Cerita Fabel

Cerita Fabel – Dalam dunia sastra, fabel adalah sebuah cerita personifikasi hewan yang menggambarkannya seolah-olah bertingkah laku sepeerti manusia. Pada umumnya cerita fabel mengandung pesan moral dan nilai budaya yang dimaksudkan agar anak yang membaca fabel bisa mencontoh perilaku yang baik dan mengambil pelajaran dari cerita tersebut.

Kompilasi Cerita Fabel Terbaik

Simak berikut ini kumpulan cerita fabel yang di rangkum dari berbagai situs untuk menjadi bacaan singkat bagi anak yang bisa membantu kreatifitasnya dengan keunikan dan nilai moral yang terkandung dalam berbagai cerita fabel.

Cerita Fabel – Dua Angsa Undan dan Seekor Kura-Kura

Dahulu kala, di suatu danau di kota Magdha, hidup seekor kura-kura. Dua ekor angsa undan juga hidup di dekat sana. Mereka bertiga adalah teman yang sangat akrab.

Pada suatu hari, beberapa nelayan tiba di sana dan berkata, “Kita akan datang ke sini besok pagi dan menangkap ikan dan kura-kura.”

Pada waktu kura-kura mendengarnya, dia berkata kepada angsa-angsa undan, ” Apakah kalian dengar apa yang dikatakan nelayan-nelayan tadi. Apa yang akan kita lakukan sekarang?’

“Kami akan melakukan apa yang terbaik”. “Saya sudah pernah melewati waktu yang sangat mengerikan dahulu”, kata kura-kura. “Jadi bisakah engkau membantu saya pergi hari ini ke danau yang lain?”

“Tapi itu tidak aman untuk kamu dengan merangkak ke danau yang lain”, kata angsa-angsa undan.

“Baik, kamu bisa mengangkat saya ke sana dengan menumpang dua di antara kamu” jawab kura-kura sambil merasa bahagia sekali dengan dirinya sendiri.

“Bagaimana kita bisa melakukannya?” Tanya angsa-angsa undan.

“Masing-masing bisa memegang ujung kayu di paruhmu sementara saya memegang kayu tengahnya di mulutku. Kemudian jika kamu terbang, saya bisa ikut dengan kamu”, kata kura-kura.

“Rencana yang bagus sekali”, kata angsa-angsa undan. “Tapi ini juga sangat berbahaya karena kalau kamu membuka mulutmu untuk bicara, kamu akan terjatuh.”

“Apakah kamu mengira saya begitu bodoh?” Tanya kura-kura.

Kemudian pada waktu angsa-angsa undan itu terbang sambil mengangkat temannya si kura-kura di kayu, mereka terlihat oleh beberapa orang penggembala sapi yang berada di bawah.

Karena terkejut, para penggembala itu berkata, “Sesuatu yang aneh, lihatlah! Angsa-angsa undan sedang membawa kura-kura ke suatu tempat.”

“Wah, kalau kura-kura itu jatuh kita akan memanggangnya”, kata salah satu gembala sapi.

“Saya akan memotong dia menjadi bagian-bagian kecil dan memakannya” kata yang lain.

Mendengar kata-kata yang begitu kasar dari para gembala sapi, kura-kura lupa di mana dia sedang berada kemudian berteriak dengan marah, “Kamu akan makan abu.”

Pada saat dia membuka mulutnya, ia kehilangan genggamannya dan dia pun jatuh terpelanting ke tanah dan langsung disambar oleh gembala sapi kemudian dibunuh.

Angsa-angsa undan dengan sedih melihat kehancuran teman mereka (si kura-kura) dan dengan putus asa mengharap bahwa dia seharusnya mendengar nasihat mereka untuk tidak membuka mulutnya.

Oleh karenanya, nasehat yang baik itu tidaklah ternilai harganya.

Cerita Fabel – Kura Kura dan Sepasang Itik

cerita fabel kura dan itik

Seekor kura-kura, yang kamu tahu selalu membawa rumahnya di belakang punggungnya, dikatakan tidak pernah dapat meninggalkan rumahnya, biar bagaimana keras kura-kura itu berusaha. Ada yang mengatakan bahwa dewa Jupiter telah menghukum kura-kura karena kura-kura tersebut sangat malas dan lebih senang tinggal di rumah dan tidak pergi ke pesta pernikahan dewa Jupiter, walaupun dewa Jupiter telah mengundangnya secara khusus.

Setelah bertahun-tahun, si kura-kura mulai berharap agar suatu saat dia bisa menghadiri pesta pernikahan. Ketika dia melihat burung-burung yang beterbangan dengan gembira di atas langit dan bagaimana kelinci dan tupai dan segala macam binatang dengan gesit berlari, dia merasa sangat ingin menjadi gesit seperti binatang lain. Si kura-kura merasa sangat sedih dan tidak puas. Dia ingin melihat dunia juga, tetapi dia memiliki rumah pada punggungnya dan kakinya terlalu kecil sehingga harus terseret-seret ketika berjalan.

Suatu hari dia bertemu dengan sepasang itik dan menceritakan semua masalahnya.”Kami dapat menolongmu untuk melihat dunia,” kata itik tersebut. “Berpeganglah pada kayu ini dengan gigimu dan kami akan membawamu jauh ke atas langit dimana kamu bisa melihat seluruh daratan di bawahmu. Tetapi kamu harus diam dan tidak berbicara atau kamu akan sangat menyesal.”

Kura-kura tersebut sangat senang hatinya. Dia cepat-cepat memegang kayu tersebut erat-erat dengan giginya, sepasang itik tadi masing-masing menahan kedua ujung kayu itu dengan mulutnya, dan terbang naik ke atas awan.

Saat itu seekor burung gagak terbang melintasinya. Dia sangat kagum dengan apa yang dilihatnya dan berkata:

“Kamu pastilah Raja dari kura-kura!”

“Pasti saja……” kura-kura mulai berkata.

Tetapi begitu dia membuka mulutnya untuk mengucapkan kata-kata tersebut, dia kehilangan pegangan pada kayu tersebut dan jatuh turun ke bawah, dimana dia akhirnya terbanting ke atas batu-batuan yang ada di tanah.

Rasa ingin tahu yang bodoh dan kesombongan sering menyebabkan kesialan.

Cerita Fabel – Memberi Lonceng Pada Kucing

Suatu hari tikus-tikus berkumpul untuk berdiskusi dan memutuskan untuk membuat rencana yang akan membebaskan mereka selama-lamanya dari musuh mereka, yaitu kucing. Mereka berharap paling tidak mereka akan menemukan cara agar tahu kapan kucing tersebut akan datang, sehingga mereka mempunyai waktu untuk lari. Karena selama ini mereka terus hidup dalam ketakutan pada cakar kucing tersebut dan mereka terkadang sangat takut untuk keluar dari sarangnya di siang hari maupun malam hari.

Banyak rencana yang telah didiskusikan, tetapi tak ada satupun dari rencana tersebut yang mereka rasa cukup bagus. Akhirnya seekor tikus yang masih muda bangkit berdiri dan berkata:

“Saya mempunyai rencana yang mungkin terlihat sangat sederhana, tetapi saya bisa menjamin bahwa rencana ini akan berhasil. Yang perlu kita lakukan hanyalah menggantungkan sebuah lonceng pada leher kucing itu. Ketika kita mendengar lonceng berbunyi, kita bisa langsung tahu bahwa musuh kita telah datang.”

