuat ia percaya ada jalan menuju sukses. Ibunda memeluk putranya dengan sedih, ia tak sanggup menguntai kata untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada kepala keluarga yang selama ini mereka cintai. Meski harus bergelut dengan terik matahari, keringat tak mampu menandingi banjirnya air mata Rendra di atas pembaringan sang ayah. “Ayah, maafkan Rendra yang selama ini telah mengecewakan ayah” ia berada di tempat itu seorang diri, “Rendra tidak akan membantah apa yang ibu katakan, karena dulu Rendra telah banyak membuat ayah kecewa. Maafkan Rendra” kaki kecil itu melangkah menuju rumah, kampung halaman yang menjadi pelindungnya selama ini. “Bagaimana ini, saya tidak ada urusan dengan bapak yang mati karena proyek saya lebih berharga” tuan kayu itu mulai marah di hadapan wanita setengah renta yang paling Rendra kasihi. Sebagai putra satu-satunya, ia harus bisa menjadi tulang punggung keluarga mengingat keadaan ibunya sudah tidak memungkinkan untuk bekerja. “Baik, saya akan masuk menggantikan bapak” ucap Rendra lantang, “Rendra, kamu akan masuk ke SMP Negeri”, “Bu, sebagai putra yang baik saya ingin membuat ayah bangga karena saya bisa menjaga ibu yang telah ayah titipkan” sang bunda memeluk putra kesayangannya, ia menangis sedih karena putranya yang sudah berusaha keras mendapat beasiswa harus mengubur dalam-dalam keinginannya melanjutkan pendidikan.

Hari demi hari Rendra bekerja begitu keras di banding apa yang ayahnya kerjakan selama ini. Tenaga mudanya yang kuat sengaja dimanfaatkan untuk kepentingan pihak atas, “Hei Ren, apa kamu tidak mau melanjutkan sekolah?” tanya pak Gusman teman akrab ayahnya, “Mau pak, tapi apa yang saya harapkan lagi, bapak sudah tidak ada dan ibu tidak mungkin bekerja untuk memenuhi kebutuhan kami” terkadang Rendra memang iri melihat teman-temannya memakai seragam putih biru dengan bangganya. Tetapi sebagai putra Dondo yang sebagian besar pekerjaannya ada pada pabrik kayu, ia harus rela menjadi kuli bantalan. Sang bunda semakin renta, beberapa waktu ini ia sering batuk mengeluarkan darah, membuat Rendra juga semakin jarang masuk kerja karena harus merawat satu-satunya malaikat yang tersisa.

“Rendra putraku” suara bunda tak sesegar biasanya, ia mulai terlihat kurus dan pucat, “Iya Bu, Rendra di sini dan akan selalu di sini menemani ibu” batuk kecil yang kadang membuat malaikat itu tidak bisa tidur sering datang menyerang. “Ibu bangga pada putra kesayangan ibu” Rendra membelai tangan kusut itu, “Jika ibu tiada, maukah kau berjanji kepada ibumu yang bodoh ini?”, “Ibu tidak boleh mengatakan itu, ibu harus tetap bersama Rendra dan melihat bagaimana Rendra akan menjadi orang sukses” sang ibunda menggeleng, “Orang dondo tak akan berubah nak…” suara itu semakin melemah, “Tak akan berubah… tak akan jika tetap menarik bantalan…” Rendra tak kuasa membendung air matanya, “Jadilah orang sukses dengan pendidikanmu, buatlah ibu bangga dengan apa yang kau dapatkan dari ilmumu” Rendra pun semakin terisak, “Jadilah putra kesayangan ibu, putra kesayangan bangsa ini…” wanita yang amat dikasihinya harus kembali menggores luka teramat dalam di hati Rendra, “Ibu…” malaikat itu dimakamkan di samping makam suaminya, Rendra kembali menjadi orang terakhir yang menunggu makam itu.

Langkah Rendra semakin melemah, ketika ia hendak jatuh sebuah tangan nan kokoh menopangnya. “Apa? Bapak ingin menyekolahkan saya?”, “Iya, kamu adalah siswa berprestasi, saya tidak ingin otak kamu harus berhenti sampai akhirnya tumpul tanpa ada usaha”.

Semenjak hari itu Rendra giat belajar dan mengikuti les untuk menimba ilmu sebaik mungkin demi menjaga amah malaikat hatinya, ia berhasil lulus SMP, lulus SMA dan orang berhati mulia yang sejatinya adalah kepala sekolah SD yang begitu tanggap terhadap prestasi Rendra, meminta putra dondo itu untuk melanjutkan pendidikannya di Angkatan Bersenjata Repulik Indonesia. Karena giat dan gigih serta semangat yang dimiliki Rendra, ia berhasil menjadi seorang Brimob yang disegani karena kedisiplinan yang tinggi.

Hari ini ia pergi ke suatu tempat dimana kedua orang tuanya diistirahatkan beberapa tahun yang lalu, ia duduk di samping makam ayahnya, “Assalamu’alaikum ayah, ini anakmu.. anak yang selalu membuatmu jengkel, karena tak pernah mengikuti ucapanmu” Rendra merasa dadanya sesak, “Anak yang ingin membuatmu bahagia, karena anakmu yakin bisa menembus cakrawala dengan pendidikan” beberapa saat kemudian ia beralih ke makam ibundanya, “Ibu… Rendra datang…” di sini air matanya mulai membanjir, “Rendra datang untuk membuktikan janji Rendra pada ibu, Rendra sudah menjadi orang, Bu” ia menunjukkan tanda identitasnya sebagai seorang Angakatan, “Rendra sangat menyayangi ibu, Rendra akan menjadi putra kebanggaan ibu yang selalu menjadi pelita penerang surgamu…” air mata itu adalah air mata pengingat, dimana orangtualah yang selalu menjadi penolong disaat kesulitannya menentukan arah. Sebagai seorang putra, Rendra ingin menyejahterakan kehidupan keluarga dan saudaranya yang masih tinggal di Kampung Tengah. Kampung yang menjadi tempat lahirnya, kampung yang menobatkan ayahnya menjadi tukang tarik bantalan dan kampung yang menjadi pemicunya untuk sukses seperti saat ini. Hari ini Rendra membuktikan bahwa pendidikan adalah mutiara yang harus dikejar dan diperjuangakan, agar hidup manusia tidak dijajah oleh kebodohan dan kemiskinan.

Demikianlah kumpulan cerpen pendidikan yang bisa dibagikan kali ini. Semoga bermanfaat dan menghibur.

Leave a Comment