Cerpen Cinta

Cerpen Cinta – Dalam kehidupan dua insan berlawan jenis, tentu cinta dan asmara menjadi dinamika dan bumbu hubungan itu sendiri. Cinta dalam kehidupan memang penuh arti dan makna, sehingga topik ini adalah yang paling populer diadaptasi dalam karya seni seperti musik, film dan cerita.

Disini, kami bermaksud memberikan beberapa cerpen atau cerita pendek yang bertema cinta yang bisa menjadi bahan bacaan ringan tapi berarti untuk menghabiskan waktu yang tidak terpakai secara menarik dengan membaca cerita romantis.

Kumpulan Cerpen Cinta Pilihan Terbaik

Cerpen cinta romantis pendek ini diambil dan dipilih secara langsung dari berbagai sumber pustaka online cerita pendek karangan pembaca. Nah, tak usah berlama-lama langsung saja disimak kumpulan cerpen cinta sejati berikut ini. Semoga kamu menikmati membaca cerita pendek tentang cinta dan romantika ini.

Cerpen Cinta – Love The Hand Clapping

Tayangan di sebuah stasiun televisi membuat seorang gadis kecil yang imut itu terkagum-kagum hingga es krim yang digenggamnya meleleh menetesi karpet merah maroon yang tengah didudukinya.

“Qaaley! Es krimmu mengotori karpet kesayanganku!! Cepat habiskan lalu bersihkan! Aku tidak mau tidur sambil digerogoti semut!” pria kecil di sampingnya, Lucas

berdecak pinggang sambil melotot. Namun gadis yang dipanggil Qaaley itu diam tak bergeming.

“Qaaley!” Teriak Lucas lagi. Ia berjalan ke arah televisi lalu menekan tombol off. Sontak Qaaley langsung mengerang tak terima.

“Lucas nyalakan lagi televisinya! Aku masih mau nonton!” rengeknya.

“Apa sih menariknya menonton orang menikah? Umurmu juga masih enam tahun! Es krimmu sampai meleleh ke karpetku!” Geram Lucas.

Qaaley langsung menjilati lelehan es krim yang memenuhi tangannya.

“Memang apa salahnya?! Mereka cantik dan tampan, sepertiku namun tidak sepertimu!” ejek Qaaley. “Penyanyinya juga punya suara yang indah.” Qaaley menyalakan kembali televisinya.

Ia melanjutkan pekerjaan mengagumi tokoh tokoh di dalam layar kaca tersebut. Lucas hanya bisa mendecak dan mengeluh sambil berbaring di kasurnya.

Tak lama kemudian, Qaaley memanggil Lucas. “Lucas.”

Lucas tak menjawab.

“Lucaaas.” Qaaley memanggil lagi.

Lucas masih tak menjawab.

Qaaley berjalan mendekati Lucas yang sedang tidur dengan nyenyaknya. Qaaley memukul-mukul Lucas pelan, namun ia tak kunjung bangun.
Kini kemarahan Qaaley sudah dalam puncaknya. Ia paling benci jika diabaikan.

Plak!!!

Qaaley menampar keras wajah Lucas hingga ia bangun karena kaget. Kepalanya langsung berdenyut tak karuan.

“Qaaley… Kurang ajar kau!!!” Lucas menggeram sambil berlari mengejar Qaaley. Qaaley berlari sekuat tenaga menjauh dari Lucas. Namun sial Qaaley tersandung dan jatuh tersungkur.

Ia menangis. Berteriak sambil meringis. Lucas bingung harus apa. Darah mengalir dari lutut Qaaley, membuat tangisannya semakin membesar. Lucas memohon maaf berkali-kali namun Qaaley tak kunjung menghentikan tangisannya. Lucas mengambil sebuah plester dan tisu basah di atas meja lalu membersihkan luka Qaaley. Seusai bersih ia menutup luka itu dengan plester.

Kini tangisan Qaaley tak sebesar tadi, Lucas menyeka air mata di pipi Qaaley.
“Maafkan aku, ”

Qaaley hanya diam tak menyahut. Lucas bangun dari duduknya lalu berjalan ke arah kulkas. Ia membukanya lalu mengambil sebuah es krim stroberi. Lucas memberikan es krim itu kepada Qaaley.

Mata Qaaley seketika berbinar, tangannya melayang ingin mengambil es krim itu namun tertahan. Ia mengembungkan pipinya. “Qaaley akan memaafkanmu jika kau mau menuruti permintaan Qaaley.”
Lucas mendesah pasrah.
“Apa permintaanmu? ”

Qaaley tersenyum, “Ketika salah satu dari kita menikah, kita harus menuliskan lagu untuknya! Bagaimana? Mau yaa? Ah, tidak. Kau harus mau karena ini perintah! Ahh suatu hari aku akan dinikahi oleh pangeran yang sangat tampan!!” Lagi, ia terhanyut dalam lamunan kecilnya. Lucas hanya bisa geleng geleng kepala.
“Terserahlah, yang penting jangan menangis lagi yaa.” ucap Lucas sambil mengelus lembut kepala Qaaley.

***

Ibumu terisak sambil memeluk sepucuk surat dan sebuah bingkai foto. Kini aku berdiri di depan selembar surat berwarna krem beraroma coklat. Persis seperti kesukaanmu. Pernikahanku hanya tinggal 2 minggu lagi, lagu yang kau janjikan pun belum kau selesaikan.

Dan kau pergi, menghilang begitu saja dengan meninggalkan surat bahwa kau mencintaiku.


Cerpen Cinta – Matahari Terbenam

Ini menyenangkan. Tenggelam dalam lautan rumput liar yang lebih tinggi dari batas lutut orang dewasa sambil memandangi langit sore yang kelabu. Juga hembusan angin yang membuat rumput di lapangan bola ini bergoyang, meniup gumpalan awan muram ke sisi lain kota ini, dan mengaburkan suara di sekitarku. Aku benar-benar menyukainya.

Mungkin juga tidak karena aku harus mendengar Lutfi menghembuskan napasnya dengan dramatis lalu tertawa pelan.

“Apa yang kau tertawakan, bung?” kataku tanpa menoleh sedikit pun ke arahnya.

“Tidak ada,” sahutnya.

“Sungguh?”

Hening. Tapi aku yakin sekali kalau saat ini dia sedang menganggukkan kepalanya dengan antusias.

“Kau benar-benar tidak akan memberitahuku?” bisikku.

“Baiklah.” Aku mendengar suara gemerisik pelan dari tempatnya berbaring. “Aku hanya teringat kembali ke masa lalu. Kau tahu, saat pertama kali aku mengenal dan sepenuhnya jatuh padamu tapi kau malah mengira aku menyukai temanmu dan mulai men-ciye-ciye aku dan temanmu.”

Oh ya. Aku ingat itu. Semester terakhir di tahun terakhir kami di sekolah. Enam bulan penuh dengan tugas, pengorbanan, drama, dan waktu luang yang terlalu banyak untuk dihabiskan di sekolah demi uang jajan yang tidak seberapa.

Aku menolehkan kepalaku ke samping, membuat mataku bertemu pandang dengan matanya. “Kemudian kau langsung melemparkan bola basket ke sembarang arah saat aku memergoki dirimu diam-diam sedang mengamati temanku yang sama sempurnanya denganmu.”

Dia tersenyum. “Aku sedang mengingat setiap detail wajahmu, sebenarnya.”

Aku tidak bisa untuk tidak tertawa seperti kuda.

“Aku serius!”

Aku menggeser posisi tubuhku agar bisa berbaring menghadap ke arahnya. Agar aku bisa melihat wajah dan senyum malu-malunya dengan jelas, lebih tepatnya. “Kenapa? Kau kan bisa memotretku diam-diam lewat ponselmu. Atau mengambil fotoku di media sosialku.”

“Pertama, tidak ada yang membawa ponsel saat pelajaran olahraga. Kedua”—dia menyelipkan sejumput rambutku ke belakang telingaku—“kau tidak memasang foto dirimu sendiri di semua media sosialmu.”

“Benar juga,” kataku sambil mengedikkan bahuku.

“Satu-satunya hal yang bisa aku lakukan adalah merekam setiap detail yang ada pada wajahmu—juga hal lain yang ada dalam dirimu—sebanyak mungkin di dalam kepalaku. Jadi, saat kita sudah lulus dan tiba-tiba aku merindukanmu, aku bisa mengingatnya dengan mudah,” gumamnya.

Di tengah cahaya temaram dan bayangan gelap, aku mengulurkan tanganku ke arahnya. Mencoba untuk menyentuh dan membelai wajahnya. Hanya saja aku tidak berani. Aku malah membiarkan tanganku mengambang di udara, di antara aku dan dia.

“Ada apa?”

“Kenapa kau tidak mengatakannya saat kau masih hidup?” kataku dengan suara tercekat.

Aku merasakan tangannya yang hangat dan sedikit kasar di wajahku. Wajahnya menunjukkan penyesalan yang begitu mendalam.

“Kenapa kau tidak mengatakannya saat kita masih sekolah?”

Ibu jarinya menyeka air mata yang keluar dari sudut mataku. “Aku tidak bisa. Aku terlalu takut.”

“Kau tidak bisa datang dan pergi dari kehidupan seseorang sesuka hatimu,” protesku. “Kau hanya simulasi otak penuh dengan kode rumit yang menjadi bagian dari program komputer. Kenapa kau terasa begitu nyata bagiku?”

Dia hanya mengedikkan bahunya. “Cari tahu minggu depan.”

Pada akhirnya, aku membiarkan jari-jari tanganku menyentuh wajahnya yang terasa lembut. Aku menatap sepasang mata cokelat yang bisa ditatap untuk waktu yang lama tanpa pernah merasa bosan lebih lama dari biasanya sebelum semuanya berubah menjadi gelap dan kembali ke duniaku.***


Cerpen Cinta – Sebuah Nama Di Kalung Kekasihku

Makan malam sudah berlalu sejak setengah jam. Aku tidak kembali ke kamarku, pun begitu istriku tengah menemani Rey, anak kami agar lekas tidur. Rencana untuk berkunjung ke taman yang ada di Monas membuatku pergi ke loteng dan mencari sepatu roda yang pernah kugunakan dulu, sebelum menikah, untuk bermain bersama Rey minggu sore nanti.

Aku menurunkan beberapa tumpukan dus, membongkarnya. Aku yakin kalau telah menyimpan sepatu roda berwarna abu-abu itu di salah satu dus dan meletakkannya di sini bersama barang-barang tak terpakai lainnya. Membuatku terus mencari dan melepas selotip yang merekat pada tiap-tiap dus yang mengunci rapatnya.