Semua tikus yang mendengar rencana tersebut terkejut karena mereka tidak pernah memikirkan rencana tersebut sebelumnya. Mereka kemudian bergembira karena merasa rencana itu sangat bagus, tetapi di tengah-tengah kegembiraan mereka, seekor tikus yang lebih tua maju ke depan dan berkata:

“Saya mengatakan bahwa rencana dari tikus muda itu sangatlah bagus. Tetapi saya akan memberikan satu pertanyaan: Siapa yang akan mengalungkan lonceng pada kucing tersebut?”

Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng memberi lonceng pada kucing ini adalah Kadang kala, rencana yang bagus tak semudah apa yang dipikirkan, maka rencana harus dipertimbangkan dengan matang.

Cerita Fabel – Lembu dan Buaya

cerita fabel lembu dan buaya

Pasti anda tahu cerita tentang lembu dan buaya yang dipahat di Candi Jago sebanyak tiga panil di sudut barat laut, sebelah tangga menghadap ke barat.

Panil pertama menceritakan seekor lembu sedang menggendong seekor buaya meyeberangi sungai. Yang kedua menggambarkan seekor lembu sedang mendekam, di hadapannya tersaji hidangan dalam dua piring. Panil terakhir menceritakan tiga orang manusia sedang memukuli buaya dengan tongkat/pedang.

Cerita lembu yang tertipu buaya diawali saat seekor buaya yang hampir mati karena tertimpa pohon yang tumbang. Pohon itu menindih badannya sehingga buaya tidak dapat melepaskan diri dan terjebak di bawahnya. Kemudian datang seekor lembu ke tempat itu dan melihat buaya yang tertimpa pohon. Buaya meminta tolong pada lembu untuk melepaskannya, dank arena merasa kasihan, lembu membongkar pohon itu dengan tanduknya.

  Cerita Lucu

Setelah terlepas buaya pura-pura sakit dan meminta tolong untuk dibawa ke air, yang sebenarnya merupakan tipu daya buaya untuk membunuh lembu. Kemudian buaya digendong lembu ke sungai, buaya minta supaya dibawa ke tengah. Setelah sampai di tengah sungai, buaya menggiggit lembu tersebut.

Ada banyak versi cerita fabel ini yang beredar di masyarakat Indonesia. Tidak hanya pesan moral saja yang bisa didapatkan dari cerita binatang ini, tanggung jawab moral untuk meneruskan tradisi menceritakan pada anak cucu ada di pundak kita.

Cerita Fabel – Burung Gagak dan Sebuah Kendi

Pada suatu musim yang sangat kering, dimana saat itu burung-burungpun sangat sulit mendapatkan sedikit air untuk diminum, seekor burung gagak menemukan sebuah kendi yang berisikan sedikit air. Tetapi kendi tersebut merupakan sebuah kendi yang tinggi dengan leher kendi sempit. Bagaimanapun burung gagak tersebut berusaha untuk mencoba meminum air yang berada dalam kendi, dia tetap tidak dapat mencapainya. Burung gagak tersebut hampir merasa putus asa dan merasa akan meninggal karena kehausan.

Kemudian tiba-tiba sebuah ide muncul dalam benaknya. Dia lalu mengambil kerikil yang ada di samping kendi, kemudian menjatuhkannya ke dalam kendi satu persatu. Setiap kali burung gagak itu memasukkan kerikil ke dalam kendi, permukaan air dalam kendipun berangsur-angsur naik dan bertambah tinggi hingga akhirnya air tersebut dapat di capai oleh sang burung Gagak.

Walaupun sedikit, pengetahuan bisa menolong diri kita pada saat yang tepat.

Cerita Fabel – Pemburu, Harimau dan Kera

Cerita dimulai dari seekor gajah yang lari ketakutan pada pemburu cerdik bernama Papaka. Dalam pelariannya ia bertemu Harimau dan menceritakan apa yang terjadi. Kemudian Harimau menemui Papaka yang ternyata sudah lelah dan anak panahnya tinggal satu, Papaka lari dikejar Harimau.

Kemudian Papaka bertemu dengan kera betina bernama Wanari, anak Subudi. Wanari menolong Papaka yang pingsan kelelahan dengan menaikkannya ke atas pohon. Harimau sampai ke tempat tersebut dan berkata pada Wanari telah menolong orang yang tidak berbudi dan akan celaka sendiri. Harimau menceritakan contohnya seperti yang dialami oleh seorang Brahmana dengan pande emas.

Tetapi Wanari tidak percaya pada cerita Harimau dan membalas menceritakan kejelekan Harimau, membandingkan dengan kebaikan ketam. Harimau juga membalas dengan cerita-cerita tentang kejelekan kera. Ketika Wanari dan Harimau saling bercerita tentang kejelekan-kejelekan mereka, Papaka terbangun dan memanah Harimau sehingga Harimau lari. Papaka memohon kepada Wanari agar tulus membantunya.

Papaka juga memohon agar Wanari menggendong dirinya sampai ke jalan di luar hutan. Wanari menggendong Papaka, mengantarkannya ke jalan. Mereka beristirahat di rumah Wanari, disongsong oleh kedua anak Wanari, Mardawa dan Mardawi. Ketika Wanari sedang mencari buah-buahan untuk mereka, keduanya dibunuh Papaka.

Sedih hati Wanari akan nasib anaknya. Meski ia tahu anaknya dibunuh dan dimakan Papaka, tetapi ia pura-pura tidak tahu yang telah terjadi. Ia tetap memegang teguh darma seseorang yang telah mengikat persahabatan. Akhirnya Wanaripun ikut terbunuh pula oleh Papaka, mati bersama kedua anaknya. Jiwanya melejit ke surga, berkumpul dengan Batari Saci (isteri Dewa Indra). Adapun kedua anak Wanari diangkat ke surga dan dijadikan taruna dewa-dewi di surga Dewa Wisnu.

Cerita Fabel – Semut dan Belalang

cerita fabel semut dan belalang

Pada siang hari di akhir musim gugur, satu keluarga semut yang telah bekerja keras sepanjang musim panas untuk mengumpulkan makanan, mengeringkan butiran-butiran gandum yang telah mereka kumpulkan selama musim panas. Saat itu seekor belalang yang kelaparan, dengan sebuah biola di tangannya datang dan memohon dengan sangat agar keluarga semut itu memberikan sedikit makan untuk dirinya.

“Apa!” teriak sang Semut dengan terkejut, “tidakkah kamu telah mengumpulkan dan menyiapkan makanan untuk musim dingin yang akan datang ini? Selama ini apa saja yang kamu lakukan sepanjang musim panas?”

“Saya tidak mempunyai waktu untuk mengumpulkan makanan,” keluh sang Belalang; “Saya sangat sibuk membuat lagu, dan sebelum saya sadari, musim panas pun telah berlalu.”

Semut tersebut kemudian mengangkat bahunya karena merasa gusar.

“Membuat lagu katamu ya?” kata sang Semut, “Baiklah, sekarang setelah lagu tersebut telah kamu selesaikan pada musim panas, sekarang saatnya kamu menari!” Kemudian semut-semut tersebut membalikkan badan dan melanjutkan pekerjaan mereka tanpa memperdulikan sang Belalang lagi.

Ada saatnya untuk bekerja dan ada saatnya untuk bermain.

Cerita Fabel – Kerbau dan Kambing

Seekor kerbau jantan berhasil lolos dari serangan seekor singa dengan cara memasuki sebuah gua dimana gua tersebut sering digunakan oleh kumpulan kambing sebagai tempat berteduh dan menginap saat malam tiba ataupun saat cuaca sedang memburuk. Saat itu hanya satu kambing jantan yang ada di dalam gua tersebut.

Saat kerbau masuk kedalam gua, kambing jantan itu menundukkan kepalanya, berlari untuk menabrak kerbau tersebut dengan tanduknya agar kerbau jantan itu keluar dari gua dan dimangsa oleh sang Singa. Kerbau itu hanya tinggal diam melihat tingkah laku sang Kambing. Sedang diluar sana, sang Singa berkeliaran di muka gua mencari mangsanya.

Lalu sang kerbau berkata kepada sang kambing, “Jangan berpikir bahwa saya akan menyerah dan diam saja melihat tingkah lakumu yang pengecut karena saya merasa takut kepadamu. Saat singa itu pergi, saya akan memberi kamu pelajaran yang tidak akan pernah kamu lupakan.”

Sangatlah jahat, mengambil keuntungan dari kemalangan orang lain.

Cerita Fabel – Singa dan Lembu

Cerita ini diawali dari seorang Brahmana yang sangat miskin bernama Dharmaswarni. Ia sangat tekun memuja Dewa Siwa agar menjadi kaya. Dewa Siwa mengabulkan permohonannya dengan mengatakan apapun yang akan ditemuinya pertama kali di jalan itu menjadi miliknya. Ia menemukan seekor lembu jantan anak Nandini yang bernama Nandeka, kemudian sapi tersebut digunakan sebagai muatan kayu dari hutan yang akan dijual ke kota. Akhirnya dia menjadi kaya raya dan mempunyai banyak lembu dan pedati.

Suatu hari dia pergi berdagang ke kota Udyani malawa membawa seribu pedati. Kota itu sangat jauh dan melalui banyak sungai, hutan, gunung, jurang, lembah, sehingga sapi Nandaka kehabisan tenaga dan jatuh karena terlalu banyak muatan. Sang Darmaswarni tidak sabar menunggu. Nandaka ditinggalkan dengan dua orang pembantunya, Teka dan Pinet dengan pesan kalau dia sembuh dan kuat berjalan supaya menyusul, tetapi jika tidak supaya dibakar mayatnya. Karena Teka dan Pinet takut binatang buas di hutan maka dia ingin cepat-cepat menyusul tuannya.

Mereka tidak berani membakar Nandaka karena takut dikutuk para dewa. Kemudian mereka mencari akal dengan melepaskan Nandaka, akan tetapi mereka tetap membuat api pembakaran untuk mengelabuhi tuannya. Setelah sampai pada tuannya mereka mengatakan bahwa Nandaka telah mereka bakar dan asapnya masih tampak mengepul. Darmaswarni percaya pada kata-kata pembantunya itu.

Setelah dilepaskan Nandaka masuk hutan Udyani, bertemu dengan tentara serigala yang sedang mencari mangsa binatang untuk raja hutan/singa bernama Candapinggala. Para tentara serigala menyerang Nandaka, tetapi Nandaka sangat kuat dan dapat mengalahkannya. Tentara serigala itu melapor pada rajanya. Keesokan harinya singa Candapinggala diiringi patih serigala bernama Sambada dan tentaranya menemui Nandaka mengajak damai dan mengikat tali persahabatan.

Mula-mula Nandaka ragu karena makanan singa adalah daging, suka dengan kekayaan dan kekuasaan, sedangkan dirinya makan rumput dan binatang hina. Tetapi setelah dibujuk dan singa berjanji mau makan dedaunan maka Nandaka mau bersahabat dengan singa Candapinggala. Mereka dapat hidup rukun kemanapun tidak berpisah, mereka senasib sepenanggungan, tidak ada yang menjadi tuan dan hamba.

Akan tetapi persahabatan antara Nandaka dan Candapinggala hancur karena hasutan patih serigala (Sambada) yang iri melihat kerukunan mereka. Mereka saling seruduk dan terkam, mengakibatkan kematian keduanya. Nyawa Nandaka kembali ke kahyangan Dewa Siwa dan nyawa Candapinggala ke kahyangan Dewa Wisnu. Sedang tubuh mereka dimakan oleh patih Sambada dan tentaranya. Akhirnya mereka mati kekenyangan, nyawa Sambada kembali ke Walukarnawa Tambragomuka menjadi kerak kancah neraka Yamaniloka menderita siksaan.

  Cerita Dongeng

Cerita Fabel – Anjing dan Bayangannya

cerita fabel anjing dan bayangannya

Seekor anjing yang mendapatkan sebuah tulang dari seseorang, berlari-lari pulang ke rumahnya secepat mungkin dengan senang hati. Ketika dia melewati sebuah jembatan yang sangat kecil, dia menunduk ke bawah dan melihat bayangan dirinya terpantul dari air di bawah jembatan itu. Anjing yang serakah ini mengira dirinya melihat seekor anjing lain membawa sebuah tulang yang lebih besar dari miliknya.

Bila saja dia berhenti untuk berpikir, dia akan tahu bahwa itu hanyalah bayangannya. Tetapi anjing itu tidak berpikir apa-apa dan malah menjatuhkan tulang yang dibawanya dan langsung melompat ke dalam sungai. Anjing serakah tersebut akhirnya dengan susah payah berenang menuju ke tepi sungai.

Saat dia selamat tiba di tepi sungai, dia hanya bisa berdiri termenung dan sedih karena tulang yang di bawanya malah hilang, dia kemudian menyesali apa yang terjadi dan menyadari betapa bodohnya dirinya. Sangatlah bodoh memiliki sifat yang serakah

Cerita Fabel – Bangau Mati Oleh Ketam

Di telaga Malini, tinggallah berbagai macam ikan dengan damai. Sekeliling telaga itu ditumbuhi pohon dengan bunga-bunga yang harum, menambah indah telaga itu. Banyak burung hinggap di pohon sekeliling telaga, tetapi ada seekor diantaranya yang berpikiran durhaka dan serakah, itulah si burung bangau. Ia bermaksud menghabiskan ikan-ikan dalam telaga dengan segala tipu dayanya.

Suatu hari berdirilah ia di telaga Malini dengan sikap seperti seorang saleh dan tidak mau meyakiti atau membunuh makhluk hidup di sekitarnya. Para ikan menjadi heran melihat perubahan sikap burung bangau itu, maka bertanyalah mereka apa sebab bangau berubah seperti itu. Burung bangau menjawab, “Hai kawan-kawanku ikan, menagapa berlainan pekertiku dari hari-hari yang lalu, karena aku telah mendapat nasehat dari seorang pendeta, agar menjauhi perbuatan dosa, tidak mebuat susah makluk lain, dan tidak membunuh apapun. Itulah sebabnya maka aku ingin pergi bertapa ke tempat yang sunyi, mengamalkan perbuatan baik dan memberi nasehat dengan kata-kata yang lembut dan penuh kesadaran.” Mendengar kata-kata bangau itu para ikan ingin bersahabat dengannya.