“Ah, ternyata memang benar ada di sini,” gumamku setelah menemukannya di dalam sebuah dus mie instan yang terbungkus rapi oleh koran.

Tak lama setelah memisahkan sepatu roda itu dan merapikan dus-dus hingga tersusun seperti semula, aku langsung bergegas menuruni anak tangga kecil yang terbuat dari kayu sebagai pijakannya, dan tambang untuk menyambung tiap-tiap kayu. Hingga cahaya bulan yang menyorot ke jendela berbentuk segitiga terpantul pada sebuah benda, berkilau. Aku menghentikan langkahku pada anak tangga keempat dari atas, tubuhku yang baru keluar sepinggang kini mematung. Memicingkan mata, lantas kembali menaiki anak tangga kayu ini dan memeriksa sebuah benda berkilau tadi.

Aku berjalan pelan, memastikan sorot mataku tak melepas pandangan pada benda berkilau itu, melewati tumpukan dus yang aku geser sedikit dengan tangan dan kaki, lalu menghampiri sudut loteng yang hampir dekat dengan jendela kecil. Menyibak beberapa benda seperti tumpukan koran, buku, juga sebuah dus yang sempat menghalangiku untuk mengambil benda kecil yang bersembunyi dan menyelinapkan diri pada celah kayu yang renggang.

Ya, seperti dugaanku sebelumnya. Benda berkilau itu adalah kalung dengan liontin berbentuk hati. Aku mengambilnya, kemudian menggeser sebuah kursi kecil yang juga ada di loteng. Duduk sembari memandangi benda yang sudah lama sekali aku lupakan, atau mungkin aku malah mencarinya di dasar alam bawah sadarku. Ada sesuatu yang istimewa dengan kalung itu. Sebuah kenangan tentang akhir musim panas yang kemudian berganti dengan ditandai turunnya satu persatu tetes air dari langit.

Waktu itu, tepatnya pada awal bulan Juli atau mungkin akhir bulan Juni, itu berlangsung 15 tahun lalu. Aku menatap seseorang yang sama sekali tidak asing bagiku. Gadis itu mengenakan seragam seperti anak-anak perempuan lainnya, menyandarkan punggungnya ke bangku dan tangannya tengah memainkan pensil 2B yang baru diraut. Aku yang duduk paling belakang hanya bisa memandangi separuh wajahnya yang kini sedang menyunggingkan senyum tatkala ia berbincang dengan seseorang di sampingnya.

Jauh sebelum rutinitas gila ini aku lalukan—memandanginya setiap jam istirahat, aku juga sudah sering mencuri pandang padanya selama dua tahun belakangan. Melirik setiap kali ada kesempatan, bahkan terkadang aku tertangkap basah oleh temanku—yang sempat dicintainya. Ah, seluruh anak di kelas, bahkan di sekolah, mereka sudah tahu tentang perasaanku ini. Bahkan dia juga sama. Hanya saja entah kenapa gadis berlesung pipi itu tak pernah melirik sekalipun padaku. Dia sekadar menganggapku sahabat, tidak lebih dan tidak kurang. Namun aku rasa tidak untuk kali ini. Aku sudah menunggu terlalu lama.

  Cerpen Perjuangan

“Bagaimana?” tanyaku gemetar setelah mempertanyakan kesetujuannya.

Dia menundukkan kepala. Itu adalah reaksi pertama yang biasa dilakukannya setiap kali ada teman-teman lelakiku yang menyatakan cinta padanya. Aku tahu seperti apa dia, juga peraturan keluarganya. Tapi … tidak ada salahnya, bukan, jika aku berpacaran dengannya.

“Bukannya kamu sudah tahu?” ia balik bertanya padaku.

Aku mengangguk. Jelas sekali aku sudah tahu. Bukan hanya tahu tentang peraturan yang melarang gadis berkerudung itu berpacaran, tapi juga tahu kalau pertanyaannya lebih mengarah pada, aku tidak mencintaimu, begitulah kira-kira.

“Tidak apa-apa, kita bisa menjalaninya dulu. lagi pula kita tidak melakukan hal yang aneh-aneh—maksudku bergandengan atau lebih dari itu.”

“Kalau begitu kenapa tidak bersahabat saja seperti biasa?”

Deg!

Mungkin jika aku memikirkan itu secara sekilas, aku akan setuju. Tidak ada yang salah dengan berteman, kami sudah cukup akrab sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, pun begitu tetap dekat setelah melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya. Kami bersahabat sejak enam tahun lalu.

Aku menyadari kalau aku mulai terbiasa dengan semua itu. Menjadi sangat dekat dengannya meski hanya sebatas sahabat bukanlah perkara yang sulit. Tapi tidak lagi sejak setahun lalu, saat aku tahu dia menyukai seseorang yang baru dikenalnya setelah hari ketiga MOS, pun sebaliknya, lelaki itu juga menyukainya. Pertanyaan demi pertanyaan mulai bergentayangan, memaksa otakku untuk terus berpikir kenapa dia bisa begitu cepat jatuh cinta pada seseorang yang baru dikenalnya. Sedangkan aku, kami sudah saling mengenal hampir sebelas tahun lamanya, dia juga mengatakan aku lelaki yang baik. Tapi, kenapa?

“Kita sudah menjalani itu sangat lama, dan aku sudah sering mengatakan isi hatiku. Jadi … aku pikir aku ingin sesuatu yang lain,” ucapku yang mengalir begitu saja tanpa bisa kucegah.

Dia mengangguk. Berkata akan memikirkannya dahulu selama beberapa hari. Aku menyetujuinya, menunggu dengan sabar. Melihatnya setiap hari di kelas. Tersenyum padanya jika kami berpapasan. Pun begitu kami tetap bisu.

“Baiklah,” jawabnya singkat.

“Ma—makudnya?”

“Baiklah,” ulangnya.

“Jadi …?”

Dia mengangguk, lantas langsung keluar kelas dan pergi ke kantin. Meninggalkanku yang tersenyum mengembang dan tangan terkepal kuat karena menahan tawa. Berlompat satu-dua kali, kemudian duduk dengaan tingkah yang serba salah.

Setiap hari, setelah kejadian itu, berjalan dengan indah bagiku. Aku lebih sering tersenyum, mengecek ponsel dan menghubunginya. Bertanya tentang apa yang dia rasakan sekarang. Apakah ia sudah mencintaiku cukup banyak hari ini. Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang mungkin tidak pernah diajukan oleh seorang kekasih pada umumnya.

Aku sudah tahu, bahkan sangat tahu, kalau meskipun dia menerima hubungan ini, tapi cintanya tidak demikian tumbuh begitu saja, merambat sangat cepat seperti yang aku inginkan. Dia adalah gadis yang cukup tegas jika menyangkut perasaan. Maka sama seperti setiap harinya, ia juga menjawab kalau cintanya belum ada separuh, bahkan seperempat pun juga belum. Dan itulah yang membuatnya nampak berbeda dari semua gadis yang pernah kukenal. Dia selalu tampil apa adanya.

***

Aku bangkit dan beranjak menuruni loteng, menuju kamarku. Dari jam digital yang ada di meja samping ranjang bisa kulihat kalau jam sudah menunjukkan pukul 21:05, itu artinya aku sudah berada di loteng dan hanyut dalam lamunanku kurang lebih satu jam. Sedangkan di sampingku, istriku yang semula sudah memejamkan mata, langsung terbangun, menatapku sambil tangannya menutup mulut saat menguap.

“Dari mana saja?” tanyanya.

Aku mengangkat sepatu roda yang kuletakkan di kaki ranjang, tersenyum sekilas dan menyuruhnya untuk melanjutkan tidur. Ia mengangguk, membalikkan badannya agar nanti bisa berbaring menghadapku. Membuatku langsung merebahkan diri dan berbaring menghadapnya. Mengusap lembut rambut panjangnya yang tergerai. Ini adalah bagian yang paling aku suka. Memandangi wajah lugunya kala tertidur nyenyak.

Aku membalikkan tubuhku sekilas. Melepaskan jam tangan yang masih melingkar, juga merogoh kantong. Tadi, aku juga membawa serta kalung itu saat turun. Memerhatikan lagi sekilas bagian belakangnya sebelum akhirnya menaruh benda tersebut ke laci meja, untuk kemudian melirik istriku. Di sana, sebuah nama terukir indah.

“Maaf, tapi aku tidak bisa melanjutkannya lagi,” ucapnya suatu hari.

Aku yang sedang membawa seplastik es kelapa langsung diam mematung. Tadi, saat aku keluar dan melihatnya hanya duduk di kelas selama jam istirahat, aku membelikan minuman ini untuknya. Aku bahkan tidak membeli sesuatu apa pun untuk diriku karena sudah beberapa hari ini aku memutuskan untuk berpuasa, menyisihkan uang sakuku demi membelikannya sebuah hadiah. Hadiah itu, aku bahkan telah membelinya semalam.

“Kenapa?” tanyaku bingung. Bagaimana tidak, selama ini kami selalu akur, ia bahkan terus saja tersenyum setiap kali aku meneleponnya dan berbincang selama beberapa jam. Kami tidak memiliki masalah apa pun sehingga tidak perlu mengakhiri hubungan ini.

“Maaf,” jawabnya pelan.

“Kenapa?” tanyaku lagi.

Dia menunduk dalam. Kedua tangannya saling menggenggam satu sama lain. bibirnya terkatup. Pun begitu matanya yang agak sipit terus memerhatikan lantai kelas lamat-lamat.

“Apa aku telah melakukan sesuatu yang salah/”

“Tidak,” jawabnya cepat.

“Lalu?”

Dia melirikku. Menggigit ujung bibirnya. “Setiap kali kamu menanyakan isi hatiku, aku mencoba untuk mengatakan pada diriku untuk mencintaimu. Hanya saja … setiap kali aku mencobanya, maka aku hanya mendapati semua itu tidak pernah ada.” Dia memalingkan wajahnya. “Maaf, aku tidak bisa,” lanjutnya.

“Tidak apa-apa, mungkin kamu bisa mencintaiku suatu hari nanti,” sanggahku yang terkesan memaksa.

Dia menggeleng. Meyakinkan diriku bahwa sekarang atau nanti, semuanya sama saja. Gadis berkulit putih itu bahkan tetap tidak mengubah keputusannya setelah aku meminta padanya untuk bertahan sehari lagi. Ada yang ingin aku berikan padanya.