Hari berikutnya datanglah bangau ke telaga Malini. Ketika ia bertemu ikan-ikan itu, menangislah bangau karena mendengar pembicaraan para nelayan yang akan menangkap semua ikan di telaga Malini, sehingga akan putuslah persahabatan bangau dengan ikan-ikan itu. Ia menangis karena tak tahu harus berbuat apa utuk menyelamatkan ikan-ikan itu. Mendengar berita itu diamlah ikan-ikan memikirkan bencana yang akan segera menimpa mereka. Tiba-tiba berkatalah bangau, “Ikan semuanya, jika kalian ingin hidup aku ada akal. Ada sebuah telaga, Andawahana namanya, milik Batara Rudra.

Disana tak mungkin ikan seperti kalian diganggu orang, karena telaga itu tak dapat didatangi oleh manusia. Kalau kalian ingin hidup, aku sarankan kalian segera pindah kesana, dan bila kalian menyetujui, aku sanggup membantu kalian menerbangkan kalian ke telaga itu.” Ikan-ikan itupun menyetujuinya, maka mereka pun diterbangkan oleh bangau, digenggamnya dengan kedua kakinya dan diparuhnya digigitnya seekor ikan. Ikan-ikan itu tidak dibawanya ke telaga, tetapi dibawanya terbang ke puncak gunung, di tempat itu dimakannya ikan-ikan tersebut.

Demikianlah dengan mudah bangau mendapat makanan ikan, akhirnya habislah ikan di telaga Malini. Ada seekor ketam yang masih tinggal di telaga Malini, dengan mengiba-iba ia meminta bangau untuk menerbangkannya ke telaga Andawahana agar berkumpul dengan ikan-ikan yang telah dipindahkan bangau. Ketam lalu diterbangkan oleh bangau dan selama terbang itu ketam berpegangan dengan capitnya pada leher bangau. Ketika sampailah bangau di atas puncak gunung, ketam melihat banyak tulang-tulang ikan berserakan di tanah. Berpikirlah si ketam, “Hai bangau, jangan kau turunkan aku ke tempat itu, kembalikan aku ke telaga Malini. Jika tidak kubunuh engkau.” Dengan ketakutan bangau menerbangkan kembali ketam ke telaga Malini. Setelah sampai di pusat telaga maka dicapitnyalah leher bangau sehingga mati.

Cerita Fabel – Dua Ekor Kambing

Dua ekor kambing berjalan dengan gagahnya dari arah yang berlawanan di sebuah pegunungan yang curam, saat itu secara kebetulan mereka secara bersamaan masing-masing tiba di tepi jurang yang dibawahnya mengalir air sungai yang sangat deras. Sebuah pohon yang jatuh, telah dijadikan jembatan untuk menyebrangi jurang tersebut. Pohon yang dijadikan jembatan tersebut sangatlah kecil sehingga tidak dapat dilalui secara bersamaan oleh dua ekor tupai dengan selamat, apalagi oleh dua ekor kambing.

Jembatan yang sangat kecil itu akan membuat orang yang paling berani pun akan menjadi ketakutan. Tetapi kedua kambing tersebut tidak merasa ketakutan. Rasa sombong dan harga diri mereka tidak membiarkan mereka untuk mengalah dan memberikan jalan terlebih dahulu kepada kambing lainnya.

Saat salah satu kambing menapakkan kakinya ke jembatan itu, kambing yang lainnya pun tidak mau mengalah dan juga menapakkan kakinya ke jembatan tersebut. Akhirnya keduanya bertemu di tengah-tengah jembatan. Keduanya masih tidak mau mengalah dan malahan saling mendorong dengan tanduk mereka sehingga kedua kambing tersebut akhirnya jatuh ke dalam jurang dan tersapu oleh aliran air yang sangat deras di bawahnya.

Lebih baik mengalah daripada mengalami nasib sial karena keras kepala.

Cerita Fabel – Kancil dan Kura Kura

cerita fabel kancil dan kura

Kancil dan kura-kura sudah lama bersahabat. Pada suatu hari mereka pergi menangkap ikan disebuah danau. Berjumpalah mereka dengan seekor kijang. Kijang ingin ikut. Lalu mereka pergi bertiga.

Sampai disebuah bukit mereka bertemu dengan seekor rusa. Rusa juga ingin ikut. Segera rusa bergabung dalam rombongan. Dalam perjalanan, disebuah lembah berjumpalah mereka dengan seekor babi hutan. Babi hutan menayakan apakah ia boleh ikut. “Tentu saja, itu gagasan yang baik, daripada hanya berempat lebih baik berlima,” jawab kura-kura.

Setiba di bukit yang berikutnya, berjumpalah mereka dengan seekor beruang. Lalu mereka berenam melanjutkan perjalanannya. Kemudian mereka bertemu dengan seekor badak. “Bagaimana kalau aku ikut,” tanya badak. “Mengapa tidak?”, jawab semua. Bahkan lalu bergabung pula seekor banteng.

Kali berikutnya rombongan kancil bertemu dengan seekor kerbau yang akhirnya ikut serta. Begitu pula ketika mereka bertemu dengan seekor gajah. Demikianlah, mereka bersepuluh berjalan berbaris beriringan mengikuti kancil dan akhirnya mereka sampai ke danau yang dituju. Bukan main banyaknya ikan yang berhasil ditangkap. Ikan kemudian disalai dengan mengasapinya dengan nyala api sampai kering.

Keesokan harinya, beruang bertugas menjaga ikan-ikan ketika yang lainnya sedang pergi menangkap ikan. Tiba-tiba seekor harimau datang mendekat. Tak lama kemudian beruang dan harimau terlibat dalam perkelahian seru. Beruang jatuh pingsan dan ikan-ikan habis disantap harimau.

Berturut-turut mereka kemudian menugasi gajah, banteng, badak, kerbau, babi hutan, rusa dan kijang, semuanya menyerah. Sekarang tinggal kura-kura dan kancil yang belum terkena giliran menunggu ikan. Kura-kura dianggap tidak mungkin berdaya menghadapi harimau, maka diputuskanlah kancil yang akan menjaga.

Sebelum teman-temannya pergi menangkap ikan, dimintanya mereka mengumpulkan rotan sebanyak-banyaknya. Lalu masing-masing dipotong kira-kira satu hasta. Tak lama kemudian tampak kancil sedang sibuk membuat gelang kaki, gelang badan, gelang lutut dan gelang leher. Sebentar-sebentar kancil memandang ke langit seolah-olah ada yang sedang diperhatikannya. Harimau terheran-heran, lalu perlahan-lahan mendekati si kancil. Kancil pura-pura tidak mempedulikan harimau.

Harimau bertanya, “Buat apa gelang rotan bertumpuk-tumpuk itu?”. Jawab kancil, “Siapa yang memakai gelang-gelang ini akan dapat melihat apa yang sedang terjadi di lagit”. Lalu dia menengadah sambil seolah-olah sedang menikmati pemandangan di atas. Terbit keinginan harimau untuk dapat juga melihat apa yang terjadi di langit.

Bukan main gembiranya kancil mendengar permintaan harimau. Dimintanya harimau duduk di tanah melipat tangan dan kaki. Lalu dilingkarinya kedua tangan, kedua kaki dan leher harimau dengan gelang-gelang rotan sebanyak-banyaknya sehingga harimau tidak dapat bergerak lagi.

Setelah dirasa cukup, rombongan si kancil berniat kembali pulang ke rumah, akan tetapi mereka bertengkar mengenai bagian masing-masing. Mereka berpendapat, siapa yang berbadan besar akan mendapatkan bagian yang besar pula. Kancil sebenarnya tidak setuju dengan usulan tersebut. Lalu dia mencari akal.