Dia mengangkat kepalanya. Matanya yang sipit seperti sengaja dilebarkan olehnya. “Aku tidak menerimamu untuk meminta apa pun,” ucapnya. Pergi meninggalkanku yang hanya berteman dengan suara embus angin juga deru kendaraan dari jalan raya di depan sekolah.

Aku hanya bisa mematung. Hingga malam hari aku menghubunginya, hendak meminta maaf atas kata-kataku yang terdengar sedikit kelewatan. Tapi percuma, dia tidak meresponsnya sama sekali. Mengabaikan panggilan teleponku yang mungkin sudah hampir 15 kali.

Di sana, di ruang yang aku tinggali sekitar delapan menit lalu, sebuah loteng yang gelap. Aku merenggangkan jari-jariku, menatap kalung yang niatnya akan kuberikan padanya besok. Lantas membuang benda itu sekuat tenaga, meninggalkannya dengan sebuah nama yang sengaja aku minta tukang kalung untuk mengukirnya kemarin malam. Aku hampir lupa nama itu hingga akhirnya aku membacanya lagi tadi. (*)


Cerpen Cinta – Tragedi Menjelang Ulang Tahun

Ini adalah hari ketujuh aku menjenguk gadis yang sudah dua tahun mengisi hatiku. Bukan di ruang berdinding putih dengan bau obat-obatan yang dia benci. Bukan di taman sekolah yang selalu menjadi tempat favorit kami bertukar cerita. Bukan juga di bukit cinta, tempat di mana kami sering menghabiskan waktu untuk menikmati senja. Ini adalah tempat yang tidak pernah kami kunjungi sebelumnya. Rumah masa depan.

Aku tahu, ini adalah kebodohanku. Seharusnya aku saja yang pergi malam itu untuk membeli segelas coklat panas kesukaannya. Dengan begitu, dia akan tetap bisa menikmati hari seperti biasanya. Lihat sekarang! Rindu yang menggebu sejak detik pertama dia pergi, membuat dadaku begitu sesak. Apakah air mata bisa membuatnya kembali? Sayangnya tidak. Mataku sudah sembab sebesar jengkol, tapi kesedihan itu masih juga bercokol.

“Aku ingin terus bersamamu. Aku nggak mau sendiri,” katanya di depan kelas pagi itu.

Aku mengacak poni yang biasa dia rapikan menggunakan jari. “Aku juga nggak bakal ninggalin kamu, Jelek!”

Meskipun aku memanggilnya “Jelek” tapi jujur dari hatiku yang paling dalam, dia begitu cantik. Lebih cantik dari bidadari yang sering kulihat dilayar televisi. Matanya yang bulat selalu meneduhkan. Apalagi lesung pipi yang membuat wajahnya semakin imut. Aku menyukai semua yang ada pada dirinya. Aku menyukai caranya merapikan poni, mengikat rambut, bahkan gayanya bercerita ketika sedang kesal. Dia terlihat lima kali lebih cantik.

Sudah seminggu, aku tidak bisa mengacak poninya lagi. Papan berwarna putih yang berdiri kokoh ini bertuliskan namanya, Almira Cendana Putri. Tanggal lahir yang tertulis di sana adalah hari ini, 23 November.

“Kamu mau kado apa?” tanyaku ketika aku dan Almira sedang menimati bekal bawaannya di jam istirahat. Nilai tambah yang membuatnya semakin terlihat cantik adalah fakta kalau dirinya pintar memasak.

Dia menggeleng. “Aku cuma mau tiup lilin di bukit cinta ketika senja.”

“Cuma itu?” Aku mengernyitkan dahi. Rasanya tak percaya dengan apa yang ia ucapkan, mengingat Almira menyukai pernak-pernik yang berhubungan dengan Hello Kitty. “Bagaimana kalau hoodie Hello Kitty?”

Dia tersenyum. Senyum yang selalu menular di wajahku.

“Kado itu nggak melulu tentang barang, Nata. Ada kalanya, momen jauh lebih berharga untuk diingat ketimbang barang. Aku hanya ingin menikmati senja bersamamu. Itu saja. Apa kamu keberatan?”

“Enggak sama sekali,” jawabku waktu itu sambil mengacak poninya yang dibalas oleh lirikan tajam. Bau amis dari sambal ikan peda yang menempel di tanganku, berpindah di poninya.

Membayangkan percakapan waktu itu, membuat dadaku mencelus. Kalau saja, aku tahu dia akan pergi secepat ini, mungkin aku akan mempercepat merayakan ulang tahunnya. Aku ingin membuat Almira merasa bahagia. Tapi, sayangnya bukan itu yang aku beri. Keteledoranku dalam mengendarai sepeda motor membuat tulang rusuknya patah.

Almira terpental delapan meter ketika aku menerabas lubang jalan yang cukup dalam dengan kecepatan tinggi. Aku sempat melihat dirinya mengerang kesakitan di bawah lampu jalan yang temaram. Kepalanya bocor hingga darah memenuhi sebagian wajahnya. Tidak sampai satu menit, semua berubah menjadi gelap.

***

Denting peralatan medis selalu menyimpan misteri. Dalam hitungan detik, alat itu bisa berubah bunyi dan membuat keluarga pasien menangis meraung-raung. Aku menyaksikannya ketika pasien yang ada di sudut ruangan meninggal. Ya Tuhan! Ruang ICU ini begitu mengerikan untukku dan Almira. Aku takut kalau …

“Almira,” panggilku ketika jarinya bergerak. Dia membuka kelopak matanya dan memaksakan berbicara meski dengan susah payah.

“Kamu … harus berjanji, untuk tidak menyalahkan diri sendiri ketika aku udah nggak ada,” ucapnya dengan suara yang nyaris tak terdengar.

Aku mencium tangannya. “Kamu nggak boleh pergi, Ra! Kamu harus sembuh. Satu minggu lagi kita akan ….” Mata Almira kembali menutup. Suara alat medis berubah menjadi dentingan panjang. “Ra! Bangun, Ra!”

Seseorang menarik tubuhku menjauh dari Almira. Beberapa orang berjubah putih mengerumuni Almira dengan wajah panik. Tubuhku mulai bergetar ketika aku keluar dari ruangan itu. Hanya selang 10 menit, Almira ikut menyusulku keluar. Selimut putih menutupi wajahnya yang cantik. Ibu dan Ayah Almira menangis sambil ikut mendorong ranjang Almira menjauh dari ruang ICU. Sementara aku hanya terduduk di lantai. Kakiku terasa lemas bukan main. Pandangan mataku buram karena dipenuhi air mata.

  Cerpen Pendidikan

Ibu menangis sambil memeluk tubuhku. “Yang Ikhlas ya, Nak. Almira sudah tidak merasakan sakitnya lagi. Dia sudah bahagia.

Ucapan ibu menyadarkanku, kalau Almira tidak akan menepati janjinya untuk merayakan ulang tahunnya di Bukit Cinta.

***

Gerimis membuyarkan lamunanku. Rupanya langit sudah mulai gelap. Tidak terhitung berapa detik aku menghabiskan waktu di rumah baru Almira hari ini. Senja telah pergi. Aku mengusap papan putih itu.

“Maafkan aku, Ra. Seharusnya, kita tidak pergi malam itu.” Aku mendekatkan wajahku ke papan bertuliskan nama Almira. “Aku mencintaimu. Tidurlah yang nyenyak. Aku berjanji akan sering-sering mengunjungi rumah barumu.”

Ketika memejamkan mata, aku melihat bayang-bayang Almira tersenyum sambil berlari menjauh dariku. Ia terlihat lebih cantik menggunakan gaun serba putih.


Cerpen Cinta – Tentang Senja Dan Fajar

Sore itu, aku datang kembali. Bersama sepoi angin Pantai Parangtritis yang menyejukkan. Kau ada di sana. Berdiri di depan kios kecil milik mendiang orangtuamu dengan wajah sumringah. Beberapa turis domestik maupun mancanegara nampak singgah. Bertanya-tanya seputar harga barang yang kau jajakan. Kemudian menawar setipis bibir yang dipamerkan.

Belum puas, dia juga mengolok-olokmu. Sebab kau tak mengiyakan penawaran mereka. Terlalu. Aku benar-benar tak bisa lagi tinggal diam. Kakiku telah melangkah, hampir menghampiri kalian. Memaki orang yang tak berperasaan itu. Namun, niat itu kuurungkan karena aku melihat kau tetap tersenyum tulus. Menolak dengan cara yang halus. Aku memalingkan wajah. Tak tahan melihat wajah cantikmu yang selalu saja menyunggingkan senyuman walau hakikatnya hatimu terluka.

Di saat itulah kau memanggilku. Mau tak mau, aku pun menoleh. Tak kusangka kau sudah ada di depanku. Mengulurkan tangan. Iya, aku ingat ini adalah hal pertama yang selalu kita lakukan saat berjumpa.

Detik itu, aku tertegun. Jemarimu masih dalam genggamanku. Semakin kasar. Berbeda jauh dengan tangan teman-teman perempuanku. Banyak kapal yang menghiasi tangan mungilmu.

Ah, Senja. Seberapa keras kau berjuang melawan kerasnya dunia? Seberat apa beban yang harus kau pikul agar dapat tetap bertahan hidup?

Sayang aku hanya mampu meneriakkan pertanyaan itu dalam hati. Merasa jengah, kau pun menarik jemarimu. Berlari menuju tepian pantai. Lalu, di sanalah kita. Duduk. Bercanda. Menunggu senja. Salah satu fenomena alam yang sama dengan nama kau punya. Aku suka.

Senja itu, aku kembali terpana. Kau kembali melontarkan kalimat sederhana, tapi penuh makna. Ketika aku berkomentar tentang kiosmu yang terlihat sepi.

“Hari ini rejekiku memang sedikit. Tapi tak apa. Seberapapun rejeki yang kita dapat, harus tetap disyukuri. Karena Tuhan tak pernah ingkar janji. Masih ada esok tuk kembali mengais rejeki,” jelasmu bersahaja.

Senja, tahukah kau? Aku selalu suka kalimat-kalimat sederhana itu. Aku selalu suka penjelasanmu tentang pelajaran kehidupan yang tak kudapatkan di bangku sekolah.

Sulit untuk memulai, tapi ini harus kukatakan. Maaf, Senja. Mungkin ini adalah surat terakhirku. Penutup dari surat-surat yang dikirimkan oleh kakakku sejak aku memilih pergi dari hidupmu. Perlahan. Takdir kembali berbicara. Dia telah merindukanku. Dia ingin aku kembali ke sisi-Nya. Sekali lagi maaf. Aku bukan Tuhan yang tak pernah ingkar janji.

Kita hanya ditakdirkan menjadi pasangan duet yang saling melengkapi. Seperti fajar dan senja yang warnai angkasa. Seperti hujan dan teduh yang tak ditakdirkan bersama. Namun, kita selalu bahagia bukan saat melakukannya?

Kolaborasi Senja dan Fajar. Fenomena yang dinanti banyak orang.

Senja, jika kau bersedih, terluka atau merasa mulai tak sanggup lalui rintangan yang ada, dengarkan lagu ini. Bayangkan jika aku berada di sampingmu. Menggenggam erat tanganmu. Kau harus tahu. Aku selalu ada untuk menjadi sandaran hidupmu. Walau kini, kita berada di dua dunia yang berbeda. Ruang maupun waktu.


Cerpen Cinta – Ribuan Purnama Tanpamu

Kebersamaan kita memang sudah berlalu, mungkin sudah ribuan purnama yang terlewat bersama perpisahan kita. Tapi apa salahnya aku merindu?

Hari ini hatiku sedang bergetar, menerima setiap rasa yang kukenang saat bersamamu. Tidak, ini bukan karena ingin kembali padamu. Aku hanya sedang ingin menceritakan hari-hari yang kulalui tanpamu.

Ini bukan hal yang mudah, bisa saja membuka luka, tapi tak mengapa mungkin sudah saatnya aku berdamai dengan rasa sakit. Purnama kali akan menjadi tempat terakhir aku meletakkan kecewa dan kesakitanku, karena aku akan meletakkanya pada malam dan menemui pagi.

“Aku ingin kita berpisah”, kataku padanya tanpa angin dan hujan.

Tentu saja itu membuatnya bingung dan kaget, karena menurutnya tak ada badai apapun yang meruntuhkan pertahanan kami saat itu. Berbeda denganku yang sudah memikirkan semuanya dan yakin melangkah pada perpisahan.

Wanita yang dia anggap tidak akan mungkin meninggalkannya, mengajukan proposal perpisahan. Bukan hanya itu, dia mengatakannya di tengah persiapan pernikahan mereka. Akulah wanita gila itu.

Aku bersamanya selama 7 tahun, bertumbuh menjadi dewasa bersamanya. Awalnya pun aku pikir dia yang akan menjadi pelabuhan terakhirku. Tak pernah terbesit sedikitpun untuk menghabiskan masa tuaku bersama orang lain. Hingga aku menemukan dia bukan jalan yang bisa kutempuh, aku tak bisa menambal setiap lubang yang begitu banyak.

Sampai akhirnya sebuah perpisahan muncul menjadi jalan yang mungkin harus aku tempuh. Dia pikir ini mudah, padahal aku melakukannya dengan penuh luka.

“Apa?” Hanya itu yang bisa keluar dari mulutnya. Mungkin ini terlalu mengejutkan buatnya.

Dia pikir aku datang untuk membicarakan pernikahan, tapi justru sebuah keinginan gila yang bernama perpisahan yang aku lemparkan.

“Iya, kamu gak salah dengar. Aku mau kita putus, aku mau semua ini berakhir. Jangan berusaha meyakinkan dirimu bahwa ini hanya mimpi,” jelasku padanya.

“Are you sure? Apa kamu udah gila? Kita udah tunangan Rin, rencana pernikahan kita udah tersusun dan udah semakin dekat, kemudian sekarang kamu bilang mau putus? Kenapa sekarang? Kenapa menolak saja saat aku memintamu? Kenapa kamu mengatakan iya? Kenapa kamu berjanji tidak meninggalkanku? Kenapa? Kenapa? Kenapa?” Pertanyaan bertubi-tubi itu dilontarkannya.

Tentu saja tidak akan aku jawab, karena aku tetap memilih diam. Aku hanya ingin sebuah perpisahan tanpa meninggalkan rada bersalah untuknya. Biarkan saja dia membenciku. Biarkam saja kali ini aku menjadi tokoh antagonis untuk kisahku sendiri.

“Aku hanya ingin berpisah, bukan menjelaskannya, setuju tidak setuju, mau tidak mau, aku tetap ingin berpisah darimu.” Biarkan saja aku terlihat semakin kejam di matamu.

Aku memang tak ingin meninggalkan rasa bersalah pada dirimu, tapi aku ingin kamu membawa rasa sakit dicampakkan ini seumur hidupmu. Maafkan aku, Dion Aleandro. Harusnya nama itu yang akan menemani namaku dalam undangan pernikahan kita, yang sayangnya harus aku akhiri.

Hari ini sudah ribuan purnama berlalu, aku harap rasa sakitmu pun sudah berlalu. Mungkin hanya aku yang terlalu kejam menyikapi rasa sakit yang kamu tanam, hingga ingin melihatmu menderita. Maafkan aku, egoku menuntunku untuk melindungi diri dengan menyakitimu.

Sekarang sudah ribuan purnama berlalu, mengikuti perputaran bulan yang mengikuti bumi. Mungkin sudah waktunya aku melepaskan semua kesakitanku akan kekecewaan yang selama ini kusimpan rapi pada diri sendiri.

Aku ingin menyerahkan semua luka itu padamu, katakan saja aku masih egois karena tak ingin kamu membenciku lagi.

Ketahuilah dalam setiap kesakitanku, masih ada rindu terselip untukmu. Apa salahnya merindu? Bukan ingin memaksa waktu untuk mempertemukan kita. Hanya saja ingin melepaskanmu dalam untaian doa bukan kebencian.

Perpisahan kita mungkin buah dari amarah dan keegoisan hatiku, tapi kamulah yang membakarnya. Selama kita bersama, aku berdiam dalam kesabaran menerima semua yang kamu lakukan di belakangku.

Mungkin kamu pikir, kamu tupai yang pandai melompat, hingga takkan pernah terjatuh. Padahal aku tahu semuanya, tapi tak ingin menarikmu jatuh. Karena buatku sejauh aku masih jadi prioritasmu, semua itu tak menjadi masalah.

Aku pun berbangga, lamaran itu datang padaku, bukan mereka. Kamu sukses membuatku merasa menang. Persiapan itu terus bergulir, hingga aku tahu bukan pekerjaan yang membuatmu membiarkanku mempersiapkannya sendiri. Ada dia, dia yang kamu sembunyikan jauh. Dia yang kamu pikir takkan pernah aku ketahui.

Kamu sibuk bermain, hingga lupa aku mampu melihat kebanyak arah. Aku tak hanya melibatkan logika, aku masih wanita yang memiliki rasa. Aku tahu kamu pergi menemui yang lain, aku tahu aku tetap jadi prioritasmu, tapi ternyata ada sisi hatiku yang terluka, ego dan harga diriku pun murka.

Aku tak bisa menerima semuanya, aku menjadi ragu untuk menghabiskan waktu panjang hingga akhir hidupku bersamamu. Aku terus memperpanjang durasi untuk menyampaikan keinginanku untuk berpisah. Hingga malam itu tiba, malam di mana aku mengutarakannya padamu.

Kini ribuan purnama sudah berlalu, rasa sakitku terhapus lewat perputaran waktu tanpamu. Bukan hari yang mudah, aku menjalani hari penuh dengan air mata dan rindu sebelum aku mampu berdamai dengan diriku.

Sudah saatnya aku menemui pagi, menitipkan semua cerita kita pada malam. Jika terselip rindu, maka aku masih bisa menemuinya di bawah terang bulan.

Kamu pernah bilang, “cahaya bulan mungkin tak seterang matahari, tapi ia tetap mampu menghiasi malam dengan cahayanya.”

Jadi biarkan kisah kita menjadi seperti bulan, kita memang berpisah, tapi tetap saja itu menjadi hiasan kisah pada masa lalu kita.***


Cerpen Cinta – Simpul Cinta

Trauma. Mungkin kata tepat yang jadi penyebab ketidakaktifanku di dunia organisasi sekolah. Hanya saja, saat masuk sekolah menengah atas, peraturan mengharuskanku untuk mengikuti setidaknya satu organisasi. Maka aku harus segera menentukan.

“Malas ketemu orang-orang, Ta,” kataku pada Tita salah seorang teman yang baru kutemui di SMA ini.

“Ehm, itu saja?” ia seperti menungguku melanjutkan.

“Waktu kelas empat SD, aku ikut pramuka. Sampe ikut perkemahan juga, diizinin sama mama soalnya ada tetanggaku yang juga anggota pramuka. Tapi di sana aku malah jadi mainannya kakak kelas, Ta,” tanganku terkepal mengingat kesesalanku.

“Emang diapain?” Tita menahan tawa.

“Rambutku biasa diikat pake rumput, terus tali sepatuku diikat sama tali sepatunya, aku yang nggak nyadar, jalan, jatuh, celanaku sampe kelihatan,” aku menggeram, “pokoknya ganggu banget deh, Ta. Makanya, aku takut banget ikut-ikut pelatihan organisasi kayak gini, pasti ada aja senior yang bakalan gangguin.”

“Tapi kita mesti ikut,” Tita menghela nafas bersamaan denganku. “Jadi mau ikut yang mana?”

Diskusi kami berakhir. Aku harus memikirkan lebih dalam lagi. Sepulang sekolah, aku bertemu dengan Anis, tetanggaku yang tahun ini lulus SMA. Dan dari sana ia mengusulkanku ikut pramuka.

“Kamu nggak perlu lagi beli peralatan, pake punya aku saja,” kata Anis senang.

Dan aku menggangguk. Kembali mendiskusikan dengan Tita.

“Aku juga mau ngusulin itu,” Tita menggerakkan alisnya. “Katanya pramuka lebih tenang, nggak ada senior yang macam-macam, dan orangnya serius-serius.”

Aku mengembungkan pipi. Perlahan mengangguk. Dan sore harinya, aku dan Tita mengumpul formulir pendaftaran. Setidaknya kata Tita, kami hanya perlu bersabar selama setahun, dan bisa keluar di kelas dua nanti, kalau memang tidak sanggup lagi.

***

Hari pertama pertemuan, semua calon anggota berkumpul di lapangan, mendengar beberapa kata dari seorang pria berkacamata yang memperkenalkan dirinya sebagai wakil ketua ambalan. Aku melirik Tita yang sudah berdiri tak sabaran di sebelahku.

  Cerpen Persahabatan

“Kenapa, Ta?” tanyaku takut kalau Tita pingsan.

Ia lalu cekikikan, “itu tipeku. Cowok berkacamata, serius, dan kelihatannya pintar.”