Tiba-tiba melompatlah kancil dan memberi tanda ada marabahaya. Semuanya ketakutan dan terbirit-birit melarikan diri. Ada yang jatuh tunggang langgang, ada yang terperosok ke lubang dan ada pula yang tersangkut akar-akar. Salaipun mereka tinggalkan semua. Hanya kancil dan kura-kura yang tidak lari. Berdua mereka pulang dan berjalan berdendang sambil membawa bungkusan yang sarat.

  Cerita Motivasi

Cerita Fabel – Monyet dan Kucing Memanggang Kacang

Dongeng Monyet dan Kucing memanggang – Dahulu kala, ada seekor kucing dan monyet yang hidup berdampingan sebagai hewan peliharaan di suatu rumah. Mereka berteman baik dan sering melakukan kenakalan bersama-sama. Yang ada di pikiran mereka hanyalah makan, dan mereka tidak peduli bagaimana cara mendapatkannya.

Suatu hari mereka duduk di perapian sambil membakar kacang kastanya (chestnut). Bagaimana cara mereka mengeluarkan kacang tersebut dari panggangan api? Inilah yang menjadi pertanyaan bagi mereka.

“Saya dengan senang hati akan mengeluarkan kacang tersebut dari panggangan api,” kata monyet yang licik, “tetapi kamu lebih ahli dalam hal ini dibandingkan saya. Tariklah keluar kacang-kacang tersebut dari api dan kita akan membaginya dengan adil.”

Sang Kucing lalu menjulurkan tangannya dengan hati-hati, lalu dengan cepat menarik kacang yang sangat panas dari panggangan api. Ia mengulangi lagi dan menarik kacang tersebut keluar sedikit demi sedikit, dan pada usaha ketiganya, sang Kucing berhasil menarik keluar kacang tersebut. Aksi ini di lanjutkan beberapa kali terhadap kacang yang masih ada dalam panggangan. Secepat tangannya yang menarik kacang tersebut dari api, secepat itu pula sang Monyet mengambil dan memakannya.

Saat sang pemilik rumah pulang, kedua hewan yang nakal ini lari terbirit-birit menyembunyikan diri, dan sang Kucing yang bekerja keras hingga telapaknya melepuh oleh panas api, tidak mendapatkan satu buah kacang pun. Semenjak saat itu, ia tidak pernah lagi mau berurusan dengan sang Monyet yang licik.

Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng monyet dan kucing memanggang kacang ini adalah Orang yang memberikan pujian palsu, mempunyai maksud yang tidak baik yaitu untuk memanfaatkan.

Cerita Fabel – Lebah dan Tawon

Sebuah sarang yang berisikan madu telah ditemukan di sebuah pohon yang berongga, dan Tawon menyatakan sarang itu adalah milik mereka. Lebah pun yakin bahwa harta karun itu adalah milik mereka. Argumen dan perdebatan itu makin lama makin meruncing, dan tampaknya, peristiwa itu tidak bisa diselesaikan tanpa pertempuran.

Tetapi pada akhirnya, mereka berdua setuju untuk membiarkan seorang hakim yang akan memutuskan masalah ini. Jadi mereka kemudian membawa kasus ini ke hadapan seekor tabuhan (hornet) yang bertindak sebagai hakim yang adil di seluruh hutan.

Ketika Hakim mulai memanggil saksi-saksi, saksi menyatakan bahwa mereka melihat bahwa yang membangun sarang madu tersebut adalah serangga bersayap yang hidup di lingkungan pohon berongga, yang mendengung keras, dan tubuhnya bergaris kuning dan hitam, seperti Lebah.

Tetapi pihak tawon segera bersikeras bahwa secara garis besar, ciri-ciri tersebut juga dimiliki oleh tawon.

Bukti tersebut tidak dapat menunjukkan secara jelas siapa pemilik sarang yang sah, sehingga sang Hakim pun mendunda pengadilan selama enam minggu untuk memberinya waktu agar dapat memikirkan hal itu. Ketika kasus ini disidangkan kembali, kedua belah pihak memiliki lebih banyak lagi saksi. Saat saksi-saksi mulai diajukan kembali, seekor lebah tua yang bijaksana berkata:

“Yang Mulia,” katanya, “kasus ini kini telah tertunda selama enam minggu. Jika tidak segera diputuskan, madu dalam sarang tersebut akan rusak. Perintahkanlah keduanya untuk membangun sarang madu seperti itu, dan kita akan segera melihat siapa pemilik madu yang sebenarnya.”

Tawon memprotes dengan keras. Tetapi Hakim yang bijaksana langsung mengerti mengapa tawon memprotesnya. Karena Tawon tahu bahwa mereka tidak bisa membangun sebuah sarang madu dan mengisinya dengan madu.

“Sudah jelas terlihat di sini,” kata Hakim, “yang bisa membuat sarang madu dan yang tidak bisa membuatnya. Saya memutuskan bahwa madu itu adalah milik Lebah.”

Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng lebah dan tawon yang berebut sarang madu ini adalah Kemampuan akan dibuktikan dengan tindakan dan janganlah mengakui hak yang bukan miliknya.

Cerita Fabel – Landak dan Ular

Seekor landak mencari satu tempat untuk di jadikan sarang. Akhirnya dia menemukan sebuah gua kecil yang terlindung, di mana di dalamnya, hiduplah satu keluarga ular. Sang Landak lalu meminta ijin agar mereka membiarkan dia tinggal bersama di dalam gua kecil itu, dan sang Ular pun tidak merasa keberatan karena gua itu masih cukup besar bagi mereka semua.

Tetapi lama kelamaan sang Ular menjadi menyesal karena membiarkan sang Landak untuk tinggal di gua bersama mereka, karena duri landak yang tajam, sering menusuk dan melukai kulit mereka tanpa sengaja. Akhirnya sang Ular menjadi tidak tahan dan dengan sopan memintanya untuk pergi dari gua tersebut dan mencari tempat yang lebih baik.

“Saya merasa cukup puas tinggal di sini, Terima kasih,” kata sang Landak. “Dan saya berniat untuk tetap tinggal di sini.” Kemudian sang Landak pun dengan setengah memaksa, meminta agar sang Ular keluar dari gua tersebut dan pindah ke tempat lain. Demi menyelematkan kulitnya, keluarga ular pun terpaksa meninggalkan gua itu untuk mencari tempat tinggal yang baru.

Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng landak yang tidak tahu diri dan ular ini adalah Ramah tamah adalah sifat yang sangat baik, tetapi harus digunakan dengan bijak karena orang lain bisa saja memanfaatkan keramahan kita.

Cerita Fabel – Lalat dan Madu

cerita fabel lalat dan madu

Sebuah toples madu jatuh terbalik sehingga madu yang manis dan lengket, mengalir turun ke atas meja. Rasa manis dari madu tersebut mengundang sekawanan lalat yang terbang mengitari madu tersebut, lalu kawanan lalat itu turun untuk memakan madu yang manis tanpa mempedulikan betapa lengketnya cairan madu itu.

Lalat-lalat tersebut dengan cepat terbalut cairan madu dari kaki hingga kepala dan sayap-sayap mereka melengket menjadi satu. Akhirnya mereka tidak bisa lagi menarik kakinya keluar dari cairan lengket itu dan mati karena sifat rakus mereka.

Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng Lalat dan madu ini adalah Janganlah memiliki sifat serakah dan rakus, karena segala sesuatu yang berlebihan itu dapat mendatangkan hal yang buruk.

Cerita Fabel – Kisah Kucing dan Rubah

Suatu kali, ada seekor kucing dan seekor rubah yang melakukan perjalanan bersama-sama. Sambil berkelana, mereka sama-sama berburu tikus ataupun ayam yang gemuk di sana-sini, dan setiap makan, mereka sering mengobrol sambil berdebat. Dan terkadang perdebatan mereka membuat salah satunya marah.

“Kamu pikir kamu pandai sekali ya?” kata sang Rubah. “Ataukah kamu hanya sok tahu? Karena saya merasa, saya lebih banyak mengetahui trik-trik dibandingkan kamu!”
Sang Kucing pun membalas dengan nada marah, “Saya mengaku, saya hanya menguasai satu trik, tetapi dengan satu trik ini, terus terang saya katakan, bernilai seribu kali lebih baik daripada trik-trikmu!”

Tidak berapa lama, mereka mendengarkan terompet pemburu dan gonggongan anjing pemburu. Dalam sekejap, sang Kucing memanjat ke atas pohon dan bersembunyi di antara daun-daunan yang lebat.

“Inilah trik saya,” katanya kepada sang Rubah. “Sekarang perlihatkan padaku trik-trikmu yang berharga.”

Walaupun sang Rubah memiliki banyak rencana untuk meloloskan diri, ia tidak dapat menentukan rencana dan trik yang mana akan dicobanya terlebih dahulu. Saat anjing pemburu telah dekat, ia mencoba menghindar kesana-kemari. Kemudian ia mempercepat larinya, lalu bersembunyi masuk ke dalam lubang, tetapi semuanya sia-sia. Anjing-anjing pemburu itu berhasil menangkapnya.

Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng kucing dan rubah ini adalah Satu hal yang bersifat praktis selalu lebih berharga dibandingkan kecerdasan yang tidak digunakan dengan baik.

Cerita Fabel – Kodok dan Seekor Kerbau

Seekor kerbau datang ke sebuah kolam yang penuh dengan alang-alang untuk minum. Ketika dia menginjakkan kakinya yang berat ke atas air, secara tidak sengaja dia menginjak seekor kodok kecil sehingga masuk ke dalam lumpur.

Ibu kodok yang tidak melihat kejadian itu selanjutnya mulai merasa kehilangan satu anakknya dan bertanya kepada anak kodok yang lainnya apa-apa saja yang terjadi dengan anak kodok itu.

“Satu makhluk yang sangat besar,” kata salah satu dari anak kodok , “menginjak saudaraku dengan kakinya yang sangat besar!”

“Besar katanya!” kata ibu kodok, sambil meniup dirinya sendiri sehingga menggelembung menjadi besar. “Apakah dia sebesar ini?”

“Oh, jauh lebih besar!” kata mereka serempak.

Ibu kodok kembali menggelembungkan dirinya lebih besar lagi.

“Dia tidak mungkin lebih besar dari ini,” katanya kembali. Tetapi kodok-kodok yang kecil itu mengatakan bahwa makhluk tersebut jauh lebih besar dan ibu kodok tersebut terus meniup dan menggelembungkan dirinya lagi dan lagi hingga dia meledak.

Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng kodok dan seekor kerbau ini adalah Jangan mencoba melakukan sesuatu yang mustahil.

  Cerita Rakyat

Cerita Fabel – Kepiting Muda dan Ibunya

“Mengapa kamu berjalan ke arah samping seperti itu?” tanya ibu kepiting kepada anaknya. “Kamu harus berjalan lurus ke depan dengan jari-jari kaki yang menghadap keluar.”

“Perlihatkanlah saya cara berjalan yang baik bu,” kata kepiting kecil itu kepada ibunya, “Saya sangat ingin belajar.”

Mendengar kata anaknya, ibu kepiting tersebut mencoba untuk berjalan lurus ke depan. Tetapi dia hanya bisa juga berjalan ke arah samping, seperti cara anaknya berjalan. Dan ketika ibu kepiting tersebut mencoba untuk memutar jari-jari kakinya ke arah luar, dia malah tersandung dan terjatuh ke tanah dengan hidung terlebih dahulu.

Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng kepiting muda dan ibunya ini adalah Berikanlah contoh perbuatan yang dapat diteladani bukan hanya sekedar perkataan saja.

Cerita Fabel – Ikan Emas Ajaib

Pada zaman dahulu kala, di sebuah pulau bernama Buyan, tinggalah sepasang kakek dan nenek yang sangat miskin. Mata pencaharian si kakek adalah mencari ikan di laut. Meski hampir setiap hari kakek pergi menjala ikan, namun hasil yang didapat hanya cukup untuk makan sehari-hari saja. Suatu hari ketika si kakek sedang menjala ikan, tiba-tiba jalanya terasa sangat berat. Seperti ada ikan raksasa yang terperangkap di dalamnya.

“Ah, pasti ikan yang sangat besar,” pikir si kakek.

Dengan sekuat tenaga si kakek menarik jalanya. Namun ternyata tidak ada apapun kecuali seekor ikan kecil yang tersangkut di jalanya. Rupanya ikan kecil itu bukan ikan biasa, badannya berkilau seperti emas dan bisa berbicara seperti layaknya manusia.

“Kakek, tolong lepaskan aku. Aku akan mengabulkan semua permintaanmu!” kata si ikan emas.

Si kakek berpikir sejenak, lalu katanya, “aku tidak memerlukan apapun darimu, tapi aku akan melepaskanmu. Pergilah!”.

Kakek melepaskan ikan emas itu kembali ke laut, lalu dia pun kembali pulang. Sesampainya di rumah, nenek menanyakan hasil tangkapan kakek.

“Hari ini aku hanya mendapatkan satu ekor ikan emas, dan itupun sudah aku lepas kembali,” kata kakek, “aku yakin kalau itu adalah ikan ajaib, karena dia bisa berbicara.

Katanya dia akan memberiku imbalan jika aku mau melepaskannya.”

“Lalu apa yang kau minta,” tanya nenek.

“Tidak ada,” kata kakek.

“Oh, alangkah bodohnya!” seru nenek. “Setidaknya kau bisa meminta roti untuk kita makan. Pergilah dan minta padanya!” Maka dengan segan kakek kembali ke tepi pantai dan berseru:

Wahai ikan emas ajaib, datanglah kemari…

Kabulkan keinginan kami!

Tiba-tiba si ikan emas muncul di permukaan laut. “Apa yang kau inginkan, kek?” katanya.

“Istriku marah padaku, berikan aku roti untuk makan malam, maka dia akan memaafkanku!” pinta si kakek.

“Pulanglah! Aku telah mengirimkan roti yang banyak ke rumahmu.” kata si ikan.

Maka pulanglah si kakek. Setibanya di rumah, didapatinya meja makan telah penuh dengan roti.
Tapi istrinya masih tampak marah padanya, katanya:

“Kita telah punya banyak roti, tapi wastafel kita rusak, aku tidak bisa mencuci piring. Pergilah kembali ke laut, dan mintalah ikan ajaib memberikan kita wastafel yang baru!” kata nenek.