Aku menjulurkan lidah, tertawa kecil, tahu alasan Tita ikut.

Setelah hampir satu jam berdiri, si pria berkacamata mengakhiri, setelah memberi pengumuman tentang pelatihan dasar besok. Besok sabtu, seharusnya hari libur, tapi aku harus datang dengan kaos hitam, celana training, dan beberapa perlengkapan penting lainnya. Ah, hari tenangku berakhir sudah.

Esok harinya saat aku masuk ke lingkungan sekolah bersama Tita yang menungguiku di depan gerbang, merasakan pertambahan jumlah calon anggota, tidak seperti hari kemarin. Aku dan Tita saling lihat. Mata kami lalu tertuju ke panggung di pinggir lapangan, terdengar suara ramah yang berbicara dengan mikrofon.

Kami lalu mendekat. Berdiri di bagian belakang. Sambil mendengar suara, tawa, dan pujian yang keluar dari gadis-gadis di sekitar kami.

“Katanya baru bisa datang, soalnya habis ikut Rainas di luar kota. Beneran ganteng banget yah?” salah satu dari mereka meminta persetujuan.

“Iya, temenku ada yang masuk gegara lihat dia kemarin pake seragam lengkap, keren banget,” ia cekikikan. “Sekarang dia mau nyanyi, mau semangatin junior.”

Aku melirik Tita yang memajangkan lehernya, mencoba lihat, dan sedetik berikutnya ia melihatku, menggeleng. Aku tersenyum kecil.

“Bukan tipeku,” katanya dan duduk memperlihatkan isi tasnya yang berisi banyak makanan ringan.

Aku ikut menjongkok. Sesekali mendongak pada punggung yang semakin histeris dengan lagu yang telah mengalun. Aku ikut mengecek bawaanku, “aku jadi agak semangat pas nyiapin barang-barang, apalagi nginget kalau malam ini kita bakalan tidur di alam terbuka.”

Tita menepuk bahuku, “jiwa organisasimu sudah kelihatan,” ia menggerakkan kepalanya.

“Oh iya, aku bawa tiga baju ganti. Kamu nggak lupa kan? Kita mesti melintas gunung, lari di tanah becek,” ia mengingatkanku.

Aku mengangguk. Memperhatikan Tita mengatur rambut pendeknya. Ia lalu melihati rambutku yang terurai, “bakalan kotor.”

“Ah,” aku teringat, mulai mencari ikat rambut di tas. “Tita, ada karet gelang?” tanyaku dan mendapati gelengan Tita.

Aku menghela nafas. Mengabaikan sepatu yang mendekat ke arah kami menjongkok.

“Cari apa?”

“Ikat rambut,” Tita yang menjawab, tahu aku tidak terbiasa pada orang yang baru kenal.

“Sini, biar gue yang ikat….”

Aku segera menggeleng, saat rambutku disentuh. “Terimakasih, tapi nggak…” aku mendongak, mendapati wajah pria yang menyebakan traumaku dan telah membuatku pasif di dunia sosial, aku mundur, membuatku jatuh terduduk, “wah, ngapain lo di sini?!” teriakku histeris, ketakutan.

Semua pandangan lalu terarah padaku, sepertinya aku baru saja berbicara tidak sopan pada idola mereka. “Dia nggak sopan banget sama kak Rian,” mereka sepertinya mulai mengutuk.

Aku menelan ludah. Mencoba menghindar saat pria bernama Rian yang entah seberapa besar perubahan formasi tubuhnya itu ikut menjongkok.

“Hey, Honey, gue dengar dari kak Anis, Honey juga bakalan masuk pramuka.”

Aku tersenyum kaku, “bukan urusan lo,” gumamku dan mendapati tatapan penuh tanya Tita di hadapanku. Dan aku tersadar dengan tatapan orang lainnya, ah, pria ini baru saja menyebutkan dengan honey, dengan pronunciationnya yang perfect. “Namaku Hani,” kataku cepat, mencoba menjelaskan, “dan kami nggak ada hubungan apa pun.”

Namun kalimatku terbantahkan oleh tingkah Rian selanjutnya. Ia mulai melepas gelang tali di tangannya, membuka simbul yang membentuk gelang itu, dan mulai menyatukan rambutku.

Oh God, dia mulai lagi. Aku mencoba menepis tangannya dan ia segera menegurku, memintaku tenang. Dan kudapati senyum Tita. “Dia ini lagi ganggu aku, Ta,” mencoba meminta belas kasihnya.

Lalu, “Selesai,” Rian menepuk puncak kepalaku, “gue udah lama nunggu, kali ini Honey jangan kabur lagi, yah,” katanya dan hanya melambaikan tangan pada pertanyaan gadis-gadis dan teman-temannya tentang siapa aku.

Aku mengerutkan kening, melihatnya berjalan menjauh, mencoba menebak gangguan apa lagi yang akan dilakukannya. “Lihat, Ta. Hidupku beneran nggak bakalan tenang lagi. Aku nggak tahu kalau dia juga ikut pramuka, pantes aja kak Anis bilang ada kejutan.”

Tita tertawa kecil, meraih tanganku yang berusaha melepas ikatan di rambutku. “Jangan dilepas. Simpulnya cantik banget, Hani.”

“Eh?” keningku terangkat, bukannya biasanya Rian hanya mengikat asal-asalan. Aku mengangkat kepalaku, melihat ke arah pria yang sekarang melambaikan tangannya padaku.


Cerpen Cinta – Fur Elise

Semilir angin memainkan anak rambut seorang wanita yang duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon. Matanya menatap sebuah kotak musik di tangannya. Dulu, dulu sekali, waktu ia masih SD ia sangat ingin memiliki benda seperti itu. Namun, keinginan itu tak berlangsung lama ketika ia sering mendengar lantunan yang ada dalam kotak musik muncul di beberapa adegan film horror.

Lantas beberapa tahun lalu, semua perspektif yang dimiliki wanita itu tentang kotak musik, lebih tepatnya lantunan yang keluar dari kotak musik berubah. Seorang sahabat yang telah memberinya kotak musik sebagai kado pernikahan di tangannya itu pernah mengungkapkan sebuah potongan rahasia kecil di baliknya.

***

“Anna.” Seorang laki-laki menyebutkan nama gadis yang tengah duduk di sampingnya sambil melotot tak percaya melihat kertas yang baru saja dipegangnya.

“Hmm. Kenapa Al?”

“Retinol, tiamin, askorbat, kalsiferol. Kompleks amat. Ckck.” Al mengucapkan kalimat itu sambil berdecak di samping Anna.

“Lah, kamu kenapa malah absen nama-nama vitamin sih?”

“Emang nilai kamu kayak gitu kan? A, be, ce, de, kenapa nggak ngumpulin nilai e juga sekalian?” Kata Al tersenyum mengejek.

“Kamu temen aku apa bukan sih? Semangatin aku gitu, support kek, apa kek yang bikin suasana hati aku seneng dikit. Nah ini malah kayak disuruh terjun ke jurang.”

Anna menyesal memerlihatkan nilainya pada Al. Bukannya membuat suasana hatinya membaik setelah memperlihatkan nilai-nilai kuliahnya yang amburadul, eh Al malah membuat suasana hatinya tambah buruk.

“Makan, yuk!” Al berdiri, menghempas-hempaskan rerumputan yang ikut di celananya.

“Aku traktir deh, meskipun aku yakin kamu udah sehat banget dapat vitamin A B C D dari kampus.” Sekali lagi Al mengejek Anna kemudian melangkahkan kakinya menjauh dari gadis itu.

“ALAN ZAIDAN.” Anna meneriakkan nama lengakap Al dengan sangat kesal sambil mengikuti langkah kaki Al yang menurutnya sangat menyebalkan hari ini. Ralat. Memangnya kapan Al tak membuatnya kesal?

Sesampainya di sebuah restoran, Al dan Anna berjalan menuju sebuah meja di bagian pojok. Jendela di sekitarnya memberikan pemandangan langsung jalanan yang selalu ramai oleh pejalan kaki. Lantunan musik klasik pun mengalun merdu di restoran italia yang mereka masuki saat ini.

“Ini kok musiknya serem amat sih.” Anna bergidik sampil mengelus lengannya. Musik ini mengingatkannya pada beberapa adegan film horror yang pernah di tontonnya.

“Fur Elise?”

“Hah?!”

“Iya, lantunan musik ini judulnya Fur Elise karya Beethoven.”

Beethoven? Anna mencoba mengingat-ingat siapa Beethoven itu, setaunya tak ada musisi Korea yang namanya Beethoven. Yang ia tahu hanya Exo, Seventeen, Shinhwa dan, yah, idol Kpop lainnya, lah. Tak ingin berpikir lama, Anna bermasa bodoh saja tentang siapa itu Beethoven.

“Kok bisa-bisanya sih Beethoven itu ciptain lagu horror kayak gini?”

“Nah ini nih. Kamu kebanyakan nonton film rumah berhantu An. Otak kamu udah terkontaminasi sama adegan horror yang nampilin kotak musik tua di tengah ruangan gelap terus tiba-tiba langsung bunyi sendiri gitu.”

Anna hanya mendelik kesal mendengar penuturan Al tentang kebiasaannya menonton film horror.

“Malahan yah, musik ini tuh karya paling menyentuh menurutku. Oh iya An, kamu tahu nggak kenapa kebanyakan kotak musik yang sebenarnya nggak bisa dikatakan kotak musik sih karena kebanyakan bentuknya berbentuk hati selalu berisi lantunan Fur Elise?”

Anna menggeleng. “Memangnya kenapa Al?”

“Itu karena Fur Elise karya paling romantis yang pernah ada.” Al tersenyum. “Itu adalah musik yang dibuat khusus oleh Beethoven untuk kekasihnya, Therese.”

“Tapi kok alunannya malah kedengaran menyedihkan gitu ya?” tanya Anna lantas sepersekian detik selanjutnya ia berujar kembali, “Ralat, itu nggak cuma kedengaran menyedihkan tapi juga terdengar horror.” Lagi-lagi Anna mengingat adegan horror yang pernah ia tonton.

Al menatap Anna jenaka kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya. “Udah ah, nggak ada gunanya berbicara sama kamu. Nggak akan ngerti soalnya.”

Pesanan mereka datang lantas tak ada lagi pembahasan tentang Fur Elise yang tetap saja menurut Anna terdengar begitu horror.