Terpaksa si kakek kembali ke tepi laut dan berseru:

Wahai ikan emas ajaib, datanglah kemari…
Kabulkan keinginan kami!

“ups!” ikan emas muncul, “Apa lagi yang kau inginkan, kek?”
“Nenek menyuruhku memintamu agar memberikan kami wastafel yang baru,” pinta kakek.
“Baiklah,” kata ikan. “Kau boleh memiliki wastafel baru juga.”

Si kakek pun kembali pulang. Belum lagi menginjak halaman, si nenek sudah menghadangnya. “Pergilah lagi! Mintalah pada si ikan emas untuk membuatkan kita sebuah rumah baru. Kta tidak bisa tinggal di sini terus, rumah ini sudah hampir roboh.”

Maka si kakek pun kembali ke tepi laut dan berseru:

Wahai ikan emas ajaib, datanglah kemari…
Kabulkan keinginan kami!

Dalam sekejap ikan emas itu muncul di hadapan si kakek, “apa yang kau inginkan lagi, kakek?”

“Buatkanlah kami rumah baru!” pinta kakek, “istriku sangat marah, dia tidak ingin tinggal di rumah kami yang lama karena rumah itu sudah hampir roboh.”

“Tenanglah kek! Pulanglah! Keinginanmu sudah kukabulkan.”

Kakek pun pulang. Sesampainya di rumah, dilihatnya bahwa rumahnya telah menjadi baru. Rumah yang indah dan terbuat dari kayu yang kuat. Dan di depan pintu rumah itu, nenek sedang menunggunya dengan wajah yang tampak jauh lebih marah dari sebelumnya.

“Dasar kakek bodoh! Jangan kira aku akan merasa puas hanya dengan membuatkanku rumah baru ini. Pergilah kembali, dan mintalah pada ikan emas itu bahwa aku tidak mau menjadi istri nelayan. Aku ingin menjadi nyonya bangsawan. Sehingga orang lain akan menuruti keinginanku dan menghormatiku!”
Untuk kesekian kalinya, si kakek kembali ke tepi laut dan berseru:

Wahai ikan emas ajaib, datanglah kemari…

Kabulkan keinginan kami!

Dalam sekejap ikan emas itu muncul di hadapan si kakek, “apa yang kau inginkan lagi, kakek?”

“Istriku tidak bisa membuatku tenang. Dia bahkan semakin marah. Katanya dia sudah lelah menjadi istri nelayan dan ingin menjadi nyonya bangsawan” pinta kakek
“Baiklah. Pulanglah! Keinginanmu sudah dikabulkan!” kata ikan emas.

Alangkah terkejutnya si kakek ketika kembali ternyata kini rumahnya telah berubah menjadi sebuah rumah yang megah. Terbuat dari batu yang kuat, tiga lantai tingginya, dengan banyak sekali pelayan di dalamnya. Si kakek melihat istrinya sedang duduk di sebuah kursi tinggi sibuk memberi perintah kepada para pelayan.
“halo istriku,” sapa si kakek.

“Betapa tidak sopannya,” kata si nenek. “Berani sekali kau mengaku sebagai suamiku. Pelayan! Bawa dia ke gudang dan beri dia 40 cambukan!”

Segera saja beberapa pelayan menyeret si kakek ke gudang dan mencambuknya sampai si kakek hampir tidak bisa berdiri. Hari berikutnya istrinya memerintahkan kakek untuk bekerja sebagai tukang kebun. Tugasnya adalah menyapu halaman dan merawat kebun. “Dasar perempuan jahat!” pikir si kakek. “Aku sudah memberikan dia keberuntungan tapi dia bahkan tidak mau mengakuiku sebagai suaminya.”

Lama kelamaan si nenek bosan menjadi nyonya bangsawan, maka dia kembali memanggil si kakek: “Hai lelaki tua, pergilah kembali kepada ikan emasmu dan katakan ini padanya: aku tidak mau lagi menjadi nyonya bangsawan, aku mau menjadi ratu.”

Maka kembalilah si kakek ke tepi laut dan berseru”

Wahai ikan emas ajaib, datanglah kemari…
Kabulkan keinginan kami!

Dalam sekejap ikan emas itu muncul di hadapan si kakek, “apa yang kau inginkan lagi, kakek?”

“Istriku semakin keterlaluan. Dia tidak ingin lagi menjadi nyonya bangsawan, tapi ingin menjadi ratu.”

“Baiklah. Pulanglah! Keinginanmu sudah dikabulkan!” kata ikan emas.

Sesampainya kakek di tempat dulu rumahnya berdiri, kini tampak olehnya sebuah istana beratap emas dengan para penjaga berlalu lalang. Istrinya yang kini berpakainan layaknya seorang ratu berdiri di balkon dikelilingi para jendral dan gubernur. Dan begitu dia mengangkat tangannya, drum akan berbunyi diiringi musik dan para tentara akan bersorak sorai.

Setelah sekian lama, si nenek kembali bosan menjadi seorang ratu. Maka dia memerintahkan para jendral untuk menemukan si kakek dan membawanya ke hadapannya. Seluruh istana sibuk mencari si kakek. Akhirnya mereka menemukan kakek di kebun dan membawanya menghadap ratu.

“Dengar lelaki tua! Kau harus pergi menemui ikan emasmu! Katakan padanya bahwa aku tidak mau lagi menjadi ratu. Aku mau menjadi dewi laut sehingga semua laut dan ikan-ikan di seluruh dunia menuruti perintahku.”

Kakek terkejut mendengar permintaan istrinya, dia mencoba menolaknya. Tapi apa daya nyawanya adalah taruhannya, maka dia terpaksa kembali ke tepi laut dan berseru:

Wahai ikan emas ajaib, datanglah kemari…

Kabulkan keinginan kami!

Kali ini si ikan emas tidak muncul di hadapannya. Kakek mencoba memanggil lagi, namun si ikan emas tetap tidak mau muncul di hadapannya. Dia mencoba memanggil untuk ketiga kalinya. Tiba-tiba laut mulai bergolak dan bergemuruh. Dan ketika mulai mereda muncullah si ikan emas, “apa yang kau inginkan lagi, kakek?”

“Istriku benar-benar telah menjadi gila,” kata kakek. “Dia tidak mau lagi menjadi ratu tapi ingin menjadi dewi laut yang bisa mengatur lautan dan memerintah semua ikan.”

Si ikan emas terdiam dan tanpa mengatakan apapun dia kembali menghilang ke dalam laut. Si kakek pun terpaksa kembali pulang. Dia hampir tidak percaya pada penglihatannya ketika menyadari bahwa istana yang megah dan semua isinya telah hilang. Kini di tempat itu, berdiri sebuah gubuk reot yang dulu ditinggalinya. Dan di dalamnya duduklah si nenek dengan pakaiannya yang compang-camping. Mereka kembali hidup seperti dulu. Kakek kembali melaut. Namun seberapa kerasnya pun kakek bekerja, hasil yang didapat hanya cukup untuk makan sehari-hari saja.

  Cerita Cinta

Cerita Fabel – Katak dan Permata

Pada suatu masa, ada seorang wanita yang telah menjanda dan memiliki dua orang putri. Putri tertua memiliki wajah dan perangai yang sangat mirip dengan ibunya sehingga orang sering berkata bahwa siapapun yang melihat putri tertua tersebut, sama dengan melihat ibunya. Mereka berdua mempunyai sifat jelek yang sama, sangat sombong dan tidak pernah menghargai orang lain.