***

Hari-hari pun berlalu dan Fur Elise yang pernah mereka perdebatkan ikut terkubur. Namun, sepotong kisah yang diceritakan Al beberapa tahun lalu itu, membawa Anna pada sebuah kesimpulan teka-teki yang membuatnya terhempas ke kejadian beberapa hari lalu.

Teka-teki itu dimulai di hari bahagia Anna bersama lelaki yang dicintainya. Tapi sahabat menjengkelkannya, Al, tak datang di hari bahagia itu. Al hanya menitipkan sebuah kado lewat seorang teman yang ikut menghadiri pesta pernikahannya.

Namun, hari ini, melalui secarik kertas yang ada di dalam kado pernikahannya bersama kotak musik di tangannya, Anna akhirnya tahu kenapa Fur Elise terdengar begitu menyedihkan dan alasan Al tak ikut merayakan hari bahagianya.

‘Anna selamat untuk pernikahanmu. Maaf cuma bisa kasih kamu kotak musik ini sebagai bentuk kasih sayang aku ke kamu. Soalnya aku bukan komposer hebat seperti Beethoven yang mampu mempersembahkan sebuah lagu untuk Therese di hari pernikahannya bersama lelaki lain.

An, kupikir ini sudah sangat terlambat but i love you.

An, dulu aku nggak pernah berani nyatain ini ke kamu. Aku selalu nunggu waktu yang tepat buat nyatainnya tapi pada akhirnya kesempatan itu nggak pernah datang. Tapi, kuharap setelah kamu baca surat ini, semua rasa yang ada di hati aku dapat tersampaikan ketika kamu dengar alunan Fur Elise dari kotak musik ini.’ – Al

Anna perlahan membuka kotak musik di tangannya. Alunan Fur Elise mengalun lembut di telinganya. Entah kenapa, matanya tiba-tiba berembun dan semua kebersamaannya bersama Al terputar kembali di memori otaknya.

“Alan Zaidan menyebalkan.” Lirih Anna mengatakanya. ” Tapi, aku harap suatu saat kamu bisa menemukan wanita yang hebat dan pastinya cinta sama kamu, Al.” Lanjut Anna sambil mengusap air matanya yang telah jatuh membasahi kedua pipinya.


Cerpen Cinta – Aku Yang Berjalan Tanpamu

Hingga hari ini masih terselip rindu untuknya. Wanita gila yang meninggalkanku, ketika sebuah keyakinan sudah datang untuk menghabiskan sisa hidupku bersamanya.

Seperti guntur yang datang tanpa memberi pertanda kilat cahaya wanita gila itu mencampakanku. Mengakhiri semua mimpi dan harapan yang kami susun bersama.

Sejak saat itu, wanita yang mungkin masih kucintai hari ini itu kusebut wanita gila. Wanita tergila yang pernah kutemui, hingga saat ini aku belum menemui wanita yang mampu menggetarkan hatiku, seperti saatku bersamanya. Hanya dia wanita yang bisa mempermainkan perasaanku sesuka hatinya.

Bagaimana aku tidak menyebutnya gila, dia mengakhirinya setelah dia menerima lamaranku dan di saat satu per satu persiapan itu berjalan. Bahkan tanpa menjelaskan apapun.

“Aku hanya ingin mengakhirinya,” ujar wanita gila itu padaku.

Haruskah aku menyebutkan namanya? Rina Safina, itu nama wanita itu. Tentu saja aku masih mengingat namanya, nama orang menanamkan luka yang mungkin kini telah berakar kuat.

  Cerpen Remaja

Aku yang ingin membencimu selalu gagal, karena lebih kuat merindu. Berkali-kali aku sudah meyakinkankan hatiku untuk menerima kenyataan bahwa aku telah berjalan tanpamu. Tapi kenyataannya itu tidak mudah.

Masih ada terselip harap untuk melanjutkan mimpi yang pernah kita rangkai. Tapi setiap kali aku ingin maju, aku teringat kekejaman hatimu

“Semakin besar usahamu untuk kembali, maka aku akan membencimu sebesar usahamu itu,” semua itu dikatakannya tanpa ada segurat rasa yang tersisa untukku.

Sejak kepergianmu, aku terpuruk dalam jurang kesakitan, tanpa bisa berbuat apapun untuk mempertahankanmu. Berjalan tanpamu hidupku begitu hampa.

Dulu yang begitu mudah kugapai, menjadi begitu sulit sekeras apa pun aku berupaya. Aku yang dulu melejit tinggi kembali pada titik terendah, karena sebuah kehilangan.

Berjalan tanpamu, membawa banyak arti kehadiranmu yang selama ini mungkin tidak pernah aku sadari sebelumnya.

Kini aku sadar bahwa ternyata aku telah kehilangan tiang doa yang kokoh, sejak kepergianmu. Doamu itulahh yang mengantarkanku setiap hari.

“Rin, entah sampai kapan aku akan berjalan tanpamu dengan rindu yang masih saja menggebu seperti ini.”

Jika kelak kita masuk dalam pusaran takdir yang memaksa kita bertemu lagi, ketahuilah aku sudah melakukan sebuah upaya untuk melupakanmu,tapi aku belum bisa melepaskan bayangmu. Hatiku masih saja belum siap untuk menerima kenyataan untuk perpisahan kita.

Aku lelaki bodoh yang tak mampu berjalan tanpamu, karena lelaki bodoh ini yang masih saja merindu, aku si lelaki bodoh yang terus berupaya melupakan ini selalu gagal untuk melepaskanmu.

Jika masih ada rindumu untukku, masih bisakah kita bertemu?

Bisakah kau biarkan lelaki bodoh ini menangis dalam sakitnya kehilanganmu, tapi tetap bisa berjalan denganmu. Karena berjalan tanpamu, aku tak mampu.***


Cerpen Cinta – Ketika Hujan Berpaling

Hari ini awan mendung sudah berlalu, seperti Hujan yang sudah berpaling meninggalkanku. Bukan, bukan hujan tetesan air dari langit, tapi Hujan lelaki yang selama ini mengisi kekosongan hidupku.

Dulu aku pikir awan mendung dan malam akan sangat serasi menghadapi gelap, tapi nyatanya hari ini aku si Bulan penghuni malam tak lagi bersama Hujan.

Ya, namaku Bulan, sama seperti bulan yang menutupi banyak lubang dengan cahaya indahnya, aku pun demikian. Tersenyum dan bercahaya menutup banyak luka akibat kecewa dan kesedihan.

Tentu sebuah perpisahan bukan hal yang direncanakan dua insan, tapi bisa saja rencana itu datang dari salah satu pihak ketika cinta telah terhenti.

Dengan segala kesakitan aku menerima perpisahan, aku tak masalah jika hujan berpaling. Apa dayaku jika memang sudah tak bersama? Hujan punya hak untuk bahagia walaupun tanpa aku.

Tak ada masalah, aku pun sanggup untuk berterima kasih. Aku tak menghapus semua jejak, karena aku pikir biarkan ini terhenti sebagai kisah yang indah.

Ternyata aku salah, kamu yang pernah aku cintai dengan begitu besar, memilih untuk berbicara kejam. Seolah semua yang terjadi di antara kita tak pernah ada. Bahkan tak segan mengumbar sisi burukku.

Tak berhenti di situ kau membakar kecewa yang lebih besar, kepergianmu tak hanya sendiri. Kau membawa Matahari, kamu berpaling padanya.

Matahari yang dulu menjadi temanku kala senja pun mengaku tak mengenalku dengan baik. Tak mengapa, mungkin ini cara Tuhan mendewasakanku.

Kebersamaan kalian pun sudah menjadi ketetapannya tak ada yang bisa mengubahnya.

“Hujan, mengapa harus selama ini bertahan? Jika kamu sudah tahu tak mungkin bisa bersamaku?” Ingin rasanya aku menanyakan itu padanya.

Kesakitanku bukan karena kebersamaan mereka, tapi tak bisakah sedikit saja beri aku jeda waktu untuk menata diri?

Melepaskan kenangan pasti tak mudah untuk sebuah kisah yang telah lama berjalan, mengikhlaskannya pada orang lain saja sulit, apalagi bersama teman sendiri ?

Mungkin matahari dan bulan tak pernah bersinar bersama, seperti aku dan Matahari. Tapi setidaknya kami pernah menghiasi langit menjadi jingga untuk sebuah perpisahan yang indah.

Setidaknya dari mereka aku belajar arti teman dan di dunia ini tak ada yang abadi. Dia yang dulu begitu mencintaiku, kini seolah membenciku. Mengabaikan semua kebaikanku hanya untuk mengibarkan keburukanku.

Selamat tinggal Hujan, selamat menikmati hidup di bawah teriknya matahari. ***


Cerpen Cinta – Permainan Takdir

Musim panas akan segera berakhir tergantikan oleh musim hujan,tapi hatiku masih saja tertuju pada satu wanita yang sudah lama memutuskan untuk pergi meninggalkanku. Tanpa terasa bulan terus berganti hingga sedikit lagi waktu akan mengantarkanku di penghujung tahun.

Sudah 2 tahun berlalu sejak perpisahanku dengan Rina, tapi tak ada yang berbeda dengan hari-hari yang kulalui. Hatiku masih saja dipenuhi rindu untuk wanita gila yang sudah mematahkan hatiku hingga berkeping-keping.

Aku sudah berusaha untuk melupakannya, tapi kenangan itu tetap saja bersarang di kepalaku. Padahal aku sudah berusaha membuka hati untuk wanita lain.

Aku mencoba mencari penggantinya, aku menjalani hubungan dengan Cheryl rekan bisnis kuliner yang awalnya kurintis bersama Rina. Putusnya hubungan kami tentu juga berdampak pada bisnis yang kami bangun, Rina enggan bekerja denganku lagi. Jangankan bekerja betegur sapa saja Rina menolakku mentah-mentah.

Perpisahanku dengan Rina bukan hanya membuatku kehilangan kekasih, tapi juga kehilangan rekan kerja yang hebat dan motivator yang terus memacuku untuk maju.

Omsetku yang dulunya selalu mencapai target bahkan bisa melebihi, perlahan mulai menurun. Cheryl begitu berbeda dengan Rina, wanita berkulit putih itu terlalu menuntut banyak hal. Bahkan terus menerus memintaku untuk menikahinya.

Pusing memikirkan bisnis yang terus merosot dan keberadaan Cheryl yang merepotkan tentu hanya membuatku semakin stress,jadi akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan wanita itu.

Perpisahan itu membuatku lega, tapi tidak dengan bisnisku yang semakin kacau. Cheryl melampiaskan kemarahannya dengan mutuskan hubungan kerja sama kami.

Aku semakin jatuh terpuruk tanpa keberadaan Rina di sisiku. Hingga saat ini komunikasiku dengan Rina masih terputus, tapi dari kabar yang kudengar dari temannya Rina sudah memiliki kekasih baru.

Rina menjalin hubungan dengan lelaki Indonesia, tapi sudah berkebangsaan Australia karena kekasihnya itu bekerja di sana. Sesekali terlihat Rina menyambangi negara tempat tinggal lelaki yang menggantikan posisiku itu. Yaa, aku masih sering mengintip media sosial Rina. Jangan tertawakan aku, hanya ini satu-satunya cara untukku melepaskan rindu untuknya.

Sebaiknya aku harus meninggalkan semua pemikiran dan rindu ini, karena hari semakin sore. Aku harus menemui Papa di kantornya, kami harus membicarakan kelanjutan bisnisku yang sudah di ujung tanduk.

Setibanya di kantor, aku melihat Papa dengan sepucuk undangan pernikahan di tangannya.

“Undangan dari siapa Pa?” tanyaku pada lelaki yang semakin hari terlihat sepuh itu.

“Oh, ini undangan nikahanya anaknya om Roy,” jawaban papa membuat jantungku serasa berhenti berdetak.

“Rina akan menikah?” pertanyaam itu terlontar begitu saja. Hatiku masih menolak untuk menerima kenyataan, aku merasa tidak sanggup untuk melihat Rina bersanding dengan lelaki lain di atas pelaminan.

“Kalau Papa bilang iya, apa kamu akan mengacaukan pernikahannya?” seloroh papa, yang tentu saja tidak lucu buatku saat ini.

“Ya, gak mungkinlah. Hubunganku dengan Rina udah berakhir, Pa. dia berhak untuk bahagia,” jawabku santai, padahal hatiku seperti tertusuk jarum saat mengatakannya.

Papa tertawa mendengar jawabanku itu, mungkin dia tahu isi hatiku yang sebenarnya.

“Abangnya Rina yang akan menikah Dion, bukan Rina,” kata Papa menutup tawanya.

Seperti ada beban yang terangkat dari hatiku mendengar apa yang Papa katakan itu.

“Sepertinya Mama akan ke luar kota di hari itu, jadi kamu harus menemani Papa ke sana, ” tutur papa sambil menepuk-nepuk pundakku.

Tentu saja aku senang untuk pergi ke sana, karena akan sangat besar peluang untuk bertemu Rina. Tapi apakah Rina akan menyambut kedatanganku dengan tangan terbuka? Itu masih menjadi pertanyaan besar dalam benakku. Tapi biarlah, setidaknya aku bisa mencoba untuk mengajukan proposal perdamaian. Begitu lelah harus berpura-pura tidak saling mempedulikan seperti ini.

***

Hari pernikahan itu pun tiba. Papa benar, Mama pergi ke Hongkong dan nasibku harus menjadi teman Papa ke pernikahan Rivan, abangnya Rina.

Begitu tiba sudah terdengar hingar bingar musik yang mengalun mengiringi pernikahan yang digelar di salah satu hotel berbintang di Jakarta. Dari desas-desus yang terdengar hotel ini masih milik keluarga Rina.

Di tengah keramaian akhirnya mataku terhenti untuk memandang wanita yang selama ini aku rindukan. Wanita itu terlihat sangat cantik dengan gaun perpaduan silver dan pink. Rambutnya ditata rapi membuat leher jenjangnya terlihat. Dia tersenyum manis pada semua tamu yang disambutnya hangat.

Tiba sudah giliran Papa yang ada di hadapannya, senyumnya tidak berubah. Papa memeluk dan menciumnya dengan kerinduan yang mungkin sama besar denganku. Kalian harus tau Papa adalah pendukung Rina garis keras, mereka sangat dekat. Mungkin karena Papa tidak punya anak perempuan dan Rina bisa membuat papa merasakannya.

Tapi sayang senyum ramah wanita itu berubah ketika melihat keberadaanku dihadapannya. Ia membuang wajahnya berlawanan dan enggan berjabat tangan denganku.

“Segitu besarkah kebencianmu padaku?” tentu saja itu hanya bisa kutanyakan di dalam hati.

Aku hanya bisa pasrah meninggalkan Rina, kemudian berbaur dengan tamu lainnya.

Aku mengirimkan pesan lewat whatsapp, “Maafin aku Rin, kalau kehadiranku buat kamu gak nyaman.”

Tapi pesan itu tak mendapatkan balasan apapun, walaupun aku bisa melihat dari tempatku dia sudah membacanya.

“Wah, kamu terlihat lebih makmur sekarang,” suara itu mengagetkanku dan keterkejutanku bertambah melihat dari siapa suara itu berasal.

Ya, Rina menyapaku. Wanita yang tadi begitu dingin, tiba-tiba datang menyapaku. Mengomentari bobot tubuhku yang memang bertambah jauh dari sebelumnya.

“Mungkin kamu lebih bahagia tanpa aku, jadi kamu jadi seperti ini,” lanjutnya karena tak medapat jawaban apapun dariku.

Refleks bibirku bersuara, “justru sebaliknya”.

Dia terkejut mendengar ucapanku, tapi tetap berusaha setenang mungkin.

“Maafkan aku.”

“Untuk?” Tanya Rina dengan raut wajah kebingungan.

“Untuk semua, aku sendiri tak mengerti apa yang menjadi salahku. Tapi melihatmu begitu membenciku tentu kesalahan besar yang telah aku perbuat dan setelah sekian lama kamu membatasiku untuk mengatakannya jadi baru bisa aku sampaikan sekarang. Hidupku berantakan tanpa kamu, semua yang aku perbuat seolah menjadi salah. Seolah kegagalan menjadi begitu dekat dengan kehidupanku.” Aku melepaskan semua yang ingin kukatakan selama ini.

“Satu lagi, aku merindukanmu. Aku harus mengatakan itu, karena memendamnya membuatku hampir gila.”

Gadis itu hanya diam seribu bahasa. Tanpa ada jawaban apapun, tapi aku tersengat rasa bahagia. Aku sangat bahagia bisa melihatnya.

Sebuah permainan takdir mempertemukanku dengan wanita gila yang selama ini menghilang tanpa jejak. Aku tak peduli ini menjadi akhir atau memberikan kita awal yang baru, yang penting akhirnya aku bisa menemukanmu.

Semua rinduku terbayar karena bisa melihat dan mendengar suaramu. Terima kasih untuk permainan takdir yang membiarkan kami kembali bertemu.***


Cerpen Cinta – Langit Senja Yang Melukis Luka

cerpen cinta
cerpen cinta | unsplash.com

Seren hanya bisa memandang Genta dari kejauhan. Sesuatu terasa lepas dari jiwanya. Semacam perasaan kosong yang tidak nyaman.

  Cerpen Sedih

Ketika itu, entah apa yang membuat ibunya dan orang tua Genta melontarkan kesepakatan untuk menjodohkannya dengan Genta. Konyol sekali! Tidak masuk akal! Ia masih kelas 2 SMA, tetapi sudah disuruh menjalin hubungan serius dengan seseorang yang tidak pernah menghadirkan debaran asing di dadanya.

Seren belum mau terikat. Lagi pula, apa yang menarik dari Genta selain tampang dan kecerdasannya? Ia cenderung tertutup dan pendiam. Ia lebih banyak mengisi waktunya dengan membaca dan belajar. Wajar bila ia mampu menyelesaikan kuliahnya dalam waktu tiga tahun.

Untuknya, itu bukan sesuatu yang istimewa. Alangkah membosankannya bila harus melewatkan waktu dengan sosok seperti itu. Tidak punya pendirian dan selalu manut pada orang tua. Mau saja dijodohkan!

“Aku tahu, ini tidak mudah buatmu,” ujar Genta lirih. Matanya menatap Seren lembut. Menyiratkan perasaan kasih yang teduh.

Seren cuma bisa membisu. Menghindari tatapan Genta dengan perasaan benci yang tiba-tiba menyerbunya.

“Kamu yakin mencintaiku?” tanya Seren tanpa menatap wajah Genta.

“Bukan cuma perasaan sayang karena sejak kecil kita biasa melewatkan waktu bersama?” lanjutnya.

Genta menggeleng, tersenyum tipis.

“Awalnya memang perasaan sayang seorang kakak pada adiknya. Entah kapan, aku merasakan perasaan lain tumbuh di hatiku.”

“Karena itu kamu tidak menolak perjodohan ini? Jangan … bukan kamu yang mengusulkan perjodohan ini, ‘kan?” tuding Seren gusar.

“Apa ada seseorang yang kamu sukai?” tanyanya lirih.

“Aku belum memikirkannya. Aku hanya merasa belum siap menjalin hubungan serius dengan siapa pun.”

“Aku tidak memintamu cepat menikah.”

“Aku masih ingin bebas.”

“Aku tidak akan mengekangmu.”

“Karena kita belum menjalaninya,” tukas Seren, menekan emosinya.

Genta menatapnya murung.

Sesaat, Seren merasa tidak enak hati melihatnya, tetapi ia tidak boleh goyah.

“Maafkan aku. Aku tidak bisa,” ujarnya kemudian.

“Aku belum mau terikat. Aku tidak mau melihatmu cemburu bila aku jalan dengan cowok lain. Aku juga tidak mau sibuk mencari alasan setiap kali ingin jalan dengan teman-temanku. Aku merasa tidak akan sanggup menjalani semua itu.”

Genta tercenung. Cukup lama, hanya keheningan yang memenuhi udara.

“Baiklah, aku mengerti,” ujar Genta mengoyak hening. Ada luka yang terlukis samar di matanya.

Entah karena mengerti atau merasa masih punya harapan, Genta tidak berubah. Tidak berusaha menjauh atau menghindarinya, walau sikap Seren tidak seperti dulu.

Genta memang baik, membuat Seren merasa bersalah dan tidak jarang menjadi serbasalah menghadapinya. Tidak baik memberi harapan kosong. Seren berencana mendekatkannya dengan Monik, sahabatnya. Sejak pertama kali bertemu dan berkenalan, Monik sudah tertarik pada Genta. Entah apa yang membuat Monik tertarik, bahkan tergila-gila pada cowok kutu buku dan kaku itu.

“Kamu bercanda?” Bola mata Monik melebar. Seren memang konyol dan keterlaluan!

“Tidak semudah itu memindahkan hati seseorang.”

“Karena itu kamu harus mendekatinya dari sekarang.”

“Aku ragu. Genta cuma perhatian dan sayang padamu.”