Putri yang termuda, merupakan gambaran dari ayahnya yang telah meninggal, sama-sama memiliki sifat baik hati, senang membantu orang dan sangat sopan. Banyak yang menganggap bahwa putri termuda adalah wanita yang tercantik yang pernah mereka lihat.

Karena kecenderungan orang untuk menyukai hal yang sama dengan diri mereka, ibunya menjadi sangat sayang kepada putri yang tertua, sedangkan putri yang termuda diperlakukan dengan buruk, putri termuda sering disuruhnya bekerja tanpa henti dan tidak boleh bersama mereka makan di meja makan. Dia hanya diperbolehkan makan di ruang dapur sendiri saja.

Putri yang termuda sering dipaksa dua kali sehari untuk mengambil air dari sumur yang letaknya sangat jauh dari rumah mereka. Suatu hari ketika putri yang termuda berada di mata air ini, datanglah seorang wanita tua yang kelihatan sangat miskin, yang memintanya untuk mengambilkan dirinya air minum.

“Oh! ya, dengan senang hati,” kata gadis cantik ini yang dengan segera mengambil kendinya, mengambil air dari tempat yang paling jernih di mata air tersebut, dan memberikan kepada wanita itu, sambil membantu memegang kendinya agar wanita tua itu dapat minum dengan mudah.
Setelah minum, wanita tersebut berkata kepada putri termuda:

“Kamu sangat cantik, sangat baik budi dan sangat sopan, saya tidak bisa tidak memberikan kamu hadiah.” Ternyata wanita tua tersebut adalah seorang peri yang menyamar menjadi wanita tua yang miskin untuk melihat seberapa jauh kebaikan hati dan kesopanan putri termuda. “Saya akan memberikan kamu sebuah hadiah,” lanjut sang Peri, “Mulai saat ini, dari setiap kata yang kamu ucapkan, dari mulutmu akan keluar sebuah bunga atau sebuah batu berharga.”

Ketika putri termuda yang cantik ini pulang kerumah, dimana saat itu ibunya memarahinya karena menganggap putri termuda tersebut terlalu lama kembali dari mengambil air.

“Saya minta maaf, mama,” kata putri termuda, “karena saya terlambat pulang.”

Saat mengucapkan kata itu, dari mulutnya keluarlah dua buah bunga, dua buah mutiara dan dua buah permata.

“Apa yang saya lihat itu?” kata ibunya dengan sangat terkejut, “Saya melihat mutiara dan permata keluar dari mulutmu! Bagaimana hal ini bisa terjadi, anakku?”

Untuk pertama kalinya ibunya memanggilnya dengan sebutan ‘anakku’.

Putri termuda kemudian menceritakan semua kejadian yang dialami secara terus terang, dan dari mulutnya juga berturut-turut keluarlah permata yang tidak terhitung jumlahnya.

“Sungguh mengagumkan,” kata ibunya, “Saya harus mengirim anakku yang satu lagi kesana.” Dia lalu memanggil putri tertua dan berkata “Kemarilah, lihat apa yang keluar dari mulut adikmu ketika dia berbicara. Apakah kamu tidak ingin memiliki hal yang dimiliki adikmu? Kamu harus segera berangkat ke mata air tersebut dan apabila kamu menemui wanita tua yang meminta kamu untuk mengambilkan air minum, ambilkanlah untuknya dengan cara yang sangat sopan.”

“Adik termuda pasti sangat senang melihat saya mengambil air dari mata air yang jauh,” katanya dengan cemberut.

“Kamu harus pergi, sekarang juga!” kata ibunya lagi.

Akhirnya putri tertua berangkat juga sambil mengomel di perjalanan, sambil membawa kendi terbaik yang terbuat dari perak.

Tidak lama kemudian dia tiba di mata air tersebut, kemudian dia melihat seorang wanita yang berpakaian sangat mewah keluar dari dalam hutan, mendekatinya, dan memintanya untuk mengambilkan air minum. Wanita ini sebenarnya adalah peri yang bertemu dengan adiknya, tetapi kali ini peri tersebut menyamar menjadi seorang putri bangsawan.

“Apakah saya datang kesini,” kata putri tertua dengan sangat sombong, “hanya untuk memberikan kamu air? dan kamu pikir saya membawa kendi perak ini untuk kamu? Kalau kamu memang mau minum, kamu boleh meminumnya jika kamu merasa pantas.”

“Kamu keterlaluan dan berlaku tidak sopan,” jawab sang Peri, “Baiklah, mulai sekarang, karena kamu sangat tidak sopan dan sombong, saya akan memberikan kamu hadiah, dari setiap kata yang kamu ucapkan, dari mulutmu akan keluar seekor ular atau seekor katak.”

Saat dia pulang, ibunya yang melihat kedatangannya dengan gembira menyambutnya dan bertanya:

“Bagaimana, anakku?”

“Bagaimana apanya, ma?” putri tertua menjawab dengan cara yang tidak sopan, dan dari mulutnya keluarlah dua ekor ular berbisa dan dua ekor katak.

“Oh! ampun,” kata ibunya; “apa yang saya lihat ini? Oh! pastilah adik mu yang sengaja telah merencanakan kejadian ini, tapi dia akan mendapatkan hukumannya”; dan dengan segera dia berlari mendekati putri termudanya dan memukulnya. Putri termuda kemudian lari menjauh darinya dan bersembunyi di dalam hutan yang tidak jauh dari rumahnya agar tidak mendapat pukulan lagi.

Seorang anak Raja, yang baru kembali dari berburu di hutan, secara kebetulan bertemu dengan putri termuda yang sedang menangis. Anak Raja tersebut kagum akan kecantikan putri termuda kemudian bertanya mengapa putri tersebut sendirian di dalam hutan dan menangis terisak-isak.

“Tuanku, ibu saya telah mengusir saya dari rumah.”

Saat itu, anak Raja melihat lima atau enam mutiara dan permata keluar dari mulut putri termuda, dia menjadi penasaran dan meminta putri termuda menceritakan mengapa dari mulutnya keluar permata saat berkata sesuatu. Putri termuda kemudian menceritakan semua kisahnya, dan anak Raja tersebut menjadi bertambah kagum akan kebaikan hati dan kesopanan tutur kata putri termuda. Anak Raja menjadi jatuh hati pada putri termuda dan beranggapan bahwa putri termuda sangat pantas menjadi istrinya. Anak Raja akhirnya mengajukan lamaran dan menikahi putri termuda.

Sedangkan putri tertua, membuat dirinya sendiri begitu dibenci oleh ibunya sendiri karena kelakuannya yang sangat buruk dan di usir keluar dari rumah. Putri tertua akhirnya menjadi terlantar karena tidak memiliki rumah lagi, dia lalu masuk ke dalam hutan dan mulai saat itu, orang tidak pernah mendengar kabar tentangnya lagi.

Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng katak dan permata ini adalah Jangan bertengkar dan berselisih dengan saudara kita, bersikaplah yang sopan dengan siapapun, keluarga, saudara, teman dan lainnya.

***

Demikianlah kumpulan cerita fabel yang bisa menjadi bahan bacaan singkat bermanfaat yang bisa dibagikan kali ini. Jangan lupa datang kembali untuk melihat kumpulan cerita fabel lainnya yang akan dibagikan pada waktu mendatang.