Seren menggeleng cepat.

“Aku hanya bisa menganggapnya sebagai kakak. Tidak lebih,” tegasnya.

“Selama ini kamu sangat bergantung padanya.”

“Aku tidak pernah meminta semua itu.”

“Kamu akan menyesal saat semua perhatian dan keberadaaanya bukan lagi untukmu.”

Seren tertawa.

“Hal itu tak akan terjadi.”

“Karena kamu belum menjalaninya,” protes Monik. Monik menyeringai, menatap Seren penuh selidik.

“Siapa dia, orang yang membuatmu menolak cowok sebaik Genta?”

Seren membuang napas, kesal.

“Harus berapa kali kukatakan kalau aku belum mau terikat.”

Seseorang menyentuh lengannya. Membawanya kembali ke alam nyata.

“Yakin, kamu tidak mau ikut?” Monik mengulang pertanyaannya, melihat Seren masih terdiam.

Seren mengerjap.

“Aku merasa tidak enak badan,” jawabnya, lesu.

“Baiklah, kalau begitu kamu langsung pulang, ya? Jangan lupa istirahat.”

Seren memandang punggung Monik yang menjauh sampai Genta membawanya pergi, meninggalkan perasaan getir di hatinya.

***

Suara ketukan pintu membuat Seren memutar tubuhnya.

“Boleh Tante masuk?”

Seren mengangguk dan menggeser duduknya ke sudut tempat tidur. Membiarkan Tante Danar duduk di sampingnya.

“Kata Genta kamu sakit. Sudah minum obat?” tanya tante Danar dengan nada cemas.

“Seren cuma enggak enak badan, tapi sekarang sudah baikan kok.”

“Syukurlah, Tante takut tejadi apa-apa denganmu.”

Seren cuma mampu tersenyum kecil. Entah mengapa, rasanya sulit sekali menahan perasaan sedihnya. Selama ini ia telah salah menilai orang tua Genta. Mereka orang yang baik dan penuh kasih. Meski ia menolak perjodohan itu, mereka tidak membencinya, bahkan memintanya tinggal di rumah mereka begitu tahu ia tinggal sendiri karena ibunya memutuskan tinggal di Bali menyusul kerabat yang lain.

Tante Danar meraih tangan Seren dan mengelusnya penuh kasih.

“Kalau ada apa-apa, cerita sama Tante. Jangan diam dan menyimpannya sendiri. Apalagi kalau nanti Genta sudah pergi, Tante pasti sedih dan kesepian.”

“Kapan Genta berangkat ke Amerika-nya, Tante?” tanya Seren, parau.

“Minggu depan.”

Seren tercenung.

“Genta kok belum bilang apa-apa?” Seren tak mampu menyembunyikan rasa kecewanya.

“Mungkin Genta takut kamu sedih.”

“Monik sudah tahu?”

“Tante rasa sudah. Soalnya ia sudah sibuk mencatat dan mempersiapkan barang-barang yang akan Genta bawa.”

Seren mendesah. Sejak Genta dan Monik semakin dekat, perasaan tersingkir itu kerap merasuki pikirannya. Ia sekarang tahu, apa arti kehilangan. Celakanya, ia tidak punya seseorang untuk berbagi resah. Ia menelan kecewanya dengan dada sesak.

***

Semburat merah berbaur jingga membuat langit senja bagai gadis remaja berhias diri. Semilir angin yang berembus bebas di balkon sesekali membuat rambut Seren tersibak. Ia menatap kejauhan dengan mata murung. Anyaman resah dan sedih di hatinya terurai begitu saja. Ia menghela napas panjang, lalu membuangnya perlahan. Tetap tidak mampu mengurangi resah di hatinya. Sosok yang selalu memberikan perhatian dan kehangatan lekat di pelupuk matanya. Dadanya kembali berdesir, seiring hati yang terasa getir. Begitu menyakitkan ketika akhirnya tahu apa yang ada di hatinya. Saat bayangan Genta melintas di pelupuk mata, gelisahnya semakin menumpuk.

“Seren ….”

Tanpa menoleh pun Seren tahu siapa yang datang. Ia mencoba meredam gemuruh halus di dadanya, sebelum memutar tubuhnya. Sekilas matanya menatap Genta muram, tetapi setelah itu datar tanpa ekspresi. Anehnya, ada sebersit penyesalan yang tiba-tiba hadir di hatinya. Andai ia mau mengalah. Andai ia bicara baik-baik, andai ia mengungkapkan semua isi hatinya …. Ya, begitu banyak pengandaian yang selalu saja berakhir tak sesuai dengan harapannya.

”Aku sengaja tidak memberi tahumu dulu. Maaf, aku tidak bermaksud mengabaikanmu.”

Seren mengerjap, masih sibuk menata debar di dada.

“Aku mengerti,” ujar Seren lirih.

“Syukurlah, aku lega mendengarnya.”

“Aku hanya terkejut. Aku juga ikut senang. Menyenangkan melihatmu kelak kembali dengan meraih gelar MBA-mu,” Seren tersenyum, patah.

“Kesempatan tidak datang dua kali, ‘kan?”

Ya, kesempatan belum tentu datang lagi. Seharusnya ia juga punya keberanian untuk mengungkapkan isi hatinya saat ini. Saat Genta ada di hadapannya. Namun, ia tidak bisa melakukannya. Ia yang mendorongnya pergi untuk menemui hati lain. Menyadari itu, uap panas seketika menyerbu matanya.

“Sebelum memutuskan, aku telah membicarakannya dengan Monik.”

Akhirnya, selalu tentang Monik. Tersingkir dari hati orang yang ternyata berarti, membuat perasaannya terluka. Benar-benar terluka.

“Jaga dirimu baik-baik. Makanlah dengan teratur dan jangan tidur terlalu malam.”

Seren kelu. Dadanya terasa menyempit tiba-tiba. Baru sekarang ia menyadari, betapa selama ini Genta amat baik dan berarti buatnya. Monik benar, ia merasakan kehilangan itu sejak perhatian dan waktu Genta bukan lagi untuknya. Ia hanya bisa menangis menyadari keputusannya mengabaikan dan menolak Genta.

“Aku titip Mama. Kalau ada apa-apa jangan kamu pendam sendiri. Ada Mama dan Monik untuk teman berbagi.”

Seren tidak sanggup lagi menahan uap panas di matanya. Butiran kaca bening itu pun meluncur di pipinya dan pecah membentuk parit kecil.

Genta terkesima melihatnya.

“Jangan menangis,” Genta menyentuh pipi Seren, menghapus air matanya dengan hati-hati.

“Aku akan sering berbagi kabar. Lagi pula, ada Monik. Ia akan selalu ada untukmu. Kamu bisa menceritakan apa pun padanya,” Genta merengkuh pundak Seren dan memeluknya erat.

Seharusnya tidak ada air mata. Selama ini ia sendiri yang yang membuat keputusan menganggap Genta sebagai kakak. Mengapa ia harus menyimpan perasaan sedih dan kehilangan ini begitu dalam?

Seren menatap Genta murung. Ia tidak rela kehilangan Genta, meski hanya untuk sementara. Andai ia punya keberanian untuk mengungkapkan isi hatinya, mungkin ia masih bisa memiliki Genta. Seren yakin masih melihat pijar kasih itu di matanya.

“Terima kasih karena selama ini telah menjadi kakak dan teman yang baik,” ujar Seren parau. Ia menatap Genta lekat-lekat. Ia merasa melihat sebuah jendela yang terbuka lebar sehingga ia bisa mengetahui perasaannya sendiri. Ia masih selalu ingin menjadi orang yang istimewa buat Genta. Walau persaudaraan yang ia tawarkan. Meski ia tahu semua itu akan selalu melukai perasasaannya.

“Seperti harapanmu, kamu akan selalu menjadi adikku,” Genta mengusap puncak kepala Seren.

Seren ingin berteriak dan mengatakan kalau ia tidak mau menjadi adik Genta, tetapi ia tidak mampu mengucapkannya. Semua kalimat yang sudah tersimpan di otaknya seakan tersekat di tenggorokan.

“Selama ini kamu telah menjadi bagian penting dari hidupku. Terima kasih karena telah mengenalkan dan memercayakan Monik menjadi belahan jiwaku. Aku akan selalu menjaga dan mencintainya,” suara Genta dalam, penuh tekanan.

“Aku meyesalinya. Maaf … seharusnya aku tidak menolak dan mendorongmu pergi. Aku benar-benar bodoh telah melakukan semua itu. Aku terlambat menyadari perasaanku sendiri.” Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Seren. Entah apa yang mendorongnya membuat kekacauan.

Genta terkesima. Cuma sesaat, kemudian berubah datar, tanpa ekspresi. Lelaki itu mencoba menyembunyikan kecewanya meski dadanya terasa sesak.

“Monik … dia telah melakukan banyak hal untuk hubungan kami,” ujarnya, patah. “Aku mulai mencintai dan tergantung padanya.”

“Aku tidak memintamu untuk meninggalkannya. Tak pernah terlintas di pikiranku untuk mengganggu hubungan kalian,” Seren membuang tatapnya ketika mata Genta menyergapnya, tajam.

“Aku tidak bermaksud membuatmu bimbang. Aku yakin kamu mencintainya. Melihat betapa mudahnya Monik masuk menjadi bagian dari keluargamu.”

Genta tergugu. Perih yang ia rasakan saat ini melebihi perih yang ia rasakan saat Seren menolaknya dulu. Ia mendesah, menatap kejauhan dengan gamang. Langit senja mulai berubah warna. Tak lagi cantik layaknya gadis remaja berhias diri. Gelap perlahan-lahan mengusirnya pergi. Seperti perasaannya saat ini. Sesuatu terasa lepas dari jiwanya.

“Maafkan aku, tanpa sengaja telah membuatmu terluka,” ujarnya getir, sebelum meninggalkan Seren termangu sendiri.

Sesuai perkiraannya, tidak akan mengubah apa pun. Namun, ini lebih baik. Ia telah mengungkapkan apa yang selama ini meyesakkan dadanya. Sekarang ia tahu, sekalipun menyakitkan cinta tetap memesona manusia sebagai anugerah terindah.

Mungkin, sudah saatnya ia merelakan dan melepas Genta pergi dari hatinya. Walau sulit, ia harus mengikhlaskan apa yang bukan takdirnya.***

***

Demikian Cerpen Cinta yang bisa dibagikan kali ini. Jangan lupa datang kembali untuk melihat update cerita pendek lainnya yang akan dibagikan pada masa mendatang.

Leave a Comment